I'M Sorry! I Love You!

I'M Sorry! I Love You!
Terungkap



"Aku ....Aku..."


"Kenapa ? apa yang terjadi ? Atau ada yang mengancam mu ? Katakan ! Siapa dia, " Sahut Keysha antusias. Ia tidak bersabar menunggu bibir dokter Alexa bergerak, menyuarakan sebuah rahasia yang hanya hatinya sendiri yang memahami.


"Tidak...tidak seperti itu Keysha, " Dokter Alexa menjawab dengan cepat. Melambaikan tangan guna menepis kalimat tanya Keysha yang tidak sejalan dengan apa yang ingin ia katakan.


"Jadi ?" Keysha mengernyit, mengulang pertanyaan dari rasa penasaran yang sudah tidak sanggup di tahan.


"Aku hanya takut mengganggu hubungan Reno dengan perempuan itu, " ucap dokter Alexa ragu-ragu.


"Perempuan ? " Keysha membulatkan mata sempurna, tidak yakin jika jawaban itu adalah perwakilan dari sikap ketus dokter Alexa. Pantas saja, wanita mana yang tidak memilih mundur jika melihat laki-laki yang di dambakan milik perempuan lain.


"Aku tidak pernah tahu kalau Reno sudah memiliki pacar, " gumam Keysha lirih, ia menoleh membuang muka. Memperhatikan garis-garis kecil yang memisahkan setiap ukuran lantai .


"Perempuan itu sangat cantik, aku tidak mungkin mengganggu hubungan mereka. Terlihat sekali jika Reno sangat nyaman saat dengannya, " dokter Alexa tersenyum miris. Mencoba merangkai kata indah untuk memberi pujian pada perempuan yang sedang tersirat dalam bayangan angannya. Memikirkan manis senyuman yang terurai walau sedang berhadapan dengannya. Ah, dia sangat dewasa, dan bisa menempatkan cemburu pada porsinya.


"Kau pernah bertemu dengan perempuan itu ? Atau dia pernah mendatangi mu lalu memaki mu ?" Keysha menyodorkan rentetan pertanyaan untuk lebih jeli menyelidiki.


"Bukankah kau mengenalnya ? Apa Benar jika Reno tidak memperkenalkan dia sebagai kekasih barunya ? " Dokter Alexa bertanya balik, tanpa peduli dengan jajaran pertanyaan yang Keysha lontarkan.


"Aku mengenalnya ? Siapa dia ? Reno tidak pernah membawa perempuan ke hadapan ku, " Keysha menepis, membenarkan kesalahpahaman dokter Alexa yang kian merebak jauh. Bergerilya mungkin dengan imajinasinya sendiri. Mencerna setiap pikiran yang tidak seharusnya ia biarkan. Menerka-nerka dengan penglihatan mata yang terkadang belum tentu tepat.


"Audrey, bukankah dia kekasih Reno ? Mereka sangat....."


"What ? Kenapa jadi aku ?" Entah sejak kapan gadis yang di bicarakan dokter Alexa itu berdiri di barisan anak tangga paling atas. Mendengar, mungkin hampir keseluruhan kisah yang dokter Alexa bawakan. Meneliti dengan jeli, tanpa ada mata yang curiga. Audrey melangkah lebih mendekat kepada Keysha dan juga dokter Alexa.


Ia menyahut begitu saja lantaran namanya di sebut dalam cerita yang salah. Ya, tentu saja salah. Ia bukanlah kekasih Reno, melainkan adik ketemu gede, alias di anggap adik setelah Reno dan Sandy bersahabat. Meskipun tidak sedarah, tapi kedengarannya lucu jika Reno harus memacari Audrey, apalagi sampai menikahi gadis tersebut.


"Audrey kamu di sini ?" Keysha beranjak dari duduknya, menyambut adik iparnya yang datang dengan wajah yang tidak terima. Cemberut dengan wajah yang di lipat tanpa henti.


"Lex, dia maksud kamu ?" Keysha menunjuk ragu, kepada Audrey. Namun, matanya tetap jeli memperhatikan setiap ekspresi dokter Alexa.


Dokter Alexa termenung, masih kaget melihat kedatangan Audrey yang tiba-tiba. Ia tidak berbicara apapun kecuali matanya dan tingkahnya yang seolah-olah mengatakan memang Audrey lah yang ia anggap kekasih Reno.


"Astaga Alexa...." Keysha menepuk jidatnya, ia juga tampak menggeleng pelan seraya menutup kepalanya. "Ha ha ha....." Tawanya mulai menghias wajah cantiknya, merekah menertawakan dokter Alexa bersama Audrey.


