I'M Sorry! I Love You!

I'M Sorry! I Love You!
Kepiluan Alexa



Tiada hal yang lebih menyenangkan selain melihat kedua buah hatinya


mengeluh, atau menyesal dengan jalan hidup yang telah ia pilihkan. Membagi waktu singkat, untuk merangkum seluruh pekerjaan dengan tepat. Ya, Keysha harus rutin bangun pagi-pagi untuk mempersiapkan kebutuhan Allan dan Lena, mengantarkan keduanya hingga sampai ke dalam kelas, lalu memulai pekerjaan yang selalu menguras otak dan logikanya. Namun, Keysha sangat menikmati itu, dimana bekerja sesuai apa yang ia senangi. Menggambar, mendesain, menjahit hingga menjadikan beberapa hasil pakaian yang sangat anggun ketika di kenakan orang.


Butik yang tidak pernah sepi dari pelanggan, begitu juga untuk sistem penjualan online. Bersyukurlah, Keysha selalu di kelilingi oleh orang-orang yang tulus membantunya, yang bekerja dengan kejujuran yang tinggi, dan itu semua butuh proses yang tidak singkat.


"Permisi bu, ada seseorang yang mencari ibu di bawah ?" ucap Nur sesaat setelah Keysha mempersilakan ia duduk.


"Seseorang ?" Keysha mengernyit heran, karena tidak merasa memiliki janji dengan siapapun. Tidak ada daftar pesanan yang akan di ambil hari itu. Aneh, tidak biasanya seseorang datang dan langsung menanyakan namanya kepada karyawan yang menyapanya dengan ramah.


"Siapa ya ?" Keysha berhenti berpikir, ia melontarkan pertanyaan kepada Nur yang masih duduk tertegun di hadapannya.


"Maaf bu, saya lupa namanya karena banyak sekali pelanggan yang harus saja hafalkan namanya, tapi dia pernah memesan gaun kepada ibu," Tutur Nur dengan sopan. Ia merunduk, memberi hormat untuk Keysha yang tak lain adalah pemilik utama, sekaligus desainer utama dari Boutique tempatnya bekerja.


"Baiklah, bilang padanya saya akan segera turun, " Keysha menyerah, tidak mungkin ia akan mengingat-ingat nama-nama pelanggan setianya. Percuma, lebih baik segera turun untuk memastikan sendiri akan jauh lebih cepat menepis rasa penasaran yang memusingkan kepala.


Nur memohon pamit setelah mengiyakan perintah Keysha. Beranjak dari bangku, dengan sangat pelan lalu melangkah keluar ruangan.


Keysha segera membereskan tumpukan-tumpukan kertas yang meramaikan mejanya. Membenahkan agar terlihat lebih rapi dan bersih. Keysha memilah gambar yang tidak cocok dan di anggap gagal, lalu membuangnya ke dalam tempat sampah kecil yang terletak di samping meja.


Tidak berlama-lama, Keysha segera mengikuti jejak Nur, beranjak dari persinggahan lalu melangkah keluar ruangan. Ia menelusuri anak tangga selangkah demi selangkah. Suara-suara ramai dari anak-anak kecil yang ikut ibunya berbelanja sudah menyapa telinga. Musik yang mengalunkan lagu-lagu pop terdengar lebih dominan menyapa telinga.


Keysha memperhatikan sekitar, memutar bola mata menemui seseorang yang di katakan oleh Nur.


"Itu bu orangnya di sana, " Nur yang datang dengan membawa sapu di tangannya menunjuk dengan jempolnya ke arah perempuan yang duduk membelakangi arah datang Keysha. Seseorang yang tampak anggun dengan rambut panjang yang tergerai menutupi punggungnya.


Keysha mengangguk pelan, lalu melangkah mengikuti arahan Nur.


"Permisi, " Keysha menyapanya dari samping. Perempuan itu seketika menoleh, mengulur senyuman sumringah ketika matanya saling bertatap.


"Alexa ?"


"Keysha ...." dokter Alexa menghampiri tubuh Keysha. Mendekapnya meluapkan pilu, yang tidak bisa tertahan lagi. Ia terisak di dalam diri Keysha, mengadu lewat tangis yang tersirat.


"Ada apa Lexa ?" tanya Keysha penuh selidik.


Gadis itu masih membisu, merasakan lagi sakit yang menyentak dadanya hebat, mendorong kuat kembali menciptakan luka yang tidak bisa di sembuhkan.


Keysha membawa gadis itu ke lantai atas. Mendudukkan tubuhnya yang lemah di atas sofa panjang yang menghadap luar. Udara menyelinap masuk, menghembuskan helaian rambut dokter Alexa yang tergerai.


