I'M Sorry! I Love You!

I'M Sorry! I Love You!
Maaf



"Baiklah, jika lo memang ingin terlibat. Jangan menyesal jika hidup lo, bisnis lo dan semua tentang diri lo hancur bersamaan. Gue peringatkan kepadamu Reno, berhenti atau lo yang akan menyesal !" Cherry mengatakan dengan arogan . Kata demi kata ia ucap dengan sangat jelas, mencoba memberi pemahaman yang lebih dalam pada diri Reno. laki-laki itu menyeringai, ada senyuman palsu, di bibir yang ia tipiskan.


"Gue tidak pernah takut dengan ancaman keji lo itu Cherry. Gue peringatkan kembali kepada lo, berhenti atau lo akan lebih jauh menyesal dari yang lo perkirakan !" Reno memutar balikkan ucapan Cherry. Menelan mentah dan memuntahkan langsung di hadapan wanita itu. Matanya tajam mengintai, mengisyatkan api dendam yang membara di sana.


pertimbangkan semua Cherry, lo belum tahu siapa Reno dan Sandy ....


Reno mengangkat alis sebelah, ia menyeringai sebelum memutuskan berlalu meninggalkan Cherry. Gema tawanya membahana, memuaskan nafsu yang bergidik kesal. Otot-otot nya seakan merenggang, memberi tanda puas dengan apa yang terucap.


"Kita lihat saja nanti." Ucap Cherry lirih namun masih menyisakan nada ancaman. Rautnya berubah kesal, menyimpan terjangan luka dendam yang belum menemui titik balas.


-----


Sandy telah bersiap di bangku kemudi, menginjak pedal gas pelan hingga mobil melaju dengan sempurna. Urat wajahnya berbunga-bunga, indah di pandang layak muda-mudi yang sedang di mabuk cinta. Untaian senyumnya menawan, sesekali melirik wanita yang masih tetap anggun yang duduk manis di sampingnya.


"Fokuslah dengan jalan San, hentikan tatapanmu itu !" Keysha memalingkan wajahnya ke luar mobil. Pohon-pohon rindang tampak melambai-lambai.


"Wajahmu lebih menarik daripada jalanan itu sayang. " Ucap Sandy manja, bibirnya tampak mengukir senyuman menggoda.


"Sandy !" Jawab Keysha singkat.


"Ok, Ok . Aku akan fokus dengan jalanku." Sandy memalingkan muka. Mencoba fokus dengan laju mobil. Tidak ada lagi basa-basi di antara mereka. Hening, dan hanya desir AC mobil yang bersuara.


Tidak menunggu lama, kendaraan melaju dengan pesatnya, hingga diujung jalan Sandy membanting setir ke kiri. Memarkirkan mobil berjajar rapi dengan kendaraan yang sudah ada di sana. Ia membuka pintu dan keluar dari mobil, tak terkecuali Keysha yang mengikuti setelahnya.


Mereka saling melempar pandangan, lalu mengayun langkah beriringan. Tangannya bergandeng mesra, lagi dan lagi mereka seperti pasangan muda, remaja yang baru mengenal cinta. Romantis, dan terus saja bermesraan dimanapun mereka berada.


"Keysha ..."


Keysha menoleh, mencari sumber suara yang jelas memanggil namanya. Ia menyibak orang-orang di sekeliling, dan terhenti pada wanita yang berdiri tegak sedang menatapnya. Senyumnya sumringah, seolah mengatakan aku merindukanmu.


Ah, omong kosong, hanya tatapan matanya yang mengatakan demikian. Hatinya, mulai muak dengan segala drama yang ada ...


"Rania ? " Keysha berlarian kecil menghampirinya. Dengan sangat senang menggapai tubuh wanita itu. Hangat, erat dan tanpa ragu ia mendekapnya dalam. "Kamu pasti menjemput Angel ? Sandy bilang putrimu memaksa agar lebih dekat dengan Lena. Benar begitu ?" Senyumnya semakin lebar terurai .


Rania, apa kamu tega melihatnya menderita lagi karena ulahmu ? Lihatlah, dia sangat tulus mengasihimu....


"Benar sekali Key. Lena memang anak baik, Angel sangat mengidolakan dia. hahaha" Ucapnya seraya melepaskan tubuh dari sentuhan Keysha. Ia memundurkan langkah, lalu mengukir senyum paksa di sana. Tawa yang terdengarpun tampak tanpa nada. Datar, hambar bila di cerna.


Dan untukmu Keysha, apa kau tidak bisa merasakan itu ?


Sandy membalik tubuhnya cepat, wajahnya datar tidak bisa di tebak dengan jelas hal apa yang sedang ia pikirkan. Kedua jemarinya, ia selipkan di antara saku dan lama ia simpan di sana. Keysha mengikuti langkah Sandy, beriringan bersama Rania yang memilih banyak diam.


"lo tidak bersama Ibnu ?" celetuk Keysha cepat. Ada penyesalan dengan kata yang terlanjur dia lontarkan. Sungguh, kekakuan kian mengekang. Sunyi, canggung, Keysha hanya mencoba terus tersenyum di balik kepura-puraan .


"Ada hal yang ingin gue sampaikan kepada lo." Ungkap Rania lirih. Ia sempat melirik Sandy sebelum mengatakan itu. Seakan tidak ingin di dengar oleh lelaki yang berjalan lebih cepat di depan mereka. Masih tidak jelas, entah dia tidak mendengar atau justru semakin jeli menelisik setiap kalimat atau hal yang Rania ungkapkan. Keysha hanya mengangguk ringan, mencerna ekspresi Rania yang berubah seketika.


