
Cherry sudah berdiri lama di halaman kantor. Menoleh ke kiri dan kanan memperhatikan sekitar. Ada hal yang harus dia jelaskan dengan Sandy, karena ketika dia memaksa masuk ke ruangan Sandy pasti assisten pribadinya sudah menelepon security untuk menyeretnya keluar. Dan tidak berhenti di situ, wajah dan namanya akan tertulis jelas di papan blacklist sebagai daftar orang yang di haramkan menginjakkan kaki di sana. Itu akan lebih menyulitkan langkah Cherry melancarkan aksinya.
"Pak, Sandy belum pulang kan ?" Kata Cherry kepada setiap orang yang lewat di sana. Ia merasa takut, jika penantiannya akan sia-sia.
"Semenjak tadi saya belum lihat pak Sandy keluar dari ruangannya bu." Hampir rata-rata orang menjawab dengan kalimat yang sama. Belum melihat atau justru mereka tidak melihat saat Sandy keluar. Entahlah ! semua hanya membuat wanita itu semakin was-was.
Sudah seperti setrikaan, Cherry semakin gusar dan mondar-mandir tanpa arah. Langkahnya yang pelan tanpa punya, tangannya saling erat menggenggam seolah saling menguatkan.
Cherry mulai tidak fokus dengan sekitar, wajahnya menyimpan khawatir yang mendalam. Ada gejolak nafsu yang memaksa dirinya untuk tetap tinggal dan bertahan dalam penantian. Tetapi, rasa sabarnya hampir memuncak. Semakin mengusik dada dengan rasa kesal yang menggantikan.
"Eh." Cherry terkejut saat tubuhnya hampir menabrak Reno yang baru keluar dari balik pintu kaca.
"Kamu masih di sini ?" Kata Reno dengan nada sinis.
"Iya Ren. Sandy belum balikkan ? Ada hal yang harus aku tanyakan padanya." Jawabnya tergesa-gesa. Ia mengulur pandangan menyisir setiap sudut di dalam kantor.
"Dia bentar lagi juga turun." Kata Reno datar. "Jika yang ingin kamu katakan hanya hal yang menyangkut kerja sama , aku saranin lebih baik urungkan niat mu . Itu hanya akan membuatmu membuang waktu dan sia-sia karena Sandy tidak akan merubah keputusannya." Reno menyeringai, ia berbicara dengan pelan namun sangat arogan .
"hahaha kenapa kamu sangat ingin terlibat dalam setiap urusanku dan Sandy ? oh aku tahu, jangan katakan jika kamu sebenarnya cemburu karena cintaku terhadap Sandy. " Cherry tersenyum sangat angkuh. Dia berbicara seolah memang Reno adalah pria yang menggilainya.
"Ciih ! Cemburu ? Kamu selalu lupa berdoa ketika hendak tidur Cher. Hingga mimpimu terbawa di kehidupan nyata." Reno meludah di hadapan Cherry. Ekspresi jijik ia selipkan untuk meledek wanita itu.
"haha ...kau terlalu munafik untuk mengakui itu Reno. " Cherry mencondongkan wajahnya dan menyisakan beberapa centimeter di depan wajah Reno.
Mata mereka saling beradu dalam jangka lama. Saling menatap dalam, menelusuri setiap rongga teka-teki yang tersirat di dalam sana. Entah, apa yang membuat tatapan itu seakan bermakna, satu hal yang membutuhkan waktu yang lebih untuk saling bertahan. Bahkan Cherry bisa tegak dan tidak goyah walau dengan posisi kaki jinjit untuk mencapai apa yang ingin ia lakukan.
"hemm..."
Tidak ada yang melihat sudah berapa lama Sandy berdiri di sana. Menjadi saksi yang sangat jelas menyaksikan kedekatan tubuh kedua insan itu. Dengan gelagapan Reno melangkah mundur, di ikuti Cherry yang tampak salah tingkah saat melihat Sandy.
"Katakan saja jika kamu ingin berada dekat dengan tubuhku. Tidak perlu mencari-cari alasan yang tidak jelas." Kata Reno masih sangat ketus. Ia mengibaskan tangan sebelum langkahnya kembali Mengayun dan meninggalkan Sandy dan Cherry berdua.
Cherry tidak lagi menjawab, ia hanya melotot menolak apa yang Reno tuduhkan.
"Ada apa kamu masih di sini ? bukankah meeting sudah selesai dari dua jam yang lalu ?" Sandy mulai mengintrogasi wanita itu. Menekan dengan pertanyaan yang bernada mengusir secara halus.
