
Selesai menyantap makanan, mereka kembali ke ruang keluarga. Bercengkrama, dan saling melempar canda. Tentu saja, Sandy menjadi sasaran empuk karena wajahnya yang terus memerah ketika Yeni ataupun Reno menggoda keduanya.
Allan dan Lena asyik bermain dengan pengasuhnya tak jauh dari mereka duduk. Entah, apa yang sedang kedua bocah iku cermati. Entah, paham atau tidak dengan celetukan-celetukan ringan yang Reno dendangkan dengan riang. Tapi, kali ini Allan dan Lena hanya bungkam, tidak ikut melempar kata yang kian mencekik tenggorokan Sandy karena susah merangkai kata untuk menjawab rasa penasaran mereka. Ya, walau hanya sebuah kebohongan untuk bersembunyi, tapi setidaknya mereka berdua tidak memiliki asumsi yang buruk dengan apapun yang Reno sebutkan. Benar-benar menyebalkan, tentu saja tingkah Reno menekan otak Sandy untuk semakin gencar berpikir hal yang tidak terlalu penting.
ting tung (Bel rumah berbunyi)
Yeni segera bangkit, sudah bukan hal aneh lagi untuk dia membuka pintu sendiri walaupun banyak asisten rumah tangga yang bekerja di sana. Ia hendak melangkah, tapi terhenti karena Sandy.
"Biar Sandy saja bun yang buka." Pria itu mendahului langkah Yeni dan bergegas ke arah pintu utama.
Yeni mengangguk pelan tanpa setuju. Ia kembali lagi duduk dan meraih sulaman yang belum terselesaikan. Jemarinya lincah memainkan benang berwarna merah itu dengan jarumnya. Berlenggak-lenggok, seolah sudah sangat hafal meskipun dengan mata yang berlarian mengawasi sekitar.
Sandy berjalan santai lalu membuka pintu secara perlahan.
"Mama ? Papa ?" Sandy terpana, ia lupa tidak mengabari kedua orang tuanya jika dia telah di izinkan pulang. Dari pandangan mata yang sudah begitu melekat di otaknya, Sandy sudah mengira jika Meera pasti akan memanjangkan katanya hanya karena sikap Sandy yang begitu cuek . Ya, karena dia lupa tidak mengirimkan pesan tentang kondisinya.
"Sandy, semenjak kapan kamu pulang ? Kenapa tidak bilang sama mama ? Apa semua sudah baik-baik saja ?" Ketika pintu terbuka lebar dan memunculkan sosok Sandy, Meera langsung memberondongnya dengan ragam pertanyaan. Ada cemas, dan kesal karena Sandy tidak mengabarinya semenjak tadi.
"Sandy sudah sehat ma. Seperti yang mama lihat sekarang." Jawab Sandy santai.
"Mama ini kebiasaan sekali. Bukannya salam terlebih dulu, kok malah langsung menyambar dengan pertanyaan macam-macam." Tegur Chandra yang sempat tertegun dengan kata-kata Meera.
"Assalamualaikum nak." Chandra tersenyum sejuk.
"Wa'alaikum salam." Jawab Sandy seraya membungkuk mencium punggung tangan kedua orang tuanya secara bergantian.
"Masuk ma, pa." Sandy beringsut mundur. Ia melebarkan jalan untuk memberi akses kepada Meera dan Chandra agar jalan terlebih dahulu.
Baru melangkah satu meter ke dalam rumah, Meera tiba-tiba berputar dan menghadang Sandy. "Eh tunggu." Ucapnya tegas.
"Kenapa kamu tidak bilang sama mama kalau sudah pulang. Mama sudah capek-capek ke rumah sakit, kamu malah sudah di rumah. Apa susahnya memencet ponsel dan mengatakan semua sama mama. Apa kamu sudah tidak butuh mamamu yang mulai tua ini." Ah, sudah terduga. Perempuan itu pasti akan menggencarkan ocehannya. Memperpanjang drama yang baru saja tercetak di benaknya. Ya, sudah menjadi kebiasaan Meera jika anaknya bertindak yang tidak sesuai keinginan nya.