"Alexa, dengarkan baik-baik, " Keysha menghadapkan tubuh dokter Alexa agar menghadapnya, ia menangkap kedua pundak dokter Alexa yang masih melemah. Mata bulat wanita itu terus bertanya-tanya, canggung dan condong bingung dengan Keysha yang seperti menghinanya. Tidak, hanya menertawakan. Entah, apa maksudnya.


"Dia itu adik iparku, tepatnya adik kandung kak Sandy yang udah di anggap adik juga sama Reno, " pungkas Keysha jelas. Matanya saling berpandang membantah setiap tuduhan yang dokter Alexa layangkan.


"Pantas saja selalu ketus saat melihatku, " gumam Audrey pelan.


dokter Alexa membelalakkan matanya, ia mundur satu langkah dan melepas cengkraman lembut tangan Keysha yang masih menyangga pundaknya.


"Benarkah ?" Rasa malu mulai menyelinap, hadir di tengah rasa cemburu yang menggila. Audrey dan Keysha kompak mengangguk, mengiyakan keraguan dokter Alexa dengan cepat.


"Jika aku kekasih kak Reno, sudah pasti aku cemburu dan condong memaki mu setiap kali kak Reno berusaha meminta penjelasan darimu, " sahut Audrey turut mempertegas pernyataan Keysha. Ya, dia hanyalah adik sahabat Reno, lalu di anggap adik juga oleh Reno. Itu memang aneh, tapi seperti itulah faktanya.


"Jadi...."


"dokter lah yang kak Reno cintai, dia benar-benar gila karena sikap kakak yang tiba-tiba dingin, " Seru Audrey memotong kalimat yang belum seutuhnya dokter Alexa ungkapkan.


Pemikiran gilanya mulai buyar, satu persatu mulai melepaskan diri dari deretan angan yang tidak senada dengan kenyataan. Luka hati yang terukir dalam, kini mulai menemukan obatnya. Dan, dia sendirilah penyebab sakit yang memusnahkan segalanya. Berkepanjangan karena enggan mengungkapkan. Kini, perempuan itu hanya bisa menyesali, telah membuang waktu sia-sia hanya untuk perbuatan konyol tanpa dasar. Tiada pegangan yang masih memihak nya, tubuhnya lemas, bibirnya bergetar tak kuasa menahan tangis yang kembali menghampiri.


"Bodoh sekali diriku, " dokter Alexa menjatuhkan tubuhnya di atas sofa panjang yang menganga di belakang tubuhnya. Bersandar di sana, lalu mendongak menatap atap bangunan yang berhiaskan gambaran awan putih.


"Belum terlambat Alexa, jangan bersedih !" dengan lembut, Keysha mendudukkan tubuhnya di samping tubuh dokter Alexa seraya mengusap lengan dokter Alexa untuk membuatnya tenang.


"Mungkin, kalau saja aku tidak seperti anak kecil, aku dan Reno sudah bersama sekarang. " gumam dokter Alexa dalam hati.


Audrey terharu pilu, air matanya tak kuasa lagi di tahan. Mengalir, seperti turut merasakan penderitaan panjang yang dokter Alexa rasakan. Ia melangkah, ikut duduk di samping tubuh dokter Alexa. Dengan perlahan, ia mulai bersandar pada bahu dokter Alexa.


"Maaf kak, jika kedekatan Audrey dan kak Reno membuat kakak tidak suka, " ucap Audrey lembut.


"Aku pasti akan menjauh kalau kakak memang terganggu denganku, " imbuhnya seraya membiarkan tangisnya semakin menjadi. Pecah mengiringi, kesedihan yang mereka rasakan.


"Tidak Audrey !" jawab dokter Alexa dengan cepat. " Aku yang salah, maafkan aku telah berpikir buruk tentangmu. " mereka berdua saling mendekap, mengalirkan ikatan baru yang tampak memancar dari aura keikhlasan.


*Aku tidak pernah berpikir jika Tuhan memberiku kisah seperti ini. Dia menguji dengan jalan yang tidak pernah aku pikirkan secara matang. Benar saja, aku adalah jiwa yang mudah goyah, apalagi minder dengan kelebihan orang lain. Percaya diriku yang menjulang, mulai terkikis, lalu hilang ketika bertatap dengan kecantikan yang lebih dariku...


Nyatanya, semua justru menjadi bumerang untukku sendiri. Ini hanyalah sebuah kesalahpahaman yang tidak seharusnya aku teruskan*.