I'M Sorry! I Love You!

I'M Sorry! I Love You!
Kambuh



"Shinta...tolong buka ...."


Suara Keysha melemah, perempuan itu sudah beberapa jam menangis dalam kesendirian. Keadaan sepi mencengkram, mengoyak rasa takut yang menghantui. Suara binatang malam bernyanyi riang dalam hening nya suasana.


Sudah tidak ada lagi hal yang bisa di harapan kan, selain keajaiban yang sengaja Tuhan perlihatkan kepada dirinya. Dalam tempat sepi yang belum terisi oleh para penghuni tidak akan memudahkan orang lain menemukan posisinya.


"Mungkin, ajal akan menjemputku dengan damai. Dalam sepi, dan rasa lapar yang menekan perut." Keysha bergumam seorang diri. Suara isak tangis yang kian mereda. Ia semakin pasrah dalam keadaan yang nyata dalam jalan hidupnya. Mengeluh dan terus bersedih hanya akan mempercepat waktu yang tersisa, semua akan terbuang sia-sia. Tanpa adanya energi karena sudah sedari siang dia tidak menyantap sedikitpun makanan. Bahkan, kerongkongannya terasa mengering. Tidak ada air untuk diteguk walau hanya satu tetesan saja.


Keysha mengangkat tubuh yang sudah lama ia jatuhkan di balik pintu yang terkunci rapat. Ia memandang sekeliling ruang tanpa ada alas untuk sekedar merebahkan tubuh. Tidak ada tumpuan selain ubin untuk mengistirahatkan segala macam rasa juga raga yang telah lelah dengan drama dalam kepolosan nya.


Ia mendekat ke arah jendela yang masih penuh dengan debu yang tebal tapi masih enggan untuk membuka. Di luar pasti sangat gelap, menggambarkan macam-macam bentuk yang menakutkan angan. Ah, sepertinya memang tidak akan ada jalan yang bisa ia tempuh selain berharap dalam doa, akan ada seseorang yang sengaja Tuhan kirim untuk menyelamatkan hidupnya.


"Tuhan...." Keysha menatap pada langit-langit kamar, pijar lampu yang bersinar remang-remang menampakkan bayangan tipis di balik tubuhnya. Berangsur, ia kembali menjatuhkan tubuh yang sudah menempel pada dinding rumah. Nafasnya terdengar kasar menghembus. Bahkan berulang kali tersentak dengan nada yang menggebu. Mungkin saja wanita itu sedang berusaha untuk pasrah dan menyerahkan diri kepada Tuhan. Menepis rasa takut yang membuatnya kian bergidik, suara-suara yang tidak pernah ia temui, kini mengerang di telinga. Menyibak bulu kuduk mewarnai dengan rasa yang melemahkan tubuh.


------------


Sandy dan Reno masih terus mengitari sudut kota. Melacak keberadaan Cherry serta dua wanita yang di katakan Rania sebelumnya. Sayang, mereka bergerak selangkah lebih cepat dari Sandy. Ketiga perempuan itu menutup diri dan akses yang menyambungkan mereka ke internet. Menyulitkan Reno untuk melacak keberadaannya.


"Sial..." Gerutu Reno dengan nada kesal. Peluhnya sudah banjir dengan keringat. Seakan terburu dengan tuntutan untuk menemukan perempuan yang membangkitkan gairah sahabatnya untuk tetap bertahan hidup.


"Bagaimana Ren ?" Sandy menoleh kearahnya. Ia menautkan alis, berharap kabar baik segera membuat hatinya lega.


Reno menggeleng ringan, "Mereka memblokir seluruh akses internet."


"Apa tidak ada kemungkinan yang memberi sedikit saja jalan ?" Tanya Sandy dalam cemas. Ia berbicara dengan sangat khawatir.


"Setidaknya mereka tidak akan bisa bepergian ke luar kota. Semua akses sudah aku blokir, mereka masuk dalam daftar orang-orang yang menjadi buronan." Reno menjelaskan dengan telaten. Jemarinya masih menari di atas laptop yang tidak geser dari pangkuan kakinya semenjak tadi.


"Arrggh..." tiba-tiba Sandy mengerang menahan sakit. Mobil yang ia kemudikan berbelok-belok tanpa kendali.


"San ? kamu kenapa men ?" Reno panik. Bukan hanya dengan rasa sakit yang tiba-tiba kembali menyerang perut sandy tapi juga dengan laju mobil yang brutal dengan kecepatan yang tinggi.


Dengan seluruh kemampuan dan waktu yang ada, ia berusaha meraih kemudi. Menginjak rem dengan tempat sempit karena kaki Sandy masih bertumpu di sana. Entahlah, apa yang terjadi jika Reno tidak segera membanting setir ke bahu jalan. Menghentikan laju mobil dengan waktu yang mendesak.


