I'M Sorry! I Love You!

I'M Sorry! I Love You!
Saling menguatkan



Keysha hanya mampu menangis, menyesali dengan keputusannya untuk patuh terhadap Sandy. Bahkan, ia sangat kecewa kepada larangan suaminya yang membuat Lita kebingungan sampai ajal menjemputnya. Tidak ada lagi kata-kata panjang yang ia ucapkan selain terus berseru dalam hatinya bahwa ia berjanji akan mencari Shinta sampai ketemu. Ah, entah berguna atau tidak tapi memang itulah yang bisa Keysha lakukan.


"Ma, maafkan Keysha...." Keysha kembali tersedu dalam isakan tangis. Matanya telah sembab, karena air mata yang terus mengalir tanpa henti. Gadis itu telah memeluk erat batu nisan yang bertuliskan nama ibu tirinya. Berulang kali menciumnya walau selama hidup ia tidak pernah melakukan hal itu.


"Sabar sayang, mungkin ini yang terbaik untuk Lita, " Yeni berjongkok, lalu mendekat putrinya penuh kasih. Tidak ada rasa iri yang terlintas walau harus melihat putrinya larut dalam pilu ketika mengantarkan jenazah Lita ke peristirahatan terakhir. Baginya, dendam hanya akan membuatnya menjadi manusia yang sama buruknya dengan orang tersebut. Berdiam, menjauh lalu mengikhlaskan semuanya akan jauh lebih baik dari apapun.


"Ayo sayang, kita pulang, " ucap Sandy seraya membantu Keysha bangkit. Namun, segera di tepis dengan kasar oleh perempuan itu. Keysha tidak ingin di sentuh olehnya. Masih ada rasa kesal bahkan kecewa yang merebak membius segala rasa di hatinya.


Yeni mengedipkan mata memberi kode agar Sandy sedikit menjauh. Keysha hanya butuh kesendirian yang membuatnya tenang. Memikirkan segala yang terjadi dengan kepala dingin. Alangkah baiknya, memang Sandy membiarkan Keysha berbuat apapun yang ia mau untuk beberapa waktu. Setidaknya, itu akan menjadi obat atau pelipur dukanya.


Mereka berjalan beriringan, merasa berat untuk meninggalkan pemakaman. Raut sedih tampak jelas tergambar di wajah mereka. Apalagi Keysha, hingga berada di mobil ia tidak juga bisa meleraikan air matanya.


Mobil melesat sempurna di atas jalan yang tampak sepi. Membawakan keheningan yang tak bertepi. Semua berdiam diri, bergumam dengan angan dan bayangan diri masing-masing. Sandy tidak lagi berani membuka mulutnya, Keysha masih terus beruraian air mata dan membuang pandangan jauh ke luar kaca.


Tampaknya, alam mengerti suasana yang membalut jiwanya, langit mulai mendung, gerimis mulai turun. Semakin sunyi, merebak menyentuh kalbu. Ah, sesal pun akan sia-sia, tiada hal lebih indah dari seuntai doa yang di panjatkan dengan tulus, yang sedang di harapkan oleh Lita.


Dua puluh lima menit waktu yang mereka tempuh dari tempat pemakaman umum sampai ke rumah. Keysha menarik nafasnya pelan, menyeka air mata yang masih membasahi pipi.


"Mama...." seru Allan dengan nada lembut, pria kecil itu menyentuh lengan Keysha yang masih di lipat rapat di depan dadanya.


"Allan, " Keysha hanya mampu memeluk putranya, mengurai senyum simpul, dan berusaha keras menyudahi pilu.


"Mama, jangan sedih, " Allan menyeka pipi Keysha, mengusapnya dengan lembut memberi keteduhan yang tak terkira.


Keysha merundukkan kepala, tidak sanggup membuka mulut untuk berbicara. Tiada kata yang ia sebut, hanya senyuman miris yang bangkit di sela bibir mungilnya.


"Key...." Panggil Reno pelan.


Keysha segera bangkit, lalu menoleh pada sumber suara yang menyebut namanya. Langkahnya ia seret, mengikuti Reno yang berjalan lebih dulu dan berhenti di sudut ruang, di hadapan jendela yang tersambung dengan taman rumahnya.


"Maafkan aku...." Reno mulai berbicara dengan pelan, ia tampak lebih sedih dari Keysha.


"Maafkan aku Key ..." Ia hanya mengulang kata yang sama sampai beberapa kali. Ekspresi yang berlebih, ia semakin sulit menyebut kata itu. Suaranya terdengar berat, karena tertahan dengan tangis di tenggorokan.


"Itu bukan salahmu Ren, jangan terus-terusan menyalahkan dirimu sendiri, " ucap Keysha lirih. Ia masih berdiri tegak di belakang Reno. Memperhatikan pundak pria itu yang tampak rapuh, tiada lengan bahkan bahu yang mampu menopangnya. Namun, kakinya tetap tegar menjadi satu-satunya penopang dari setiap jengkal rasa yang kian ganas menyiksa jiwanya.


