I'M Sorry! I Love You!

I'M Sorry! I Love You!
Berpisah



"Sayang tidak ada Ayah di tengah-tengah kita."


Keysha menyudahi makannya, Ia menutup sendok dan menggeser piring sedikit lebih jauh darinya. Ia mengambil beberapa lembar tisu untuk membersihkan mulutnya dari sisa-sisa makanan yang tersisa.


Lita tersedak, Ia segera meraih air minum yang masih terisi penuh di depannya. Meneguk habis segelas Ocha hangat pesanannya.


"Pelan-pelan Ma. " Shinta menepuk pelan punggung mamanya . Ia begitu menyayangi Lita, sama halnya Key begitu menyayangi Yeni maupun Danu. Secuil cerita yang baru ia saksikan , sekilas mengingatkan ia pada sosok Danu . Malaikat yang Allah kirim untuk hidupnya di masa kecil, sesaat sebelum hadirnya Lita di tengah-tengah kehidupan mereka. Ia mengulang-ulang moment saat Danu mengucapkan, "hati-hati nak, Ayah ngga minta kok" lalu menyodorkan segelas air putih untuknya. Ia juga menepuk punggung sama seperti yang Shinta lakukan pada Lita.


"Kenapa Ma ? mama kaget mendengar aku menyebut Ayah ? Dia tetap ayahku bukan ?" Ucap Key memecah lamunannya sendiri. Ia segera menghentikan pisau-pisau tajam yang terus mendobrak pertahanan hatinya. Mencoba mengoyak derita di masa lampau nya.


"Bu bukan Key. Mama, mama sedih kalau ada yang mengingatkan mama tentang almarhum ayahmu " Lita terisak, entah benar-benar bersedih atau hanya bagian dari topeng busuknya. Key terus memandangi dalam, menyibak sorot mata berharap menemui jawaban pasti di setiap sinar nya.


"Maafin Keysha ma , Key pun seperti itu " Tutur Key halus . Ia mengangkat tangan, memberi kode pada seorang pelayan yang berdiri tak jauh dari meja mereka. Ia paham maksud Key, begitu sampai ia langsung menyodorkan sebuah kertas yang menunjukkan total dari semua pesanan.


----


Setelah selesai Key beranjak , berjalan ke arah luar restoran berputar kembali ke arah butik miliknya. Lita dan putrinya masih setia, berdiri mengikuti arah Key pergi. Ikut menerima sambutan hangat seperti yang selalu Key dapatkan di setiap harinya.


"Mama jadi mau cari gaun pesta ?" Key membuka obrolan setelah beberapa saat mereka saling diam. Tidak ada bisik-bisik lembut lagi di antara mereka. Semua membisu, menelan mentah setiap pikiran yang terlintas . Saling beradu argumen antara hati dan logika masing-masing.


"Mmm, tadi nya mau lihat-lihat dulu Key. Tapi kayanya kapan-kapan aja ya " Ucap Lita jelas.


"Kenapa ma ? Karena semua tertutup ? " Key terus menghujami nya dengan ragam tanda tanya. Melilit lidah Lita, dengan tingkah dan kata nya sendiri.


"Bu bukan gitu Kak. Shinta ada janji sama temen Shinta, jadi maaf ya kak. Mungkin lain kali Shinta pasti ke sini lagi " Makin pandai saja rupanya gadis ini adu peran. Merangkul akrab bak tiada apa-apa sebelumnya. Berjalan lurus tak berfikir tikungan apa yang sengaja ia belokan di waktu sebelumnya.


"oh OK ,Key tunggu. " Key menyerah, Ia sangat lelah dengan drama bersama mereka berdua. Masih banyak hal yang perlu ia urus, belum lagi waktu yang semakin cepat berlari. Mengejar siang menjadi sore, menutup senja menjadi petang.


"Ya sudah ya nak, kita pamit dulu " Lita menutup nya. Garis ceria nya kembali memenuhi raut wajahnya. Begitu pula dengan Shinta, senyum bahagia mulai terlukis indah di sela-sela matanya.


"Iya ma ..Kalian hati-hati , jika tidak ke sini lagi, Key yang akan datang ke rumah " Ancam Key halus. Ia mengedipkan mata , memastikan jika ucapan nya bisa di mengerti oleh mereka.


