
"Kenapa sayang ?" Yeni kembali berjalan ke belakang. Mengimbangi langkah sang putri yang tiba-tiba terhenti beberapa langkah darinya. Wajah perempuan itu terlihat merona, seperti sedang merahasiakan sebuah rasa yang dia sendiripun mulai tidak meyakini.
"Key, kenapa nak ?"
Alih-alih menjawab rentetan pertanyaan yang Yeni terus timpakan padanya, Keysha justru menutup wajah dan duduk berjongkok. Suara isak tangis, sayup-sayup mulai terdengar, beriringan dengan riuhnya angin yang mengibarkan jilbab panjang mereka berdua.
"Loh ?" Yeni ikut pusing di buatnya. Ia semakin tidak mengerti bagaimana cara untuk mengendalikan putrinya. Sikapnya benar-benar berubah. Ia sangat posesif dan pencemburu berat. Lebih anehnya, bisa tiba-tiba yakin, lalu kembali ragu. Tertawa, hingga tiba-tiba menangis tanpa alasan.
"Bunda, Keysha malu. Kenapa aku bisa bersikap sebodoh ini ?" Rupanya, ia mulai sadar akan sikapnya. Tingkah yang bisa di bilang sangat konyol dan tidak mencerminkan dirinya. Yeni hanya memilih diam, dan berjongkok di depannya, tidak bersuara meskipun anak perempuannya sedang meraung menangisi dirinya sendiri yang tak mampu mengontrol emosinya.
"Keysha malu bun...."
Yeni tersenyum, lagi lagi, ia memaklumi sifat putrinya. Dengan penuh kasih, Yeni meraih tubuh Keysha dengan saling berjongkok. Membawanya kembali ke dalam dekapan hangat, yang mampu membuat anaknya lebih tenang. Mudah baginya untuk berdamai dengan diri, jika telah tersentuh oleh sang Bunda.
"Jadi, apa yang akan kamu lakukan ?" Yeni mengajak Keysha berdiri, dengan menopang kedua bahunya. Mereka, kini telah duduk di bangku panjang yang terletak di area kantor milik sandy.
"Keysha tidak akan membutuhkan CCTV bun. Ku rasa, akulah yang salah. Aku akan meminta maaf pada kak Sandy. Aku telah berlebihan dan berpikir buruk tentangnya." Keysha merundukkan kepala. Kedua jemarinya, sibuk bermain-main seiring dengan rasa hati yang tak menentu. Namun, tetap malu yang mendominasi.
Yeni menatap pada punggung Keysha, yang mulai melangkah meninggalkannya. Berjalan dengan penuh keyakinan menuju gedung mewah yang menjulang tinggi, menatap langit. Hatinya terus bergeming, memohon agar Allah memberinya kekuatan untuk berpikir positif seperti hari-hari sebelumnya. Setiap hentakan kaki yang ia ayunkan tanpa ragu, menghadirkan sebuah harapan, agar gadis licik itu segera pergi dan menghilang, Entah kemana.
"Bu Keysha, untunglah anda kembali.." Safira menyambut Keysha dengan sangat hangat. Senyuman berbinar di wajahnya, aroma nafas lega sedang ia hembuskan kuat-kuat. Keysha hanya tersenyum menanggapi, lalu bergegas memasuki lift untuk menuju ke ruangan pribadi Sandy.
Mulanya, Keysha sangat yakin dengan keputusan hatinya untuk meminta maaf. Namun, ketika tubuhnya telah berada tepat di depan pintu ruangan Sandy, keraguan mulai menggelayuti jiwanya. Ia tampak mondar-mandir di sana, bersiap membuka pintu, tapi kembali lagi ia turunkan. Sungguh, ia benar-benar di bimbangkan oleh isi hatinya sendiri.
"Sudahlah, nanti saja di bicarakan di rumah. " gumam Keysha dalam hati. Ia memantapkan diri,.untuk kembali keluar dan pulang ke rumah.
Baru langkah kedua setelah ia berbalik arah, pintu di belakang nya terdengar terbuka. Sangat ringan, tapi tidak akan suara yang menyapa hatinya .
