I'M Sorry! I Love You!

I'M Sorry! I Love You!
Darurat



"Jadi ngambeknya sama bunda apa Sandy sih ?" Seru Yeni tanpa melihat wajah putrinya. Nadanya flat, tapi terkesan menyindir Keysha.


"Ayo Key turun ! Allan sama Lena sudah nunggu kamu itu loh , kasian !" Imbuh Yeni karena tak kunjung mendapat respon dari Keysha.


"Sayang, nanti kita susul Sandy ya, mau ?" Yeni tak henti membujuk. Merayu putrinya yang masih bungkam, seakan-akan masih dalam menyimpan kekesalan.


"Keysha...." Yeni beralih memandangi Keysha lebih jelas. Ia mendekatkan wajahnya dan menyibak ujung jilbab yang menutupi wajah Keysha.


"Ya Allah ini anak, di ajak bicara dari tadi tidur ternyata ?" Yeni menghela nafasnya kesal. Tidak sadar, jika Keysha telah terlelap dan berlayar ke alam mimpinya. Tidak hanya itu, Yeni terus berusaha memutar otak dan logikanya untuk membujuk Keysha. "Tapi biarkan lah, setidaknya momongan ku berkurang sementara, " ucap Yeni. Ia menyeret langkahnya, dan keluar kamar Keysha dengan sangat hati-hati.


******


"Bawaan bayi ? memangnya, bayiku bawa apa sih di perut Keysha ?" gumam Sandy dalam hati. Ia duduk bersandar pada kursinya, berputar-putar terus memikirkan tingkah Keysha yang semakin tak biasa. Posesif, dan mudah sekali marah. Tak hanya itu, Keysha lebih terlihat sangat manja, dan lebih gampang merajuk.


"Aneh sekali, lagian dari mana dia bawanya ?" gumam Sandy lagi. Ia semakin pusing dan lelah sendiri memikirkan hal yang tak seharusnya memusingkan kepalanya. Berputar-putar dan terus menerus mengusik otaknya.


dorrrrr


Sandy terperanjat kaget ketika Reno tiba-tiba muncul di hadapannya.


"Sial ! Gak sopan banget sih, masuk gak ketuk pintu dulu !" gerutu Sandy pada Reno. Ia berdecak kesal lantaran kehadiran Reno, tanpa mengetuk pintu.


"Orang pintu gak di tutup, untuk apa ketuk dulu.." ucap Reno santai. Ia berjalan, menuju sofa yang berada di sudut ruang. Membanting keras tubuhnya di atas sofa empuk itu. Reno mendongak, menatap pada langit-langit ruangan lalu mengukir senyuman indah, yang tak kunjung sirna. Tampak jelas, kebahagiaan mulai terbit dengan terang dalam hidupnya.


Reno menatap Sandy, yang tak kunjung memberikan respon apapun padanya. Ia masih asyik duduk melamun, sambil menggigit-gigit ujung bolpoin yang tak ia lepaskan sejak tadi.


"Kamu kenapa San ? " Tanya Reno kepada Sandy.


"Ren, calon istri kamu kan dokter tuh, ada hal darurat yang ingin aku tanyakan padanya. Nanti ajak dia ketemuan ya, " ucap Sandy dengan serius. Reno mengiyakan dan hanya mengangguk ragu. Semakin ikut pusing melihat tingkah konyol sahabatnya.


"Hal darurat ? Kenapa harus nanti ? kenapa tidak sekarang ? Aneh sekali. " pekik Reno dalam hati. Ia hanya mengumpat dan terus bertanya pada dirinya sendiri.


"Siang ini aku dan Alexa berencana lunch bareng, kamu mau sekalian ?" Reno beranjak dari duduknya. Melangkah lebih dekat, lalu mencondongkan tubuhnya begitu berada di depan meja kerja Sandy. Ia menjadikan tangannya sebagai penopang tubuh, dan meletakkan di atas ujung meja.


"Bagaimana kalau sekarang saja ? Ini sangat darurat Ren !" ucap Sandy.


"Sekarang ?" Reno mengernyit bingung. Ia tidak yakin untuk mengiyakan.


"Sudahlah jangan banyak berpikir, cepat hubungi dokter Alexa ! Suruh datang ke cafe biasa." Sandy menyeret lengan Reno. Membawanya berlalu keluar ruangan untuk melangkah lebih cepat.


