
Ketika fajar menyingsing, Keysha sudah sibuk dengan rutinitas wajibnya. Menyiapkan segala keperluan Allan dan Lena sebelum mereka terbangun untuk memulai aktifitasnya. Dengan perasaan riang, dengan rasa yang mulai kembali pulang dan merintis jalan untuk berpulang.
Keysha tersenyum lebar ketika semua menu sarapan telah tersaji ramai di atas meja. Ah, senang sekali bisa melakukan hal seperti ini di pagi hari. Ada suami dan keluarga besar yang berkumpul menyambut kebahagiaan.
"Key ? Kamu sudah bangun ?" Meera tiba-tiba berdiri di belakang Keysha. Ia masih berdiri tegak lengkap dengan pakaian tidurnya. Matanya mengerjap, mengusir kantuk yang belum puas dengan jam tidur yang singkat. Mungkin karena semalaman dia meladeni Lena yang sedang masa-masa cerewetnya. Gadis kecil itu terus saja bertanya dengan ragam topik. Dia tidak peduli walau waktu telah larut. Terkadang, memaksa mata tetap terjaga walau sejatinya kantuk telah menghampiri.
Keysha tersentak, ia menoleh lalu tersenyum tulus kepada Meera. "Keysha tidak bisa bangun terlalu siang ma." lirihnya. Ia kembali menuangkan air pada setiap gelas yang telah ia siapkan sebelumnya.
"Mama kalau masih ngantuk tidur saja. Pasti Lena semalaman banyak bicara ya ma ? Haha, dia memang lagi dalam masa cerewet-cerewetnya." Keysha tersenyum. Ia berjalan ke dapur dan meletakkan teko kaca di atas meja.
"Dia terus saja mengajak mama bicara sampai jam dua tadi." Keluh Meera. Ia terkekeh kecil, tidak berpikir jika cucu perempuannya begitu merepotkan ketika malam. Tapi, tentu saja dia senang. Dia juga sangat menikmati itu.
"Dia sangat mirip dengan Audry waktu kecil." Kristal-kristal bening mulai tergenang di mata Meera. Tingkah dan perilaku manja Lena selalu membuatnya terbuai dengan rasa rindu yang menjalar dalam di dasar hatinya. Sudah setahun Audrey tidak pulang. Dia tengah fokus dengan pendidikan dan bisnisnya yang sudah berkembang pesat di luar negeri.
"Jangan sedih ma. Anggap saja Allena adalah jelmaan Audrey . Setidaknya, mama bisa menyalurkan rasa rindu mama pada gadis bawel itu." Celetuk Keysha menghibur. Ia tidak bisa melihat Meera tersedu karena rindu. Ya, walau rasa itu termasuk berat, tapi berlarut-larut dalam rindu yang menyedihkan hanya akan meninggalkan luka yang menyiksa diri.
"Jelmaan memang Audrey bangsa jin ..." Yeni yang baru keluar dari kamar turut menimpali. Ia merasa jika kata-kata Keysha tidaklah sopan.
"Haha ...Bunda." Keysha terkekeh, begitupun dengan Meera yang masih bergelayutan dengan rasa malas di atas sofa ruang keluarga.
------
Sandy menggeliat puas. Ia mengerjapkan mata karena sinar surya yang mulai mengganggu tidurnya. Jendela yang terbuka sedikit, mengizinkan mentari pagi merebak masuk menyibak mata.
"Pa, bangun ! Sudah siang." Ucap Allan dengan suara serak karena ia baru saja terbangun. Tubuh yang masih lemas dan nyawa yang belum seutuhnya terkumpul. Ah, jiwa gengsi Allan tampaknya sudah kembali.
"Kamu juga baru bangun." Ledek Sandy. Ia mengusap wajah Allan gemas.
"Tidak....Aku sudah bangun sejak tadi." Elaknya. Pria kecil itu menjatuhkan tubuhnya dan kembali terbaring dengan terlentang di atas kasur. "Bangun sana pa. Mandi !" Perintah Allan ketus. Sudah seperti orang dewasa yang menggurui putranya, Allan bertingkah konyol dengan mata yang masih bekerja keras melawan kantuk.
"Apa kamu mau mandi sama papa ? Bilang saja tidak perlu gengsi." Sandy mengerang. Ia duduk lalu melirik anaknya yang tidak menghiraukan tatapan mata yang memberi kode.
"Apa papa sangat ingin mandi bersamaku ?"