"Sorry San, tapi aku harus menemui mu." Kata Cherry lembut. Nadanya bermanja, menarik simpati untuk di dengarkan.
"aku hanya punya waktu 5 menit ...katakan sebelum aku pergi." Sudah tidak ada kata sabar yang bisa Sandy persembahkan untuk wanita ini. Rasa kesal sudah kebal di hatinya, tidak ada lagi harapan yang harusnya terangkai oleh Cherry. Untuk apa ? semua hanya akan sia-sia dan tidak ada gunanya.
"Tapi San ada banyak hal yang aku ingin katakan. Bagaiman kalau kita sambil mencari cafe di dekat sini. " Cherry meraih jemari Sandy. Ah, harusnya wanita itu sadar diri jika laki-laki yang ia kagumi sudah sangat membencinya. Bahkan, muak dan jijik saat melihat wajahnya yang berpura-pura manis di depannya.
"OK, empat menit." Kata Sandy ketus. Wajahnya tampak dingin dan kaku, ia membuang pandangan dan enggan melihat ke arah Cherry. Padahal, wanita itu tidak rela kedip hanya karena wajah tampan Sandy yang tidak ada kurangnya bagi dia.
"OK OK baiklah. lima menit ...." Jawab Cherry pasrah. ada kata yang tertekan karena batinnya menolak keputusan Sandy.
"Pertama, mengenai kerja sama ..San, kamu tahu aku dan orang-orang yang terlibat sudah berusaha sekeras mungkin, bahkan di bela-belain lembur hanya demi sebuah proyek yang akan kita tangani. Tapi kena .."
"Karena kamu memanfaatkan kesempatan yang telah ku berikan untuk melukai istriku." Dengan tegas Sandy memotong pembicaraan Cherry. Ia melihat wanita itu dengan tajam, seakan berkata, aku tidak akan memberi kamu ampunan jika hal itu memang terjadi ...
"Aku tidak punya niat buruk seperti itu San. Aku benar-benar tulus menjalin kerja sama. Tidak ada tujuan lain selain perkembangan perusahaan ku sendiri." Kata Cherry membela diri. Ia masih saja berkelit dan tidak mengakui . "Siapa yang berani menuduhku seperti itu ?" Tanya Cherry kepada Sandy. Ia melihat dengan rasa curiga yang menyelimuti.
"Tidak perlu ada orang yang memberitahuku, aku pasti sudah bisa menebaknya Cherry !" Gertak Sandy dengan geram.
"Aku tahu, Rania pasti sudah menuduhku di depanmu kan ? Dia memang wanita licik, dia itu yang sebenarnya jahat." Cherry masih bersi keras membela diri. Ia memutar balikkan fakta seakan dia adalah korban fitnah.
Nyatanya, dia adalah iblis yang menjelma menjadi manusia. Merasuki pikiran Rania dengan tuduhan-tuduhan yang membuat wanita itu berada di jalan yang sesat ...
Damn ! Kalimat Sandy tersebut membungkam rapat mulut wanita itu. Ia tidak lagi bisa merangkai kata dengan sempurna untuk memberi alasan. Matanya berputar, merajalela mencari jawaban.
"Kenapa kau diam saja ? Apa jangan-jangan kau yang memaksa Rania untuk berbaik hati kepada Keysha agar memudahkan semua rencana jahat mu ?" Sandy terus saja menekan Cherry dengan kalimat-kalimat yang tidak bisa Cherry elak. Tatapan yang tajam penuh intimidasi menelusuri sekujur tubuh wanita itu. Darahnya terasa berdesir tidak seperti biasanya.
"Aku ..aku ti-tidak mengerti maksudmu San." Cherry seperti mati gaya. Dia berbicara dengan terbata-bata. Semua kata yang terlontar tidak sempurna susunannya.
"Sudahlah ! waktumu sudah habis. Pikirkan masak-masak jika ingin menyusun rencana. Kamu terlalu bodoh dan berambisi sehingga lupa dengan hal sepele yang merobohkan rencanamu. " Senyum sinis terukir di sudut bibir Sandy. Meledek dengan kalimat kasar yang memang seharusnya di dapatkan oleh wanita picik seperti Cherry.
Dengan langkah yang tegap Sandy mengayun kaki. Dia sudah tidak peduli dengan jeritan yang nyaring memanggil namanya. Terdengar merdu bernada kesal dan kecewa.
Biarkan, biar saja wanita itu menikmati rasa yang seharusnya memang dia terima. Imbas dari sikap jahat yang berkabut memenuhi rongga hatinya....
