I'M Sorry! I Love You!

I'M Sorry! I Love You!
Cherry kembali



Keysha sudah selesai mengurus buah hatinya. Mereka berdua terlihat cantik dan ganteng, bahkan lebih segar setelah mandi dan mengganti pakaian. Keysha hanya mencuci wajah dan menggosok gigi saja pagi itu. Karena, ia merasa jika tubuhnya sedikit kurang enak.


"Kita ke bawah ya sayang, " ajak Keysha kepada kedua buah hatinya. Mereka antusias dan kompak mengiyakan. Ragam menu sarapan telah lolos mereka absenkan dari bibir mungil keduanya, di saat langkah mereka sedang menuruni anak tangga.


Yeni yang melihat dari bawah, menyambut anak dan kedua cucunya dengan senyuman manis.


"Selamat pagi oma..." Sapa Allan dan Lena serentak. Keduanya berlari menghampiri Yeni, lalu memeluknya secara bersamaan.


"Pagi cucu-cucu oma..Sudah pada wangi sekali, mau kemana sih ?" tanya Yeni. Ia merunduk untuk mengimbangi wajah Allan dan Lena.


"Tidak kemana-mana Oma, " jawab Lena dengan semangat. "Aku mau buat roti untuk mama, " Ucap Lena kembali. Ia segera berlari menuju meja makan. Mengambil dua buah roti, lalu mengolesi dengan selai coklat dan kacang.


Allan tak ketinggalan, ia menuangkan susu segar yang baru saja ia ambil dari dalam kulkas ke dalam gelas.


"Kamu sakit Key ?" tegur Yeni panik. "Wajahmu pucat sekali. " Imbuhnya seraya menyentuh dahi sang putri. Yeni menuntun lengan Keysha dan membawanya duduk di sofa panjang yang terletak di ruang keluarga.


"Tidak bun. Keysha hanya kelelahan kemarin. Sekarang jadi gak semangat mau ngapa-ngapain. " keluhnya dengan suara lemas. Keysha menurut saja ketika Yeni memaksanya duduk manis di sofa, tanpa melakukan pekerjaan apapun. Memangnya tubuhnya kurang bersemangat untuk melakukan apapun.


"Tidak bagaimana ? Badanmu panas gini kok bilang gak apa-apa. " Seru Yeni dengan nada keras. Ia adalah orang pertama yang paling takut jika Keysha sakit. Anak satu-satunya, yang setelah menikah baru bisa tinggal bersamanya.


"Mama, rotinya sudah jadi. " seru Lena.


"Ma, susunya juga sudah Allan tuang. Tapi tidak dingin ma, " imbuh Allan yang merasa kebingungan. Karena susu yang ia tuang baru saja ia ambil dari dalam kulkas, tapi sama sekali tidak dingin.


"Itu baru Oma masukkan sayang, jadi ya belum dingin," ujar Yeni seraya menahan tawa begitu melihat ekspresi wajah Allan yang kebingungan.


"Terima kasih sayang, mama makan rotinya dulu ya, setelah itu mama akan minum susunya. " jawab Keysha. Ia meraih roti yang Lena buatkan, melahapnya pelan-pelan hingga dua roti itu habis tak tersisa. Keysha juga meneguk satu gelas susu itu hingga habis. Membuat Allan dan Lena bersorak kegirangan karena merasa jika sarapan yang mereka siapkan sangatlah lezat menurut mereka berdua. Terbukti dari cara Keysha melahap makanan tersebut.


"Enak ya ma ?" tanya Lena.


"Enak banget sayang. Siapa sih yang ngajari bikin roti enak seperti ini ?" jawab Keysha. Ia mengusap rambut lembut Allena, menyelipkan bagian yang menutupi mata ke balik telinga.


"Yee...berhasil !" sorak Allan dan Lena kompak. Mereka bertepuk tangan, lalu melakukan gerakan tos. Keysha dan Yeni tertawa melihat tingkah lucu keduanya.


Tidak banyak yang mereka inginkan, hal sekecil inipun sungguh cukup membuat keduanya merasakan senang yang berlebih. Detik demi detik yang terlewatkan bersama Keysha adalah detik terindah bagi mereka. Namun, Allan dan Lena tidak ingin mengungkapkan secara langsung, karena mereka tahu jika Keysha begitu tulus menyayangi keduanya. Semua kembali lagi, mereka hanya lah bocah yang selalu merindukan kasih sayang orang tuanya. Mereka tetaplah anak-anak yang tidak bisa jauh dari papa dan mamanya. Mereka pun akan selalu memilih adanya mama dari pada banyaknya harta yang tak bisa mendorong kenyamanan dari dalam diri.


