
Rania sudah melenggang ke luar rumah meskipun jam menunjukkan masih pukul enam pagi. Dia sudah menyerahkan seluruh tugas yang bersangkutan dengan Angeline kepada pengasuh nya. Termasuk mengantarkan sekolah.
Mobilnya sudah melesat jauh dari halaman rumah, menapaki jalanan pagi yang masih tampak sepi. Udara dingin menyibak kulit halusnya. Membawa pikiran jernih untuk mencari ketenangan.
Tut....tut....tut....
Sudah berpuluh-puluh kali Rania berusaha menghubungi Cherry. Namun, nihil. Tidak ada hasil dari usahanya dengan ponsel, bahkan rumah megah yang Cherry tempati hanya bersama pelayannya tidak juga menampakkan adanya tanda-tanda jika Cherry berada di rumah. Asisten rumah tangga yang Rania desak, tidak juga buka mulut dan masih kukuh mengatakan jika majikannya sudah dua hari tidak pulang ke rumah.
"Ya sudah terima kasih bi. Saya pamit..." Kata Rania dengan berat. Ia kecewa pada dirinya sendiri yang tak kunjung bisa menemukan keberadaan Cherry. Semakin sulit pula untuk meyakinkan orang-orang yang bersikeras menuduhnya untuk sedikit saja percaya jika memang dia tidak terlibat dengan penculikan Keysha.
Rania sudah kembali mengemudikan mobil, memacu kecepatan sedang. Otak dan logikanya berputar-putar, memikirkan langkah selanjutnya yang harus ia lakukan.
"Villa....." Rani bergumam senang. Sepertinya, ada titik terang yang akan membawa ia untuk menemui Rania. Perempuan itu pasti sedang bersembunyi di sana, di sebuah bangunan yang letaknya terpencil dan jauh dari pemukiman. Melewati jalanan sepi yang hampir menyerupai hutan . Pepohonan rindang berdiri, mengapit di sepanjang sisi jalan.
---------
Keysha mengerjap dengan perlahan. Ada cahaya yang masuk, menyibak sekitar celah jendela untuk memberi perempuan itu penerangan. Dengan keadaan tubuh yang lemah karena kurangnya asupan yang masuk, Keysha mengangkat tubuh. Ia berdiri, berpegangan pada tembok yang mengelilingi.
"Sudah pagi..." Senyuman miris terukir di sana. Ia menatap pada arah luar dari gorden yang sedikit terbuka. "Ku pikir aku sudah tidak akan bangun lagi."
Dengan cahaya yang ada, Keysha berani menarik gorden. Membukanya untuk menatap keadaan sekitar. Jemarinya mengotak-atik di sekitar jendela, mencari cara untuk mendorong nya. Tidak ada tralis besi yang menghalangi, tapi Cherry sudah memasang palang kayu dari luar.
Perempuan itu benar-benar sudah merencanakan semuanya. Menata sedemikian rupa agar Keysha tidak melarikan diri dari kurungan yang akan membunuhnya secara perlahan....
Jika hanya mendorong dengan kekuatan tangan, palang berbentuk X itu tidak akan terbuka, tapi apa Keysha harus pasrah dan meratap pada keadaan yang hanya menyiksa jiwa dan raganya ? tentu tidak ! Perempuan itu memiliki cara lain untuk melepas diri. Ia menunduk memperhatikan sepatu wedges yang ia kenakan. Bahannya cukup keras, jika hanya untuk memecahkan kaca mungkin tidak terlalu sulit ia lakukan.
"Mungkin, ini cara satu-satunya." Keysha melepas sepatunya, mengambil dan sejenak memperhatikan jendela lalu kembali pada sepatu itu.
tarrrrrrrrrr
Keysha beringsut mundur, ia menutup telinga rapat-rapat. Pecahan kaca itu sudah menyebar luar di seluruh ruangan, bahkan jatuh ke lantai di luar ruangan. Ia menghela nafasnya pelan lalu menutup mata sejenak. Memanjatkan doa untuk memohon perlindungan. Ini sangat berbahaya untuk dia lakukan. Jendela itu di palang dengan bentuk X, dan juga bekas kaca-kaca yang masih menempel itu pasti akan melukai kulitnya jika sedikit saja dia salah mengambil posisi ketika keluar.