"Jika aku tidak egois, mungkin tante Lita masih hidup, " sahut Reno lirih. Pandangan matanya kosong, menembus kegelapan menerobos di bawah guyuran hujan yang lebat.


"Jangan berbicara seperti itu Reno, bukankah umur manusia itu sudah di tentukan ? Jadi, mau apapun itu tidak akan bisa memperpanjang waktu yang diberikan." Keysha menyadari jika dirinya pun sangat merasa kehilangan. Bahkan, lebih buruk dari itu.


"Aku jahat Key, aku tidak seharusnya membiarkan dia berlari di tengah jalan, " Seru Reno lagi. Ia masih bersikeras dan menganggap dirinya lah yang salah.


"Mungkin, Allah lebih sayang sama mama Lita, " Seru Keysha dengan nada damai. Senyuman miris mengembang, mengikuti aliran air yang bernada di telinganya.


"Aku tidak ingin melihatmu menyalahkan dirimu sendiri Ren, " imbuh Keysha lembut, ia menolehkan kepala mempertemukan pandangan matanya dengan mata bulat Reno.


"Bukankah kau juga sedih karena ini ?" Seru Reno mengintrogasi.


Keysha kembali tersenyum, lalu larut lagi dalam kemricik suara air hujan," Aku hanya menyesal tidak mengiyakan permintaan terakhirnya, " jawab Keysha sendu.


"Shinta ?" Ujar Reno dengan menautkan alisnya.


"Ya , " Keysha mengangguk pilu.


"Aku akan membantumu, "


"Benarkah ?"


Keysha dan Reno kembali membaur dengan yang lain, mereka bercengkrama sekejap lalu Reno berpamit terlebih dahulu karena hujan sudah mulai mereda.


"Kamu tidak menginap saja nak ?" seru Yeni menyentuh bahu Reno, mengusapnya seolah-olah ibu kandung memberikan gebrakan semangat kepada kepada anaknya.


"Terima kasih bunda, " Reno mendekapnya, merangkul tubuh Yeni yang mulai menua.


Yeni hanya tersenyum, lalu membalas setiap pelukan yang meminta kehangatan. Sebuah hati yang mendambakan kasih tulus seorang ibu, mengharap belas kasihan lada sayang yang terlantar. Nyatanya, Reno adalah jiwa yang rapuh dan tidak setegar yang terlihat jika di hadapkan dengan ibu.


"Sering-seringlah datang nak, bunda akan siapkan makanan-makanan kesukaanmu, " Mereka saling melepaskan tubuh, menyalurkan cinta yang tidak memilih darah untuk berlabuh. Ya, Yeni adalah orang yang penuh kasih, dan tidak membeda-bedakan meskipun mereka bukanlah darah dagingnya.


"terimakasih bunda, " seru Reno pelan.


Dokter Alexa tampak lebih memilih untuk bungkam, matanya tampak salah tingkah ketika bertemu dengan Reno. Tidak seperti Reno yang pandai bersembunyi dari rasa kesal bahkan dari cintanya yang mengalahkan segala rasa. Ia terlihat sinis dengan pandangan tidak suka ketika berinteraksi dengan dokter Alexa.


"Apa kamu tidak berniat mengantar dokter Alexa terlebih dahulu nak ?" seru Yeni, ia menatap iba pada dokter Alexa yang berdiam diri.


"Dia sudah dewasa bun, lagian dia juga membawa mobil sendiri. Untuk apa Reno mengantarnya ? dia juga terbiasa pulang larut malam setelah bekerja, " Reno menepis, berusaha berlari dari kenyataan yang ada. Tidak peduli dengan Yeni yang terus memperhatikan ia dengan penuh permohonan. Namun, Reno tetap acuh dan memilih beranjak . Berlalu dan melangkah keluar untuk pulang terlebih dahulu.


Tidak berseleng lama, Dokter Alexa turut berpamit, tidak lupa ia mengucapkan kalimat bela sungkawa nya yang mendalam. Memeluk Keysha untuk membuatnya lebih tegar. Melangkah keluar dan mengemudikan mobil dengan kecepatan sedang.


Tanpa ada yang tahu, bahkan dengan dokter Alexa sendiri, Reno masih berdiam di tepi jalanan. Memegang pada kemudi memperhatikan sekitar. Ia mulai menginjak pedal gas ketika telah melihat mobil dokter Alexa keluar. Mengikuti dari kejauhan dan berjarak yang cukup mudah untuk mengawasi. Bagaimanapun lisannya berkata, Reno tetaplah pria yang penuh cinta. Ia benar-benar tidak tega melihat gadis pujaan hatinya menembus malam seorang diri.