"Ma, kita main air yuk ? Sudah lama kita tidak siram bunga sama-sama. "Rengek Lena mengingatkan. Betul memang, gadis kecil itu sangat senang ketika di bebaskan bermain air di halaman. Menyiram ragam tanaman hias yang tertata cantik di taman kecil di halaman rumah, dan membasahi diri lalu berloncat-loncatan di atas genangan air adalah hal yang menggembirakan untuknya.


"Mamanya lagi tidak enak badan Lena, main yang lain saja ya. " bujuk Yeni, yang tampak mengkhawatirkan kondisi kesehatan Keysha.


"Keysha tidak apa-apa bun. Tenang saja ! Cuma siram tanaman kan tidak bikin kecapean, " sahut Keysha.


Keysha tidak ingin membuat Allan dan Lena kecewa. Jadi, sebisanya ia akan berusaha menuruti kemauan kedua buah hatinya. Mereka sudah cukup menderita dengan tekanan batin karena tak berani menagih waktu yang lebih kepada Keysha. Apalagi, kepada Sandy. Keysha tidak ingin menambah kekecewaan keduanya. Layaknya bermain air, adalah hal sepele yang sangat mudah untuk di lakukan.


*******


Sandy POV


"Ya hallo ?" Sandy menempelkan ponsel ke telinganya. Sorot mata tajamnya terkesan arogan ketika serius mendengarkan seseorang yang sedang berbicara di sebrang telepon. "Terus awasi dia dan cari tahu hubungan nya dengan laki-laki yang kalian katakan . Jangan lupa kumpulkan bukti untuk memudahkan menjeratnya ke ranah hukum. " ucap Sandy sebelum akhirnya menyudahi telepon secara sepihak.


"Sial !" Sandy mendengus kesal. Ia melemparkan bolpoin ke sembarang tempat. Membanting tubuhnya dengan kasar ke senderan kursi. Sandy menghela nafasnya panjang, " jadi Shinta yang telah membuat Cherry bebas ? Awas saja, kau berani bermain-main denganku Shinta, kau juga yang akan merasakan semua akibatnya. " Sandy tersenyum sinis. Ia meremas kertas di atas meja kerjanya. Matanya melotot tajam dan penuh arti. Sandy yang nyata telah bangkit. Ia adalah laki-laki yang menakutkan ketika kehidupannya sudah terasa terusik.


Sandy menekan tombol telepon untuk menghubungi Safira, asisten pribadinya .


"Jangan biarkan perempuan laknat itu menginjakkan kaki di kantor ini !"


"Perempuan laknat ? Maaf, siapa yang tuan maksud ? saya tidak mengerti, " jawab Safira heran.


"Cherry ! Siapa lagi. Kalau sampai ia berhasil masuk, kalian yang akan menerima dampaknya !" Ancam Sandy. Ia menutup telepon secara sepihak, padahal Safira masih mengatakan sesuatu dan belum selesai terucap di seberang telepon.


"Kita mulai permainan barunya Shinta, Cherry...." Sandy tersenyum sinis.


Cekrek ( Suara pintu ruangan Sandy terbuka dengan cepat )


Sandy segera menoleh. Tatapannya sangat tajam mengiris. Ia sudah berpikiran buruk tentang sosok yang akan muncul dari depan pintu. Otaknya mengatakan jika ia adalah Cherry, wanita iblis yang selalu memiliki seribu satu cara untuk mencapai segala kemauannya.


"Biasa saja, ini aku !" Ungkap seseorang itu, begitu menyadari jika Sandy sedang mengintrogasi nya.


"Biasakan ketuk pintu apa susahnya ?" tanya Sandy ketus.


"Suka-suka akulah. Tangan juga tanganku sendiri. Aku kan tidak meminjamnya kepadamu, kenapa kamu repot sekali mengajariku. "


"Kau ? Sudah bagus hari ini masih hidup. Bagaimana kalau Keysha tidak menolong mu kemarin ? Hah, pasti sudah sekarat kelaparan, kalau tidak kepanasan. " ledek Sandy ketika mendapati Reno mengeluarkan kalimat angkuhnya.


"Jangan lupa sejarah, " balas Reno dendam. Ia masih ingat betul, seperti apa buruk Sandy setahun tanpa Keysha. Hidupnya hancur, ia sama sekali tidak mengurus diri. Tak menganggap manusia-manusia lain yang hidup di sekitarnya. Hanya orang-orang yang berhati kebal lah yang kuat menghadapi nya. Sikapnya dingin, sepatah kata yang terlontar dari mulutnya sangat mengiris hati. Heran saja jika Sandy bisa berlaku lebih lembut ketika Keysha sudah kembali. Semua sangat menghargai adanya Keysha, mereka selalu berterima kasih karena telah berhasil membawa Sandy kembali ke sikap aslinya.