"Baiklah , aku pegang ucapan mu Shinta Kayyana "


"Bye kak " Lita dan Shinta langsung berbalik arah , Mengayun langkah penuh kebebasan.


"Assalamualaikum " Key masih bersuara, mengucap salam masih dengan sangat lembut. Menghentikan hentak kaki Lita dan Shinta bersamaan. Mereka saling menatap, bertabrakan mata menyadari kesalahan.


"Wa'alaikum salam " Mereka menjawab salah masih sama kompaknya. Ekspresi wajah khilaf yang tak tertandingi konyolnya.


Keysha hanya tersenyum, lalu menggelengkan kepala nya ringan. Kali ini, ia yang memilih pergi. Meninggalkan dua wanita itu dengan gaya mematung nya. Tidak ada protes yang beterbangan, hanya nafas- nafas lega yang tercium wangi di udara.


"Hehhhh !!! Kenapa sih ma , dulu buka Shinta aja yang mama nikahin sama Sandy ! Harusnya Shinta yang ada di posisi itu . Menginjak-injak harga diri orang sepuas hati " Shinta menggerutu, mengomel pada sang waktu , mempertanyakan pangkal dari semua yang telah mereka lalui bersama.


"Kalau tahu semua bakal seperti ini, mama juga ngga tunjuk Key yang di nikahi Sandy Shin " Begitu pun Lita . Ia ikut menggerutu menghakimi masa lalu. Keegoisan dirinya sendiri lah yang sekarang menyiksa hidupnya.


Semua atas pilihannya , atas pinta yang ia paksakan. Semua kehendak yang ia ridho'i . Key tidak pernah menawarkan diri untuk di pinang oleh Sandy, ia tidak pernah tak punya harga diri dan memurah kan diri. Ia berbesar hati, menerima semua kehendak yang tidak ia pikirkan. Legowo mengiyakan jalan hidup yang tak pernah terlintas di benaknya.


Kali ini, saat dunia mulai menyadari, saat bumi mulai menampakkan diri, saat waktu telah tak tega mempermainkan hatinya. Keysha lah yang beruntung. Hidup bahagia dengan seseorang yang membeli raga dan jiwa nya. Menukar dengan sebuah saham yang menyakiti ingatannya.


Tentang Lita dan Shinta ? yang dulu berjaya dengan caranya , yang bahagia di atas derita hidup yang Key alami . Kini harus merana, meradang dengan luka yang perlahan ia tancapkan seorang diri. sedikit , sedikit ,lalu makin dalam menancap nan sulit lagi mereka tarik. Biarlah ! biar rencana-rencana buruk itu kembali pada dirinya sendiri. Semua akan jelas, terlihat bahkan tak lagi bisa di tolak. Kalian ? Pasti akan menerima duka yang lebih mengerikan ! Mengertilah .....


"Lihat saja , aku bakal balas pelecehan yang kamu buat hari ini pada ku Keysha Larasati !" Shinta masih tak terima , ia murka di balik perlakuan halus yang Key lakukan. Setiap kata yang baginya adalah sindiran, kini kembali membekas dan melukis dendam baru di hatinya.


"Shin ? kamu mau ngapain? jangan neko-neko ya " Lita khawatir , ia tak percaya dengan apa yang anaknya rencanakan . Tak yakin semua berjalan mulus seperti yang ia bayangkan.


"Shinta bakal bales ma . Shinta ngga terima di giniin !" Ia berdecak kesal, mulutnya manyun dan wajah nya kusut .


"Ya tapi jangan asal bales Sayang. Kamu bakal celaka kalau ketahuan sama Sandy " Lita mengingatkan, ia menekan setiap kata yang keluar dari balik lidahnya. Memperjelas tepak di depan telinga Shinta. Ia memperhatikan sekitar, merasa was-was takut ada mengintai, memperhatikan gerak-gerik mereka lalu sengaja melapor kepada Keysha dan Sandy.


"Tenang saja ma, Shinta bakal main halus " Shinta menyeringai puas , tersulut pikiran buruk di balik senyum liciknya.