
"Jika tidak, kita bisa meminta Dokter Liem untuk sedikit berbohong. Biarkan dia mengatakan pada Keysha jika Keysha masih memerlukan perawatan khusus di rumah sakit ini. Itu mungkin akan lebih di dengarkan oleh Keysha."
Sandy mengangguk-angguk mendengar Reno berbicara. Ia mencoba memahami, dan memikirkan ulang apa yang yang telah Reno sampaikan.
"Bisa kita coba. Apa kau bisa mengatakan padanya ? " Sandy menatap Reno penuh harap.
"Jika kau yang mengatakan, itu lebih mudah di mengerti olehnya Sandy."
" Apa bedanya denganmu ?"
"Aku...aku hanya mengaku sebagai kakak angkat Keysha. Ku rasa itu tidak akan berpengaruh lebih pada jawaban yang akan dia berikan."
"Lalu ? Harus aku dan kamu ?" Sandy menyipitkan mata.
"Kenapa harus aku ?" Reno membulatkan matanya, menaruh curiga pada pertanyaan Sandy.
"Kau, apa sedang lupa dengan kondisiku sekarang ?" Sandy berdengus kesal.
Reno terdiam, ia membungkam mulut untuk tidak lagi menanggapi ucapan Sandy. Mereka terlalu lama berteman, hingga hal-hal kecil selalu mereka perdebatkan sebelum mengambil langkah. Terkadang, untuk memilih tempat makan pun menjadi pemicu debat di antara mereka. Ah, benar-benar kekanak-kanakan. Mereka melebihi pasangan muda yang baru saja mengarungi bahtera rumah tangga.
Reno mendorong kursi roda melewati kamar Sandy, ia mengacuhkan suara protes yang semenjak tadi sudah Sandy dendang kan. Begitu mencekik tenggorokan, membuatnya sesak karena harus mengendalikan diri menahan setitik rasa kesal yang semakin membara.
"Diam lah sial. Kenapa kau terus berbicara tidak penting ? Simpan energi mu dan pikirkan kalimat apa yang akan kamu katakan kepada dokter Liem nanti. " Kata Reno pelan, tapi masih jelas terdengar di telinga Sandy.
Sandy mengerutkan dahi, ia menelaah kata demi yang Reno ucapkan. " Eh tunggu. Kau membawaku kemana ? " Ia baru menyadari jika telah jauh melewati ruang perawatan nya.
"Apa kau ini tidak bisa diam sebentar ?" Tanya Reno datar.
"Reno, aku bilang kamu yang bicara dengan Dokter Liem, tapi seorang diri. Kenapa kau membawaku juga ?" Protes Sandy. Ia memukul tangan Reno sebisanya, tapi tidak sedikit pun di hiraukan oleh pria di belakang kursi nya itu.
"Kalian menyebut-nyebut namaku, ada yang bisa saya bantu ?"
Reno tertegun, seketika langkah kakinya terhenti di ambang pintu. Ia membulatkan mata dengan penuh rasa heran, tidak sadar semenjak kapan Dokter Liem berjalan di belakangnya.
"Hallo, tuan Reno ?" Dokter Liem melambaikan tangan di depan Reno, membuatnya sadar dan membuang muka ke sebelah kanan.
"Maaf Dokter Liem, ada yang ingin temanku katakan padamu. " Jawab Reno cepat.
"Baiklah. tuan Sandy, ada apa ? Apa perlu kita berbicara di ruangan saya ?" Dokter Liem menautkan alis, menatap Sandy dengan sangat sopan.
"Ah, tidak....Tidak perlu. Ini tidak begitu penting...." Sandy kelabakan, ia tidak menyiapkan diri sebelum menghadap pada Dokter Liem. Begini sekali jadi suami siaga. Dia harus kongkalikong dengan Dokter agar istrinya tidak lagi merajuk. Ya, walaupun sejatinya dia sendiri sangat malu melakukan hal konyol seperti itu.
Semua demi Keysha, apapun akan ku lakukan...
"Bagaimana kondisi Keysha dok, apa dia bisa segera pulang ?" Tanya Sandy.
"Bukankah kau menginginkan Keysha tetap tinggal di sini untuk beberapa hari, kenapa kamu mengatakan hal yang seolah sangat berharap dia bisa pulang lebih cepat ?" Protes Reno cepat. Ia tidak peduli dengan mata Dokter Liem yang mengintainya, seakan mengawasi dengan rasa heran yang semakin melambung tinggi.
Mereka berdua ini, benar-benar seperti kucing dan tikus. Tidak peduli dengan waktu dan kondisi, apapun selalu menjadi pemicu perdebatan yang intens di antara kedua nya...
"Diam lah sialan, apa salahnya sedikit basa-basi. Apa iya, aku harus mengatakan langsung, Dokter Liem aku mohon, jangan izinkan istriku pulang lebih awal. Itu konyol sekali." Sandy menggerutu seorang diri, dan hanya telinga nya lah yang mendengar ocehannya. Mengacuhkan Reno yang masih setiap memandangi raut wajahnya.
"Jadi, yang mana yang benar ?" Dokter Liem menahan tawa. Ia menggeleng kepala, merasa heran dengan tingkah kedua pria dewasa di depan matanya.
"Yang...yang itu. " Jawab Sandy malu-malu. Ia membuang muka, menutupi pipi yang tampak memerah karena tersipu.
"Baiklah tuan Sandy, tanpa anda pinta Nyonya Keysha tetap akan menjalani rawat inap di rumah sakit dalam beberapa hari ke depan. Lukanya cukup lebar, jadi tetap tinggal di sini akan membuatnya lekas pulih. " Jawab Dokter Liem meyakinkan.
