I'M Sorry! I Love You!

I'M Sorry! I Love You!
Masuk Perangkap



"Shinta apa kamu yakin tinggal di tempat sepi seperti ini ?" Keysha mulai menaruh curiga. Langkahnya terasa berat saat di seret. Matanya berkeliling mengawasi keadaan sekitar. Benar-benar sepi tanpa aktivitas manusia. Bahkan tidak ada suara kendaraan yang melintas di sekitar sana. Ruangan-ruangan yang berjajar rapi, dengan bangunan yang baru masih tampak sepi dari penghuni.


"Apa kak Keysha masih berpikir aku ini sedang membohongi kakak ?" Jawab Shinta tidak nyaman. Ia meninggikan suara, menerkam tanda tanya Keysha yang mengoyak rasa kesalnya.


"Bukan...bukan seperti itu. Tapi ini masih terlihat baru dan sepi sekali. Apa kamu tidak takut tinggal sendirian di tempat seperti ini ?" Kata Keysha menjelaskan. Ia tidak ingin di anggap tidak sepenuh hati ketika menolong. Mencoba mengelak dari tuduhan yang di layangkan Shinta.


"Justru itu kak. Aku kost di sini karena bangunannya masih baru dan sepi. Jadi, harga yang di pasarkan masih sangat murah dan cocok untuk aku dan mama." Shinta berkilah dengan ragam alasan. Merendah agar Keysha semakin menaruh rasa iba terhadapnya. Ia mengayun lebih dulu dari Keysha, menunjuk pada sebuah ruang yang di akui sebagai kamar pribadinya.


"di sini kak....Aku tidak tega melihat mama selemah itu. Apa kakak bisa masuk lebih dulu untuk memastikan keadaan mama ?" Kata Shinta dengan melas. Ia menatap Keysha dengan raut wajah sedih. Seolah memohon agar Keysha tidak menyanggah apa yang menjadi permintaannya.


Ia memang sangat cerdas memainkan mimik wajahnya. Dari dulu, tidak pernah gagal merayu Keysha dengan cara yang berbeda-beda. Sayang, Keysha selalu salah melangkah dan lagi lagi jatuh dalam lubang yang sama melalui pintu yang berbeda....


Keysha mengangguk ringan, ia langsung percaya tanpa berpikir panjang dengan setiap kalimat yang Shinta senandung kan, "Baiklah...."


Tidak ada keraguan yang ia dengarkan, menepis setiap rasa yang menjamah nalurinya untuk menolak apa yang di tawarkan. Keysha berusaha keras berpikir positif, mengelak pada batin yang mendorong keras keyakinan agar Keysha tidak melakukan itu. Ah, percuma ! Perempuan itu sudah melangkah masuk ke dalam ruangan. Ia semakin dalam menerobos, mengitari setiap sudut ruang untuk memastikan keberadaan mama tirinya.


dorrr


Sebelum menoleh untuk melayangkan kalimat tanya karena tidak menemukan Lita di sana, pintu sudah tertutup dengan keras. Membuat Keysha terperanjak dan memutus nafas karena sentakan rasa kaget. Tidak hanya itu, seperti nya ada yang dengan sengaja mengunci pintu dari luar sehingga Keysha tidak bisa membuka ketika ia menarik dengan kekuatan yang dia miliki.


"Shinta ....buka pintunya ! Shin...." Keysha berteriak kencang. Ia mulai sadar jika Shinta telah berhasil menjebaknya. Perlahan merayu agar memudahkan mangsa masuk pada perangkap yang di siapkan.


"Hahaha...." Gelak tawa puas terdengar nyaring dari luar ruang. Tidak hanya Shinta yang girang atas keberhasilan yang dicapai. Tetapi, aku suara lain yang memanjakan telinganya. Menari dalam keterpurukan yang menimpa diri Keysha.