"Shit !" Sandy melempar barang tepat mengenai tubuh Reno.


"Kenapa sih ? " Tanya Reno dengan serius.


"Cherry bebas karena Shinta, dan perempuan j a l a n g itu memang selalu bersama seorang pria kemana pun ia pergi. " Sahut Sandy.


"Kau tahu dari mana ?" tanya Reno lagi.


"Sudah ku katakan padamu, anak buah ku adalah orang-orang pilihan. Mereka tidak akan gagal jika hanya mengurusi satu nama remeh seperti Shinta. " Jawab Sandy dengan nada angkuh.


"Kenapa kita tidak datang langsung saja ke Club Malam itu ? Bukankah kita akan dapat berita sesuai apa yang kita perlukan ?" Reno mengernyitkan dahi. Ia meletakkan kedua tangannya di atas meja, dan berposisi cenderung condong ke depan.


"Jangan gila ! Banyak orang yang mengenal kita. Dengan kasus mu kemarin, sudah pasti akan lebih banyak lagi perempuan-perempuan murahan seperti Shinta yang berusaha menggoda mu. " Tutur Sandy jelas.


"Lalu apa kita hanya akan diam di tempat seperti ini ? " Reno mendengus kesal. Semangatnya kembali menggebu, mendorong diri untuk melakukan tindakan yang lebih cepat untuk memecahkan drama yang Shinta gunakan untuk menghancurkan hidupnya.


"Tenang saja, kita tunggu dulu kabar dari orang-orang suruhan ku. " Seru Sandy santai. "Aku pastikan, Alexa akan kembali kepada mu. " Sandy menepuk bahu Reno untuk memberinya dukungan.


"Kau terlalu yakin. " Reno tersenyum miris.


"Alexa tidak terlalu berbeda dengan Keysha. Ia tidak akan mudah untuk berpaling dari rasanya. Lihat saja, selama apapun ia berpisah dengan mu, ia tidak akan dengan mudah mendapatkan pengganti karena hatinya sudah terlalu dalam terikat denganmu. " jawab Sandy dengan yakin. Pria itu kembali duduk di atas kursi kerjanya. Duduk bersandar dengan menyatukan kedua jemarinya di depan wajah. " Dia semalam menginap di rumahku. Kasihan sekali, ia harus putar otak belajar membuat desain dengan Keysha. " lanjut Sandy, ia tak tahan membayangkan nasib buruk dokter Alexa.


"Benarkah ? " tanya Reno penasaran.


Sandy hanya mengangguk pelan, mengiyakan segala keraguan pada hati Reno.


"Meminjam nama ? " Tanya Sandy mengulang kalimat Reno untuk meyakinkan.


"Ya, aku akan gunakan namamu, sebagai orang yang bertanggung jawab atas kesalahan Alexa kemarin, pihak Rumah Sakit tidak akan menolak jika itu adalah kau. " ungkap Reno memberikan penjelasan kepada Sandy.


"Hmm... Bukanlah masalah, " jawab Sandy menyetujui rencana Reno.


Reno hanya ingin membantu wanitanya, tetapi tidak ingin dokter Alexa menyadari itu. Ia pasti akan menolak mentah-mentah, bahkan langsung mengatakan tidak kalau sampai tahu jika Reno lah yang telah membantunya. Sakit hatinya sudah menduduki puncak tertinggi di hatinya. Tidak mudah untuk ia berpura-pura baik-baik saja, dan menerima Reno seperti sedia kala meskipun hanya sebatas teman.


********


Keysha POV


"Mama lihat, bunganya cantik sekali. " Teriak Lena ketika mendapati beberapa mawar yang mekar dengan sempurna. Warnanya yang elok, lengkap dengan kelopaknya yang besar menambah kesan anggun bagi siapa saja yang melihatnya. Lena jarang sekali menyentuh tanaman, jadi melihatnya tumbuh subur dengan bunga yang indah cukup membuatnya loncat kegirangan.


"Wah, cantik sekali. " Puji Keysha. Ia melangkah mendekati Lena, mengusap kepalanya tatkala turut berjongkok memperhatikan setangkai bunga yang menarik perhatian Lena.


Sementara itu, Allan lebih tertarik mencuci sepedanya sendiri. Bermain air dan busa dengan pistol besarnya yang sudah ia isi dengan air.


Keduanya asyik dengan dunia mereka sendiri. Tertawa lepas dengan candaan-candaan kecil yang Keysha lontarkan.


"Mama..." panggil Allan.


"Kenapa sayang ?" sahut Keysha seraya melangkah bergantian mendekati Allan.


