I'M Sorry! I Love You!

I'M Sorry! I Love You!
Allena dan Allandra



"Hoeek"


Keysha berlari ke kamar mandi, memuntahkan semua makanan yang baru saja masuk keperutnya.


"Key, kamu baik-baik saja?" Meera ikut berlari, mengejar anak menantu yang dirasa kurang enak badan.


"Tidak tahu ma, sudah seminggu ini perut Keysha tidak enak banget" ia memegangi perutnya dengan kedua tangan. Wajahnya meringis, merasakan perut yang semakin mual.


"Jangan-jangan kamu hamil?" Meera menduga. Wajah panik nya hilang bersama datangnya harapan.


"Hamil?" ia mengingat-ingat terakhir datang bulan. Menggigit bibir bagian bawahnya, mengamini doa yang terlontar dari mulut Meera.


Apa iya aku hamil? ~Keysha


"Sayang, kamu kenapa?" Sandy yang mendengar jika Keysha merasa kurang enak badan berlari menghampiri Keysha.


"Aku tidak apa-apa kok kak, kamu sudah joggingnya?" diangkatnya salah satu alis tebal miliknya.


Sandy sempat terdiam sebelum menjawab pertanyaan Keysha. Ia mengatakan, jika Audry menelpon nya dan mengatakan jika istrinya terus saja muntah-muntah. Tentu saja, itu pancingan terkuat untuk dia segera pulang, baginya istri yang sempat menghilang dari dekapan tubuhnya ini adalah wanita paling berarti dalam hidupnya selain Meera dan Audry. Ia tidak ingin lagi membuat nya sakit apalagi menangis, ia pastikan tubuh moleknya itu tidak akan tergores walau hanya seujung kuku.


Meera menyuruhnya untuk membawa Key ke rumah sakit, tanpa memberi tahu tebakan yang Meera katakan sebelumnya.


Diperjalanan, ia tidak hanya fokus pada jalanan yang mulai ramai, tapi sesering mungkin ia menoleh kearah Keysha duduk, ya walaupun kondisi nya mulai baik-baik saja.


"kak Sandy, kamu fokus sama jalanan saja. Aku sudah tidak apa-apa." tegur Keysha yang merasa takut jika Sandy gagal fokus.


Ya, jawaban iya yang baru saja dia ucapkan tidak menjamin perbuatan yang bakal dia lakukan. Tetap saja matanya jelalatan dengan kekhawatirannya yang sangat lebay itu.


--


"Dok, bagaimana keadaan istri saya?" dengan sangat tergesa-gesa dan panik Sandy bertanya pada dokter yang belum sempat duduk sehabis memeriksa kondisi Keysha.


" Nyonya Keysha hanya perlu istirahat saja tuan. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan" dokter itu tersenyum. Entahlah, dia merasa lucu atau kagum dengan perhatian Sandy yang berlebih ini.


"Terus, kenapa dia mual terus dok?" masih saja, dia seolah tidak percaya dengan kalimat yang baru saja dokter ungkapkan.


Membuatnya, beramibisi untuk menanyakan ulang dan jelas! Selamat tuan Sandy, istri anda hamil dan usia kandungannya sudah memasuki minggu ke 5!


Damn, kabar sangat menggembirakan, ia berkali-kali menciumi dan memeluk tubuh Keysha di depan sang dokter. Membuatnya bergidik geli dan merasa malu.


"Sayang, mulai sekarang kamu jangan terlalu banya bergerak" Sandy merangkul bahu sang istri, dia memang selalu bersikap manis dan penuh perhatian. Tidak hanya dalam kondisi seperti ini, situasi apapun Sandy memangnya pria yang penuh perhatian.


--


Bulan demi bulan berjalan dengan lincahnya, membuat Keysha semakin sering tertawa sendiri melihat perut buncitnya. Mengusapnya lembut dan mendongengkan cerita yang menurutnya menarik.


"Auu kak Sandy, sakiiit !"


Keysha menjerit seketika, memegangi perutnya yang mulai tak karuan rasanya. Air yang dianggap seperti air kencing itu mulai mengalir di pahanya. Ah, Sandy hanya panik awalnya. Dia bingung dengan keadaan seperti ini apa yang harus dia lakukan. Otaknya buntu tak bisa mencari jalan.


"Tuan, sepertinya nona Keysha mau lahiran"


Pelayan itu meneriaki Sandy yang sibuk mengelus perut sang istri. Suaranya samar, namun masih bisa dimengerti oleh majikannya. Dan dengan sigap Sandy membopongnya lalu membawa berlari dengan mobil pribadinya.


Kakinya tidak bisa berhenti, entah sudah berapa ratus kali dia mondar-mandir di depan ruang operasi. Hampir dua jam, Keysha dindalam dan tidak ada satu dokter pun yang segera keluar menyampaikan berita.


Ditambah, keluarganya yang datang dengan panik. Membuat Sandy semakin ingin menjerit dan menangis. Hatinya saja yang meraung karena tak tahan mengingat kesakitan yang dirasakan wanitanya. Ah, jangan nangis! Jangan nangis! Malu sama mama, sama Bunda.


Cekrekk


Setiap pasang mata dengan spontan melirik arah pintu, mereka secara bersamaan berlari dan mempertanyakan kondisi Keysha di dalam sana.


"Selamat ya tuan, anak kembar bapak lahir dengan sehat dan selamat, ibunya juga sehat. Setelah ini kami akan memindahkan ke ruang perawatan agar bisa ditemui"


Ucapan dokter itu membuat semua bernafas lega. Mata Sandy berbinar, mengeluarkan sorot yang belum pernah dia perlihatkan sebelum ini.


"Selamat datang Allena, selamat Datang Alandra"