
Dokter Alexa menatap Keysha dengan sendu. Ia menyerah, dan merasa salah karena kegagalannya dalam bertindak. Ia tak mampu menyelamatkan suami dari perempuan di hadapannya. Seseorang yang baru ia temui beberapa kali, tapi mampu membuat hatinya nyaman.
Air matanya mengalir deras, seakan memberi jawaban dari rasa penasaran Keysha dan keluarganya. Tubuhnya bersandar pada dinding, lalu mulai berangsur menjatuhkan diri. Kakinya gemetaran, karena Sandy tidak bisa ia selamatkan.
"Maaf Nyonya Keysha...." Dokter Alexa merunduk, ia tidak kuasa melanjutkan kalimatnya. Lidahnya kaku, sulit untuk di gerakkan walau hanya beberapa patah kata untuk melengkapi kalimatnya yang masih menggantung. Namun, Keysha bukanlah perempuan yang tidak bisa membaca situasi. Ia ikut menangis, bahkan tangisnya semakin menjadi ketika ia berlari dan berada di ruang operasi. Ia tidak peduli, dengan seseorang yang juga masih terbaring lemah di samping Sandy, yang hanya bersekat kelambu berwarna hijau tua.
Operasi itu telah di lakukan, tapi detak jantung Sandy justru terhenti ketika Dokter Alexa telah menyelesaikan jahitan pada luka sayatan di bagian perut Sandy. Pria itu membuka mata sekejap, lalu kejang dan .....semua terhenti. Tidak ada lagi nafas yang menandakan ada jiwanya di sana, tidak ada lagi detak jantung yang berdetak walau secara lemah. Nadinya, mulai terdiam tidak juga berdegup dengan lambat. Sandy .....dia telah berpulang, begitulah kira-kira yang tergambar di bayangan Dokter Alexa.
Keysha terhenti di samping tubuh Sandy, ia bungkam, lalu mulai membiarkan air matanya melesat bebas di kedua pipi ranum miliknya. Kakinya terasa berat untuk ia seret lebih dekat lagi dengan tubuh suaminya. Pudar, ya cahaya yang menyinari hari-harinya mulai berhamburan dan lenyap. Semua gelap, seolah-olah tidak ada lagi harapan yang bisa di banggakan.
"Kak Sandy...." Keysha berucap pelan dengan nada parau. Suaranya tertahan dalam tenggorokan, ia semakin kesulitan untuk mengatakan rasanya.
Dokter Alexa dan Reno telah berdiri di belakang Keysha. Mereka berdampingan, menatap pilu kepada perempuan yang baru saja sanggup mengukir senyuman atas harapan yang besar yang dia dapatkan. Mereka tidak peduli ketika air mata mereka mengalir bebas. Justru tanpa sadar Dokter Alexa telah bersandar pada bahu Reno. Memohon untuk di kuatkan, atas kisah pilu yang baru saja ia saksikan.
"Kak Sandy....bangun kak." Sudah tidak ada lagi orang yang bisa menghalangi. Keysha menangis sejadi-jadinya di atas tubuh Sandy. Ia menggoyangkan pelan pada bagian atas. Membiarkan air matanya menetes di wajah suaminya. Berulang kali, ia mendaratkan sebuah kecupan mesra di kening dan juga pipi Sandy. Keysha, benar-benar tidak bisa percaya dan tidak bisa menerima jika suaminya harus pergi secepat itu.
"Kak, bangun kak ! Jangan tinggalkan Keysha...Allan dan Lena masih membutuhkan kakak di sini." Tangis Keysha semakin menjadi. Ia semakin erat mendekap Sandy yang sama sekali tidak bergerak. Wajahnya membiru, pucat pasi. Laki-laki itu terus terpejam, dan Dokter Alexa pun telah mengatakan jika Sandy telah meninggal.
**
"Kak Sandy...."
Sandy telah berjalan lama di sebuah lorong yang hitam. Ia mencoba mendekat pada suara yang terus saja memanggil namanya. Suara perempuan yang selalu menyuntikkan sebuah semangat baru pada dirinya.
"Keysha ? Kamu ada dimana ?"
"Aku di sini. Kesini lah kak ! Cepat. "
"Aku tidak melihatmu. Semua gelap sayang..."
"Kak Sandy...."
Sandy terus saja melangkah, ia meraba pada tepi jalan yang tidak bisa ia lihat dengan jelas. Melangkah semakin cepat menuju titik yang ia yakini adalah kebenaran. Tidak ada yang bisa membawanya keluar dari lorong itu, tidak ada yang bisa menggandeng tangannya Menunjukkan jalan, selain hati dan logikanya sendiri.
"Kak Sandy...."
Sandy menutup mata dengan lengannya karena merasa silau dengan sinar yang tiba-tiba muncul dengan kuat. Sebuah cahaya yang berasal dari ujung lorong.
"Kak Sandy...."
Sebuah pintu yang menampilkan seorang perempuan yang tersenyum dengan anggun. Ia bergaun putih bersih dan sedang setia menantinya di ujung. Tangannya melambai, lalu terulur menyambut kedatangan Sandy.
"Keysha...."
