
"Reno ..." Dengan nada ceria, Keysha menyapa sesosok pria yang tengah duduk santai di halaman Rumah sakit. Namun, pria itu hanya menoleh nya sekejap lalu kembali membuang pandangan jauh. Tidak ada suara yang keluar dari bibirnya, pria itu masih tampak dingin dengan dengan tatapan arogan.
"Apa aku ada salah padamu ?" Keysha menatapnya lekat, suaranya terdengar pelan seolah-olah merasa sedih dengan cara Reno meladeninya sekarang. "Sejak tadi, kau begitu dingin padaku. Katakan Reno, apa aku memiliki salah padamu ?"
"Apa yang sedang kau katakan ? Apa kau sudah memikirkan itu baik-baik ?" Ucap Reno datar.
Aku tidak ingin terlalu salah dalam memilah rasa padamu Keysha, jika aku teruskan semua akan membuat perpecahan yang tidak pernah ku bayangkan sebelumnya. ~Reno
Keysha menghela nafas nya pelan, ia berjalan sigap dan duduk tepat di samping Reno. Di tatapnya dalam-dalam pria yang tidak juga meliriknya, dengan mencoba merangkai pikiran positif, Keysha membuka obrolan dengan topik yang berbeda.
"Reno, apa kau tahu jika Sandy akan segera di operasi. Ada seseorang yang mau menolongnya dengan tulus. " Keysha berbicara dengan antusias, tanpa sadar jemarinya telah menggenggam erat jemari Reno. Ia meremasnya, mengisyaratkan rasa senang yang terukir indah di raut wajahnya.
"Jangan bercanda. Itu tidak lucu sama sekali. Aku tahu, kau sangat menginginkan suamimu segera pulih, tapi berhentilah berhalusinasi yang akhirnya hanya akan melukai dirimu sendiri." Reno menatap Keysha dengan nanar. Ia melepas jemarinya, dan membantah apa yang tengah terucap dari Keysha.
"Aku berbicara serius Ren. Jika kamu tidak percaya...."
"Keysha berhentilah mengarang cerita !"
"Aku tidak mengarang Reno. Aku bicara kenyataan nya."
Reno masih tidak percaya. Ia diam sejenak, untuk menepis ungkapan Keysha melalui tatapan mata.
"Pulanglah ! Aku akan menjaga Sandy. Kau perlu istirahat Key."
"Tidak....Aku akan mendampingi Sandy sampai dia bisa kembali sadar."
"Keysha kenapa kau begitu keras kepala ?" Gertak Reno mulai geram. Ia sedikit meninggikan nada bicaranya. Terpaksa, ya biarkan saja jika Keysha akan merasa sakit hati lalu menangis dan berlari pulang. Itu lebih bagus, batin Reno singkat.
"Kalau empuk, apa namanya tetap kepala ?" Sudahlah. Keysha tidak peduli dengan kekesalan yang Reno perlihatkan. Ia justru menimpalinya dengan secuil ledekan.
Reno bungkam, ia lama terdiam dan enggan menimpali ledekan Keysha. Hingga akhirnya, mata mereka saling bertemu lalu sama-sama terkekeh geli. Ah, sangat kekanak-kanakan. Harusnya, Keysha meyakinkan Reno jika apa yang ia sampaikan adalah suatu kebenaran. Dan Reno, harus bisa percaya perihal itu.
"Permisi, Nyonya Keysha...." Suara seorang perawat dari arah belakang, membuat mereka berdua kompak menoleh mencari sumber suara yang dengan jelas menyebut namanya. Ya, seorang perempuan dengan pakaian serba putih dan sepatu hitam serta sebuah map di tangannya tampak sedang tersenyum kearahnya.
"Dokter Alexa akan segera memulai tindakan, dan sekarang beliau sudah berada di ruang operasi bersama dokter Liem, dan juga Dokter bedah." tutur katanya sangat halus, perawat itu menunduk lalu berpamitan untuk melanjutkan pekerjaannya.
"Kau...kau serius dengan ucapan mu ?"
"Aku tidak pernah berbohong Reno. Apa kau tidak bisa percaya padaku ?"
"Ku pikir. Kau terlalu banyak pikiran sampai-sampai kau tidak bisa membedakan yang nyata sama halusinasi mu." Reno balik meledek. Ia nyengir keki ketika melihat raut wajah tegang istri sahabatnya tersebut.
"Aku masih waras Reno." Ucap Keysha dengan kesal. Ia segera beranjak dari atas bangku, meninggalkan Reno yang masih terkekeh puas dengan ledekan yang terlontar santai dari balik bibirnya.
