I'M Sorry! I Love You!

I'M Sorry! I Love You!
Gilang?



Maaf jika episode ini feel nya kurang ngena banget 😌 banyak sekali tugas yang menguras pikiran, hingga buntu saat nulis 🙏


.


.


.


.


.


.


.


.


Sandy POV


Berhentilah bermain dengan gengsimu itu bocah! Itu sangat menggelikan.


Sandy tertawa geli ketika membayangkan wajah gadis itu. Fokusnya kini terbagi, antara kantor dan Keysha. Gadis imut yang mood nya saja bisa membuatnya merasa terhibur.


Duh, keysha larasati mantra apa sih sebenarnya yang kau senandungkan. Boss besar dan sesukses Sandy saja bisa sebegitu tergilanya sama kamu. Ini sih gila. Dia juga seperti sedang terhipnotis. Tentu! Lihat saja besarnya cinta dia ke Cherry dulu, itu tidak mampu membuatnya putar balik saat Cherry kembali masuk ke dalam kehidupan baru nya. Wiih, hebat!


"Sandy ?" berulang kali Reno memanggil namanya. Namun, sama sekali tidak ia hiraukan. Lelaki gini ya, kalau sedang jatuh cinta? Susaahhhhhh..........


"Sandy !" kali ini Reno meninggikan suaranya. Wajahnya juga sangat garang, dia melempar bolpen kearah sandy.


"aduuh ! Reno, kamu gila ya?" erangnya. Tangannya mengusap dahi yang terkena lemparan bolpen tadi.


"Kamu kali yang gila. Aku sudah dari tadi di sini, teriak-teriak. Eh situ malah cengengesan sendiri. Kamu masih bisa bilang aku yang gila?" Reno protes, langkahnya mendekat ke kursi Sandy dan duduk di bangku yang bersebrangan dengannya.


"iya iya Sorry, ngapain kamu ke sini?" Sandy menyatukan kedua tangannya,mengangkat sebelah kakinya, dan kembali merebahkan tubuh di sandaran kursinya.


"Sandy, kamu kesambet apa kejedot gitu sebelum ke kantor?" Reno mengerutkan dahi. Di balik pertanyaan yang ia ungkap dengan sebegitu seriusnya tersimpan rasa kesal dalam hatinya.


Sandy masih tidak mengerti, ia menatap Reno dengan pandangan kamu bicara apa sih Ren?


Laki-laki itu, kini memilih berdiri dan duduk di meja sebelah Sandy.


"coba kamu cek ponsel mu! Masih kan chat kamu yang menyuruh aku ke sini dengan buru-buru!" Reno menekan kata terakhirnya.


2.....


3.....


baa? Inget?" Reno membulatkan mata.


Sandy hanya nyengir kecut. Dia segera mungkin memilah beberapa berkas dan menyerahkan ke Reno. Taulah maksudnya! Dia sudah berjanji pada istri tercintanya untuk berlibur di kampung Yeni. Jika itu gagal, otomatis dia sudah melukis satu luka pada hati Keysha. Nah jadi, sebagai gantinya untuk mempermudah segalanya dia memerlukan Reno. Sabar ya Ren,lo deh yang kena batunya, untuk mempercepat semuanya, pekerjaannya, tugasnya. Se-mu-a-nya! Reno yang akan handle. Siap-siap pusing Ren! Fokus! Salah dikit, panjang masalahnya. Lanjut.......


"San, kamu ngga ingin mempercepat kematian gue kan?" Reno menggeleng tak sanggup. Nafasnya berat setiap menatap berkas-berkas didepannya.


Tidak ada jawaban yang keluar dari mulut Sandy, dia hanya memberi kode dengan tatapannya 'jangan banyak protes !' seperti itulah.


Sandy kamu gila! Aku benar-benar bisa mati muda jika terlalu lama menatapmu, pekik Reno dalam hati. Bisa dibilang dia ingin sekali berteriak dan menolaknya. Namun, pasti Sandy akan mengutuknya.


"Jangan khawatir men, itu untuk 2 minggu ke depan!" Nada Sandy mulai menghibur. Wajah putihnya memerah karena menahan tawa saat melihat wajah Reno yang masam. Dia sempat melempar bolpen tepat di kepala Reno.


Reno menghela nafas lega, ia menyandarkan tubuhnya ke sofa panjang di ruang kerja Sandy. *Y*a setidaknya, gue bisa bernafas bebas untuk dua minggu kedepan.


Keysha POV


Lagi dan lagi kita dipertemukan dalam satu adegan, dalam satu ruangan, dan dalam waktu yang salah....


Rania, apa yang membuatmu begitu membenciku? Aku tak yakin, jika semua hanya karena Ibnu...


Key masih setia dalam lamunannya, dia masih setia dengan musik dari earphone miliknya. Senyumnya yang kaku selalu menyapa kala dia mengingat masa terindah dengan sahabat karibnya. Dan selamanya, kamu adalah sahabat untukku Ran.


Jika mesin waktu itu benar ada, ia akan memutar kembali dan menghilangkan satu detik yang menjadi tombak yang merusak hubungan persahabatannya dengan Rania.


"kak tunggu!" suara langkah yang berlarian kecil. Suara pria yang sangat Keysha kenal, dia sempat menoleh mencari sumber suara itu.


Gilang? Pekik keysha dalam hati, dia tak mempercayai jika lelaki itu sudah bisa berkeliaran bebas.


"Lang? Ada apa?" Wanita yang tak begitu jelas terlihat oleh mata Keysha . Dia berdiri membelakangi Key. Perawakan yang tinggi dan body nya yang sexy. Sepertinya, aku kenal.


Obrolan panjang antara Gilang dan wanita itu, semua terdengar jelas di telinga keysha. Bukan! Bukan sengaja menguping pembicaraan mereka, namun Keysha penasaran atas kebebasan Gilang.


Siapa yang berani menyalakan api pada diri Sandy?


Bersambung...........