
Sebuah tindakan yang dilakukan tanpa pertimbangan yang matang, akan membuahkan sebuah sesal yang berkepanjangan.
🍃🍃
"Keysha..." dokter Alexa menghentikan kalimatnya. Lagi, lagi ia mengambil nafas panjang, mempersiapkan diri untuk melayangkan sebuah kalimat yang mengejutkan bagi setiap pasang telinga yang akan mendengar.
"hmm, boleh bertanya kepadamu terlebih dahulu Key ?" tanya dokter Alexa dengan raut wajah yang serius. Tiada garis yang menunjukkan sebuah ekspresi bercanda.
"Iya..." Keysha mengangguk ragu, semakin berdebar dengan kondisinya sendiri. Memikirkan segala dengan runyam. Berkeluh, hanya pada hati.
"Kamu...."
"Kamu kapan terakhir kali datang bulan ?" tanya dokter Alexa lirih, namun masih terdengar jelas oleh semua yang fokus memperhatikan gerak bibirnya.
"Hmm, sepertinya tanggal dua bulan lalu, " Keysha memutar bola mata, mengingat-ingat coretan kalender yang selalu ia tandai dengan warna merah setiap bulannya.
"Dan sekarang tanggal ?" tanya dokter Alexa lagi. Semakin membuat Sandy dan Reno bingung memutar otak. Tidak menemukan jawaban yang tepat dari clue konyol yang di tanyakan.
"Tanggal se..belas...."
"Oh, Keysha ...kamu ..." Yeni antusias. Mulai mengerti dengan arah pembicaraan dokter Alexa yang berbelit. Keysha tersenyum simpul, masih tidak percaya dengan dugaan yang muncul dalam hatinya. Antara senang, tapi ragu turut meliputi. Berkecamuk dengan segala rasa lain yang mengganggu. Menyematkan khawatir pada Allan dan Lena ke depannya.
"Apa sih ? Kenapa pada muter-muter gak jelas ? Kenapa tidak bicara langsung saja ? Kalian ini. Cuma bikin pusing saja, " Gerutu Sandy kesal karena tidak kunjung mengerti.
"OK, baiklah..., Sandy, selamat ya istrimu sedang mengandung anak ketiga kalian, " seru dokter Alexa singkat, tapi sangat di mengerti oleh Sandy.
"Hamil ? " Reno dan Sandy kompak menjawab . Keduanya sama-sama menganga masih tidak percaya dengan kabar suka yang dokter Alexa sampaikan.
"Kamu tidak sedang bercanda bukan ?" tanya Sandy meyakinkan.
" Tidak San. Keysha hamil. " dokter Alexa tersenyum lebar.
Spontan, Sandy dan Yeni memeluk Keysha. Mencium ujung kepala perempuan itu, dan mengusap perutnya penuh kebahagiaan. Tidak menduga dengan rejeki besar yang Tuhan berikan di tengah-tengah keluarga mereka. Sebuah kejutan yang benar-benar mengejutkan. Sandy tidak berhenti mengucap syukur. Kebahagiaan yang meliputi hatinya, mampu menghilangkan kepenatan karena harus berjibaku dengan berkas-berkas tebal yang tengah menanti di atas meja kerjanya.
Reno tidak ingin mengganggu tawa riang yang menghias wajah sahabatnya. Sebuah senyuman indah yang hanya mereka berdua yang paham rasanya. Semua memang bersenandung senang mendengar kabar yang tersiar, tapi tak sebanding dengan perasaan Keysha dan Sandy yang mungkin bisa melewati garis normal.
Reno melangkah keluar. Duduk bersantai di ruang televisi. Duduk tenang, tanpa suara yang bercengkrama. Menatap kosong pada layar televisi yang menghitam tanpa satu siaran yang menghibur diri.
dokter Alexa mengikuti langkah Reno, berlalu membiarkan Sandy, Yeni dan Keysha menikmati kebahagiaan mereka. Berbagi cerita indah yang akan mereka lalui bersama. Mengulang kisah yang hampir enam tahun yang lalu pernah melanda kehidupan mereka.