Setelah meninggalkan pesan kepada Safira, mereka segera berlalu dari kantor. Masuk ke dalam mobil dengan cepat, dan melesat menuju Cafe yang sandy katakan.


Reno sudah menghubungi dokter Alexa sebelumnya. Dan masih beruntunglah Sandy, karena perempuan itu mengiyakan tanpa banyak berpikir. Dari kata darurat yang Reno katakan, sesuai permintaan Sandy sudah membuat dokter Alexa panik dan segera pergi untuk menemui mereka.


Tiga puluh menit, dokter Alexa, Sandy dan Reno telah bertemu. Di sebuah Cafe yang memadukan berbagai warna sebagai desain interiornya. Warna-warni pelangi, menjadi daya tarik tersendiri untuk kebanyakan muda-mudi yang di mabuk cinta.


"San, ada apa dengan Keysha ? Kenapa kamu meminta kita bertemu di sini jika ada yang darurat ?" dokter Alexa tergesa-gesa melontarkan berbagai pertanyaan. Duduk menghadap tepat pada kedua bola mata Sandy.


"Ini darurat sekali dok, aku bingung harus bagaimana, " ucap Sandy dengan nada serius.


Sandy menghela nafas pelan, seolah-olah sedang mempersiapkan diri untuk mengatakan sesuatu hal.


"Entahlah, kalian percaya atau tidak, ini sangat membuatku berpikir keras sepanjang malam, " ucap Sandy tak henti menatap Reno dan dokter Alexa secara bergantian. "Bayi yang di kandung Keysha...."


"Ada apa San ? Jangan bikin cemas seperti itulah !" Dokter Alexa semakin tidak karuan merasakan kecemasan yang mengusik hatinya. Ia tak sabar menanti sebuah jawaban yang Sandy katakan secara bertele-tele.


"Aku mau tanya dok, ketika perempuan mengandung, terus sikapnya aneh dan sangat bertolak belakang dengan aslinya, itu bayinya bawa apa sih dok?" ungkap Sandy.


Reno dan dokter Alexa saling berpandangan. Menatap Sandy dengan wajah tak pasti, dan akhirnya mereka tak tahan meluapkan tawa yang menggelayuti bibir mereka. Sandy masih tidak mengerti, ia mengernyit bingung dengan reaksi Reno dan dokter Alexa.


"Kalian kok malah tertawa sih ?" gerutu Sandy.


"Kamu itu...konyol sekali San ..."Reno semakin puas menertawakan Sandy.


"Lagian aneh banget sih San. Ada-ada saja pertanyaan mu itu. " Dokter Alexa turut menimpali.


"Bunda bilang, itu bawaan bayi yang buat Keysha aneh. " Sandy membanting tubuhnya pada sandaran kursi. Bersandar lalu melipat kedua tangan di depan dada. Ia terlihat putus asa, bahkan tak kunjung melepaskan kebimbangan yang menguasai dirinya.


Lagi dan lagi, ucapan Sandy hanya mengundang tawa Reno dan dokter Alexa. Suaranya bebas, menggema hingga menarik pengunjung lain untuk menatap ketiganya.


"Kalian ini, bukannya bikin lega malah bikin pusing !" gerutu Sandy semakin geram.


Dokter Alexa menarik nafas dalam-dalam. Ia berusaha menahan tawa untuk memberikan pengertian kepada Sandy. "Sandy, kamu bayangin saja, perut Keysha mana mungkin menampung barang-barang aneh seperti yang kamu pikirkan. Sudah jelas bayi yang di kandung Keysha tidak membawa apa-apa. Begitu lahir nanti ya seperti umumnya bayi. Seperti Allan, seperti Lena. "


"Lalu, kenapa bunda bilang, itu bawaan bayi ? Dulu waktu Keysha hamil Allan dan Lena tidak aneh-aneh kok ?" Sandy mengangkat tangannya. Meletakkan di bawah dagu untuk menopang wajahnya.


"Ya bukan berarti bayinya bawa sesuatu kan San ? Ibaratnya itu ngidam, jadi ada masanya dia benci sesuatu yang dia suka, ataupun sebaliknya. " tutur Dokter Alexa memberikan penjelasan.


"Sudahlah sayang, percuma bicara sama kulkas kaya dia, mana paham. Sudahlah ayo kita mulai makan..." Reno mengangkat tangan. Memanggil seorang pramusaji yang tampak melintas di dekat bangku mereka.


.


.


.


.


.


.


Baca juga novelku yang lainnya ya ^_*


@Tafsir Cinta