"Ku rasa itu lebih baik karena seumur yang Allan ingat, papa belum pernah memandikanku." Celetuk Allan semakin ketus. Ia merosot turun dari ranjang dan berjalan dengan tenang menuju kamar mandi.
Sandy mengerutkan dahi mendengar ucapan putranya.
"Kenapa papa masih diam di sana ? Ayo pa." Rengek Allan dari ambang pintu.
Ah, untung saja kau ini putraku. Kalau bukan sudah ku lahap hidup-hidup. Sikap gengsimu benar-benar menyerupai mamamu, bahkan lebih parah dari itu.
"Baiklah." Sandy menyeret kakinya dengan malas. Matanya masih ngantuk, tapi sudah di hadapkan dengan meja debat yang sangat dingin. Bagaimana mau mengeraskan suara seperti di depan para karyawan atau musuh, dia hanya putra kecil yang terlahir dari rahim istrinya. Itupun, karena adanya Sandy, jika tidak mungkin Keysha melahirkan tanpa adanya laki-laki yang menjamah tubuhnya. Namun, momen seperti inilah yang selalu dia rindukan ketika terbaring tak berdaya di rumah sakit. Hanya mendongak, menatap pada langit-langit hampa, menerjang angan dengan pikiran-pikiran liar. Hanya ingin suatu kebebasan dari rasa sakit yang mengekang. Kembali mengayunkan hari dengan senandung cinta yang dan kasih yang terbuai. Ya, seperti yang sedang terjadi saat ini.
Sangat lambat, itulah protes singkat yang Allan ucapkan ketika Sandy selesai menyisir rambutnya. Sudah setengah jam lebih pria itu berkutik untuk membantu Allan merapikan diri. Sandy hanya menghela nafasnya panjang. Ia menata hati agar tidak mudah terprovokasi, apalagi terpancing dengan rasa kesal yang sengaja di gali oleh putranya.
"Ini sudah waktu tercepat yang papa lakukan. Apa kau tidak ingin mengapresiasi nya ?" Sandy bergumam. Ia berbisik pelan di samping telinga putranya.
"Sama saja." Ketus Allan. "Papa membutuhkan waktu hampir satu jam hanya untuk hal kecil ini."
Hal kecil ? Hei anakku, itu lebih baik daripada kamu tidak mau melakukan semua sendiri. Sudah jelas, kamu bisa dengan hal sepele itu..
"Ya memang. Tapi ini lebih cepat tiga menit dari yang papa perkirakan." Sandy beralih menyisir. Tidak peduli dengan Allan yang sudah bersungut-sungut menatapnya, ia meraih lengan Allan lalu menggandengnya keluar kamar.
Dengan seragam sekolah dan gaya rambut yang cukup rapi dan keren, Allan menelusuri tangga bersama Sandy. Mereka masih saling berpegangan, dan juga tangan sebelahnya yang turut meraba pinggiran tangga.
"Pagi ma ?" Sapa Allan ramah. Ia menghampiri Keysha dan meninggalkan kecupan manis di salah satu pipi perempuan yang sedang duduk dengan menyesap teh hangat yang baru saja di seduh olehnya.
"Pagi sayang. Kau sudah rapi sekali ? Papamu yang membantu ?" Jawab Keysha panjang lebar lengkap dengan tanda tanya yang mewakilkan apa yang di lihatnya.
Perempuan itu hanya terkekeh kecil dan menatap suaminya yang sudah memerah. Ah, tentu saja pria itu sedang mengumpat dalam hati. Dia pasti kesal dengan putranya karena terus meledeknya lelet dan tidak mengucapkan terima kasih dengan segala kerepotan yang mengganggu paginya.
"Jangan seperti itu Allan, kasihan tu papanya sedih." Keysha menatap Allan. Matanya bersinar damai.
"Memangnya papa tidak senang melakukan semua ?" Sela Allan cepat.
"Tentu saja papa sangat senang...Kau adalah anak putra papa, dan seharusnya mewarisi semua yang berkesinambungan dengan papa. Termasuk sifat, tapi....." Sandy menarik kursi, ia menatap putranya dengan tatapan hangat. "kenapa sikapmu begitu lekat dengan mamamu." Sambung Sandy lirih. Ya, dia sengaja memelankan bicaranya karena enggan berdebat dengan dua manusia yang sudah mengintainya dengan beringas.
