
Keysha tidak kuasa menahan tawanya. Dia pontang-panting berharap bisa melepaskan diri dari tangan sang suami.
"Kak Sandy! Geli....." teriaknya yang masih diselingi tawa.
"sorry, sorry! Hahaaa...."
"janji dulu, ngga akan bikin aku khawatir lagi!" Perintah Sandy masih dengan gemas menggelitik.
"iya kak Sandy! Janji, ngga gitu lagi" ucap Key dengan cepat.
Huh! Akhirnya lepas juga itu tangan nyebelin.
"Ya sudah aku sarapan. Kamu cerita, semalem kenapa pulang selarut itu?" Key meraih sarapan yang telah Sandy siapkan. Ralat! Bawakan. Belum tentu jika lelaki ini kan yang bikin. Key dengan lahap menikmati sarapannya. Dia merasa lapar karena semalam dia lupa makan karena terlalu sibuk dengan rasa cemasnya.
" Gimana kak sudah mau habis ini" rengek Key.
Sandy tersenyum manis. Memperlihatkan gigi gingsul dan lesung pipitnya.
Manis sekali Tuhaaaaan.
"Baiklah! Tapi masih ada satu syarat lagi" jawab Sandy bertele-tele.
"Ih, kamu mah gitu. Harus apa lagi aku?" Key kesal.
"Jangan sampai ngambek sama pasang wajah kaya gini" seru Sandy mencubit kedua pipi Key.
"a-u sakit kak Sandy" Key menepisnya.
Key melanjutkan sarapannya, Sandy menatap wanita itu penuh rasa, mencoba merangkai kata.
"Jadi semalam aku lembur sampai
tengah malam. Terus pas pulang ada mobil yang masih terparkir di halaman kantor. Kupikir itu karyawan tapi kata pak Abu itu Cherry yang sudah dari sore nunggu di sana." Sandy tampak ragu mau melanjutkan ceritanya.
"Terus?" wanita ini sangat cerdas menyembunyikan rasanya. Tidak ada garis kekecewaan yang tergambar meskipun dia tau jika Cherry begitu menggilai suaminya.
"Ya awalnya aku males mau nyamperin. Tapi aku ngga enak hati juga. Sudah aku gedor-gedor itu kaca mobil ngga ada jawaban. Ya, aku curiga ada apa-apa. Ternyata benar, pas dibuka Cherry sudah pingsan di dalam." lanjut Sandy memberanikan diri.
"Iya aku bawa! Tapi langsung aku tinggalin setelah dia ditangani dokter" jawab Sandy. Ia kemudian berdiri dan merapikan berkas-berkas yang harus dia bawa ke kantor hari itu.
Aku tahu kak, kamu merasa bingung untuk menjaga hatiku. Kau tak ingin membuatku kecewa, kau juga merasa takut melukaiku..
kak Sandy, apapun itu, dengan siapapun itu, aku percaya kau sangat sangat mencintaiku
"Sayang kau ngga ada kelas kan hari ini? Nanti jam makan siang, kamu ke kantor ya" Sandy mengecup mesra kening istrinya. Lalu berpamit untuk berangkat ke kantor.
Key mengangguk, melukis indah garis senyum di bibir tipisnya.
--
Sandy sampai dengan tepat waktu. Dia bergegas menuju ruangan untuk menyelesaikan tugasnya. Baru sampai di lobby, Sandy menghentikan gerakan kakinya. Dia tercengang melihat sosok laki-laki yang kini sudah duduk manis dengan menghisap roko di tangannya. Siapa lagi dia kalau bukan Reno.
"bro jadi ketemu sama Cherry?" Reno sangat antusias.
Sepagi ini, kamu sudah nunjukin batang hidung kamu hanya demi nanya hal menyebalkan itu doang?
"Kamu punya handphone kan?" Sandy bertanya balik dengan sinis.
"ishh pelecehan. Aku juga boss kali gini-gini. Masak ngga punya handphone." Reno menanggapi dengan angkuh.
"Kalau cuma untuk bertanya nanti jadi atau tidak nya bisa kan lewat handphone kamu? Kamu kurang kerjaan, ngga ada kerjaan, apa emang naluri jomblo mu itu yang bawa kamu ke sini?" Sandy menekankan kata Jomblo dengan menunjuk Reno.
"Ee... Ya ya ya! Mentang-mentang sudah married, sudah hebat sekarang mau bilang aku pengganggu gitu?" Reno kesal dengan ledekan Sandy.
"hahaha! Gini ni, yang bikin susah dapat jodoh. Ba-pe-ran!" Sandy kembali mengayun langkahnya. Menaiki lift dan menuju ruangan paling atas dikantor nya.
Reno berlarian kecil mengejar Sandy. Merasa tak terima dengan ledekan-ledekan kecil dari sahabat nya.
"Aku tahu kamu jatuh cinta kan sama Cherry? Aku saranin deh mending jangan!" Bisik Sandy mengukir senyum.
Laki-laki yang berdiri di sebelahnya itu tak menjawab, dia hanya melirik Sandy dengan tatapan nanar. Tapi, tidak bisa ditutupin lagi. Gerak tubuhnya mengatakan kebenaran dari apa yang Sandy ucapkan. Pura-pura ngga denger, palingan kalau tahu Cherry di rumah sakit langsung ngibrit lupa teman. Sandy cengar-cengir sendiri, matanya benar-benar terus memperhatikan Reno yang semakin salah tingkah saat Sandy singgung perihal Cherry.