I'M Sorry! I Love You!

I'M Sorry! I Love You!
Flashback



"Ikutlah denganku, aku akan membelikan gaun itu untukmu." Vino melangkah, ia berjalan menelusuri tepi jalan.


Lita dan Shinta hanya mengikuti dari belakang. Ada keraguan yang terbesit, tapi keduanya memilih mengenyahkan itu. Mereka tidak peduli, bahkan tentang gelisah yang tiba-tiba menyelinap masuk dalam hati. Yang ada dalam pikiran hanya mereka sedang bertemu dengan orang kaya yang akan mengangkat keduanya dari jurang kemiskinan.


"Hmm...Shinta, apa bisa jika kita pergi berdua saja. Aku sangat ingin mengenalmu lebih jauh." Vino menghentikan langkah, dengan halus dia meminta Lita agar tidak mengikutinya. Ya, dia hanya berharap Shinta menerima syarat yang di ajukan itu.


"Kenapa ? Dia mamaku." Sepertinya Shinta tidak terima itu. Ia tidak senang melihat Vino yang memandang Lita dengan tatapan hina.


"Bukan..Maksudku, kita pergi berdua saja," Vino kelabakan mencari alasan. Ia merogoh saku dan mengeluarkan dompet. "Tante bisa gunakan ini untuk apapun yang tante inginkan. " Sebuah kartu debit Vino serahkan begitu saja.


Shinta dan Lita kompak melebarkan mata, mereka saling menoleh dan melempar pandangan. Makin tidak percaya dengan perlakuan Vino yang semua terasa mendadak. Wah, dia benar-benar sedang bingung menghabiskan duit, pikir Shinta.


"Itu ada uang sekitar lima puluh juta. Tante bisa gunakan untuk apapun yang tante mau." Vino memasukkan kembali dompetnya ke dalam saku celana dengan gaya cool. "Jadi bagaimana, apa boleh Vino pinjam Shinta ?"


Lita terkekeh kecil lalu mengangguk cepat mengiyakan. Pun dengan Shinta, gadis itu juga tampak berbunga-bunga dan sedang menerka-nerka dengan imajinasi nya. Banyak hal yang terbayang, bahkan apa yang akan ia lakukan pada pria tajir tersebut.


Lita langsung berbalik arah, ia melepas Shinta begitu saja tanpa peduli kemana pria itu akan membawa putrinya. Rupanya masih sama, cara terbaik untuk merayu kedua wanita itu hanya dengan uang. Ya, uang bisa membeli kepercayaan mereka berdua.


Banyak yang Lita lakukan sejak pagi itu hingga malam hari. Ia tidak peduli bagaimana dengan putrinya, apa yang dia lakukan bahkan siapa yang membawanya pergi. Yang dia ketahui hanya sekedar cover, ya ia tahu jika Shinta sedang berbahagia bersama seorang pria tajir yang membelikan apa yang sedang ia pinta. Begitulah menurutnya.


Hari sudah berganti, satu hari kemarin berlalu cukup membahagiakan bagi Lita. Ia tidak sadar, bahkan terbuai hingga pulas tertidur di sofa ruang tamu ketika ia sedang menanti putrinya pulang. Belanjaan yang mengitari tubuhnya, berserakan begitu saja tanpa ada iktikad baik untuk ia merapikan terlebih dahulu.


Pagi menyapa dengan cepat, Lita menggeliat melepas penat. Tubuhnya terasa kurang enak karena posisi tidur yang tidak nyaman bagi tubuhnya.


"Shinta..." Lita berteriak memanggil-manggil nama putrinya. Ia berjalan sempoyongan karena nyawanya belum seutuhnya kumpul. Ia masih sangat ngantuk, tapi tidak sadar untuk membagi cerita indahnya bersama Shinta. Ia pun tidak sabar mendengar senandung merdu sang putri mengisahkan tentang perjalanan indahnya di hari kemarin.


"Shinta...." Lita berdiri di depan kamar tidur Shinta. Ia mengetuk pintu dan menunggu di sana dengan rasa penasaran yang kian memuncak.


"Mama masuk ya sayang." Ucapnya lagi, kali ini Lita mendorong pintu dengan sangat antusias. Tapi, dia tidak melihat Shinta di sana. Sepetak kamar kecil itu masih tertata rapi, seperti tidak ada aktivitas sebelumnya.


