I'M Sorry! I Love You!

I'M Sorry! I Love You!
Sungguh Berani



Sudah dua puluh menit, dua puluh dua detik mereka berada di tempat yang sama, jarak yang memisah tidaklah terlalu jauh untuk di jadikan alasan. Mereka tengah bungkam, asyik bercengkrama dan saling menerka-nerka dengan angan yang ada. Sesekali, mereka kompak menyesap kopi yang tersaji, tapi tidak menjadi awal untuk memulai bicara.


Satu cangkir pertama usai, berhasil tanpa suara ribut yang mewarnai. Satu batang rokok lenyap terhisap oleh bibir titip Reno. Ah, pria itu suka seenaknya tanpa mau di atur oleh orang lain. Bahkan, peraturan yang tertera semenjak hadirnya mudah sekali terpatahkan olehnya.


"Aku ada kejutan untukmu." Pertahanannya runtuh, Reno berhasil lebih lama berdiam diri. Ada yang tiba-tiba melintas dalam benak, sebuah rekaman yang baru saja di peroleh dari seseorang. Perempuan yang sempat masuk barisan orang-orang yang wajib di musnahkan dari depan mata.


Reno mengernyitkan dahi, ia tidak mengerti kata kejutan yang sangat intim itu di dapatkan dari pria sedingin Sandy.


"Kejutan ?" Reno mengulang kata Sandy untuk meyakinkan, tentunya untuk membuat dirinya sendiri yakin jika dia tidak sedang salah dengar.


Sebuah ponsel, dengan rekaman yang mulai berputar, Sandy sodorkan begitu saja. Tidak melempar, hanya melesatkan ponsel dengan sangat cepat di atas meja. Reno menyempatkan diri untuk melirik Sandy, sebelum memutuskan untuk meraih ponsel itu. Sudah lama ia memperhatikan itu dengan jeli, tapi masih belum usai, ia memutar ulang dari awal. Hingga membuatnya kembali bungkam untuk memfokuskan diri.


Beberapa menit membiarkan suara menggema di dalam ruangan, telepon Sandy berdering. Pria itu segera bangkit, lalu mengangkat gagang telepon yang menghubungkan ruangannya ke sekertaris pribadinya.


"Tuan Sandy, ada Nona Cherry yang memaksa untuk masuk ?"


Hanya itu yang terdengar jelas oleh Sandy. Di sebrang telepon sangat berisik, suara ribut antara beberapa orang di sana sungguh mengganggu telinganya.


"Apa Cherry benar-benar sedang merasa takut ?" Suara Reno menyambar dengan keras, itu mungkin karena rasa puas yang hadir dengan bukti yang ada tanpa di minta. Reno telah selesai memutar video, tapi dia tidak sadar jika Sandy tengah berbicara dengan seseorang di ujung telepon.


"Aku akan turun." Jawab Sandy dengan nada penuh arogan. Ia sangat geram dengan kelakuan wanita yang sudah tidak punya rasa malu tersebut. Terus saja berusaha membujuk waktu untuk mendekati pria yang jelas semakin larut dalam benci yang merajai. Ia menutup telepon dengan kasar, tangannya menarik ujung jas lalu melangkah dengan cepat.


"Hei, apa yang terjadi ? Kau mau kemana ?" Seru Reno, ia berteriak karena tidak di anggap oleh Sandy. Bahkan, diapun tidak paham apa yang membuat sahabat karibnya secepat itu berubah perasaan.


"Apa kau tidak bisa diam ?" Celetuk Sandy ketus dari ambang pintu. Ia menoleh kearah Reno seolah mengatakan, jika mau tahu kenapa harus banyak tanya dan diam di situ, bodoh sekali !


Reno berlarian kecil mengikuti langkah kaki Sandy yang di ayun dengan cepat. Mereka sudah berada dalam lift, lalu menekan tombol angka sembilan belas. Tidak lama hanya turun satu lantai, mereka sudah bisa mendengar suara ribut dengan lebih jelas ketika pintu lift mulai terbuka.


Mereka terus melangkah dengan sigap, menelusuri lorong yang untuk sampai di tempat Cherry.


"Lagi pula, siapa yang berani mencari ribut di sini ? Nyalinya besar sekali, apa dia sudah bosan hidup ?" Gumam Reno kembali. Ia tidak berani bersuara, selain terus mengikuti langkah yang Sandy tempuh.


Tidak butuh waktu lama, mereka telah berdiri saling berhadapan. Ada security yang hampir menyerah karena ulah Cherry, ada Safira yang sudah kehabisan kata untuk memberi penjelasan, ada banyak karyawan yang turut memberi arahan, setidaknya agar perempuan itu bisa lebih tenang dan diam selama Sandy belum turun. Faktanya, Cherry terlihat lebih keras dari mereka semua. Hanya dengan kedatangan Sandy dan Reno, perempuan yang mulai menua tanpa sandaran hati itu bisa terkendali. Ia langsung diam, lalu melempar senyuman lebar ketika melihat Sandy. Tangannya yang terus saja berontak, kini mulai lemas, seolah telah menemukan obat penenang.


