
Keysha dan Audrey melangkah masuk dengan tangan yang saling bertautan. Salam ramah dan sebuah penghormatan bersahutan di telinga mereka. Tidak sedikit yang saling melempar mata, saling memberi kode meminta jawaban dari rasa penasaran yang melibatkan hati mereka. Seorang gadis cantik yang tidak pernah terlihat, tiba-tiba melintas di depan mata dan memamerkan kedekatan yang mendalam dengan istri boss besar mereka.
Keysha dan Audrey sesekali masih berdekapan, mereka mengutarakan kemesraan yang sudah lama tidak terjalin. Apalagi Audrey gadis manja dan selalu berteriak meminta kakak perempuan kepada Tuhannya. Lucu sekali, dia memang mendambakan itu sejak usia kecil. Tidak menghiraukan tatapan arogan yang sandy layangkan karena rasa kecewa mendengar ocehan adiknya. Bagusnya, ketika Sandy telah berkeluarga, Audrey lebih menyayangi kakak iparnya di banding dengan Sandy, yang notabenenya adalah saudara sedarah dengannya.
"Jangan berisik." Seru Audrey lirih. Ia mengendap-endap ketika telah sampai di depan pintu ruangan Sandy.
Keysha hanya mengangguk mengerti.
tok...tok...tok... ( Audrey mengetuk pintu dengan lembut)
"Ya masuk...." Sayup-sayup Sandy menyahuti dengan cepat.
Keysha dan Audrey terkekeh kecil menahan tawa. Ia tidak tahu, kalimat apa yang akan Sandy lontarkan untuk memaki mereka berdua karena telah mengganggu waktu Sandy.
tok...tok...tok...( Suara pintu yang sama dan dari tangan yang sama pula)
"Masuk !" Gertak Sandy dengan suara tinggi.
"Kamu benar-benar rindu berantem dengan kak Sandy ya ?" Keysha berbisik pelan agar Sandy tidak mendengar.
Audrey hanya menanggapi dengan senyum jahil, lalu mengulang ketukan pintu dengan ritme yang sama.
Tarrr.....
Sebuah benda terdengar melayang mengenai pintu. Keysha dan Audrey tersentak kaget dan kompak beringsut mundur. Mereka hanya saling bertatap, lalu kembali tertawa dengan suara yang menggema.
Cekrek ( Pintu di buka dari dalam)
Reno tercengang melihat mereka berdua, ia juga menoleh sebentar menatap Sandy yang sudah tersulut emosi dan duduk dengan nafas memburu.
"Kau tidak ingin melihat siapa yang datang ?" Seru Reno, ia mengedipkan mata kepada Keysha dan Audrey agar mereka tetap diam dan tidak melakukan pergerakan.
"Suruh saja pergi !" Gertak Sandy geram. Ia tidak mau tahu siapa yang sedang berani bermain dengan amarahnya.
"Kamu yakin ?" Reno memiringkan kepalanya.
"Apa kau juga menunggu aku usir ? Suruh pergi dia ! Jangan banyak tanya." Sandy meninggikan suaranya.
Keysha bungkam, Audrey juga melakukan hal yang sama. Mereka saling menahan tawa, tapi tetap di tahan agar amarah Sandy semakin memuncak.
"Key, suamimu menginginkan kamu pergi, mau ku antar ?" Ucap Reno lembut, ia melangkah maju dari ambang pintu. Mendekati Keysha dengan raut wajah yang memerah karena tingkah jahilnya.
Sandy membelalakkan mata tidak percaya, ia segera beranjak dari tempat duduknya. Berjalan cepat menuju pintu.
"Sayang ?" Sandy tertegun, ia sangat merasa bersalah dengan tindakan kasarnya. Sebuah perbuatan yang tidak di pikirkan dengan panjang. Seharusnya, ia menimang jika tidak akan ada yang berani menginjakkan kaki di lantai paling atas selain Safira dan keluarganya. Bahkan, Safira yang hanya sebagai asisten pribadi, tidak akan berani bersikap lancang memancing rasa kesalnya.