"Drama dah." Gumam Sandy lirih.
"Apa katamu ?" Gertak Meera geram, ia mengintai bibir putranya yang berbicara tapi begitu jelas terdengar oleh telinganya.
"Maaf ma. Sandy lupa" Sandy menunduk. Ya, bagaimana lagi. Diam dan merendah yang lebih baik dia lakukan. Jika tidak, sudah jelas selama apa Meera memakinya dengan kalimat yang cukup menyengat telinga.
Yeni yang menunggu di ruang tengah mulai terganggu dengan suara berisik dari arah depan. Ia meletakkan sulamannya lalu segera bangkit dan melangkah ke depan.
"Sandy, ada apa nak ?" Pungkasnya dari dalam. Dia belum melihat jika Meera yang baru saja datang. "Loh, kamu to Mir ? Jangan marah-marah ! Kasian Sandy kan baru sembuh." Ucapnya setelah melihat Meera.
"Gimana tidak marah-marah. Aku sudah ke rumah sakit, Sandy malah sudah pulang. Sudah gitu tidak memberi kabar, apa dia sudah lupa sama mamanya." Sungut Meera. Rasa kesal yang berkecamuk dengan lelah yang mendera tubuhnya tak kunjung mereda.
Yeni tersenyum lembut, "Sudah. Ayo masuk, ada Reno dan anak-anak."
"Reno di sini ?"
"Iya. Tadi dia juga ke rumah sakit tapi tidak ketemu Sandy. Jadi, dia langsung datang kesini."
Yeni dan Meera beriringan menuju ruang tengah. Mereka bercengkrama dengan akrab. Benar-benar persahabatan yang tidak pernah pudar. Mereka sudah puluhan tahun menjadi teman dekat dan tidak pernah menduga jika kedua anak mereka menjadi sepasang kekasih yang sangat serasi. Ah, Tuhan memang selalu memiliki kejutan indah di balik semua yang terjadi.
Sudah kebiasaan baiknya, dia selalu mencuci tangan sebelum menghampiri kedua cucunya. Meera memang perempuan yang sangat menjaga kebersihan semenjak remaja. Dan tertawa hingga setua ini. Ia pun juga mengajarkan hal yang serupa kepada semua anak cucunya.
"Allan ...Lena.... Oma Meera datang kok cuek saja ?" Yeni berdiri di samping Allan dan Lena. Bibirnya sengaja ia bentuk melengkung ke bawah. Menarik perhatian kedua cucunya yang tidak menyadari kedatangannya.
"Oma Meera ....." Teriak mereka kompak.
Lena berlari terlebih dulu menghampiri tubuh Meera. Ia mendekapnya dengan hangat. "Oma kemana saja ? Lena kangen." Gadis kecil itu mendongak tanpa melepaskan tangan, lalu kembali menyembunyikan wajah di perut Meera.
"Jadi, Lena saja ni yang kangen ? Ya sudah kita jalan-jalan berdua saja ya." Meera sengaja mengeraskan suara. Dia menggoda agar Allan merajuk dan segera bermanja kepadanya.
"Allan rindu oma. Tapi, masih rindu lagi sama papa." Allan tersenyum, dia menghampiri Sandy yang baru saja tiba bersama Chandra.
Yeni dan Reno turut terkekeh kecil, mereka melempar wajah dan berpura-pura tidak mengetahui tatapan geram yang Meera perlihatkan. Sebenarnya dia hanya lelah, di tambah rasa kangen dan cemburu yang tidak tersalurkan secara rapi.
-------
Keysha mengerjap, dia menggeliat kuat merenggangkan otot-otot yang menegang. Tangannya menjamah wajahnya sendiri, ia mengucek mata yang masih sangat berat untuk di buka.
"Jam berapa sih ?" Keysha melirik jam yang terpajang besar di hadapan ranjang. "Jam setengah delapan ? Astaga !"