"Bismillahirrahmanirrahim..." Keysha melempar tasnya keluar. Dengan sangat hati-hati, ia berpegangan pada tepi jendela, mengangkat tubuh agar mudah lolos dari goresan kaca.
"Arrgggh ....." Keysha mengerang menahan sakit. Jalan sempit dengan bekas sisa-sisa pecahan kaca yang tak lepas dari sela jendela membuat lengan Keysha tergores. Pakaian panjang yang menutup rapat tubuhnya juga menjadi penyebab ia kesulitan saat keluar.
Dengan susah payah dan meringis menahan sakitnya, Keysha segera melompat. Menjauh dari serakkan kaca yang bisa saja kembali membuatnya terluka.
"Aww...." Keysha menutup lengannya. Merapatkan luka agar tidak semakin banyak mengalirkan darah. Dengan langkah yang di seret, dan sisa tenaga yang masih di miliki Keysha berlari. Menjauh dari ruang kecil yang menyiksanya semalam suntuk.
Berlari tanpa arah yang dia ketahui sebelumnya. Tidak banyak yang ia pikirkan selain berusaha keras menyelamatkan diri. Berlari dan terus berlari. Menjauh semakin jauh, menyibak rindangnya pepohonan. Entahlah, kemana kaki akan membawanya pergi. Berakhir dengan suka atau justru sebuah duka yang pahit. Bertemu dengan alam tempat seharusnya ia berpijar, atau justru semakin terserat dan lenyap tanpa sepengetahuan mata manusia.
Tubuh mungilnya sudah sangat lemas, tapi Keysha masih terus berusaha menyeret kaki. Sempoyongan semakin gontai kehabisan energi. Wajahnya sudah pucat pasi, kepalanya berputar-putar merasakan nyeri yang tak terkendali.
"Itu sepertinya jalan raya." Ia bergumam dalam hati. Memaksa diri sampai pada titik yang menjadi pusat penglihatan nya.
brugggg
Keysha terjatuh tepat satu meter di depan mobil yang mengerem secara mendadak. Bunyi gesekan antara roda dan jalanan itu sudah membuat telinga bergidik ngeri. Tidak terbayang jika pengemudi nya tidak fokus pada keadaan sekitar. Tidak terbayang jika mobil itu hilang kendali, lalu melindas tubuh lunglai Keysha.
"Astaghfirullah...." Seorang perempuan keluar dari balik pintu dengan cemas. Ia menutup mulut dengan kedua tangan lalu memperhatikan sekelilingnya. Tidak ada pergerakan yang mendekat, tidak ada suara manusia yang berbisik.
Ia berlari menghampiri tubuh Keysha. Membalikkan tubuhnya yang berlutut membelakangi.
"Keysha ?" Perempuan itu menjerit histeris. Tidak habis pikir jika Tuhan mempertemukan dia di tengah hutan yang jauh dari pemukiman. Bagaimana bisa ? Keysha tidak mungkin seorang diri sampai pada titik ini. Dia tidak begitu mengerti daerah-daerah terpencil, jika bukan ada orang yang dengan sengaja membuangnya di sana.
Kristal-kristal bening itu sudah memenuhi setiap sudut matanya. Mengalir bebas membasahi pipi yang sudah lama tidak merasakan siraman air mata kesedihan atas apa yang di alami oleh orang-orang terkasihnya.
"Ra...ni a....to.....long......" Mata bulat yang hampir kehilangan keindahannya itu terpejam tidak sadarkan diri. Kembali terbenam di balik kelopak yang tak kuasa lagi menahan diri.
"Keysha......." Rania kembali menjerit. Suara tangisnya semakin menjadi. Tersedu-sedu di tengah alam tanpa ada yang bisa ia pinta pertolongannya.
Dengan susah payah Rania mengangkat tubuh Keysha, meletakkan pada kursi belakang agar dia lebih leluasa untuk membaringkan tubuh. Luka yang masih mengalirkan darah itu ia ikat dengan jaket yang dia kenakan. Ada rasa takut kehilangan yang tiba-tiba menyapa hatinya. Menjamah, membuat tubuhnya gemetar sulit terkendali. Oh Tuhan, inikah rasa sebenarnya yang masih di miliki oleh hati Rania ? Entahlah, dia sendiri pun sedang tidak mengerti dengan rasa yang mengacaukan nalurinya.