"Apa yang membuat kak Keysha tahan dengan pria menyebalkan seperti dia ?" Audrey lancang memotong ucapan Sandy. Ia memicingkan bibir, lalu menarik tangan dan melipatnya di depan dada.
"Kau ?" Sandy membulatkan mata dengan sempurna.
Audrey tersenyum sinis, lalu berlalu masuk ke dalam ruangan tanpa menunggu di persilahkan. Dengan sengaja, ia menyenggol lengan kakaknya dan menerobos masuk tanpa permisi.
"Kenapa kau pulang tanpa memberi tahuku ?" Sandy mengikuti langkah kaki Audrey, dan memburunya dengan pertanyaan yang tidak berkenan di hati Audrey.
"Kenapa kakak sulit sekali di hubungi ketika aku, mama dan papa tiba di Bandara ? Bukankah kakak telah berjanji pada mereka untuk menjemput ?" Audrey tidak melanjutkan niatnya untuk duduk. Ia berbalik badan, dan menatap Sandy dengan kesal.
"Astaga !" Sandy menepuk dahinya. Ia mengusap wajah lalu melempar tubuhnya dengan keras di atas sofa. "Aku lupa."
"Mama marah padamu. Jadi, untuk sementara jangan datang ke rumah. Tapi kalau kak Keysha, hari ini harus ke rumah..." Audrey melempar senyum sinis.
"Apa katamu ?"
"Ya...terserah kalau kakak mau di maki-maki sama mama." Seru Audrey acuh.
"Apa maksudmu ?"
"Adikmu yang mengatakan, apa kau tidak bisa memahami itu. Mereka menerima mu karena Keysha."
"Apa kau tidak salah bicara, Keysha ada karena aku."
"Nah, justru itu. Demi mendapat anak perempuan yang dewasa, mereka tetap menerima mu."
"Sialan ! Apa maksudmu "
Audrey dan Keysha hanya tertawa geli mendengar perdebatan konyol Sandy dan Reno. Tidak jelas topik yang mereka rebutkan, tapi Reno memang merasa senang jika berhasil membuat Sandy kesal tanpa berani memaki lebih dalam. Tentu saja, Keysha ada di sana dan Sandy sangat menghargai wanitanya.
Pukul enam sore, senja telah menyapa. Mereka semua berhamburan ke luar kantor. Tidak ada aktivitas yang menekan dan mendesak waktu agar tetap tinggal. Reno setia bersama mereka, membuat janji untuk menikmati sajian istimewa di sebuah restoran yang mewah di Jakarta. Sebuah tempat yang memanjakan mata. Memberi sajian elegan dengan sambut mesra di setiap ruang utamanya.
Mereka berempat telah memilih tempat dan segera duduk di sana. Memesan beberapa menu yang menjadi andalan di restoran tersebut. Canda tawa menghampiri malam mereka, saling meledek larut di sela waktu senggang yang mereka luangkan. Keysha dan Sandy duduk bersampingan, Reno dan Audrey berjajar di depan mereka. Hubungan persaudaraan yang lekat hingga persahabatan yang kental mewarna jarak dekat mereka. Tidak ada gengsi yang nyata, tidak ada rasa yang saling bersembunyi. Mereka saling membaur dalam rasa yang sama. Audrey tidak menganggap serius jika Reno adalah orang lain. Ia sudah terbiasa bermanja bergelayutan dengan mesra kepada Reno.
Deg ! Jantung Keysha tersentak dan berdetak tidak seperti seharusnya. Ia tak sengaja melihat seseorang yang mematung menyaksikan tawa mereka. Seorang perempuan yang jelas terlihat sedang tersenyum miris ke arahnya. Gadis itu berlari keluar saat matanya bertemu dengan mata Keysha. Melarikan diri dari rasa yang menghantui, menjauh dari titik yang menyulut kecewa tak terhingga.
