I'M Sorry! I Love You!

I'M Sorry! I Love You!
Sesal



Satu bulan berlalu......


Sepertinya memang benar kata Keysha, kisah yang sama terulang kembali kepada sahabatnya. Mereka kini saling berjauhan, berdiri kokoh dengan rasa gengsi dan keangkuhan. Tidak ada lagi tegur sapa ketika mereka saling bertatapan. Layaknya seorang pasien, dan dokter. Ah tidak ! Mereka lebih terlihat seperti seorang yang sama sekali tidak mengenal. Berulang kali Sandy dan Keysha mencoba mempertemukan mereka, tapi nihil. Semua mustahil. Mereka tetap keras kepala dan mengikuti nafsunya masing-masing.


"Kamu benar-benar sudah tidak peduli dengan Dokter Alexa ?" Sandy mulai serius bicara. Sekejap, tawa yang mengembang di kedua sudut bibir Reno lenyap, menghilang bahkan tampak tidak senang dengan pengalihan topik yang Sandy luapkan secara tiba-tiba.


"Aku sudah tidak mengenalnya. Kenapa kau senang sekali berbicara tentangnya ? Apa kau mulai jatuh hati padanya ? Syukurlah, aku akan menyelamatkan Keysha dari lelaki hidung belang sepertimu, " Reno tampak lebih santai membicarakan perempuan itu. Ia merogoh kantong, lalu mengeluarkan sebatang rokok dan mulai menyesapnya dengan tenang. Menghembuskan asap dan mendorongnya kuat dengan mulut.


"Shit ! " Dengus Sandy kesal. Tiada lagi kata yang ia layangkan untuk menimpali ledekan Reno. Berdiam, karena ia enggan melanjutkan karena masih takut jika Reno mulai jenuh lalu memakinya. Ah, mungkin melihatnya menyendiri sampai tua akan lebih baik daripada harus membuatnya berumah tangga tapi mereka tidak lagi bersahabat.


"Hahaha...." Suara tawa Reno menggema. Berkelana memenuhi setiap sudut ruang. Banyak sekali mata-mata asing yang memperhatikannya, tapi ia enyah kan itu. Reno sama sekali tidak mempedulikan mereka yang tidak menyukai bahagianya. Bukan, melainkan caranya hidup. Reno yang selalu pandai bersembunyi di balik sikap angkuh dan kejamnya. Siapa sangka, di balik semua itu tersimpan luka yang semakin membesar. Merebak, menciptakan sebuah titik-titik di dalam hati yang semakin meningkat jumlahnya.


"Kenapa kau diam saja ?" Imbuh Reno, ia menangkap wajah masam yang Sandy ukir.


"Kenapa kau selalu mengatakan ingin menyelamatkan Keysha dariku ? Apa kau benar-benar menyukainya ?" Sungut Sandy geram.


"Siapa yang tidak menyukai perempuan seperti Keysha ? Dia cantik, dia baik, dia cerdas, dia sangat ideal untuk dijadikan istri, " Reno tersenyum sinis. Menatap dalam pada mata Sandy yang mulai mengeluarkan urat-urat arogan.


Wajah Sandy tampak memerah karena menahan gejolak amarah yang sudah mencapai puncaknya. Ia mengepalkan kedua tangannya dengan erat, menatap Reno dengan pandangan arogan dan mematikan.


"Mau marah ?" Reno beringsut mundur. Ia bersandar pada sofa cafe yang di desain senyaman mungkin untuk para pengunjungnya.


"Ku peringatkan kepadamu Sandy Atma Hutama, aku tidak ingin kau menyebut nama perempuan itu lagi. Aku sudah muak mendengarnya, jika tidak aku akan mengganggu Keysha, lebih dari yang kamu bayangkan, " Reno beranjak dari bangkunya. Mengancam dengan keras dengan kata yang sangat menyesakkan dada. Sementara Sandy masih memilih untuk bungkam, mencerna setiap kata yang Reno lontarkan. Laki-laki itu benar-benar telah berubah, ia terdengar lebih dingin dan kejam dari sebelumnya, jelasnya ini bukanlah diri Reno yang sesungguhnya.


Reno mengayun langkahnya cepat, menghentak seolah melayangkan kalimat protes pada bumi yang ia pijak. Lisan dan hatinya sedang bertolak belakang saat ini. Ia memang sedang mengumumkan pada bumi jika dirinya sudah tidak membutuhkan dokter Alexa, tapi nyatanya ia merasakan sakit yang mendalam dengan kalimat itu. Hatinya sungguh menolah, meminta Reno untuk menarik kembali setiap kalimat angkuh yang sudah terlanjur di sebut.


"Sial, kenapa aku jadi munafik seperti ini, " Reno menendang pada setiap barang yang ia temui di jalanan.


"Tuhan, kenapa kau tidak adil padaku ?"


"Tuhan ?"


"Hei, kenapa ? Apa aku tidak sebaik lelaki yang lainnya ?"


"Seharusnya aku memang sudah berkeluarga. Tapi kenapa aku tidak bisa memilih ?"


Batin Reno terus berteriak, menyuarakan segala penat yang sudah tidak tahan ia simpan seorang diri. Entah kemana langkah akan membawanya pergi. Berjalan dan terus berjalan mengikuti suara hati. Merana dalam duka yang semakin menggila.