Sudah tidak banyak waktu, tidak ada hal lain yang bisa di lakukan oleh Rania selain segera mungkin memutar balik mobilnya. Kembali pada arah awal dia datang di tempat itu. Mengurungkan niat untuk menemui Cherry di sebuah Villa yang tidak jauh dari sana.
Sudahlah, tujuan ku menemui Cherry adalah untuk mencari tahu keberadaan Keysha....
Keysha meracau, ia mengigau memanggil-manggil nama suami dan anak-anaknya. Berulang kali, hingga ia kembali lagi terdiam di titik terlemah dalam hidupnya.
"Keysha....kamu harus kuat." Rania menangis, sesekali menoleh untuk memastikan keadaan Keysha.
Perjalanan panjang itu telah usai, mobilnya sudah berada di dalam kota. Mulai menepi, lalu berbelok di halaman rumah sakit.
"Suster, tolong......" Rania histeris seorang diri. Memanggil-manggil perawat agar menolong Keysha dengan cepat.
Ada beberapa orang yang mengangkat tubuh Keysha, ada pula yang sudah bersiap di tepi ranjang untuk segera melarikan perempuan itu ke ruang UGD. Ada dua dokter yang turut masuk memberikan perawatan khusus untuk menolong nyawa Keysha.
"Maaf kak, tolong beri kami waktu untuk memeriksa kondisi pasien." Salah seorang perawat menghadang tubuh Rania agar tidak masuk ke ruang UGD. Melarangnya dengan sopan seraya menutup pintu.
Ada bercak darah di pakaian Rania, wajahnya kusut dan membengkak akibat tangis yang berkepanjangan. Ia sudah tidak peduli dengan itu, di pikiran nya sekarang hanya keselamatan Keysha. Ia merasa, jika dialah orang yang pasti sangat menyesal jika Keysha tidak tertolong. Ada dosa yang belum dia tebus, ada salah yang belum juga dia mohonkan sebuah kata maaf. Ada banyak hal dari hubungan mereka yang belum membaik, dan semua berporos pada diri Rania.
"Tuhan, kenapa Engkau menyadarkan ku di saat Keysha seperti ini. " Rania mengusap kepala frustasi. Ia menangis tersedu-sedu. Membayangkan kemungkinan terburuk yang akan terjadi pada diri perempuan yang mulai dia akui sebagai sahabatnya lagi.
"Tidak....tidak....Keysha kamu adalah wanita yang hebat. Aku yakin kamu kuat, kamu pasti bisa melewati semua ini." Rania menyeka air matanya. Memberikan semangat untuk dirinya sendiri. Ia menepis segala angan yang hanya mencengkram pikirannya. Menolak dengan tegas bayangan buruk yang kian melintas di benaknya.
-------------
"Sandy, kamu sudah sadar ?" Reno berdiri di ambang pintu. Ia menatap pada tubuh Sandy yang masih terbaring lemah di atas ranjang.
"Reno, bagaimana Keysha ? Apa kau sudah menemukannya ?" Sandy memaksa diri untuk bangkit. Wajah yang ia gambar bergaris kesedihan. Ada rasa terpukul yang memberatkan hati nya, memperlambat tahap pemulihan pada tubuhnya.
"Anak buahku masih berusaha mencarinya. Kamu jangan terlalu banyak pikiran." Jawab Reno tersenyum miris.
"Istriku hilang dan sudah dua hari, bagaimana aku harus diam dan tidak memikirkan nya ?"
"Kamu juga harus memikirkan kondisimu sendiri Sandy....."
"Reno, Keysha sedang dalam bahaya. Aku harus mencarinya...." Sandy bangkit dari atas ranjang, kakinya sudah turun menyentuh lantai.
"Silahkan....tapi jika ada apa-apa yang terjadi pada dirimu jangan meminta bantuan kepadaku lagi. Aku lepas tanggung jawab perihal istri dan juga anak-anakmu." Ancam Reno dengan serius. Matanya tajam menatap pada Sandy yang tampak kembali bersandar pada tepian ranjang. Ia terdiam, lalu mulai terisak larut dalam tangis yang melukai. Ada sedih yang tidak bisa di lawan dengan mudah. Ah, semua terjadi begitu saja . Secara bersamaan dan tanpa memberi tanda.