"Tapi kenapa kak ?" Celetuk Keysha penasaran.
"Tapi....tapi Lena mana ?"
Keysha mengernyitkan dahi mendengar ucapan Sandy yang sangat tidak nyambung dengan kalimat sebelumnya.
"Lena baru bangun San. Masih siap-siap sama Rina." Meera yang baru turun setelah bersiap-siap menyahuti pertanyaan Sandy. Pria itu hanya mengangguk-angguk paham.
"Kak, aku hari ini ke butik ya ? Pekerjaan Keysha sudah menumpuk. Jadi mau tidak mau Keysha harus bekerja. Apalagi ada pesanan yang tidak bisa Keysha batalkan begitu saja dan waktu yang di berikan sudah semakin dekat." Kata Keysha menjelaskan. Ia mengusap sisi cangkir dengan ujung jari jempolnya, lalu kembali meneguknya hingga beberapa kali .
"Apa tidak bisa besok saja ?"
Keysha menggeleng, "Sudah hampir dua bulan Keysha tidak datang ke butik. Hanya menadapat laporan yang tidak menggambarkan suasana di sana."
"Ya sudah. Tidak masalah, aku juga berniat akan ke kantor hari ini." Ucap Sandy datar. Ia mengambil dua lembar roti, mengolesi dengan selai coklat dan menaburi sedikit parutan keju. Sama persis dengan apa yang baru saja Allan lakukan.
"Eeeh tidak...tidak ! Sandy aku sudah mengatakan kepada Safira agar mengantar berkas yang perlu di tanda tangani ke rumah. Jadi, tidak ada alasan untuk kamu pergi keluar rumah." Sungut Meera. Ia sudah memulai drama barunya, dengan ragam kata yang intinya hanya melarang putranya untuk memulai aktivitasnya sekarang.
"Aku sangat bosan ma, apalagi Keysha tidak ada di rumah." Rengek Sandy. Ia meraih lengan Meera untuk memohon.
"Ya sudah, kamu kan bisa ikut Keysha ke butik." Celetuk Yeni yang baru saja duduk di sebelah Meera.
"Nah, itu bagus." Kata Meera membenarkan.
"Apa bedanya ma ? Kan sama-sama keluar rumah." Sandy protes.
"Ya jelas beda. Kamu akan lebih memperhatikan makanan dan juga obat-obat yang masih perlu kamu minum jika ikut Keysha." Meera meninggikan suaranya.
Keysha hanya tersenyum menyaksikan perdebatan antara ibu dan anak yang belum juga menemui titik akhir. Bagaimanapun masalahnya, apapun alasannya, siapapun yang memulai, semua sudah tertebak alurnya. Sandy akan mengalah dan menyerah dengan menyetujui hal yang di paksakan oleh Meera.
-------
Mobil melesat cepat di atas jalanan yang masih sangat sepi. Mungkin, mobil yang melintas bisa terhitung jari saat itu.
Setelah mengantar Allan dan Lena, Sandy kembali menginjak pedal gas dengan kecepatan sedang. Ia fokus dengan kemudi di tangannya karena memang sudah lama dia tidak mengendalikan seorang diri. Tentu sejak sakit, karena walau banyak sopir yang di pekerjakan olehnya, dia lebih senang mengendarai mobil seorang diri.
"Sudah lama sekali tidak seperti ini." Gumam Sandy lirih.
Keysha hanya meliriknya, lalu kembali fokus dengan jalanan sekitar. Keysha pun merasa telah lama tidak menikmati udara segar, bukan berarti dia terus terkurung, tapi keadaan dan waktu yang memburu benar-benar membuatnya tidak sanggup sedetik saja menikmati alam sekitar.
"Kak, kapan kita ke rumah Rania ? " Celetuk Keysha pelan.
"Mungkin hari ini, jika kamu bisa menyisihkan waktu sedikit." Jawab Sandy.
"Apa kakak serius ?" Ucap Keysha antusias. Dia memang sangat tertarik dan bersemangat jika Sandy mengizinkan dia untuk kembali menjalin silaturahmi yang baik dengan Rania.
"Ya, dia penyambung nyawaku. Aku percaya, dia benar-benar kembali menjadi Rania yang sebenarnya." Lirih Sandy.
Sontak saja, rasa senang yang bersarang di hati membuat Keysha mendekap lengan suaminya dengan manja. Dia juga menyertakan kecupan ringan di pipi Sandy ,"Terima kasih kak."