Sandy menghela nafas lega, begitu pula dengan Reno. Mereka berdua berpamitan lalu kembali memutar arah dan berjalan menelusuri lorong untuk menuju ruang perawatan.
Keduanya saling terdiam, lama bercengkrama dengan otak dan nalurinya masing-masing. Reno tengah sibuk merajut cara untuk menemukan Cherry. Mendesaknya mengakui perbuatan buruk yang di perbuat. Hebat, kelakuan liciknya tidak meninggalkan saksi yang dapat memberatkan dia jika di urus tuntas hingga ke pengadilan.
Begitu pula dengan Sandy, tidak ada yang berbeda dengan jalan pikirannya. Jika, tubuhnya tidak lagi terikat dengan ranjang sempit rumah sakit, dia sudah pasti akan mencari keberadaan perempuan itu. Mendesaknya mengaku, melenyapkan nyawanya, bahkan mengirimnya ke neraka jahanam jika ia berkenan.
"Aku akan keluar sebentar, apa kau tidak masalah jika ku tinggal ?" Reno mengangkat tubuh dari sofa yang baru saja ia duduki.
"hmm ..." Sandy mengangguk cepat.
-------------
Reno sudah berada di halaman rumah sakit. Berjalan di bawah terik mentari menuju mobil pribadinya yang terparkir berjajar rapi dengan mobil pengunjung yang lain.
"Reno..." Panggil seorang perempuan membuatnya menoleh ke sumber suara.
"Untuk apa kau datang lagi ke sini ?" Reno menautkan alis, ia menaruh curiga dengan kedatangan Rania. Pertolongan yang Rania berikan dengan rencana yang matang, tidak dengan mudah di terima oleh nalar Reno.
"Aku ingin menemui Keysha, apa dia sudah sadar ?" Jawabnya pelan. Ia menunduk, merasa takut dengan pandangan Reno yang melenyapkan.
"Tidak perlu....Dia tidak mengharapkan kedatangan mu." Rania mengikuti langkah kaki Reno, yang berlalu dan melangkah semakin dekat dengan mobilnya.
"Reno, aku mohon. Kau boleh mengirimkan bodyguard untuknya jika kau tidak percaya padaku." Rania memohon. Meraih lengan Reno untuk menahannya. Perempuan itu sudah bersimpuh di bawah, berharap dengan tulus Reno memberinya kesempatan.
Ku rasa, kali ini Rani bersungguh dengan ucapannya. Ia benar-benar sangat menyesali perbuatan dan waktunya yang terbuang dengan sia-sia. Dengan jalan pikiran buruk yang hanya menyesatkan hatinya, bahkan membuat nya kian jauh dari bahagia yang sesungguhnya...
Ponsel Reno berdering, ia mengacuhkan perempuan itu dan mengangkat ponselnya dengan cepat.
"Ya, hallo...." Sapa Reno ketus. Rupanya, rasa jengkel nya pada Rania terbawa hingga saat ia berbicara dengan seseorang di sebrang telepon. Tidak peduli seberapa pentingnya dia, ia tetap berbicara dengan kesal.
"Bagaimana bisa ? Lima belas menit yang lalu Sandy baik-baik saja. Kenapa bisa mendadak kambuh ?" Reno membulatkan mata, ia tidak percaya dengan apa yang di dengarnya. Menolak dengan arogan dan tidak menerima dengan kabar buruk yang di sampaikan seseorang dari sebrang telepon.
"Sandy ? " Rania bergumam dalam hati, ia mengamati wajah panik Reno sesaat sebelum pria itu berlari kembali masuk ke dalam rumah sakit. Ia mencepatkan langkah, mengejar waktu untuk kembali mendampingi sahabatnya.
Perlahan, Rani mengangkat tubuh. Matanya tidak terlepas dari tubuh Sandy yang semakin menghilang di telan jarak.
"Apa Sandy sedang sakit ?" Rania belum juga mengerti. Ia masih bertanya-tanya dalam hati, lalu berjalan pada bekas tapak kaki Reno.
Perempuan itu sudah berada di lorong rumah sakit, berjalan santai memperhatikan sekitar. Ia menatap pada setiap sudut, mencari-cari tempat Reno berada. Rasa heran yang tidak bisa dia tahan, membawa kakinya mengikuti nafsu.
"Apa yang terjadi dok ? Bagaimana dia bisa tiba-tiba kesakitan ?" Sayup-sayup Rania mendengar suara Reno yang berbicara dengan keras, laki-laki itu mendesak dokter Alexa untuk berbicara. Mengharuskan perempuan itu memberi jawaban yang bisa di terima oleh nalarnya.
"Tenanglah tuan Reno, saya akan memeriksa nya lebih lanjut. Berdoalah, semoga tuan Sandy bisa melewati masa kritis nya." Dokter Alexa berlalu, ia masuk ke dalam ruangan dengan tergesa-gesa.
"Maaf tuan, tolong tunggu di luar agar tidak menggangu konsentrasi Dokter Alexa." Ucap seorang perawat seraya menutup rapat pintu ketika Reno hendak melangkah masuk.
Rania menutup mulutnya, ada rahasia yang sengaja mereka jaga rapat-rapat. Sebuah hal buruk, yang sedang menimpa kesehatan Sandy. Perempuan itu menjatuhkan tubuh, menempel pada dinding tembok di ujung ruang. Ia masih tidak mengerti, tentang sakit yang di bicarakan oleh Reno dan dokter Alexa.
Reno mengusap rambutnya frustasi, mengacak-acak, menampakkan diri yang sudah tidak lagi bisa menahan kepedihan di hati.