
"Ayo kak. Kita harus buru-buru. Katamu Bunda pasti ada disana dijam-jam segini" Key menarik lengan suaminya. Bukan karena Sandy bermalas-malasan atau ogah menuruti kamauan Keysha. Hanya saja Key yang terlalu tergesa-gesa. Dia sangat berambisi jika orang yang Sandy ceritakan benar-benar Yeni. Lebih bisa dibilang, dia tidak sabaran melihatnya sendiri.
"iya sayang.. Tapi hati-hati, orang itu sampai siang mengajar di tempat itu" Sandy menjelaskan.
Mereka kini berada di sebuah pedesaan. Desa terpencil, jauh dari kota asal mereka. Perjalanan memakan waktu tiga sampai lima jam dari kota. Rumah-rumah warga yang masih sangat asri nan sejuk karena terlihat menyatu dengan alam. Masih jarang rumah yang menggunakan batu bata sebagai dinding. Tak heran jika hampir semua warga desa bekerja sebagai petani.
Anak-anak di desa itu, jarang yang bersekolah tinggi . Selain ikut belajar di sekolah gratis yang didirikan seorang wanita yang mengaku bernama Wulan. Ya, wanita itu, wanita pendiri sekolah gratis itu yang disebut Sandy dengan nama Yeni.
"mana Kak?" Key memperhatikan setiap penjuru. Matanya di sambut hamparan luas tanah persawahan dan gubuk kecil yang mulai didatangi anak-anak.
Sandy menatap gadis mungilnya, melempar secuil senyum lalu menunjuk pada wanita yang berjalan dari arah yang berlawanan. Wanita yang juga mengenakan jilbab dan membawa beberapa buku ditangannya. Wanita yang berjalan menunduk menuju gubuk yang didatangi anak-anak kecil tadi.
Mata Keysha berbinar, dia memperhatikan sekujur tubuh wanita paruh baya itu. Dia perhatikan semua yang ada padanya, matanya, bibirnya, cara dia berjalan, bahkan saat dia melempar senyum pada orang-orang disekelilingnya.
Key mengayun kakinya yang mulai bergetar. Rasa bahagia bahkan takut menyelimuti relung hatinya. Matanya kian deras mengalirkan air mata bahagia.
Hingga tiba di saat keduanya saling berdekatan, bertatap mata, saling memperhatikan, dan merasakan aliran batin yang mengikat.
Kau kah ini Bunda? Yang 8 tahun yang lalu hilang? Bunda kau kah yang ada di depan mataku ini? Yang raganya selalu kurindukan! Yang jiwanya selalu kurasa dekat di saat aku menangis tanpa sandaran......
"Bunda?" kata pertama yang lolos dari mulut Keysha saat wanita itu sanggup mendengarnya.
Wanita itu hanya terus menatap Key dengan ragu. Tidak ada pergerakan kecuali matanya yang tak bisa berbohong. Mata yang mengalirkan hasrat kerinduan yang mendalam.
"apa Bunda ingat Keysha?" Key melerai setiap kata yang keluar.
"anak Bunda, yang 8 tahun yang lalu kita pisah?"
Wanita itu menyeret kakinya yang terlihat lemas. Mungkin batin nya sedang tidak mempercayai, raga nya merasa kaget melihat anak gadisnya. Tapi hatinya menuntut dia untuk memeluk tubuh Mungil gadis yang mulai beranjak dewasa itu.
Hangat, hangat kurasa..
Mengalir, iba, menusuk, jiwa...
Bunda,pelukmu yang sempat hilang,membawa rindu yang tak terlupa...
Dekapan mesra, yang tak pernah kuperoleh dari dia yang mengikrarkan sebagai janji penggantimu...
Bunda, aku sungguh merindukanmu...
"Key rindu bunda" Key membenamkan wajahnya disela-sela pundak wanita itu.
"begitupun Bunda" Yeni membuka suara. Seolah memberi jawaban atas rasa penasaran Keysha. Kegelisahan yang mempertanyakan kebenaran.Ya, inilah Bunda, nak. Bunda yang senantiasa kau rindukan.
"Bunda, kenapa bunda tidak kembali? Ayah selalu mengatakan kalau bunda sudah meninggal. Key sedih Bunda" Key kembali memeluk Yeni yang sempat dia lepas beberapa detik yang lalu.
Sandy mendekat, setelah memberi waktu untuk keduanya melepas rindu. Key memperkenalkan Sandy sebagai suaminya. Yang disambut tawa kecil oleh sang Bunda.
"Bunda tak percaya jika Key sudah menikah?" wajah Key berubah masam.
"Bukan seperti itu sayang. Bunda sudah mengetahuinya" jawaban Yeni membuat Key terperanjak. Dan memancing rasa penasaran gadis itu.
Bersambung..........