"Bukankah itu Dokter Alexa ?" Gumam Keysha dalam hati. Ia terdiam tidak lagi mengerti apa yang membuat ketiga orang di dekatnya itu tertawa terbahak-bahak. Canda yang sudah tidak lagi tertangkap oleh otaknya. Keysha beranjak berdiri dan sudah bersiap untuk berlari keluar menghampiri perempuan yang melarikan diri.
"Sayang, kau mau kemana ?" Sandy merasa heran, ia melihat ke arah yang tidak di lepaskan oleh mata Keysha.
"Emm...tidak...Aku mau ke toilet sebentar ya ?" Pamit Keysha sopan, ia menepis tangan suaminya yang erat menggenggam pergelangan tangannya.
"Apa kau baik-baik saja ?" Sandy mulai menaruh curiga, ia merasa heran dengan tingkah istrinya yang mendadak diam dan terus melihat arah luar.
"Tidak...." Keysha melangkah dengan tergesa-gesa.
"Keysha kenapa ?" Seru Reno heran.
"Mungkin kak Keysha merasa kurang enak perut. Biasalah masalah perempuan..." Audrey angkat bicara. Ia memaklumi dan sangat mengerti dengan tingkah seorang wanita. Menyamakan dengan dirinya, yang bisa tiba-tiba berlari bahkan tanpa izin jika merasa ada sesuatu yang mengalir dari alat senggamanya. Apalagi, mungkin sebuah tamu yang tidak di undang .
"Masalah perempuan ? Apa itu ? " Reno dan Sandy kompak melontarkan pertanyaan. Mereka berdua sama-sama memperhatikan Audrey. Menunggu setiap jawaban saris sebuah rahasia yang sudah umum di kalangan perempuan.
Audrey bergantian memperhatikan wajah-wajah polos yang memaksanya segera menjawab.
"Haha.." Tawa Audrey pecah. Tidak tahan dengan raut wajah yang tidak menguatkan urat-urat rahangnya untuk tidak tertawa lepas.
"Sudahlah, kalian tidak akan paham. Habiskan makanan kalian...." Seru Audrey seraya kembali memainkan jemari di atas piring lebarnya.
----------
Keysha sudah berada di luar restoran. Ia menoleh, mencari keberadaan perempuan yang menyita perhatiannya saat di dalam tadi. Mengalihkan titik fokus, dan menutup rapat telinganya untuk tidak lagi menghiraukan suara canda yang menggairahkan.
Keysha berjalan menelusuri halaman yang membentang luas. Barisan mobil-mobil mewah berjajar dengan jarak yang sama. Tertata rapi tanpa perintah yang nyata.
Keysha berhenti ketika matanya menangkap sosok perempuan yang tersedu di bangku panjang di taman restoran. Dengan mata yang jeli, Keysha terus mengamati. Langkahnya lambat laun mendekat untuk memastikan.
"Dokter Alexa ?" Keysha menyentuh pundak perempuan itu dengan lembut. Membuatnya menoleh dan spontan menghapus air mata yang mengalir membasahi pipi.
"Dokter kenapa ?" Tanya Keysha dengan lirih. Ia turut duduk di samping Dokter Alexa, dan lebih dalam memperhatikan raut wajah yang tidak pernah ia kenali ketika bersedih.
"Tidak...tidak...." Dokter Alexa menggeleng, ia mengusap wajah untuk menyembunyikan tangis yang sudah tertangkap mata Keysha.
"Jangan berbohong. Aku melihat Dokter Alexa menangis tadi.." Keysha semakin keras mendesaknya. Memaksa agar perempuan yang bersusah hati itu berkata jujur dan terbuka kepadanya.
"Dokter Alexa pernah membantu aku dan Sandy, aku sangat berhutang budi pada Dokter Alexa." Seru Keysha menjelaskan.
Dokter Alexa hanya menunduk pilu, termenung dengan tangis yang mulai bersuara lebih leluasa.
"Izinkan aku membantu Dokter, sebagai wujud terima kasih ku." Keysha menatap Dokter Alexa dengan tatapan sedih.