"Ren..." Panggil dokter Alexa lembut. Mencoba memberanikan diri melawan ketakutan. Menutup hati yang sedang menyiarkan rasa minder. Setidaknya berusaha lebih baik, daripada hanya terus bungkam tanpa sebuah tindakan yang berarti.
Reno melirik tanpa menggeser posisi kepala. Sekilas, memastikan jika memang ada seseorang yang sedang menyebut namanya.
"Kamu masih marah denganku ?" imbuhnya. Dokter Alexa melangkah, mendekatkan diri kepada Reno . Tidak memberi pria itu ruang untuk melangkah kembali menjauh. Melarikan diri dari kesalahpahaman yang hampir terselesaikan. Percuma, jika satu luluh, dan satunya justru mengeras. Segala permasalahan yang melanda, tidak akan menemukan titik akhir yang melegakan. Ia tidak peduli dengan gengsi yang sebenarnya sedang menguasai hati.
"Bukankah kau yang sedang marah ?" Reno tersenyum sinis.
"Aku tidak marah Reno, aku..."
"Dan aku tidak butuh penjelasan apapun darimu. Kau pikir aku masih butuh ? Oh atau kau berpikir aku merasa sakit hati, lalu akan ngemis-ngemis sebuah pengakuan kepadamu ? Alexa, kau tahu ? Perempuan di luar sana banyak yang lebih cantik darimu sekalipun. " Reno beranjak, ia melangkah keluar dengan cepat. Hatinya perih berkata yang sangat jelas akan melukai harga diri dokter Alexa. Reno menyadari itu, namun ia telah berjanji kepada dirinya sendiri akan melupakan perasaan indah yang pernah mewarnai hatinya . Menggambarkan coretan-coretan tulus yang tidak pernah menyentuh kalbunya sebelum itu. Menyematkan senyuman manis, yang tidak pernah ia temui ketulusan nya dari perempuan-perempuan yang pernah ia temui.
Gadis yang sedang terluka hatinya itu sedang tersenyum tulus. Tidak peduli dengan kristal-kristal bening yang menetes melukai hati. Ia menepis setiap kata kasar yang Reno lontarkan untuknya. Ya, itu bukanlah untukku, pekik Dokter Alexa dalam hatinya. Jantungnya terpompa dengan cepat, berdetak semakin kencang dari kecepatan wajarnya. Bibirnya bergetar hebat, merasakan betapa sakitnya kata yang menusuk rasa. Langkahnya melemah, tidak mungkin sanggup mengayun cepat mengimbangi kaki jenjang yang lidahnya baru saja membuatnya hampir menyerah.
"Reno...." dokter Alexa berteriak dari ambang pintu, menghentikan langkah kaki Reno yang hampir menaiki mobilnya. Pria itu hanya menoleh sekilas, tidak lagi meninggalkan suara yang akan lebih dalam meninggalkan luka.
Reno telah bersiap untuk menginjak pedal gas, dengan amarah yang memuncak, bahkan isakan tangis yang sengaja ia bawa lari bersama luka hati yang lebih dalam meninggalkan bekas.
"Reno, ku mohon..." dokter Alexa menghadang mobil Reno. Berdiri dengan sisa-sisa energi yang dimiliki. Tegak mengurungkan mobil Reno yang hampir meninggalkan jejak.
"Shit !" gerutu Reno. Kegigihan dokter Alexa meluluhkan hatinya. Ia melangkah keluar mobil, mematikan mesin mobil yang sudah berderu semenjak tadi.
"Aku beri waktu untukmu lima menit, " Ucap Reno tegas. Kakinya ia seret menuju sebuah kursi goyang di taman rumah Keysha.
"Duduk, " kata Reno memberikan instruksi.
