
Pesona cantik milik Keysha selalu menjadi pemikat bagi setiap orang. Mereka menunduk, memberi penghormatan saat Key berjalan ke arah luar butiknya. Pun dengan Keysha, ia tidak pernah pelit untuk menjawab salam atau sekedar membalas senyum kepada mereka .
Lita dan Shinta mengikuti langkah Key di belakang . Sesekali mata mereka saling bertatap, berkomunikasi melalui batin dan kode . Key tersenyum jail di depan, bahkan ia menggeleng kan kepala nya ringan, menyadari adegan-adegan dua orang yang sedang ketakutan di belakang.
"Ada apa ma ?" Key mendengar Shinta berbisik tak jelas. Langkahnya terhenti seketika dan kembali mundur dua langkah . Mereka kembali berdekatan, berjalan beriringan dan Key menyelinap memasuki bagian tengah di antara mereka.
"eng ...engga kok Key " Wajahnya pucat seketika. Menyadari jika wanita di depannya sangat jeli pendengaran nya. Ia sungguh memiliki daya dengar yang tinggi.
"Kenapa bisik-bisik ? Ada yang ngga suka ?" Key mengintimidasi, menekan setiap kata dengan jelas di depan wajah mereka. Dahinya mengernyit seketika, membaca rasa kesal di dua pasang bola mata yang tak lagi berani memandangi nya.
"Bu ..buk ...bukan gitu Key . anu ...cuma ?" Lita semakin di bunuh oleh pertanyaan Key. Ia kehabisan kata untuk menjawab yang bersembunyi. Membuang gagu yang menyekek lehernya.
"Mama lagi sakit leher ? Sedari tadi Key perhatikan mama seperti kesusahan bicara. Mau Key antar ke dokter ?"
Key kembali berjalan, kini ia mengimbangi langkah mereka. Masih menjadi pemisah di antara mereka berdua . Membuat Lita dan Shinta semakin gila dengan tekanan pikiran yang ada.
"Ma ? " Key mengulangi tanda tanya . Memperjelas bahwa dia membutuhkan jawaban.
"sehari ini Mama kurang minum kak , dia suka gitu kalau dehidrasi " Shinta mengalihkan pandangan Key. Memotong tanda tanya yang sempat melayang di atas kepala Lita, berputar-putar bingung menyudahi segala yang terlanjur terucap.
"oh " Keysha kembali mengangguk. Menarik lagi kalimat yang sudah siap di balik lidah. Ia mencoba paham, walau hatinya sedang berjoget ria .
Tujuan Key adalah restoran sushi di samping Butik. Ia melangkah masuk, dan kembali mendapat sambutan hangat dari karyawan di sana. Mereka seperti nya kenal betul dengan wanita ini, sangat mengerti segala yang menjadi kebiasaan selera nya.
"Key sudah pilih menu andalan mama sama Shinta . Kalian mau nambah yang lain ?" Key menyodorkan buku menu setelah menyebutkan beberapa kepada pelayan.
Sepasang anak dan ibu di hadapan nya itu kompak menggeleng. Wajah yang penuh polesan make up itu sudah semakin pucat tak bisa menempatkan diri. Jelas sudah, topeng yang biasa ia pasang tak bisa berkutik di depan Key , ia mati gaya bahkan terbius hanya dengan satu kedipan mata Key.
"Yakin ma ? " Key menarik lagi buku menu, dan mempertegas tanda tanya nya.
"Udah Key itu aja . Udah banyak banget " Ucap Lita yang sedikit bisa memecah kekakuan lidahnya.
"i..iya kak . itu aja, Shinta juga mau lagi diet ini " Tambah Shinta yang ikut membuka bibir tipis miliknya.
"Ok. " Key kembali mengangguk . Lalu memasang posisi dan bersandar di bangku yang menopang tubuhnya. Matanya tak henti memandangi dua wanita yang sempat merepotkan hidupnya itu. Sedikit membuka lembar demi lembar kenangan silam. "Lucu sekali dunia mempermainkan lakon-lakon nya" batinnya. Ia tersenyum saat mendapati Lita atau Shinta ikut menatapnya.