"Dasar kau tidak punya malu ! Untuk apa masih berani datang ke sini ?" Suara Sandy menggema dengan keras, membungkam seluruh mulut yang mulanya masih terus saja bercengkrama. Hening, hanya nyanyian sunyi yang menerpa. Sekalipun dengan Cherry, ia kehilangan keberaniannya, hilang pula senyum yang menawan tadi, apalagi dengan kekuatan yang menuntut semua orang agar mengizinkan dia menemui lelaki pujaan hatinya, Sandy yang sudah jelas berstatus suami orang. Cinta yang dia ikuti memang penuh nafsu, hasrat yang kuat untuk tetap memiliki sekalipun hati yang di puji telah membenci.


Cherry mulai tersedu dengan air mata palsu, di hadapan mata yang terus mengamati ia bersimpuh menjatuhkan diri. Tangisnya, tak kunjung berhenti, tapi Sandy tetap bersikeras mengenyahkan itu.


"Sandy, kenapa kau terus saja membentak ku ketika kita bertemu ?" Cherry mendongak, ia memperhatikan raut wajah Sandy, yang tidak menghiraukannya sedetikpun. Sandy benar-benar tidak peduli walau ada seorang perempuan yang telah berlutut di depan kakinya.


"Sandy, aku benar-benar minta maaf untuk yang telah berlalu, Sandy aku lebih segalanya dari Keysha apa yang membuatmu terus saja membela perempuan j a l a n g itu ? Bukankah dia....."


"Apa kau benar-benar ingin mendekam di penjara, hah ?" Sandy memang tidak pernah rela jika ada seseorang yang meremehkan istrinya. Sekalipun dia perempuan, Sandy akan membentaknya dengan lebih keras dan sangat menakutkan. Ia telah berjongkok, lalu mencengkram kedua pipi Cherry dengan keras. Membuat perempuan itu semakin tersedu dalam tangis. Ia sudah tidak berani lagi melanjutkan kalimatnya yang belum usai. Sebuah suara hati yang selalu meronta menuntut untuk di cintai. Lucu sekali, dia benar-benar telah kehilangan harga diri, bahkan lupa kendali jika rasa malu adalah mahkota seorang wanita.


"San..." Reno menepuk bahu Sandy pelan. Tatapan matanya seakan memberi peringatan jika yabg dihadapi bukanlah laki-laki yang pantas untuk dikasari. Dia wanita, yang walau berhati iblis tetap saja ada hukum yang melindungi.


"Ku peringatkan padamu Cherry, jangan sekali-kali kau berani menyentuh istriku walau hanya dengan sepatah suara yang kau lontarkan untuk menghinanya ! Jika tidak, akan ku pesankan tempat tidur terakhir untukmu setelahnya." Dengan mata arogan, Sandy terus mengecam keras Cherry. Tangannya masih menempel bahkan semakin kuat mencengkram erat pipi Cherry. Ia benar-benar muak dan tidak bisa menahan diri untuk tidak berbuat kasar kepada wanita yang selalu mengganggu hidupnya. Dengan tenaga yang masih sangat kuat, Sandy mendorong Cherry hingga membuat perempuan itu beringsut mundur.


"San...." Suara Cherry pelan, dalam isakan tangis ia mencoba bangkit. Memegangi kedua pipi yang dirasakan mulai sakit karena cengkraman kuat tangan kekar Sandy.


"Apa kau masih ingin di siksa oleh Sandy ? Lebih baik pulang, lalu pikirkan apa yang membuat Sandy benar-benar membencimu Cherry. "Seru Reno santai. Ada rasa kasihan yang menerpa hatinya, tapi lebih condong pada kepuasan karena perbuatan Cherry sungguh tidak bisa di maafkan.


"Aku....Aku...." Cherry tertunduk pilu. Air mata yang mengalir tidak juga usai membasahi. Rasa takut juga kesedihan yang mendera hati, nampaknya hanya semakin membuatnya menggila dengan rasa benci pada perempuan yang menjadi pelabuhan terakhir dari rasa yang Sandy miliki.


"Bersiaplah, sebuah ruang kecil yang membosankan ku pastikan akan segera menyapamu." Sandy menyeringai, ia tersenyum sinis lalu melangkah pergi meninggalkan Cherry dan karyawan yang lain.


"Urus perempuan ini pak. Seret saja jika masih susah untuk di ajak bicara baik-baik." Imbuh Reno, lalu turut melangkah meninggalkan yang lainnya.