"Bicaralah sebelum waktumu habis, " imbuh Reno sinis.
Pengalaman yang menuntunnya pada sebuah kenyataan. Faktanya, ia sedang membutuhkan Reno. Waktu yang ia lewati tiada satu detiknya yang lebih berarti tanpa tawa renyah yang selalu Reno suguhkan di sela giliran waktu yang membosankan.
"Empat menit, " Reno memecahkan keheningan suasana. Merusak angan dokter Alexa yang menerka dengan sebuah kejadian yang tak menentu. Membuyarkan lamunan panjang yang tiada guna.
"Aku mau minta maaf padamu Reno, " seru dokter Alexa cepat.
"Bagaimana ? Aku tidak mendengarnya dengan jelas. " tanya Reno yang masih enggan menatap mata indah dokter Alexa.
"Aku minta maaf padamu Reno, " ulangnya, masih dengan nada lirih. Pandangan merunduk, karena takut Reno berdendang dengan kalimat yang menciutkan harapannya.
"Bagaimana, bagaimana ? Aku benar-benar tidak mendengar, " Reno sengaja memancing kekesalan dokter Alexa. Mengulur waktu pada satu kalimat yang entah mengapa bisa membuatnya berbunga-bunga. Merasa senang hanya dengan kerendahan hati dokter Alexa yang berusaha kuat melawan dirinya sendiri.
"Aku mau minta maaf padamu Reno ! " Teriak Dokter Alexa keras. Menyuarakan kalimat yang telah ia ulang tiga kali berturut-turut. Dokter Alexa menoleh, berniat mendekatkan bibirnya di balik telinga Reno yang terus saja memintanya mengulangi. Konyol memang, langkah yang mungkin memang sudah Tuhan rencanakan , sebuah kejadian yang tidak mereka sadari sebelumnya. Reno mendengar seraya memiringkan kepala. Membuat wanitanya tidak sengaja meninggalkan sebuah kecupan di pipi kirinya. Tertegun dengan hitungan detik yang berarti. Sekejap, membuang ingatan buruk tentang perilaku yang tidak di harapkan.
Sudah pasti salah tingkah akan menyapa mereka. Merunduk dengan dentuman jantung yang sulit di kendalikan. Menutup malu, tanpa mata yang kembali menyatu. Detik berlalu, meskipun bibir tak lagi berkisah, duduk bersanding cukup untuk melepaskan rindu. Merenggangkan ikatan kasih yang meminta sebuah pelepasan. Mengetuk hati untuk kembali saling mengasihi. Ah, cinta memang sulit untuk di mengerti. Mengalir pada kisah yang kadang merumitkan diri. Berdiri kokoh, pada jiwa yang sejatinya di tolak oleh raga. Sebuah rasa yang tersirat pada hati yang di inginkan, kisah indah yang berjalan pada waktu yang di tentukan. Bergulir, dalam segala kondisi rasa yang sejengkal mambu merubah kondisi.
"Aku minta maaf, aku salah menilai mu..." dokter Alexa melanjutkan kalimatnya. Melantunkan sebuah nada yang terhenti. Memecah sunyi pada rindu yang kian keras bernyanyi. Berterima kasih pada diri yang mampu melawan gengsi.
"Aku berpikir....Aku berpikir, kamu dan...dan Audrey berpacaran. " dokter Alexa tersipu. Ia memejamkan mata menahan malu yang menyapa kalbu.
"Aku salah. Aku tidak bertanya terlebih dahulu kepadamu. Kedatangan Audrey yang bagiku adalah sesuatu yang tiba-tiba, di tambah kedekatan kalian yang ku pikir memang layak di sebut sebagai sepasang kekasih, sudah membuatku salah berasumsi, " Lanjut dokter Alexa jujur. Hatinya bersorak lega setelah kata demi kata terucap dengan rapi. Berjajar memberikan kesaksian pada hati .