Sandy mulai memancal pedal gas, menutup kaca mobil seiring roda berputar. AC nya berdesir membelai bulu-bulu halusnya di tangan. Membawa aroma dingin, yang menjalar luas hingga ke dasar hati.
drrtt drrttt
Ponselnya berdering, Sandy memasang headset bluetooth sebelum menjawab panggilan yang masuk.
"Ya ..kenapa Ren ?" Sahut Sandy datar.
"kamu dimana ? Mak lampir sudah balik ?" Ucap Reno penuh selidik.
"Kamu mengganggu perjalanan ku hanya untuk menanyakan wanita itu ?" Jawab Sandy dengan kesal.
"Ya bukan .. maksud aku ..." Reno tampak kewalahan, dia terdengar bingung mencari jawaban yang tidak memancing ledekan terhadap Sandy.
"Jangan-jangan yang di bilang Cherry tentangmu itu benar ?" Kata Sandy dengan tuduhan yang kental. Tidak tahu saja Reno jika Sandy telah tersenyum lebar mendapat kalimat sempurna untuk menggodanya.
"tentang aku ? Apaan ?" Reno mulai penasaran. Dia mengulang kalimat Sandy, menanyakan kebenaran dari cerita yang di imbuhi oleh Sandy.
"Yang itu, kamu cemburu ...." Ledek Sandy dengan tawa yang mewarnai.
"Gila ! aku tidak cemburu ! Aku hanya ... membantu mu saja. Untuk apa aku cemburu, dia bukanlah type ku !" Reno terus menyuarakan isi hatinya. Dengan nada kesal yang bisa di tangkap walau hanya sebatas suara sia terus berteriak hingga Sandy nyengir menahan hentakan pada gendang telinga nya .
"Lalu kenapa kamu menanyakan dia jika tidak karena cemburu. Tenang saja Reno, aku sudah punya istri yang sangat baik hati. Aku tidak akan berpaling kepada Cherry lagi." Ucap Sandy meyakinkan.
Besarnya cinta yang dia miliki, sungguh bisa di percaya. Dia menutup rapat pintu hati, bahkan dengan pandangan matanya. Indera pertama yang menimbulkan rasa itu tumbuh. Membiarkan semakin larut, dalam dan terlena tiada batas kepada bidadari dunianya. Seorang wanita yang telah mengajari banyak hal kepadanya. Arti bahagia yang nyata dan bonus dua bocah lucu dan sangat menawan. Itu adalah anugerah terindah dalam hidupnya yang tidak akan pernah dia lepaskan selama Tuhan masih mengizinkan dia bernafas dengan bebas.
"Ah, terserahlah !" Reno menutup telepon secara sepihak. Tidak ada salah perpisahan yang manis, ia menyudahi dengan semburan kata-kata Omelan nya.
Sandy terkekeh geli, Ia bisa membaca jika Reno sangat kesal kepadanya. Laki-laki itu pasti masih terus berdecak kesal walau sambungan telepon sudah terputus. Padahal, dia hanya khawatir dengan Sandy dan Keysha dan mencoba melindungi dua orang yang sudah di anggapnya sebagai saudara itu dari ancaman apapun. Termasuk tipu daya Cherry.
Sandy kembali menambah volume radio yang sempat ia pelan kan karena telepon dari Reno. Alunan lagu-lagu romantis yang melukis tentang indahnya cinta. Iringan musik yang menggugah selera untuk menikmati dan terbuai dengan syair-syair yang sesuai.
-------
"Sial ! Bagaimana Sandy bisa membatalkan semua tanpa ada yang berani menuntut ? Ini tidak adil ! Harusnya semua tetap berjalan sesuai rencana." Cherry menggerutu seorang diri ..Ia mengendalikan mobil dengan rasa kesal yang menyelimuti kalbu. Dadanya memanas, terbakar emosi yang sudah sesak berdesakan di sana. Tangannya berulang memukul setir di tangannya. Tidak peduli dengan bunyi klakson yang mengganggu karena tidak sengaja tersentuh.
"Jika Rania tidak mengatakan apapun, berarti ada orang lain yang mengetahui tentang ini." Gumam Cherry dalam hati. Ia mencoba menduga dan mencari fakta di balik semua kegagalan yang mulai terlibat.
"Angel ......line " Kata yang terlepas dari mulutnya setelah beberapa saat berpikir .
"Apa gadis kecil itu sudah terpengaruh dengan Keysha ? Hingga terpancing dengan apa yang Keysha ucapkan. Dia ada saat aku dan Rania membahas perihal wanita itu." Cherry menyeringai kejam. Raut wajahnya tampak menyemburkan rencana buruk. Kali ini, Angeline menjadi sasaran yang dia kambing hitamkan dari masalah yang menimpa hidupnya.