
*Flashback_Sandy*
Reno melangkah keluar ruang, Sandy hanya terdiam melihatnya hingga pria itu menghilang di balik pintu. Membiarkan seseorang yang juga menjadi sahabat nya itu mengistirahatkan diri dari beban hidup Sandy yang turut memusingkan kepalanya.
"Maaf Reno, aku harus merepotkan kamu terus-menerus. Aku tahu, kau tidak akan pulang setelah dari sini." Sandy berbicara sendiri. Ia menyulut senyuman miris di sudut bibir.
"Aku akan menemukan Cherry, Ren. Akan ku seret dan masukkan perempuan iblis itu ke dalam penjara. Ku harap, Tuhan adil dan memberinya hukuman yang setimpal atau justru lebih pedih dari apa yang istriku rasakan." Sandy menyibak kain bermotif garis-garis yang menutup bagian kakinya. Ia mengendap-endap, melangkah ke luar ruangan. Tidak peduli dengan keringat dingin yang mulai membasahi pelipisnya. Ya, Sandy masih sangat lemah untuk berjalan dengan jarak yang cukup panjang. Dia perlu istirahat dan lebih lama terdiam tanpa pergerakan yang melelahkan.
"Sial, kenapa tubuhku lemah sekali, kakiku seperti mati rasa semakin sulit untuk beranjak." Sandy menghentikan langkahnya di depan ruang perawatan. Ia lama terdiam dengan bersandar pada dinding rumah sakit.
"Tidak....aku harus kuat." Sandy masih berusaha bangkit, memompa rasa semangat untuk meyakinkan hatinya sendiri. Ia menyeret kaki nya yang mulai gontai. Memaksa raga yang semakin menolak keinginan jiwa.
Bruuggggg
Tubuh Sandy terpental, ia langsung beringsut mundur dan terjatuh di atas lantai. Ada sesuatu yang menimpuk tubuhnya, mendorong hebat membuat kesadaran nya semakin hilang. Kepalanya mulai berkunang-kunang, keadaan sekitar tampak berputar dan semakin menghilang dari penglihatannya.
"Sandy...Sandy....Apa yang terjadi ? Sandy !" Sayup-sayup Sandy masih mendengar ada seorang yang menyebut-nyebut namanya. Berbicara dengan suara tinggi yang bernada khawatir. Tidak jelas siapa orang itu, tapi jika di dengar dari suaranya dia ini adalah pria dewasa.
Sandy sudah tidak bisa mendengar apapun, tidak bisa melihat keadaan sekitar yang menjadikannya sebagai pusat perhatian. Dia sudah larut di alam bawah sadar, berlayar di antara dua dunia, antara terang dan gelap, berlari atau justru mundur untuk menghilang. Ia masih berada di dunia ke bimbangan, gundah yang hanya kalbunya sendiri yang peka tentang itu. Tidak ada lagi arti kenyamanan yang bisa dia ajukan tanda tanya, mempertimbangkan keputusan dan mengambil langkah dengan hati yang berseri. Sandy terpaku di ambang pintu, tidak bisa memilih arah dalam sepi yang menggelayuti. Sendiri, hanya semakin mengundang dilema yang menerkam hati. Jiwanya berlarian tanpa arah, di kejar waktu dan segala tekanan yang belum usai. Banyak tuntutan yang perlu dilakukan. Jika Tuhan berkenan, ingin sekali dia cepat-cepat kembali, lalu menyelesaikan semua dan baru berpikir 'terserah Tuhan mau dia melewati jalan yang mana'. Ia pasrah, dan tidak bisa menebak segala akhir hanya dengan otak dan logika. Nuluri nya bisa saja memohon dan terus meminta, menerka-nerka dengan hal baik yang bisa saja Tuhan berikan di titik akhir, lalu menjadi hadiah yang tidak akan pernah di beli dengan jumlah uang yang besar. Wallahu a'lam, semua kembali pada rencana Tuhan Yang Maha Baik.
---------
Rania membelalakkan mata ketika ada seseorang yang menepuk bahunya. Tangannya terasa dingin, menjalar dan menyentuh hati.
"Mati." Lirih Rania dalam hati. Ia mengaku telah salah menguping pembicaraan orang lain, dia telah dengan sengaja masuk dan terlibat dalam rahasia orang lain.
Dengan tubuh yang kaku, Rania berusaha menoleh. Menengok orang yang juga terpaku dan sengaja menyembunyikan suara di balik nya. Diamnya, menjadi hal yang mendorong ketakutan sendiri pada diri Rania.
"Ibnu ?" Ucap Rania heran. Ia menautkan alis, berucap dengan berbisik agar Reno tidak menyadari keberadaannya.
"Untuk apa kamu di situ ? Apa yang kamu lihat ?" Tanya Ibnu heran.
Rania membulatkan mata, memukul ringan pada bagian perut Reno. Perempuan itu sudah mengangkat telunjuknya, menuntut dan meletakkan di depan bibir cantiknya.
"Jangan berisik !" Gertak Rania geram.
Ibnu tampak memainkan alis, tidak lagi bersuara karena sejatinya dia masih tidak yakin dengan tingkah istrinya.