"Anakku ? Mana anakku ? Tolong pulangkan anakku !" seru seorang wanita itu menghentikan langkah Reno.


"Aku tidak membawa anakmu, " Seru Reno acuh. Ia kembali melangkahkan kaki, membuat perempuan itu berusaha menahan lengan Reno.


"Shit ! Aku tidak mengenal anakmu, untuk apa aku membawanya ?" Reno berdengus kesal. Dengan kasar ia menepis tubuh perempuan itu, hingga membuatnya tersentak kaget.


"Shinta, kamu dimana nak ?" Imbuhnya seraya mengangkat tubuh. Perempuan itu berjalan ke tengah jalan raya tanpa menoleh ke kanan dan kiri. Tidak peduli lalu lalang kendaraan yang melesat dengan cepat. Suara-suara klakson tidak lagi masuk di telinganya, ia tetap menembus keramaian dengan tangis yang semakin deras mengalir di kedua pipinya.


"Shinta ? Jangan-jangan...." Reno membulatkan mata lebar. Ia baru menyadari jika perempuan itu adalah Lita, ibu sambung Keysha.


Brakkkkk (Suara benturan benda yang sangat keras)


Reno berputar arah, kembali melangkah menuju titik yang mempertemukan mereka. "Tante Lita......"


Nasi telah menjadi bubur, yang sudah terjadi tidak bisa di ulangi. Waktu selamanya akan terap berjalan maju, tidak peduli dengan kejadian yang telah berlalu dengan kejadian buruk. Lita telah terkapar tidak berdaya, seluruh tubuhnya mengalirkan darah segar yang tidak terhingga.


Reno menganga, menyesal telah mengacuhkan perempuan yang memang sedang membutuhkan uluran tangannya.


"Tante Lita ...." Reno berteriak histeris di atas tubuh wanita itu. Tangannya yang tidak sengaja menyentuh tubuhnya, turut bersimpah darah.


"Sh...Shi...n...ta....." dengan keadaan setengah tidak sadar, Lita tetap memanggil nama putrinya. Huruf demi huruf terjeda, hingga menjadi rangkaian satu nama yang sangat melekat di hatinya. Lita telah memejamkan mata, nadinya sudah tidak lagi berdenyut, nafasnya berhenti . Ya, perempuan itu sudah tidak lagi bernyawa.


"Jika aku tidak egois memikirkan seorang perempuan yang tidak ingin aku pikirkan, mungkin tante akan selamat, " Gumam Reno dalam hati. Tidak terasa air matanya menetes ketika ia memandangi jasad perempuan itu. Semua bayangan masa kecilnya kembali hadir, dimana kedua orang tuanya yang harus meninggal secara bersama karena kecelakaan hebat yang melanda mereka. Reno menjadi saksi hidup, bahkan ia sangat jelas mengingat wajah terakhir mamanya sebelum ia menghembuskan nafasnya.


Mungkin, Lita bukanlah orang yang baik, mungkin akan banyak manusia yang membenci caranya hidup. Mungkin juga, tidak semua orang mau membantu di setiap kesusahannya. Namun, nyatanya kejadian yang menimpa Lita benar-benar membuat Reno bersedih, kembali terbayang akan rasa kehilangan yang menyayat jiwa.


Reno terduduk lesu di depan ruang jenasah, ia meringkuk di lantai, dan membenamkan wajahnya di antara dua lututnya. Air matanya masih mengalir di sana.


"Reno, mama Lita mana Ren ?" Tanya Keysha dengan nafas ngos-ngosan. Ia menatap Reno dengan pandangan sedih, tidak bisa lagi menyembunyikan tangis pilunya.


Reno masih tersedu, dengan berat ia mengangkat kepalanya, memperhatikan Keysha dengan raut sedih, lalu menggeleng lirih.


Keysha paham walau Reno tidak bersuara. Ia kembali bangkit lalu berlari menuju ruang jenazah. Masih ada beberapa perawat di sana, mereka menunjuk dan memberi tahukan kepada Keysha.


"Mama....." Tangis Keysha pecah. Ia benar-benar terpuruk.


"Mama bangun...." Keysha terus saja berteriak di atas jenazah Lita. Berulang kali, ia memeluknya dari luar kain kafan yang menutupi seluruh tubuh Lita.


"Mama...Maafkan Keysha....Mama bangun ma, Keysha bakal bantu mama mencari Shinta !"


"Mama bangun....!"


Apalah yang bisa di lakukan jika mata telah tertutup untuk selamanya. Semua tinggalan menjadi kenangan, bahkan penyesalan yang tidak berwujud. Tangis pun akan menjadi percuma dan sia-sia. Semua tidak akan bisa mengembalikan nyawa yang sudah pergi.


"Sudah sayang, ikhlaskan mama Lita, " Sandy memeluk istrinya, membelai lembut kepala Keysha dari luar kepala.


Jika ada yang perlu disalahkan, mungkin Keysha akan menyalahkan suaminya karena telah melarangnya membantu Lita. Tapi kembali lagi, apapun yang di lakukan tidak akan pernah bisa meminta Tuhan untuk menghidupkan kembali manusia yang telah mati.