
"Jangan berfikir tentang pekerjaanmu. Kau lagi sakit, sudah kupikirkan kau tidak akan bekerja untuk hari ini "
Baru saja Keysha membuka pintu kamar dan membawa sarapan untuk suaminya. Ia sudah mendapati Sandy telah bersiap dengan seragam kerja. Menghadap cermin lalu memasukkan tangan satu per satu ke lubang jas hitam miliknya.
Keysha menarik kembali jas yang sudah melekat di tubuh Sandy. Menata ulang, dan merapikan di tempat semula. Di kuncinya rapat-rapat pintu lemari agar Sandy tak lagi memaksa diri untuk bekerja.
"Aku tidak akan bisa menyelesaikan pekerjaan dengan cepat jika aku diam di rumah sayang."
Jika di perhatikan,ada nada kecemasan di balik kata yang terucap dari bibir Sandy. Wajahnya muram, lalu kembali berbaring di kasur yang belum lama ia tanggalkan.
"Aku sudah menelfon Reno untuk mengatur ulang semua jadwal meeting kalian." Ucap Keysha datar. jemari lentiknya masih sibuk dengan menu sarapan yang baru saja ia bawa masuk. Membolak-balik sendok pada bubur yang masih mengepulkan asap panas.
"Kamu mau minum lebih dulu ?"
Sandy hanya menggeleng ringan tanpa mengeluarkan suara. Ia memandang sekeliling, lalu berakhir di wajah cantik Keysha. Kali ini indera penciumannya mulai tertarik dengan aroma wangi dari bubur di hadapan Keysha .
"Kau yang memasaknya ?"
"hmm, kau pasti sangat menyukai ini ."
Sandy mengangkat tubuh dari kasur, mendekati arah nampan yang terletak diatas nakas samping ranjangnya. Ia mengendus, aroma yang menyeruak, mengoyak indera penciuman. Keysha mengulas senyum puas. Lalu, dengan lembutnya ia mendorong sendok tepat di depan mulut Sandy.
"Ayo buka mulutmu ! kau akan ketagihan dengan bubur buatanku."
sandy mengangkat alis, dengan ragu Sandy membuka mulut (karena Sandy kurang menyukai makanan lembek seperti bubur). Di tutupnya kembali dengan makin ragu setelah sendok itu di tarik keluar oleh Keysha. Perlahan, lelaki itu mulai mencerna, dengan pelan dan meragu.
"Bagaimana ?" Seperti biasanya, Keysha lagi dan lagi mengukir indah senyum di sudut bibirnya. Melarutkan rasa yang tak biasa mudah untuk di cerna.
Sandy menatapnya tajam, mulutnya menganga tak lepas dari bola mata bulat milik Keysha. Ia melirik kembali mangkok yang masih di tangan Keysha. Lalu, membuka mulut dengan manja agar Keysha melanjutkan kegiatannya.
"Kau sangat menyukai ini ?"
Sandy mengangguk cepat, kemudian tersenyum puas setelah menelan habis sisa bubur di mulut.
"dulu aku selau berbohong saat sakit, karena aku sangat membenci makanan ini." Ucap Sandy datar. Ia meneguk habis air putih setelah memastikan mangkok telah kosong tak bersisa. " aku sudah sehat Keysha sayang. tolong izinkan aku untuk kembali ke kantor."
"Tolonglah Sandy ! Menurutlah denganku untuk kali ini saja." Keysha memasang wajah melasnya untuk menarik simpati Sandy. Tatapan sedih dan penuh harap tak terlepas dari kedua bola mata hitam itu . Nafasnya terhembus kacau, antara memohon dan memaksa untuk mengikuti kemauan.
"Ok, baiklah . Aku akan dirumah, tapi aku akan video call untuk memastikan jalannya meeting." Pungkas Sandy. Ia menyenderkan kepala ke senderan ranjang. Sesekali mendongak dan memejamkan mata, nafasnya terdengar kasar berhembus. 'Jika tidak karena aku mencintaimu, aku sudah menolak dari awal ' batin Sandy pasrah.
Keysha terus saja melirik, memperhatikan gerak-gerik suaminya. Ia masih trauma dengan kejadian semalam, tubuh gagah yang selalu terlihat sehat bisa tumbang bahkan hampir tak sadarkan diri. Wajah pucat yang sudah hampir hilang kesadaran. Dan beberapa saat, tubuhnya perlahan beranjak, meraba pelan sisi tembok, bahkan kakinya telah tegak menopang tubuh.