"Ini minum dulu, " Keysha membawa secangkir cokelat hangat dan segelas air putih, lalu di letakkan di depan dokter Alexa.


"Terima kasih Key, " balasnya lirih, merunduk seolah-olah sedang berusaha menyimpan pilu.


"Ada apa Lexa ? Kamu mau bercerita denganku ?" Keysha beralih duduk, menggeser dan berada di samping dokter Alexa, agar lebih mudah untuk membelai tubuh perempuan itu untuk membuatnya lebih nyaman.


"Aku....aku.....hiks " Belum usai bicara, tangisnya kembali mewarnai. Larut, seakan-akan melarang bibirnya untuk kembali bergumam.


"Tenanglah, jika aku mampu aku pasti membantu mu, " Ucap Keysha seraya mengusap lengan dokter Alexa. Memberikan kehangatan yang mengalirkan rasa nyaman.


"A...ku di ...di pe...cat Key, " Tangisnya pecah, seolah bergantian menyuarakan rasa sedihnya. Rasa yang menyeruak, membisukan kehidupan seketika. Ia telah mencapai puncak tertinggi dara rasanya bertahan. Hampir secuil,putus asa pasti menghantui.


"Astaghfirullah..." Keysha langsung meraih tubuh mungil dokter Alexa. Ia tahu betul bagaimana profesional dokter Alexa dalam bekerja. Dia sangat disiplin bahkan sangat memperhatikan dan terus memantau keadaan pasien. Bagaimana ? bagaimana bisa dia di pecat ? Apa salahnya ? Ah, tidak. Keysha tidak mungkin bertanya dan memberondong nya dengan macam pertanyaan saat hatinya sedang kacau Seperti itu. Kasihan sekali, ia benar-benar gadis malang, belum lama hubungannya dengan Reno renggang, kini ia harus merasakan pahitnya kehilangan pekerjaan. Sebuah cita-cita dan masa depan yang susah payah ia daki, jatuh bangun hingga sampai menjadi dokter muda yang berpotensi. Sayangnya, nasib berkata lain, atau justru takdir nya memang begitu.


"Aku telah salah Keysha, aku hampir membunuh nyawa seseorang..." Ia mulai berbicara di dalam dekapan Keysha. Keysha hanya bungkam, selain tangannya yang terus bergerak menenangkan.


"Aku salah memberikan obat, aku salah..." Imbuhnya, ia semakin terjerat dengan rasa bersalah. Merendah, dan semakin mendesak hatinya sendiri agar mengalah untuk menyerah.


"Key, aku tidak tahu harus bagaimana lagi, aku takut jika sakit mamaku kambuh ketika mendengar ini, " dokter Alexa mendongak, seolah-olah meminta bantuan kepada Keysha. Berharap, agar perempuan itu memberinya sebuah jalan untuk masalah yang ia hadapi.


"Mungkin, Tuhan sedang menghukum ku, " pikirannya gadis itu semakin kalut, ia lemah lalu kembali bersandar kepada Keysha. Seperti, menemukan kedamaian dari segala kecamuk jiwa, berlabuh di sana hingga bersuara mengeluarkan penat.


"Alexa, apa kau terlalu memikirkan Reno, hingga membuatmu salah memberikan obat ? " Dengan pertimbangan yang matang, Keysha memberanikan diri membuka suara. Menyerukan kalimat tanya yang sudah mendorong bibir sejak awal dokter Alexa bercerita.


dokter Alexa kembali bangkit, melepas ikatan tubuh yang menyatukan. Ia beringsut mundur lalu merunduk dan melipat jemari. "Entahlah Key, aku sendiri tidak tahu, " gumamnya dengan pelan.


"Kenapa kau menjauhi nya Lexa ? Selangkah lagi, Reno ingin meminang mu, "


Deg ! Ucapan Keysha sungguh tidak pernah dokter Alexa pikirkan sebelumnya  Jantungnya berdenyut, mendetakkan sesal yang sekilas hadir.


"Maaf Lex jika aku lancang, tapi tolonglah kamu harus dewasa dalam menyikapi persoalan. Aku bisa saja meminta kak Sandy agar pemilik Rumah Sakit tempatmu itu memintamu kembali bekerja, tapi aku tidak ingin kamu kerja dengan keadaan hati yang tidak menentu. Bisa saja, kamu akan melakukan kesalahan yang lebih konyol dari ini, "


Kali ini, dokter Alexa lah yang bungkam, merunduk membiarkan tangis yang terus bercucuran. Keysha sengaja mendesaknya meskipun hatinya tidak tega. Setidaknya, semua konflik yang tidak jelas sumbernya akan terkuak dan terselesaikan, ya walau hasilnya nanti bukanlah hal yang di inginkan.