Sandy berteriak kencang, seirama dengan kakinya yang berlari dengan cepat. Ia berusaha kuat untuk segera menggapai tangan itu, semakin cepat dan semakin cepat mengejar pintu yang lambat Laun, mulai tertutup kembali.
"Kak Sandy...."
"Keyshaaaaaa....."
**
Hukum alam telah mengaturnya, Tuhan mengijabah setiap doa yang setia di panjatkan. Untaian kata-kata dalam sebuah pinta, tidak pernah menemui titik bosan ketika bermunajat.
Atas izin Allah, atas izin pemilik kehidupan dan yang Maha Mengetahui segala rahasia yang tersembunyi di seluruh alam semesta, mesin pendeteksi detak jantung yang masih terpasang di tubuh Sandy itu kembali menyala. Bahkan, jemari Sandy mulai bergerak satu persatu, menunjukkan adanya kehidupan yang masih hingga di tubuh yang terbaring lemah.
"Kak Sandy ? " Keysha membulatkan mata, ia tidak percaya dengan sebuah kejutan yang Tuhan hadiahkan untuknya.
"Dokter Alexa ...Sandy...." Dokter Alexa segera mengambil tindakan. Ia memeriksa kondisi Sandy dengan cepat.
"Subhanallah.....Allah mendengar doa-doa mu Nyonya Keysha." Dokter Alexa tersenyum lebar. Ia bisa menghela nafas lega karena jiwa Sandy telah kembali. Pria itu perlahan tampak mengerjap, ia membuka mata dengan pelan.
"Kak Sandy ?" Keysha meneteskan air mata bahagia. Ia menghujam suaminya dengan kecupan dan dekapan hangat.
Sandy belum bereaksi. Pria itu terus memandangi Keysha dalam-dalam. Ia perhatikan setiap garis yang tergambar si wajahnya. Sudah jelas, setiap sudut melukiskan ragam rasa yang bergejolak. Sebuah harapan yang tidak pernah terlepas dari dasar hati dan juga untaian kalimatnya.
"Kak Sandy...apa kau merasa ada yang sakit ?" Keysha melepaskan diri. Ia mengangkat tubuh, agar lebih leluasa memandangi ekspresi yang Sandy perlihatkan. Ya, bisa saja bibirnya mengatakan tidak, tapi wajahnya meringis menahan sakit.
"Tidak....aku tidak merasakan apapun selain perasaan aneh." Ucap Sandy seraya menggeleng ringan.
"Perasaan aneh ?" Keysha mengulang kata-kata Sandy untuk meyakinkan dirinya sendiri. Ia tidak mengerti, dan sulit untuk menangkap dengan pasti pernyataan yang dengan jelas Sandy ungkapkan.
"Kau siapa ?" Sandy berbicara dengan pelan, tapi begitu jelas di telinga Keysha. Sontak, semua yang mendengar tampak mengernyit dan tidak percaya dengan pertanyaan Sandy. Itu konyol. Bagaimana bisa Sandy lupa dengan istrinya sendiri. Dia begitu mencintai wanita itu, mana mungkin dengan mudah melepas ingatannya hanya dalam beberapa hari tidak berjumpa karena ia telah berjuang antara hidup dan mati.
"Dia Keysha...Apa kau tidak mengingatnya ?" Reno menimpali pertanyaan Sandy yang tidak sanggup Keysha jawab. Perempuan itu terlanjur larut dalam tangis yang mewakilkan isi hatinya.
"Keysha ? Namanya sangat awam untuk telingaku." Sandy terlihat seperti berpikir. Mencoba mengingat dengan nama yang Reno sebutkan darinya.
"Dokter Alexa, kenapa Sandy seperti itu ? Kenapa dia sama sekali tidak mengingat ku ?" Keysha tersedu. Ia mengadu pada alam, bahkan menghujam Dokter Alexa dengan ragam pertanyaan.
"Tunggu....." Celetuk Reno membiarkan Dokter Alexa menganga begitu saja karena ketika hendak berbicara di dahului Reno.
"Apa kau juga tidak mengenalku ?" Reno menatap Sandy dengan tajam. Tangannya terarah pada dirinya, dan menempel di dada.
"Hahahaha...." Gelak tawa Sandy menggelegar keras memenuhi ruang yang memantulkan Suaranya.
"Kau temanku sejak masih ingusan mana mungkin aku tidak mengingatmu."
"Kalau begitu siapa namaku ?"
"Apa kau yang sedang lupa ingatan ? Kau Reno, kau tidak ingat namamu sendiri ?"
Reno dan Keysha melongo. Mereka benar-benar tidak mengerti kenapa Sandy hanya tidak mengingat istrinya, tapi dia masih bisa mengingat Reno dengan jelas .
"Dokter ....." Keysha tersedu-sedu. Ia kembali larut pada kecewa yang menguasai dirinya. Kepada musibah yang sedang senang bermain-main dengan hati kecilnya. Perempuan itu beringsut mundur, karena tidak sanggup melihat pria yang teramat ia cintai, tetapi sama sekali tidak bisa mengingat kisah mereka walau hanya satu detiknya saja.