I'M Sorry! I Love You!

I'M Sorry! I Love You!
Kamu dimana??



"Malam ini kau temui aku di taman musik"


Pesan yang Sandy kirim sudah bertanda dua centang biru. Itu artinya, pesan itu sudah terbaca oleh Keysha. Tetapi tidak ada balasan, dia juga tak tertebak sedang mengetik.


Tuut tuutt tuutt


Kok ngga aktif ?


"Bagaimana San, Key bisa datang?" Suara Reno mengangetkan Sandy. Membuatnya menoleh tanpa penolakan.


"Sudah dibaca sih, tapi tidak ada jawaban" sahut Sandy sembari memasukkan ponsel ke dalam saku celananya.


"Sudahlah....Mmm, gimana lokasi ? Sudah siap kan?" selidik Sandy. Ia menaikkan alis nya sebelah, memberi kode ancaman. Sorot matanya tajam seolah mengatakan awas saja ada yang kurang! Kepala kamu sebagai gantinya ! Ihhh! Ngeri...


"Tenang, tinggal kamu saja sama Keysha gimana?" Jawab Reno pasti. Dia memang sibuk dua hari kebelakang. Semenjak Sandy mengungkapkan rencananya.


Duh, kenapa aku yang repot sih. Toh dia nanti yang untung. Lagian tinggal ngomong langsung aja, apa susahnya.


--


Waktu bergulir kian mendekat pada detik yang telah di tentukan. Tidak ada kata kepastian yang Sandy dapati, tidak ada pula penolakan dari wanita yang dia nantikan. Detak jantung yang semakin tidak sanggup dikontrol, antara grogi dan juga khawatir.


Sayang, kau datangkan?


Hatinya menjerit kala mata memandang pada pergelangan tangan yang dilingkari jam. Kegalauan semakin mengoyak, memprotes lidah yang tak bertanya pada akal saat berucap.


Sayang, kenapa nomermu masih saja tak aktif ?


"San sudah dua jam .. Gimana?" Reno membuka suara. Mendekat pada lelaki yang mulai pasrah pada sang waktu.


Keysha, apa kau memang tidak mencintaiku? Atau apa yang telah ku lakukan tadi itu terlalu menyakitimu? Key, aku mohon datanglah! Aku hanya ingin memberimu ikatan yang berdasar...


Rintik hujan mulai menyapa, memadamkan ratusan lilin-lilin yang mulai melemah. Hiasan dan banyak kejutan yang telah Sandy siapkan telah tiada arti. Musnah, iya semilir angin membawanya berlalu. Gelapnya malam menutup keindahan hari itu.


Sudah empat jam, iya empat jam sayang. Kau masih tidak datang?


"San,kamu sudah terlalu banyak minum. Itu tidak baik Sandy." Reno memperingati. Dia paham betul Sandy bukanlah pria yang terbiasa dengan alkohol. Puluhan kaleng-kaleng itu tergeletak berserakan disekitar Sandy.


"Kamu tidak seperti ini San. Hanya urusan wanita saja kamu bisa melakukan hal sebodoh inin?" Reno berteriak. Dia memaksa Sandy melepas kaleng di tangannya. Merebutnya dengan sangat kasar.


Reno, kamu tahu? Aku sedang hancur Ren. Aku bodoh melakukan hal gila ini!


"Kamu ngga tau Ren, seberapa berarti nya Keysha untuk hidupku. Kamu ngga pernah ngerti, seberapa berharganya wanita yang kau maksud bagi diri ku." Sandy mulai sempoyongan. Dia bisa saja menangis lalu tertawa, berteriak dan meracau tak karuan. Bukan hanya pengaruh alkohol yang dia konsumsi secara berlebihan, namun kehancuran yang dia rasakan benar-benar mengoyak hatinya, menusuk bahkan merobek dengan ganasnya.


Dorr... Dorrrrr...


Puluhan kembang api menebar keindahan di kegelapan malam. Menyudahi nyanyian hujan yang sedari tadi mengiringi. Ada senyum kekecewaan yang tergambar di wajah Sandy. Matanya lembab dia benar-benar menangis malam itu.


Key, harusnya kita lihat ini berdua... Kita lagi senang harusnya....


Keysha, kamu dimana ? Kenapa seperti ini ?


Aku memang bodoh! Harusnya, aku mengatakan nya langsung lalu memberimu kejutan tanpa melukai hatimu seperti ini..


Bodoh! Aku sangat lah bodoh ! Aku sudah membuatnya pergi dengan airmatanya!


Bersambung..........