"G-gue ...."


"Mama ...."


Jerit riang kedua anak itu melepas konsentrasi Keysha, mengalihkan titik fokus. Mereka berlari, saling menggapai pinggang Keysha , menyelinapkan wajah di balik jilbab yang menjuntai panjang. Menggeser paksa ingatan Keysha, ia di buat lupa dengan kisah yang belum tuntas Rania bicarakan.


Kemampuan Rania untuk bersandiwara perlu di acungi jempol. Ia bisa merubah mimik wajahnya dalam hitungan detik. Sedih, kesal dan seketika ia bisa menyuguhkan senyuman tanpa dosa. Sandy menyeringai, membuang muka mulai jengah dengan wanita itu. Hal yang sangat menyebalkan dalam sejarah hidupnya. Ia tahu, jika yang terlihat dari wanita itu hanyalah topeng belaka, tetapi ia harus ikut bersandiwara agar Keysha tidak menaruh curiga dan justru kesal terhadapnya.


" Putri lo belum keluar kelas, apa lo tidak ingin menemuinya di dalam ?" Ucap Sandy datar. Ia terus melihat Rania dengan tatapan tajam. Matanya sungguh dalam, menyengat hingga dasar hati.


"itu dia . Angel sedikit lelet, dia memang senang keluar kelas paling terakhir. " Jelasnya, ia menunjuk seorang anak yang tampak lesu saat keluar kelas. Wajahnya muram, tidak ada gairah saat melihat Rania, wanita yang notabenenya adalah ibu kandung Angeline. "Sini sayang."


"Angel kenapa ? kok lesu sekali, ada yang nakal ya temen barunya ?" Keysha duduk berjongkok. Menyetarakan wajah dengan tinggi badan Angel. Kedua pasang mata itu lama beradu, ada bahasa batin yang Angel ingin sampaikan tapi sulit di cerna oleh Keysha. Gadis cilik itu menggeleng kepala dengan ringan.


"Atau ...Angel lapar ya ? gimana kalau kita makan bareng ? "


Angel masih menggeleng tanpa mengeluarkan suara. kedipan matanya turut melambat, senada dengan garis wajah yang tergambar di sana.


"Angeline ngantuk Key. Dia terlalu pagi bangun, jadi seperti itu kalau sudah tidak tahan ingin tidur." Sambung Rania cepat. Ia berbicara seolah ingin menutupi sesuatu. Tidak menginginkan Angel membuka mulut, lalu mengatakan hal yang membuat dirinya terancam.


"oh Angel ngantuk ? Ya sudah, sekarang kita pulang ya." Keysha menatap Angel dengan pandangan sedih. lalu, mengukir senyum simpul di bibirnya . Rasa ingin untuk berlama-lama dengan gadis cilik itu sungguh kuat mendominasi hatinya. Meronta, seakan menolak agar ia tidak berbicara seperti itu. Menutup rapat mulut, namun tetap saja Keysha tidak ingin mementingkan dirinya sendiri.


Angeline butuh istirahat ....


"Kita pulang." Ucap Sandy seraya meraih jemari Keysha. Membimbingnya untuk berbalik badan dan kembali berjalan melewati lorong panjang yang menghubungkan antara kelas dan halaman sekolah.


Rania mengikuti langkah kaki Keysha dan Sandy. Melewati taman sekolah hingga sampai di tempat mereka memarkirkan mobil.


Key tersenyum lembut saat membalikkan badan dan tepat menghadap wajah Rania. Mengatakan beberapa hal dengan suara yang halus, lalu di sahut dengan anggukan dan senyum simpul oleh Rania. Ia meninggalkan kedua wanita itu, lalu segera masuk ke dalam mobil.


"Susah sekali untuk bicara empat mata dengannya." Rania mendorong kasar tubuh mungil Angel, memaksanya agar bergerak sedikit lebih cepat. Ia berputar, masuk ke dalam mobil dan mengambil kemudi seorang diri.


"Mi, Angel mau main ke rumah Lena. Dia tadi ceri ...."


"Hentikan Angel ! Mami tidak senang kamu terus-menerus menyebut nama mereka." Suara keras dengan nada amarah bergerumuh di gendang telinga Angel. Wajahnya menunduk, lenyap dalam duka yang semakin dalam melukai kalbu. Gadis itu beringsut mundur dan bersandar pada kursi . Tidak ada lagi kata yang terdengar, suara yang membela. Ia memilih diam, menyembunyikan tangis yang mulai membasahi pipi .


"Ma-maaf mi ...." Kalimat terakhir sebelum Angel benar-benar terlelap dama tidurnya.


"Mami yang seharusnya meminta maaf sayang. Kamu selalu menjadi sasaran mami karena permasalahan pribadi mami. Semua tidak akan terjadi kalau kamu tidak mengenal wanita murahan yang selalu kamu tinggikan namanya nak." Rania terpuruk, tanpa di rasa air matanya ikut basah membanjiri kedua pipi.


"Mami tidak akan rela kamu lebih menyayangi dia dibanding kan mami . Cukup papimu yang tidak bisa berpaling darinya." Sambungnya seraya cepat menyapu pipi.


drrtt drrttt


Ponsel bergetar, menunjukkan nama "Cherry" di layarnya. Rania menepi, meminggirkan mobil di bahu jalan sebelum ia membuka pesan yang masuk.


"Kita ketemu . Di Restoran xxx "