Tiga jam berlalu, laki-laki di sudut kamar itu sudah menutup kembali laptop yang sedari tadi terus ia pelototi. Nafasnya terdengar lega menyibak telinga. "tinggal tunggu hasil akhir Cherry. " Ia menyeringai , menunjukkan sisi licik yang sudah tak lama di tampilkan. Rasa sabar yang sudah jenuh menanggapi satu manusia yang membuat bergidik saat di ingat.
"Sayang, kau tidak melihat anak-anak ? apa mereka sudah siap ke sekolah ? aku ingin sekali mengantar mereka. Berdua bersamamu, pasti sangat menyenangkan." Sandy mulai berkhayal. Menyiapkan angan-angan penuh dengan bayangan indah. Boleh saja mereka selalu tampak harmonis, tapi tak kalian ketahui, sejauh anak-anak mulai sekolah, seharipun belum pernah Sandy ikut mengantarkan.
"Sayang ?" laki-laki itu mengeraskan bicaranya. Menarik mata untuk beralih memperhatikan perempuan yang sedari tadi di panggil namanya. Tiada suara yang menyahuti, memekik kesunyian yang semakin membius waktu.
Ia mengernyitkan dahi, memandangi dalam wajah teduh istrinya. Perempuan yang sudah jauh berlayar di bawah mimpinya. Ia terlelap di sandaran sofa, matanya rapat terpejam dengan tangan terlipat di pangkuan. Urat halus yang jarang di miliki wanita lain, garis-garis istimewa yang selalu membawa kenyamanan. Sandy menyulut senyum simpul, menarik garis halus yang menggambarkan masa lalu, awal dari titik kesenangan. Senyumnya semakin melebar luas kala angannya tak menyangka perempuan ketus dan judes itu bisa selembut dan seanggun sekarang.
Langkah tegap tanpa suara semakin dekat mengayun ke arah Keysha, tangan kekar namun lembut dengan halus menggapai kepala perempuan itu. Ia membelai mesra kepala itu, menyibak uraian rambut yang menutup mata, lalu dengan pelan diselipkan di antara telinga. Kecupan ringan Sandy hadiahkan di kening Keysha.
tok ..tok ...tok...
"Assalamualaikum ...mama .."
Suara-suara kecil sudah bersaut riang di depan pintu. Alis Sandy terangkat sebelah, mencermati setiap nada yang manja memanggil. Ia mengayun kembali langkahnya, menghadirkan senyum puas di balik bibir.
"Apa mama sudah lupa dengan Allan dan Lena karena sibuk mengurus papa ?"
Allan sudah berdiri di depan pintu dengan tangan yang memaku di pinggang. Matanya tajam memperhatikan seseorang yang membuka pintu tanpa menjawab salam.
"Jadi jagoan kecil papa cemburu dengan papa ?"
Sandy berjongkok, ekspresinya telah siap menggoda, menyeringai lebar seolah angkuh dengan kata yang terlontar dari lidahnya.
"Apa papa cuma pura-pura sakit agar diperhatikan oleh mama ?" Mata jeli pria cilik itu semakin tajam melihat. Tatapan dalam seakan menagih untuk lebih jujur berkata.
"Untuk apa papa berpura-pura sayang ? Papa bukan pria lemah demi perhatian . Kau tahu ? tanpa seperti itu mamamu sudah sangat mengkhawatirkan papa." Sandy berbisik, semakin larut dalam godaan. Ia masih asyik dengan tingkahnya, menarik rasa cemburu di balik hati yang tersembunyi di dalam dada Allan.
"Mama mana pa ?" Seolah semakin terjebak dengan situasi, Allan menggeser tubuh memperhatikan kondisi kamar. Suasana seakan tiada penghidupan di dalamnya.
Allan menganggukkan kepala senang, menerima tawaran tanpa mengeluarkan kata. Kedua tangan yang berbeda ukuran itu saling bergandengan mesra. Mereka secara bersamaan menelusuri anak tangga hingga sampai di lantai bawah. berpamit masih dengan kata yang diucapkan dengan berbisik, Sandy menghampiri Lena lalu menyampaikan hal yang akan ia lakukan bersama Allan. gadis cilik itu riang menyambut, hendak meloncat namun kembali terhenti. Ia teringat, tentang Keysha yang terlalu lelah hingga lelah di waktu yang salah.
--------
Sandy memarkirkan mobil di depan gedung yang dibangun dengan megah. Allan dan Lena turun lebih dulu, kemudian di susul Sandy setelah memastikan tiada barang yang tertinggal.
"Papa mau mengantar sampai dalam ?" Tanya Lena antusias. Rasa senang yang tak biasa ia dapatkan masih saja menghujam hatinya. Ia berbunga-bunga hanya dengan di antar sekolah oleh Sandy.