Dengan cepat, Keysha bangkit. Ia terduduk dan sempat tertegun. Mengingat posisi ketika dia merebahkan tubuh hingga tidur tanpa sengaja. "Pasti kak Sandy sengaja memindahkan tubuhku. Pantas saja aku tidur sangat lama. " Gumamnya. Ia membuang selimut lalu berjalan cepat menuju kamar mandi. Ia membasuh wajahnya, dan segera mengenakan jilbab.
Keysha setengah berlari ketika ke luar kamar. Hentakan kakinya memantul jelas dari lantai bawah, apalagi ketika dia menuruni anak tangga. Suara alas kaki itu sangat jelas menyapa telinga.
"Malam semua. Maaf Keysha ketiduran." Keysha nyengir. Ia tersenyum keki dan tersipu ketika melihat semua orang berkumpul di rumahnya. Termasuk Reno dan kedua mertuanya yang masih asyik bermain dengan Allan dan Lena.
"Tidak masalah sayang. Kamu pasti sangat lelah karena harus bolak-balik rumah sakit rumah setiap hari. " Jawab Meera cepat.
Keysha tersenyum, lalu ikut duduk di antara Yeni dan Meera.
"Mama sama papa nginep kan ?" Tanya Keysha dengan antusias.
"Tentu. Mama sangat rindu sama Lena dan Allan. Malam ini mama ingin sekali tidur dengan mereka." Meera pun turut antusias menanggapi.
"Kamu juga kan Ren ?" Keysha melirik Reno yang tersenyum-senyum melihatnya.
"Apa tidak akan mengganggu ?" Godanya masih dengan senyuman serupa.
"Mengganggu ? Maksudnya ?" Ucap Keysha seraya memiringkan kepala. Entah karena polos, atau dia benar-benar tidak berpikir sejauh itu.
"Malam pertama." Singkat Reno .
Tidak terduga, Sandy yang dengan cepat memahami segera melempar bantal sofa ke wajah Reno. Sontak saja semua yang ada tertawa melihat ekspresi wajah kaget Reno.
"Tahun depan, seharusnya kita sudah tambah personil nih." Celetuk Chandra santai. Dia yang sedari tadi bungkam, dengan tiba-tiba melontarkan kalimat yang membuat semua orang melongo tidak paham.
"Maksud papa apa ? Keysha hamil lagi ?" Tanya Meera tidak mengerti.
"Eh enggak kok ma." Bantah Keysha.
"Seharusnya kita tanya sama Reno, apa sudah siap bawa calonnya ?" Pungkas Chandra seraya menyenggol tubuh Reno. Pria itu membulatkan mata, tidak berpikir jika Chandra sedang meledeknya.
"Ah, om Chandra... kenapa jadi Reno ?"
"loh gimana to Ren ? Apa kamu tidak ingat umur ? Kepalamu sebentar lagi sudah banyak ubannya, apa tidak malu sama papa ?" Chandra terkekeh geli.
"Dia sudah ada kok pa ...." Sahut Sandy.
"Oh ya siapa ? Yeni, Meera dan Chandra sangat antusias. Mereka bisa kompak bertiga bertanya dengan kalimat yang sama.
"Dokter yang merawat kak Sandy ma, pa." Jawab Keysha yakin.
"Wah, yang benar saja ? dia mau sama kamu Ren ? "
"tante Meera ! memangnya Reno tidak pantas untuknya ?"
"Eh bukan...Bukan seperti itu...Maksudku dia terlihat masih sangat muda dan kamu sudah tua."
"Mama meledekku ?" Sandy menyeringai. Ia menyadari jika jarak usianya dengan Keysha berbeda sangat jauh.
"Kalau kamu sudah jelas karena pemaksaan. Apa kamu lupa bagaimana awal Keysha mau sama kamu ?" Ketus Meera.
Mereka semua tertawa dengan pembahasan yang sangat konyol. Tawa yang pecah hanya karena perdebatan usia yang tidak masuk akal.