"Kenapa sih Key, lihatin nya kok gitu ?" Lita gelagatan, menutup diri risih dengan mata Key yang tak lepas dari tubuhnya.
"Oh , kita juga ka-kangen loh , hehehe " Lita tertawa dengan paksaan .Tidak ada irama melegakan di suara tawa nya. Key paham, ia bingung menutup celah. Mencari-cari alasan untuk mencairkan dirinya sendiri yang masih beku.
"Benarkah ?" Ucap Key, ia mulai bangkit setelah pelayan meletakkan minuman yang ia pesan di atas meja nya. Mengaduk-aduk sesuai seleranya , lalu mulai meminum melalui sedotan.
"i ..iya tentu. Mama sampe nyari-nyari kamu belakangan ini. Sulit sekali buat ketemu rasanya . Eh, ngga tau nya Tuhan nemuin kita di butik milikmu " Sudah beberapa jam bersama. Baru ini kalimat panjang yang keluar dari lidah Lita. Semangat sekali ia membicarakan pertemuan, bahkan pencarian.
"Mama masih sering bertemu papa Chandra ?" Key mendekatkan wajah nya beberapa jengkal dari wajah Lita.
"Kenapa diam ? dengar-dengar mama tinggal di salah satu rumah Papa Chandra .Kenapa tidak mencoba bertanya sama Papa, atau mungkin sama mama Meera ?" Key memelankan nada bicaranya . Berbisik-bisik Namun masih bisa terdengar jelas oleh Lita dan Shinta.
Tidak ada jawaban lagi, Key kembali mundur dan mengangkat alis lalu ia lengkap dengan kedipan mata.
"Key tahu Ma , tapi mama tenang aja Suamiku tidak tahu tentang ini. "
"Mama mohon Key . jangan bilang Sandy ya nak "
"Kenapa Ma ? Sandy suami Key , papa Chandra papanya Sandy. Lalu ? dimana masalah nya ?"
Lita membisu, ia menunduk takut. Dua jemari miliknya saling menggenggam di bawah meja makan. Hah, seperti nya Key terlalu jauh menakut-nakuti mereka berdua. Sudahlah ! cukup Key ! Kasihan jika sampai mereka menggila di sini, tiba-tiba nangis apalagi sampai pingsan.
"Ah sudahlah ! Kita bahas nanti , ayo ma cepet di makan." Key mencairkan suasana, memecah hening nya kondisi dengan bersikap biasa. Ia kembali acuh pada pembahasan sebelumnya . Menutup buku lama dan segera memulai menikmati hidangan siangnya.
"Ini kesukaan Mama bukan ?" Key menyodorkan satu piring menu. Berharap Lita mengingat kembali perbuatan buruknya di masa lalu. Yang melarang keras Key menyentuh beberapa menu favoritnya, kecuali yang sudah lama tersimpan di lemari es bahkan yang telah membusuk , baru ia paksa Key untuk memakannya.
"e ..makasih Key " Dengan tangan yang bergetar, Lita meraih piring itu. Mengambil beberapa potong dan menaruhnya di piring miliknya.
"Shinta ? kamu masih menyukai ini ?" Kini giliran Shinta yang Key tatap. Menyodorkan menu yang berbeda di hadapan Shinta.
"i ..iya Kak . Shinta masih suka " Jawabnya terbata . Bicara nya lirih, tak seperti Shinta kecil yang sering berteriak-teriak angkuh di depan mata nya.
"Nikmatilah ! Jangan berpikir yang macem-macem..Aku tetep Keysha kecil " Kalimat terakhir Key sebelum menikmati menu di depannya.
Ia tidak bersuara saat makan, mulutnya hanya ia gunakan untuk mengunyah . Tetapi tatapannya masih sering mencuri pandang ke Lita dan Shinta. Menyaksikan drama baru yang tak pernah ia lihat perannya di masa kecil. Ia menikmati itu, tekanan batin yang tengah meronta namun tak bersuara.