"Jadi selama ini kau ?" Reno tertawa lepas. Merasakan kekonyolan yang telah membuang sekian banyak waktu sia-sia.
"Terserah. Kau mau tertawa sampai besok aku juga tidak peduli, " gerutu dokter Alexa kesal. Merasa minder dengan tawa Reno yang bersahutan di alam bebas. Menggema di kepala yang sedang bergantian di rundung gelisah.
"Kau cemburu ?" tanya Reno percaya diri. Menjadi kesenangan yang berlebih menatap pada wajah yang memerah mendengar pertanyaannya.
"Tidak..." sahut dokter Alexa singkat. Menepis tuduhan Reno yang membuatnya tersipu.
"Jujur saja, kau cemburu kan ?" Reno semakin gencar menggoda. Bertanya dengan nada bercanda. Meledek perempuan yang bersusah payah menurunkan egonya. Menari dengan kemenangan yang tidak membutuhkan pengakuan.
"Sudah ku katakan tidak ya tidak. Kenapa kau senang sekali memaksaku ?" bentak dokter Alexa. Tingkah yang semakin sulit untuk di kendalikan, sebuah sinar yang tersirat tak mampu memandang mata yang sedang menata hati untuk memunguti puing-puing kerinduan.
"Baiklah, aku tidak akan memaafkan mu kalau kamu tidak mau bicara jujur padaku, " Reno telah beranjak. Bersiap melanjutkan langkah dan berpura-pura dengan sandiwara hebatnya.
"Reno...." panggil dokter Alexa dengan nada manja. Suara lembut yang menyambar telinga membuat Reno bergidik geli. Jemarinya yang menyentuh lengan meminta diri untuk tinggal lebih lama. Melarang beranjak untuk bersama melepas rindu.
"Apa ?" Reno menoleh, menatap lekat pada wajah yang memandangnya dengan sedih.
"Iya..." ucapnya malu-malu.
"Iya apa ? Bicaralah dengan jelas, " sahut Reno berpura-pura sinis.
"Iya, aku cemburu ...." gumamnya lirih.
"Bagaimana ?" Reno berusaha mengeraskan volume bicara dokter Alexa. Mengundang kekesalan dengan memintanya mengulang kata yang sama.
"Iya. Aku cemburu Reno, aku cemburu. Kenapa kau tidak paham itu ?" dokter Alexa berteriak tanpa sengaja. Menyuarakan pokok permasalahan yang menyulut rasa kecewa. Membakar keinginan untuk semakin menjauh dan menghapus segala kenangan yang pernah terjalin indah.
"Kenapa kau tidak bicara langsung padaku ? dasar bocah !" Reno mencubit hidung dokter Alexa dengan mesra..
"Aku..."
"Cie..cie...."
Entah semenjak kapan Sandy dan Keysha berdiri di belakang mereka. Tersenyum senang melihat kedua sahabat mereka kembali bersatu dan saling merendahkan ego. Menjadi saksi dari kisah indah yang menggemaskan.
"Jadian...jadian...jadian...jadian..." Teriak Sandy menggoda. Membuat keduanya tersipu dalam rasa malu yang menyelimuti.
"Jangan jadian kak, " tepis Keysha tidak setuju.
"Nikah...nikah..." Sambung Keysha, ia bertepuk tangan wujud sebuah dukungan yang membuat Reno dan Dokter Alexa terkekeh geli. Sandy dan Yeni mengikuti, menyelipkan doa dan harapan mulia yang di sela tawa yang membanjiri. Sebuah permohonan agar Tuhan tidak lagi memisahkan cinta yang telah terjalin indah. Merangkai sebuah kalimat pinta yang tidak perlu di suara kan dengan lisan.
Semoga restu Tuhan selalu berlimpah untuk kalian. Sebuah cinta yang rumit akan menemui kebahagiaan yang tak terhingga setelah hati sanggup menjadi pelabuhan dalam segala derita untuk menguatkan. ~ Keysha Larasati.