I'M Sorry! I Love You!

I'M Sorry! I Love You!
Untuk kedua kalinya



--


"Sandy ! Kemana cinta kamu itu! Kamu dulu perhatian sama aku, sayang sama aku, sekarang, kenapa kamu begitu membenciku ? Kenapa san, kenapa?"


Cherry menangis sejadi-jadinya, menangisi kebodohan di masa lalunya, berteriak dan mengutuk hati yang telah berpaling.


Hasratnya menginginkan kembali hadirnya, mendambakan cintanya, merindukan kasihnya. Ia haus akan perhatian yang tulus.


"Kak Cherry? Kakak kenapa?" Rania menghampiri Cherry yang meraung di pinggir jalan. Wajahnya sangat kusut dan merana.


"Ini semua gara-gara teman kamu !" Jawabnya dengan nada tinggi.


"Teman aku? Siapa kak?" Rania kembali bertanya. Ia merasa bingung, karena tidak merasa berteman dengan orang lain selain Cherry itu sendiri.


"Siapa lagi kalau bukan p e l a c u r murahan itu!" digenggamnya jemarinya sangat erat. Tersirat garis dendam di raut Wajahnya.


"Kamu tahu? Sandy menolak ku dengan kasar! Dia dorong tubuhku, dia maki-maki aku bahkan dia mengusirku dengan tidak sopan Ran. Kamu tahu, itu semua karena Keysha! Padahal, p e l a c u r itu entah dimana." Cherry kembali menangis dalam curahan hatinya.


"Dia sudah balik lagi kak, tadi aku juga habis berantem sama dia" lirih Rania.


Pernyataan yang sama sekali tidak diharapkan Cherry. Fakta yang membuatnya semakin menggila dan ketagihan membenci Keysha. Wanita, yang baginya sangat menyebalkan dan membuatnya berambisi untuk melukainya.


--


Malam telah datang melambai, memberikan senyuman dan perasaan yang mendebarkan. Yeni dan Keysha telah siap dengan pakaian yang senada. Warna peach yang sangat cocok dengan warna kulitnya. Key sangat anggun bahkan mempersona. Mengertilah! Penampilannya yang secantik ini akan membuat semua mata keranjang meliriknya. Sandy telah ambil langkah tentang itu, ia rela menyewa satu restoran hanya untuk acara lamaran dan juga kejutan untuk kedua orang tuanya.


Sandy, Audry, dan juga Reno telah duduk menanti yang lain. Mereka memang datang lebih awal karena mempersiapkan segalanya.


Tap tap tap


Suara sepatu yang bersaut-sautan. Langkah yang tidak yakin dengan jejaknya.


"San? Ini restoran kok tumben sepi banget." Chandra yang baru saja tiba memperhatikan sekeliling.


"Iya, mama juga tidak meliatt ada banyak pelayan seperti biasanya" Timpal Meera yang ikut bingung. Keduanya saling bertatap, mereka mulai merasakan ada hal yang Sandy sembunyikan.


Pertanyaan bak interview, dari hal kecil hingga curiga akan hal aneh telah Meera lontarkan. Namun, hanya berakhir dengan gelak tawa dari Audry dan Reno yang melihat itu dengan lucu.


"Sudahlah ma, nikmatin saja! Kitakan juga perlu suasana berbeda!" Sandy mulai kewalahan menjawab pertanyaan Meera.


"Kamu itu, makin aneh saja. Di Bandung main kemana saja, ha ? Mama masih ngga yakin lo kalau ini Sandy anak mama, ingat ngga sih kalian? Si sandy ini, berangkat ke Bandung saja sudah kaya bekicot. Jalan juga diseret, semua acak-acakan. Pulang-pulang kok bisa segar lagi. Kan aneh? " Meera masih setia dengan ocehan ala khasnya.


" Assalamu'alaikum " Keysha dan Yeni kompak mengucap salam. Membungkam mulut Meera seketika, ia menganga saat melihat wanita yang berdiri di belakangnya. Sangat mempesona, cantiknya begitu anggun.