"Shinta kamu dimana ?" Lita mulai panik, ia mengelilingi rumah kontrakan yang di sewanya satu bulan terakhir ini. Sejak kejadian yang menimpa Keysha, sejak mereka berani melawan Chandra dan memilih angkat kaki dari rumah besar yang di pinjamkan secara sukarela. Semua karena Cherry tentunya, karena sebuah apartemen mewah yang di janjikan. Sayang, semua gagal mereka dapat karena Keysha selamat.


"Sayang ....Apa kamu tidak pulang semalam ?" Lita semakin panik setelah mengitari setiap sudut ruang, tapi tidak juga terlihat adanya Shinta. Ia mengotak-atik ponselnya, lalu menempelkan di telinga dengan cepat.


"Shinta, kenapa nomer mu tidak aktif." Gerutu Lita dalam cemas yang membuat tubuhnya bergetar. Ia tidak lagi terlihat bahagia seperti sebelumnya.


Lita mencoba menghubungi semua teman-teman Shinta, tapi satupun tidak ada yang mengetahui keberadaan Shinta. Tentu saja, semua membuat Lita semakin gelisah dan takut. Bahkan ia sangat merasa bersalah karena membiarkan Shinta pergi bersama orang yang baru saja mereka temui.


satu jam berlalu, di tengah rasa cemas yang menyeruak dan menjalar ke seluruh tubuh Lita, tiba-tiba ponsel Lita berbunyi. Sebuah pesan dari nomer yang tidak ia kenal masuk.


Dengan perlahan, ia membuka dan membaca pesan yang masuk dengan jeli. Seketika itu, ia terlihat sangat terkejut dan membulatkan mata dengan sempurna.


"Tidak mungkin." Tutupnya seraya membiarkan air mata itu mengalir bebas. Lita mengulang kembali membaca untuk meyakinkan bahwa apa yang ia baca adalah suatu kesalahan.


Jangan khawatirkan putrimu sayang, dia baik-baik saja bersamaku disini. . .


Lima puluh juta yang putraku berikan untukmu, ku rasa sudah cukup besar untuk kau menyewakan tubuh molek Shinta sebagai gantimu.


Kurasa kau tidak lupa siapa diriku, dan apa tujuan ku meminjam Shinta....


Deg ! Jantung Lita berdetak kencang, ia mengusap matanya dan berulang kali membaca pesan itu. Nihil ! Semua masih saja sama. Harapan Lita pupus begitu saja. Ia terkulai lesu dan menjatuhkan tubuh di atas lantai. Menangis sejadi-jadinya, merasakan sesal yang sangat menyesakkan dada.


"Remon." Ucap Lita lirih. Terngiang sebuah nama yang sempat familiar dengan masa lalunya. Lita menangis keras dan tidak tahu harus kemana ia meminta pertolongan untuk menyelamatkan Shinta.


Selepas itu, Lita keluar tanpa tujuan. Raut wajah yang memelas tanpa riasan tebal seperti hari-hari biasanya. Lita terus saja menelusuri jalanan. Tidak peduli banyak orang yang menatapnya hina. Mungkin, mereka hanya berpikir jika Lita tidak waras. Sangat acak-acakan dan berjalan tanpa alas kaki.


Lita berdiri di tepi jalan, lalu menerobos masuk ke tengah jalan tanpa memperhatikan sekitar. Ia tidak menoleh ke kanan dan ke kiri. Tidak mempedulikan mobil-mobil besar yang melesat dengan cepat.


"Kamu dimana Shin..." Lita kembali menangis, ia sungguh berkecamuk dalam sesal yang kian gencar menghantui.


"Maafkan mama...." Tambahnya lagi. Air mata yang mengalir semakin deras membasahi pipi. Lita sudah tidak peduli dengan suara klakson mobil yang menyapa telinganya. Silih berganti memberikan peringatan agar dia segera menepi.


"Maafkan mama...."


Hingga tiba-tiba sebuah mobil meluncur kencang. Lita tersentak dan sadar jika nyawanya tengah terancam. Otak dan logikanya seolah membeku, ia tidak bisa berpikir apa yang harus di lakukan. Ia hanya menjerit dan menutup mata serta telinga, berseru dalam hati agar Tuhan masih melindunginya.


.


.


Flashback Off


.


.