Rania menyeret lengan suaminya, membawa pria itu menjauh dari sekitar Reno. Ia tidak ingin jika keberadaan nya di sana akan menimbulkan masalah baru. Menyulut amarah Reno karena suasana hati pria itu sedang tidak karuan. Sudah pasti, itu bukan dugaan awal, masa lalu Rania yang buruk di matanya akan menghadirkan kembali dendam yang sempat tertahan.
"Ada apa sih Ran ? " Ibnu menepis tangan Rania yang tidak kunjung melepas nya meskipun mereka sudah berada di halaman rumah sakit.
"Untuk apa kamu di sini Nu ? Apa kau ingin menjenguk Keysha setelah aku bercerita kemarin ?" Ucap Rania dengan pelan. Ada rasa ragu yang terkandung pada kata-katanya.
Ibnu menoleh cepat, "Aku hanya ingin memastikan saja kalau dia baik-baik saja. Tidak perlu berpikir negatif karena aku sudah tidak memiliki rasa apapun padanya."
Rania kembali tersenyum mendengar ucapan Ibnu, ia berjalan dan terduduk di atas bangku taman yang sudah sedari tadi menawarkan diri. Ia membuang pandangan, mengacuhkan Ibnu yang jeli mengawasi setiap inci ekspresi wajahnya.
"Bagaimana keadaan Keysha ? Aku belum sempat menemuinya tadi. " Rania merundukkan kepala. Ia memainkan kaki seolah sedang berusaha keras menutup rasa sedih yang perlahan hinggap di hatinya.
"Aku belum bertemu dengannya." Jawab Ibnu seraya melangkah mendekati Rania. Ia tidak melepas mata dari tubuh Perempuan itu. Hatinya mulai bertanya-tanya pada diri, merasa heran dengan sikap Rania yang bisa tenang ketika dia mengakui tujuan dia datang ke rumah sakit. Mungkin, dia memang sedang berusaha menahan amarahnya, tapi ini jelas bukan diri Rania yang sebelumnya. Hal sekecil apapun akan dia permasalahkan jika sudah berhubungan dengan Keysha. Namun, tidak dengan hari ini. Ada rasa kagum yang Ibnu rasakan, ada pula setitik senang yang menyapa, tapi aneh. Di sela dua rasa yang harusnya bisa membuatnya tenang dan bernafas lega, justru ada satu hal rasa yang mengganjal di hati. Ada gelisah, ketika ia melihat manik-manik mata istrinya, ada kata susah ketika sedih tertahan dalam tubuh perempuan yang telah melahirkan putri cantik untuknya.
"Apa kau sedang ada masalah ?" Ucap Ibnu dengan lembut, ia menggenggam erat jemari istrinya. Entahlah, ada keinginan yang memaksanya melakukan hal romantis yang jarang sekali ia lakukan.
Rania melihat nya heran, lalu menyunggingkan senyum tulus yang membuat wajahnya semakin cantik saat di awasi dengan jeli. "Tidak....Aku tidak apa-apa. Kenapa kamu tidak segera menemui Keysha ? Aku sedang menunggu kabar baik darinya."
"Apa kau bersedih karena aku tidak berkata jujur padamu sebelum pergi ?" Ibnu masih sibuk dengan dirinya. Dengan satu rasa yang belum dia ketahui arahnya.
"Tidak....Aku tidak seperti itu Ibnu. " Rania membantah dengan cepat.
"Lalu ? "
"Sudah ku katakan, aku baik-baik saja. Cepatlah masuk , aku akan menunggumu di sini."
"Keysha pindah kamar perawatan. Dan ada beberapa orang yang menjaganya di depan pintu. " Ibnu tertunduk lesu.
Kemudian, ia kembali mengangkat kepala ketika tiba-tiba ingatannya membawanya pada sebuah kejadian sebelum ia menemui Rania. "Rania, apa kau mengetahui tentang sakitnya Sandy ? Apa dia sudah lama menderita penyakit itu ?"
"Penyakit ?" Rania mengulang kalimat Ibnu untuk meyakinkan.
"Ya. Liver hati dan itu sudah parah." Ucap Ibnu cepat, ia tidak berpikir panjang dan secara gamblang mengungkapkan di depan Rania.
Rania kembali tertegun, jantungnya tersentak hebat membuat tubuhnya melemas. Ia menyenderkan tubuh pada bangku taman, Pikirannya membawa bayangan tentang Keysha.
"Kau tahu dari mana Nu ?" Tanya Rania penuh selidik.
"Aku tadi tidak sengaja menabraknya hingga membuat dia jatuh tersungkur. Saat aku mencoba membangunkan dia, dan berusaha meminta maaf. Ada seorang dokter yang berbicara dengan perawat. Remang-remang mereka membicarakan tentang penyakit Sandy yang sudah parah. Bahkan, menurut diagnosa usia Sandy tidaklah panjang lagi." Ibnu menutup cerita dengan ragu. Ia memperhatikan istrinya yang sudah bercucuran air mata, turut sedih mendengar nasib buruk yang menimpa diri Sandy.
Rania, apa kau sungguh telah berubah ?