"Mama biasa juga sampai sini Lena, buat apa papa masuk." Protes Allan penuh arogan.
"Allan, lembutkan bicaramu sayang." Sandy mengingatkan. Ia meraih kedua jemari si kembar. Dengan berada di tengah-tengah antara mereka. "Papa akan mengantar sampai di depan kelas kalian."
"tuh kan. Papa pasti menuruti kemauanku."
"itu karena kamu selalu merengek dan papa tidak menyukai keramaian. Berhentilah bersikap angkuh Lena."
"Dan kamu berhentilah dengan kata-kata ketusmu itu Allan ! akupun tidak menyukainya."
"Sudah sudah. Apa kalian selalu ribut dimana pun berada ? " Sandy memotong perdebatan mereka. Menyudahi lontaran kata demi kata yang saling menjatuhkan.
"Pa ..ini kelas Allan dan Lena. " Allan menunjuk sebuah ruang.
"Wah, menyenangkan sekali. pantas anak-anak papa sangat senang kembali ke sekolah." Sandy memuji, memompa kembali rasa senang yang memikat hati si kembar. "Ya sudah. belajar yang pintar, nanti papa akan jemput kalian." Ia menghadiahkan kecupan manis di kening Allan dan Lena sebelum memutuskan untuk beranjak dan kembali pulang.
bruggggggg ...
"Add...duh ..."
Perempuan itu meringis, ia sudah meringkuk dibawah dengan memegangi bahu yang baru saja tertabrak oleh Sandy. Tubuh yang mungil tentu saja kalah bahkan terpental begitu beradu dengan tubuh kekar Sandy.
"Maaf ....maaf ...saya tidak melihat anda." Lirih Sandy, ia merundukkan kepala memohon maaf atas keteledoran yang tidak di sadari.
"Sandy ? kamu di sini ?"
"Rania ? putrimu sekolah di sini juga ?" Sandy menyeringai, melihat Rania penuh dengan rasa tidak suka. Ia sungguh menolak hadirnya wanita itu kembali diantara waktu yang ia lalui, tempat yang ia singgahi. Tatapan garang selalu ia hadirkan, seakan singa yang sudah siap menerkam mangsa.
"Aku mendengar Lena bersekolah di sini, dan Angel sungguh ingin berteman dengan putrimu." Ucap Rania antusias. Ia berbicara seakan pasti di terima oleh laki-laki di hadapannya itu. tidak tidak ! Rania ? apa kau tidak menyadari tatapan yang mematikan itu ?
laki-laki itu berdecak kesal, ia bergegas mengayun langkahnya cepat. Bahkan lebih cepat dari sebelumnya. Tidak ada kalimat yang menutup percakapan itu, kata permisi yang mengakhiri pertemuan.
itu hanya sebuah kebetulan. Jika bisa diulang, aku akan menghapus detik itu dari hidupku. Sungguh, hal yang menyebalkan bertemu dengan wanita-wanita bermuka dua seperti dia dan kakak iparnya......
Rania tersenyum puas menatap langkah Sandy. Jika tidak karena tempat, mungkin saja dia sudah tertawa dengan wajah kesal yang terlihat dari sorot mata laki-laki itu. Ia tahu, jika Sandy masih belum seutuhnya menerima hadirnya, tetapi selama Keysha luluh karena dirinya, tentu tidak sulit untuk membuat Sandy ikut terperangkap dalam jebakan rencana liciknya.
Rencana ?
-------
"Sial, kenapa aku sangat sulit membuang rasa benci saat di hadapan wanita itu."
Sandy masih saja mendengus kesal, ia memukul-mukul kendali saat melajukan mobil. Terngiang jelas ingatan tentang wanita tadi, seseorang yang sulit di kendalikan karena dengan bebas masuk kembali kedalam jalan kehidupan yang ia lalui.
drrttt ...drrtttt
Ponsel bergetar, irama musik favorit Sandy masih mengiringi. Lampu di ujung ponsel ikut mengerjap, berkedip seiring nada yang bersuara.
"hallo sayang ?"
"Sandy ? kamu dimana ?"
"Aku mengantarkan Allan dan Lena, kamu tahu ? baru kali ini aku melihat kelas anak-anak yang begitu menyenangkan."
"Pulang !"
tuuuuutttt
Keysha menutup telpon secara sepihak, membiarkan Sandy yang masih asyik bercengkrama dengan nada riangnya. Mengisyaratkan rasa bahagia yang belum pernah menjalar dalam seperti sekarang.