I'M Sorry! I Love You!

I'M Sorry! I Love You!
Kabar gembira



Kasih yang terjalin dengan landasan cinta dan berpegang teguh pada restu sang pencipta, selalu akan menemui suatu goncangan yang membuat hubungan kian erat.


🍃🍃


"Selamat pagi dok, " sapa Vino ramah.


"Pagi tuan, Silahkan duduk. " jawab dokter tampan itu ramah juga.


Vino dan Shinta duduk di kursi yang berhadapan dengan sang dokter. Menjelaskan sedikit keluhan yang menggangu rutinitas Shinta. Menyampaikan tujuan awal mereka datang untuk menemui nya.


"Jadi sudah berapa hari nona Shinta mual-mual ?" Tanya dokter itu kepada Shinta. Mencatat dengan teliti setiap keluhan yang di rasakan oleh pasiennya.


"Baru pagi ini dok, " jawab Shinta jelas .


"Ayo kita periksa dulu, " ajaknya sopan. Sang dokter beranjak, di ikuti Shinta yang terus berbaring di atas matras yang di siapkan. Shinta menurut, mengikuti setiap instruksi yang dokter arahkan.


Melihat perempuan dengan pakaian yang minim, ibarat selembar kain sisa yang disambung untuk menutupi bagian sensitif. Sang dokter menyibak sedikit kaos tank top yang melekat ketat di badan Shinta. Mengarahkan teleskop pada bagian dada guna memeriksa. Entah sadar atau tidak, merasa atau hanya suatu kekeliruan yang tidak di sengaja, dokter tampan itu menyentuh ujung dada Shinta. Menyentilnya layak seseorang pria dewasa yang memberikan kode jika dirinya tertarik dengan benda yang di tuju. Ah, itu bukanlah sesuatu yang aneh. Laki-laki mana yang tidak akan tergoda jika melihat perempuan terbaring pasrah dengan penutup tubuh yang tidak berguna. Iya. Tidak berguna menutup bagian lekukan yang menarik nafsu.


Sudahlah. Itu tidak bertahan lama. Hanya beberapa detik, di saat ia berpamit pada Vino untuk memeriksa perempuan yang ia bawa. Ya, mungkin dokter itu juga merasakan gelisah dan perasaan was-was takut jika Vino menangkap aksinya. Bodoh sekali, di lecehkan dengan jelas juga Shinta hanya bungkam tanpa melawan. Mungkin tubuhnya memang sudah terbiasa dengan hal-hal demikian. Tidak lagi menjadi sesuatu yang tabu dan pantas untuk di hindari.


"Jadi bagaimana dok keadaan Shinta ?" Belum juga duduk, Vino sudah menjejal dokter itu dengan pertanyaan yang mendesak. Sebuah tanda tanya besar yang mengharuskan segera menemui jawaban yang memuaskan.


"Tidak ada masalah, semuanya baik. " dokter itu mengangguk mencoba membaca hasil dari yang di coretkan. "Hanya ada sedikit gangguan di lambungnya, itu karena nona Shinta tidak memiliki jadwal makan dan istirahat yang teratur. " sambungnya dengan jelas.


Shinta dan Vino menarik nafas lega. Tiada lagi kecemasan yang perlu di khawatirkan. Mereka berpamitan setelah dokter menyerahkan secarik kertas yang berisi resep obat untuk di tebus di apotik.


Vino membawa Shinta kembali ke apartemen. Membelikan beberapa menu makanan dan meminta perempuan itu untuk memperbanyak asupan gizi. Ia tidak peduli sebenarnya dengan kondisi Shinta, melainkan ia hanya peduli dengan uang yang akan di hasilkan Shinta jika ia tidak sakit.


"Ya aku harus menjamin kesembuhan nya. Dia aset bagiku " Vino menggenggam erat jemarinya. Bergumam dan berpikir dengan otak dan logikanya sendiri.


"Hoek... Hoek...."


Lagi dan lagi, Shinta memuntahkan makanan yang baru saja masuk dan menyentuh perutnya. Dengan tergopoh-gopoh, Vino berlarian, mencari keberadaan Shinta yamg terdengar sedang membutuhkan dirinya.


"Shinta kau masih mual ?" tanya Vino jengah. Jika boleh mengaku dan tidak akan menghilangkan mood Shinta, sudah pasti Vino akan melayang kan kata-kata pedas yang menusuk dalam di dasar hatinya.