"Sialan !" Reno menghela nafas lega walau mulutnya memaki pada keadaan yang benar-benar memacu adrenalin. Menguji kekuatan batin pada tekanan yang mendesak secara bersamaan.


"Sandy...." Reno menggoyangkan tubuh Sandy yang sudah terkulai lemas. Sandy sudah memejamkan mata, rasa sakit yang mencengkram membuatnya tidak sadarkan diri seketika.


"Tuhan....." Reno mengusap kepala frustasi. Mengacak-acak tatanan rambut yang memang sudah tidak rapi.


drrt drrtt....


Ponsel Sandy bergetar, membuat Reno kembali di kejutkan dengan rasa kaget. Jantungnya terpompa dengan cepat dalam beberapa waktu terakhir.


"Iya hallo bun...." Ia menyapa seseorang yang sudah berkali-kali menghubungi Sandy.


"oh-iya bun. Kita masih berusaha untuk mencari Keysha. Sudah dulu ya bun, nanti aku kabari lagi kalau sudah ada perkembangan."


Reno menutup sambungan telepon secara sepihak. Tidak ada basa-basi atau jawaban yang ia nanti dari Yeni. Ada hal yang lebih penting dari rasa hormatnya untuk saat ini.


Reno melempar ponsel tanpa haluan. Ia segera bergegas turun untuk memindahkan tubuh Sandy yang sudah tidak berdaya. Dengan sangat cepat mengambil kemudi dan kembali melajukan mobil. Keadaan yang sangat sepi membebaskan dia memacu kecepatan dengan sangat tinggi.


"Sandy kamu sudah berjanji untuk kuat . Bersabarlah... sebentar lagi kita akan sampai di rumah sakit. " Reno bergumam seorang diri. Menguatkan diri dengan kalimat positif yang sengaja ia ucapkan. Lima belas menit perjalanan yang ditempuh membawanya pada halaman rumah sakit swasta di kota tersebut.


Reno berlarian kecil menghampiri perawat lalu mengatakan ada pasien darurat yang ia bawa. Mereka semua berlari dengan membawa sebuah ranjang yang didorong. Mengangkat tubuh Sandy lalu memindahkan pada ranjang dan dengan cepat di bawa ke sebuah ruang UGD.


Beberapa dokter bergegas masuk dengan wajah tegang.


Ah, kurasa Sandy memang sudah saatnya untuk istirahat dari aktivitas yang melelahkan seperti hari ini....


Reno berjalan bolak-balik di depan pintu. Rasa panik yang menyibak dadanya semakin terasa kala belum ada satupun dokter yang keluar dari ruangan guna menemuinya untuk memberi kabar. Matanya terus memperhatikan pintu yang tidak memiliki celah sedikitpun. Ia menggigit-gigit ujung kuku untuk menahan diri agar tidak semakin larut dalam rasa sedih yang harus di rasa seorang diri.


"Keysha ....."


Detak jantung Reno meningkat ketika mengingat nama perempuan itu. Ada satu nama yang menantinya, meminta dan berharap keselamatan dari pertolongan tangannya. "Bagaiman aku bisa melupakan semua. Maafkan aku Sandy, aku harus pergi untuk mencari keberadaan istrimu..."


Reno berlari keluar rumah sakit. Kembali memacu laju mobil untuk melanjutkan tujuan yang belum usai.


-----------


"Mama......"


Sudah berkali-kali Allan mengigau memanggil-manggil nama Keysha. Tubuhnya menggigil bahkan suhunya meningkat. Semenjak tidak sengaja mendengar kabar tentang hilangnya Keysha pria kecil itu terus menangis menanyakannya. Membuat tubuhnya demam karena rasa khawatir yang dalam.


Yeni menatapnya dengan raut sedih. Tidak ada banyak hal yang bisa dia lakukan selain menghiburnya dan berulang membelai dengan sentuhan hangat pada tubuh Allan.


"Bagaimana bu ? apa sudah turun demam Allan ?" Tanya Rina yang membuat Yeni menoleh.


Yeni hanya menggeleng pasrah "belum sus...."


"Lena sudah tidur ?"


"Belum bu...dia terus saja menangis memanggil-manggil nama non Keysha."


Yeni menghela nafas panjang. Sebenarnya dia sendiri juga sangat sedih atas hilangnya Keysha. Putri kecilnya yang sudah tumbuh besar dan menjadi sosok ibu yang sangat di idolakan oleh anak-anaknya.


"Kita berdoa saja. Hanya dengan itu kita bisa membantu "