Setelah usai mengirimkan kabar kepada keluarga yang di rumah, Keysha duduk di depan ruang operasi. Ia merundukkan kepala, memohon dari hati kepada Tuhannya. Memanjatkan doa yang tidak pernah terlepas dari dentuman waktunya. Perempuan itu bungkam, bahkan tidak begitu banyak bergerak dalam beberapa menit terakhir. Ia terlena, dan larut dalam cengkrama nya dengan Tuhan. Senandung harapan sejalan dengan wujud syukur yang tertata sangat rapi. Semua berkesinambungan, dan karena campur Tuhan lah Sandy memiliki kemungkinan untuk selamat dari ancaman maut yang tengah mengintainya.
"Sayang, bagaimana keadaan Sandy ?" Ucap Meera dengan khawatir begitu ia tiba di rumah sakit. Chandra yang mengangguk, siap mendengar jawaban yang akan Keysha ucapkan.
Meera dan Chandra mengangguk-angguk setuju.
"Mamaa..." Allan dan Lena kompak mendekap tubuh Keysha. Sontak, hentakan kuat yang tidak ia sadari sebelumnya itu membuatnya kaget.
"Allan, Lena..." Keysha berjongkok lalu membalas pelukan dari si kembar.
"Kalian kok kesini ?" Tanya Keysha dengan khawatir. Tentu saja dia khawatir, bagaimana tidak. Yang mereka kunjungi adalah rumah sakit. Dan banyak sekali orang-orang yang terinfeksi penyakit menular di sekitar mereka. Bagaimana Keysha bisa tenang ketika kedua anaknya datang tanpa meminta izin padanya terlebih dahulu.
"Maaf Key , Bunda sudah tidak bisa merayu mereka untuk tetap tinggal di rumah..Mereka terus saja menangis tanpa henti, bahkan Allan semalaman tidak tidur sama sekali." Yeni buka suara. Ia yang baru saja tiba, karena hanya berjalan sedangkan Allan dan Lena telah berlari terlebih dahulu ketika melihat Keysha sedang berbincang dengan Meera dan Chandra.
"Biarkan saja Key. tidak apa-apa mereka ikut menemani mu di sini." Meera menasehati menantunya agar tidak terlalu panik dan khawatir. Ya, semua akan baik-baik saja dan akan lebih baik untuk Sandy jika semua orang-orang yang ia sayangi memberikan dukungan secara langsung.
"Papa mana ma ?" Dengan polosnya Lena menatap sekeliling. Ia mencari-cari keberadaan Sandy. Rindunya sudah tidak bisa lagi ia tahan-tahan. Semua seakan memaksa, menekan dada hingga membuatnya terasa sakit.
"Papa lagi di dalam sayang..."
"Lena mau masuk ma...Lena kangen sama papa."
"Nanti ya. Kalau papa sudah bisa kita temui." Keysha tersenyum palsu, ia membelai rambut putrinya, menyelipkan di sisi telinga gadis itu. Damai, semua terasa sangat menenangkan karena sudah lama perempuan itu tidak melakukannya kepada anaknya.
"Papa tidak mau di temui ? " Tanya Lena dengan polos. Usianya terlalu kecil untuk menerima semua dengan gamblang. Ia masih kesulitan untuk memahami bahasa Keysha yang terlalu berbelit-belit di otaknya.
"Bukan seperti itu....Papa sedang istirahat sayang. Kita berdoa saja ya, semoga papa segera bangun dan bisa kita temui."
Allena hanya mengangguk pelan, ia masih belum paham dengan apa yang Keysha bicarakan.
"Mama.... Apa mama sudah makan ? Allan dan Lena bawa ini untuk mama." Allan menyodorkan sebuah kotak kecil yang berisi roti yang telah di olesi dengan selai coklat favorit Keysha.
"Ini...Allan yang buat ?"
"Tentu. Bukankah mama sangat menyukai roti buatan Allan ?"
Keysha mengernyitkan dahi. " Tentu sayang. Apa kau tidak membawakan untuk om Reno ? Dia sudah lama menemani papa di sini loh."
"Aku membawakan juga untuk om Reno." Lena menyerahkan sekotak roti yang sedari tadi ia genggam.
Keysha tersenyum lega, ia merasa bangga dengan sikap anak-anaknya. Kedua bocah itu sungguh memiliki nalar dewasa, dan sangat peduli dengan lingkungan nya. Mereka tidak egois, dan memiliki rasa kasih sayang yang besar untuk orang-orang terdekatnnya.
"Terima kasih sayang." Keysha memeluk mereka dengan erat. Senyuman tulus terukir indah di sudut bibirnya. Matanya berbinar, mengalirkan air mata yang bersaksi atas rasa haru yang menyapa dalam hati.
Cekrek....
Di tengah-tengah pembicaraan mereka, Dokter Alexa dan dua rekannya keluar dari ruang operasi. lalu di ikuti beberapa perawat yang berada di belakangnya.