Lambat laun, karena rasa penasaran yang telah memuncak, Keysha membalikkan tubuh dengan pelan-pelan. Tidak ada perempuan yang merusak moodnya di sana. Hanya terlihat laki-laki tampan, yang baru saja menangis memohon permohonan maaf kepadanya tampak sedang senyum-senyum sendiri di ambang pintu. Ia menyandar pada tembok, melipat tangan di depan dada dengan santai. Kakinya, juga terlihat menyilang, menopang tubuh.
"Kenapa kakak senyum-senyum ? " tanya Keysha.
"Aku tadi sempat terkejut saat melihat CCTV, dan ada bidadari cantik sedang kebingungan di depan ruang kerjaku. Ku pikir, ia sedang kesasar dan butuh bantuan, " jawab Sandy dengan nada menggoda.
Keysha tersipu malu, ia menyembunyikan wajah yang tampak memerah begitu mendengar ucapan Sandy yang sedang memujinya.
"Ternyata, begitu aku buka pintu, bidadari nya lebih cantik dari yang ku lihat dari CCTV tadi. "
"Ah, kak Sandy ! apa sih ?" sahut Keysha dengan raut semakin memerah menahan senyuman. Ia melangkah masuk, menyenggol tubuh suaminya yang berdiri menghalangi pintu.
Sandy menarik tangannya penuh semangat. Merasa puas karena berhasil membuat istrinya tidak lagi merajuk. Ia segera menutup pintu kembali, dan masuk ke dalam mengikuti sang istri. Untuk urusan selanjutnya, tentu Sandy sangat tahu. Ia tidak mungkin akan kembali ke balik meja kerjanya, dan tidak peduli dengan kedatangan sang istri, hingga membiarkannya menyendiri dengan tumpukan-tumpukan buku sebagai teman melewati waktu kosongnya. Sandy sudah duduk di samping Keysha, di sofa panjang yang tertata tapi di sudut ruang. Menghadap ke luar, seolah sedang menatap langsung pada putihnya awan. Menyatu, dan serasa berada di negeri atas langit.
"Sayang, maafkan aku ya. Apa yang kamu lihat tadi..."
"Shuut.." Keysha segera menutup bibir Sandy dengan jari telunjuknya. Tak membiarkan laki-laki itu menyelesaikan satu kalimat, yang telah ia tata sedemikian rupa. Kata demi kata, yang sulit ia rangkai demi sebuah penjelasan. Sandy masih merasa tidak enak hati dengan kesalahpahaman yang ia buat sendiri. Hatinya, sungguh mulai memaklumi sikap yang istri yang terkadang sebanding dengan Allan dan Lena. Ya, karena ia berpikir itu hanya akan bertahan beberapa bulan saja, sesuai dengan sebuah artikel yang menjelaskan secara rinci yang ia baca di internet.
"Sayang, seharusnya aku yang minta maaf. Aku sangat tahu, kamu begitu membenci Cherry, dan seharusnya aku tidak bertingkah seperti tadi." Keysha menggenggam tangan Sandy. Memohon maaf dengan segala kerendahan hati. Mungkin, ia sangat malu dengan pengakuannya, tapi hatinya bersorak senang karena mampu melawan ego yang sejatinya tidak layak ia pertahankan.
Sandy melemparkan secuil senyuman lega, yang di balas cepat oleh sang istri. Mereka cukup lama saling menatap, bertukar pandangan dan menautkan kembali hati yang terlepas karena luka. Sandy meninggalkan kecupan hangat di kening Keysha, lalu meraihnya dengan sangat lembut. Mereka telah saling bertautan sekarang. Saling berpelukan, melepaskan kesal dan bekas-bekas luka yang tak berguna.
"Akan aku selidiki, siapa yang telah membebaskan perempuan licik itu. " ucap Sandy dengan wajah arogan. Tatapan tajam, menyalakan bara dendam yang sebenarnya sudah mulai padam.. Seperti api yang mulai mati, tetapi masih meninggalkan arang panas. Dan, kembali di siram dengan beberapa kaleng minyak tanah. Bukan semakin padam, justru kembali menyala dan berkobar lebih besar.
"Jangan marah-marah ya sayang. Aku kangen Keysha yang dulu, " Sandy menyentil ujung hidung sang istri. Membuatnya semakin tersipu dan merasa malu mengingat pada kejadian-kejadian yang tidak jelas sumbernya.