
Sampai di butik, semua karyawan menyambut Allan dan Lena dengan ramah. Mereka tampak antusias dan berusaha mendekatkan diri pada dua bocah yang cukup mudah bergaul itu.
Sandy memang ada meeting yang tidak bisa ditinggalkan, hingga dia tidak bisa membantu Keysha menjaga kedua anaknya. Untuk mengantar anak dan istrinya sampai masuk ke dalam butik saja tidak sempat ia lakukan.
"Ayo anak-anak, kita ke atas." Seru Keysha, ia berdiri di anak tangga paling bawah. Menanti kedua buah hatinya untuk segera menghampirinya.
"Iya ma...." Jawab Allan dan Lena kompak. Mereka berdua berlarian kecil.
Keysha berada di belakang Allan dan Lena ketika mereka menelusuri tangga. Dua saudara yang berjalan dengan tangan yang bergandeng. Hal kecil yang kadang bisa membuat Keysha tersentuh karena ulah keduanya.
Sampainya di atas, Keysha menutup pintu pagar yang menghalangi tangga. Hanya sebuah penghalang, berjaga-jaga jika si kembar bermain hingga lupa tempat. Mereka senang berlarian meskipun masih sulit mengendalikan diri. Masih suga gontai dan jatuh tersungkur walau berada di tempat yang cukup datar sekalipun.
"Mama kerja di dalam ya sayang, kalian tidak apa-apa kan kalau main berdua di sini ?" Seru Keysha dengan pelan. Is membugkuk agar lebih mudah menggapai wajah kedua anaknya.
"Biar Nur yang temani mereka bu," Nur, karyawan yang cukup Keysha percaya datang ke atas tanpa di minta. Ia berdiri di depan pagar yang sengaja di tutup oleh Keysha untuk menawarkan bantuan. Senyuman manis merekah dengan tulus seolah sedang meminta agar Keysha segera mengiyakan apa yang telah di ucapkan.
"Apa tidak masalah ? Mereka sangat aktif Nur, aku takut jika kamu kelelahan." Jawab Keysha, ia ragu untuk mengiyakan ucapan Nur. Perempuan itu bekerja di shift awal, sudah waktunya ia untuk pulang. Tapi, dia sangat menyukai anak kecil. Ia juga merasa kasihan jika harus melihat Keysha kewalahan dengan urusan butik dan juga anak-anaknya. Belum lagi kalau salah satu di antara mereka rewel, sudah jelas Keysha tidak akan bisa menyelesaikan pekerjaan dengan sempurna.
"Terima kasih Nur, maaf jika aku harus merepotkan mu." Keysha tersenyum lembut. Setelah cukup buas berbasa-basi, Keysha segera masuk ke dalam ruangannya, tetapi tetap membiarkan pintunya terbuka lebar.
Ia mulai membuka lembar demi lembar berkas, membaca dengan jeli setiap laporan yang tertulis di sana. Ia membolak-balik dengan teliti, lalu mencantumkan sebuah tanda tangan di bagian bawahnya.
"Banyak sekali pesanan yang belum selesai bulan ini," Keysha mengarahkan ujung bolpoin ke jidatnya. Menepuk-nepuk pelan di sana, merasa pusing dengan beban yang sudah menanti .
Tiga puluh hari, harus selesai dengan ragam model yang di pinta customernya.
"Mana bisa, satu penjahit baru saja resign karena hamil besar." Batin Keysha. Ia sedikit mengeluh, dan merasa tak sanggup memfokuskan diri sepenuhnya dalam waktu dekat.
"Rania, bukankah dia juga seorang designer ? Akan ku coba untuk meminta bantuannya." Gumam Keysha dalam hati. Ia menutup rapat satu buku yang merangkum seluruh pesanan dalam satu bulan. Satu buku besar dan sangat tebal, harus ia tuntaskan dalam tiga puluh hari ke depan.
-----
Selesai meeting, Sandy menyempatkan diri untuk menikmati secangkir kopi di ruang kerjanya. Ada Reno yang setia di sana, menemani lengkap dengan satu batang rokok yang selalu di hisapnya tanpa peduli Sandy yang batuk karena terganggu dengan kepulan asap yang menyapanya.