" Keysha? " Chandra dan Meera yang gantian kompak menyebut namanya. Matanya tak lepas dari wajah cantik Keysha. Dengan spontan Meera berlari menangkap tubuh Keysha dan memeluknya sangat erat.


"Kamu kemana saja sih sayang, mama kangen tau ngga!" ia juga menghujami Key dengan ciumin di wajahnya. Membuat Keysha tersenyum senang.


Terima kasih mama, masih menyambut Keysha seperti anak mama sendiri ~Keysha


Merasa rindunya sudah tercurah, Meera dibuat tercengang dengan wanita yang berdiri di samping Keysha. Ia juga tak kalah anggun, senyumnya sangat mirip dengan anak menantunya.


"Meera, apa kamu mengingatku" sapanya sangat lembut. Membuat Meera membongkar ingatan masa lalunya, wanita ini?


"kamu Yeni?" ia terbata mengatakan itu. Suara beratnya, mungkin tidak percaya jika sahabat kecilnya itu masih hidup.


"Uya Meer, kamu pasti mikir aku sudah mati? Seperti berita yang Lita dan Danu sebar bukan?" Ia tersenyum miris.


"Lupakan itu Yen. Aku merindukanmu." Meera memeluk Yeni. Erat dan semakin erat, dalam dan semakin dalam. Tangis haru dan kebahagian memenuhi ruangan, Keysha pun ikut tersedu melihat persahabatan yang belum pernah dia rasakan. Hatinya menangis pilu dan kembali terulang akan ingatan saat masih tertawa bersama Rania.


"Aku sudah menduga itu kamu Yen, tapi ragu mau bilang. Aku pikir apa yang almarhum Danu katakan itu benar" kata Chandra dengan tawa.


"Kamu lebih cantik dengan jilbabmu Yen, aku benar-benar pangling. Kan kamu dulu ngga gini" Meera juga menimpalinya dengan tawa ringan.


"Sandy, terima kasih ya nak. Kamu kasih mama kejutan yang sangat berharga dalam hidup mama" Mata Meera kembali mengeluarkan air mata.


Sandy tersenyum


"Key, makasih juga, kamu sudah bikin anak mama kembali waras." Kali ini Meera menutup kalimatnya dengan mengejek sang anak. Spontan saja, pernyataan Meera mengundang tawa dari semua yang datang. Kecuali Sandy, ia mengerang tak menyukai itu.


Terima kasih Tuhan, Engkau mengembalikan apa yang membuatku lebih bisa menikmati hidup. Terima kasih untuk kesempatan kedua yang kau berikan ~Sandy


"Terima kasih ya Ren, semua ini juga berkat bantuan darimu" Sandy menepuk bahu Reno pelan.


Laki-laki yang jarang sekali mendengar ucapan demikian dari Sandy hanya melongo tak percaya. Ia menepuk ringan pipinya dan mengatakan ulang apa yang Sandy katakan. Masih sama dan tetap sama. Reno, kamu tidak mimpi. Kamu hanya ingin pengakuan bukan? Dan apa yang Sandy katakan adalah sebuah pengakuan, kalau kamu memang sangat berjasa dalan kisah cintanya.


"Ok, Baiklah!" Sandy berdiri, ia meraih jemari Keysha untuk membawanya berdiri di hadapan yang lain. Menatap nya dengan penuh cinta, wujud syukur dari bukti penantian. Beruntunglah, wajah anggun ini belum memilih pelabuhan hati yang lain. Puas memandanginya, Sandy berjongkok dan menyodorkan sebuah kotak berwarna merah. Berisi sebuah cincin yang menarik, ia membukanya. Tatapan matanya tak ia lepas dari wajah cantik Keysha.


"Keysha Larasati, untuk kedua kalinya will you marry me?" kalimatnya terdengar mesra ditelinga, membuat Keysha terbuai dan tidak sadar telah mengangguk.


Yang dia tahu, semua telah berdiri dan bertepuk tangan. Bahkan Reno sempat bersiul riang. Sandy hendak memeluknya, namun ia sigap mundur dan menolak.


" Sabarlah, hingga kita kembali sah....."


Bersambung.........