"Sekarang kamu minum obatnya, " Perintah Vino. Ia menyodorkan sebuah pil dan satu gelas air putih kepada Shinta. Memaksa perempuan itu untuk menelan cepat obatnya.


*_*


"Ada apa Key ? Ini masih sangat pagi, kenapa kau memintaku datang ke sini ?" Sudah tidak asing jika Rania datang dengan banyaknya pertanyaan yang menggantung. Menjejali telinga Keysha membuatnya penuh tak karuan mana yang akan terlebih dahulu mendapatkan jawaban.


"Minum dulu. Jangan buru-buru " Keysha terkekeh geli. Tepat sekali , mbok Darmi datang dengan membawa dua cangkir minuman hangat. Meletakkan di depan masing-masing sesuai dengan permintaan.


"Aku sudah tidak sabar mendengar berita bahagia yang ingin kamu katakan. Ayolah jangan membuatku penasaran. " Rengek Rania . Ia terus saja mendesak Keysha untuk berbicara dengan cepat. Meluapkan segala rahasia yang ingin ia sampaikan.


"Ok ok, baiklah ! " Keysha mengangguk pelan, seraya menarik nafasnya dalam-dalam.


"Begini Rania, untuk sementara waktu kamu bisakan meng-handle boutique ku dulu ?" ucap Keysha serius.


"Aku serius Ran, nanti biar Audrey membantumu di sana. " Ujar Keysha cepat.


Lagi lagi Rani tercengang. Mulutnya menganga, semakin tak habis pikir dengan keputusan Keysha yang diambil tanpa berpikir panjang.


" Key kamu tidak takut jika aku menipumu ?" Rania mengernyit. Mencoba menguji kesungguhan yang ada pada diri Keysha.


"Apa kamu sudah kebal di neraka ?"


Keysha tertawa lepas, lalu di ikuti oleh suara Rania yang membuntuti.


"Ok baiklah. Aku akan mencobanya, " Rani bersungut-sungut. Yakin dengan permintaan yang Keysha percayakan padanya.


"Oh ya Key, memangnya kenapa kau memintaku meng-handle semua ? Apa kamu berencana membuka cabang di luar kota ?"


"Oh, tidak Rania " Keysha tersenyum lebar.


"Aku ...aku hamil, " Gumamnya lirih.


"Hah ?" Rania membelalakkan matanya. Lagi lagi di buat tidak percaya dengan kejutan yang Keysha berikan.


"Biasa saja ," Keysha mengusap wajah Rania. Membuat perempuan itu sadar.


"Iya, jadi aku harus banyak istirahat untuk beberapa waktu ke depan. " ucap Keysha memperjelas.


"Keysha, ya Allah ...selamat ya Key, " Rania menggeser duduknya. Meraih tubuh mungil yang sedang berbadan dua. Ia mendekap Keysha dengan erat. Berulang kali mengusap perut Keysha yang masih ramping lalu memanjatkan doa agar Tuhan segera memberikan anak kedua kepadanya.


*_*


"Sudah beristirahat lah ! Jangan bandel, kau benar-benar merepotkan ku akhir-akhir ini, " Vino berdengus kesal.


"Aku juga tidak memintanya, "Gumam Shinta dalam hati.


Davino keluar kamar. Seperti biasa, laki-laki itu mengunci pintu dengan rapat dari luar kamar. Shinta hanya mengikuti cara Vino memakinya sesaat setelah Vino menghilang di balik pintu.


Shinta membaringkan tubuh di atas kasur. Ia memejamkan mata, berharap Tuhan memberinya kesempatan untuk bertemu dengan Lita walau hanya melalui mimpi.


"Ma ...Shinta kangen..." Kristal-kristal bening mulai membasahi pipi. Mengalir bebas tanpa tangan-tangan tulus yang mengusapnya.


"Apa mama tahu, Shinta sedih harus melakukan semua ini. " Lanjutnya dalam isakan yang semakin dalam.


"Ma, Shinta boleh ikut mama saja ? Shinta lelah ma, Shinta takut. Apa yang harus Shinta lakukan ? "


"Siapa yang mau menolongku di saat seperti ini, semua sudah tidak peduli denganku. Apalagi Keysha, dia pasti sudah tidak peduli dan bahkan engga mencari keberadaan ku. "


Bergumam dalam sesal hanya akan menambah luka yang mengikat . Namun, bagaimana ? Jika lupa saja terlalu sulit untuk di tindakan.