"Ini bagaimana bukanya ?" Allan menyerahkan mainannya, karena air di dalam nya telah habis.


Keysha langsung membuka tutupnya dan mengisinya dengan air dan sabun dari keran hingga penuh. Allan hanya memasang wajah polosnya memperhatikan langkah-langkah yang Keysha lakukan untuk kembali memenuhi air.


"Mama tidak akan kerja lagi kan ?" Tanya Allan spontan, membuat Keysha terkejut. Ia sama sekali tidak menyiapkan diri jika anak-anaknya bertanya hal serupa.


"Keysha !"


Belum sempat menjawab pertanyaan Allan, Keysha dan kedua anaknya di kejutkan dengan kedatangan Cherry yang tiba-tiba sudah berada di dekatnya. Perempuan itu terlihat sangat kesal menatap Keysha, sorot matanya sangat tajam dan penuh dengan kemarahan.


"Cherry ? Untuk apa kamu datang ke sini ?" Tanya Keysha sedikit ketus. Keysha berjalan menghampiri Cherry, tetapi Allan dan Lena memilih tetap diam di tempat tanpa merubah posisi mereka.


"Kau benar-benar jahat Keysha !" Gertak Cherry dengan keras.


"Jahat ? ha ha ha " Keysha terkekeh geli mendengar pernyataan dari Cherry. Sudah lama mereka tidak berjumpa, datang-datang sudah berwajah masam dan percaya diri meluapkan kata yang Keysha sendiri tak mengerti maknanya. "Bukankah kau yang seperti itu Cher ?"


"Kenapa kamu tega menghancurkan mimpiku bersama Sandy, hah ?" Bentak Cherry.


"Sampai kapan kau akan membahas itu Cher ? Bukankah kau sendiri yang dengan tega meninggalkan kak Sandy ? Sekarang, kenapa kau memutar fakta seolah kamu yang di sakiti di sini ? Sudahlah Cher, belajarlah ikhlas ! Kau memang harus menerima semua, kau dan kak Sandy bukanlah jodoh yang Allah pilihkan. " Seru Keysha.


"Biadab ! Apa maksudmu ? " Cherry menarik jilbab Keysha. Cengkraman erat itu membuat Keysha kesakitan dan spontan merintih.


"Tante lepaskan mama !" Teriak Allan dan Lena. Mereka lari dan memukul-mukul perut Cherry.


"Apa-apaan kalian !" Bentak Cherry tanpa melepaskan genggamannya pada jilbab Keysha.


"Cherry ! Jangan kau sentuh anak-anak ku !" Gertak Keysha tak suka ketika melihat Allan terdorong ke belakang karena Cherry.


"Rasakan ini tante..." Allena menarik slang yang ia gunakan untuk menyiram tanaman tadi. Mengarahkan tepat ke bagian wajah Cherry. Ia juga memutar keran hingga sampai ujung, sehingga menghasilkan semburan air yang cukup besar.


Allan ikut berlari, di raihnya mainan pistol yang terdapat campuran air dan sabun di dalamnya. Ia turut menyemprotkan ke arah Cherry. Membuat Cherry segera melepaskan Keysha dan berteriak merasakan sakit pada bagian mata.


"Urusan kita belum selesai Key ! Tunggu saja, aku akan membalas mu !" Cherry pergi meninggalkan ancaman. Ia lari terbirit-birit, menghindari semprotan air yang Allan dan Lena lakukan. Dua bocah itu tertawa melihat tingkah konyol Cherry, yang menyerah dengan mainannya.


"Sudah, sudah...ayo kita masuk " Ajak Keysha kepada kedua anaknya. Mereka segera bergegas masuk ke dalam rumah. Membersihkan diri dan mengganti pakaian. Setelah selesai, ketiganya turut bergabung bersama Yeni di ruang keluarga. Duduk menonton televisi, dan menikmati camilan yang Yeni sediakan.


Mama...


Aku selalu merindukan canda bersamamu,


Kasih sayang, dan bermanja kepadamu..


*Mama...


Aku ingin tetap melihatmu tersenyum,


Sepahit apapun perasaan yang menghujam diriku...


Ku pikir, ini adalah cara Tuhan menghukum ku


Ada, tetapi tak nyata...


Bersanding, tetapi hanyalah raga...


Malam ini,


aku ingin terlelap bersamamu,


merangkai indah mimpi dalam ranjang yang sama...


Mama...


apakah kau izinkan daku ?


Mama...


apakah kau mendengar ? Hatiku selalu menjerit ketika melihatmu terluka..


Mama...


Mengertilah, aku tak butuh banyak hal..


Selain raga dan jiwamu yang dengan leluasa untuk ku gapai...


@titin tiand*