Dua wanita...ah tidak ! Tiga wanita itu semakin larut dalam suara tawa menghina. Mengacuhkan teriakan Keysha yang tanpa henti dari dalam kamar berukuran kecil itu.


"Selamat bermalam dengan anak-anak tikus yang sedang menantimu sedari tadi Keysha Larasati. Ku harap kamu bisa tidur dengan nyenyak untuk malam ini."  Kata salah satu wanita itu. Suara yang terdengar tidak asing dalam keseharian Keysha. Ia memutar otak, mengingat dengan siapa ia sedang berhadapan.


"Cherry ? Jadi kamu ?...." Tepat sekali. Nama yang di sebut Keysha adalah seseorang yang menjadi dalang di balik semua ini. Perencana dari penjebakan yang tertata begitu rapi dan jeli.


"Hahaha....Kenapa Keysha ? Rupanya kau mengenal jelas suaraku ? Hebat sekali ..." Cherry tertawa semakin puas. Kedua jemarinya bertepuk dengan ritme yang lambat. Namun sangat jelas itu adalah kode dari sebuah ledekan. Ya, Cherry tengah meledek Keysha dengan kemenangan yang belum sempurna.


"Selamat bermalam di sini kakak ku yang baik hati. Semoga kakak betah tinggal di kost baruku ya. " Ujar Shinta yang kemudian di sambut suara tawa lagi oleh Lita dan Cherry.


"Shinta, tolong buka pintunya Shin !" Keysha semakin keras meraung. Memohon dalam suara jeritan yang bergerumuh di seluruh penjuru ruang. Ia menggedor pintu dengan kasar, terus meronta berharap ada yang berbaik hati untuk membuka pintu dan mengizinkan dia untuk kembali pada keluarganya.


"Teriak saja nak, sekeras yang kamu bisa ! Tidak akan ada yang mendengar sampai suara yang kamu keluarkan habis sia-sia. " Lita yang sedari tadi hanya tertawa kali ini ikut melontarkan kalimat yang mengejek. Menepis harapan Keysha dalam setiap nada suara yang terdengar lembut menghampiri telinga. Ah, mana mungkin Lita membuka naluri, mengikuti kata hati yang mengajarkan kebaikan di dalamnya. Ia pasti lebih mudah terpengaruh dengan bisikan-bisikan yang mengajarkan dia hal gila seperti yang tengah dia permainkan.


Mereka bertiga masih terus mengumbar tawa meskipun telah melangkah jauh meninggalkan Keysha seorang diri. Mengacuhkan teriakan Keysha yang berselang dengan tangis yang mulai terdengar.


Wanita itu menjatuhkan tubuh dalam rasa takut. Menyesal atas kebodohan yang dia biarkan bertahta dalam waktu yang ia lewati. Ya, hatinya yang jernih justru meluruskan jebakan yang sedang Cherry siapkan. Hanya dengan hal yang menyentuh hati, perempuan itu tidak bisa berpikir jeli untuk menolak dan membiarkan Shinta menangis dalam sandiwara nya.


----------


"Mama, Shinta tahu betul bagaimana cara merayu wanita bodoh itu. Kita tidak hanya sehari dua hari tinggal bersama tentu aku sangat paham untuk membuatnya menyerah dengan apa yang Shinta katakan." Ucap Shinta dengan nada bangga. Jemarinya memutar ujung rambut, melengkapi gambaran sikap angkuh yang terpancar dari senyum tipis yang mengisyaratkan.


"Aku tidak pernah salah memilih partner dalam berbisnis, tentu untuk menyingkirkan wanita itu pun aku harus lebih jeli untuk memilih orang yang memiliki tujuan yang sama." Cherry menyeringai puas. Ia membuang pandangan jauh, sorot matanya sangat arogan. Membuat seseorang yang terikat bergidik ngeri ketika menyaksikan.


"Baiklah...kita harus segera pergi dari sini. Biarkan wanita itu semakin keras berteriak dan berharap ada pangeran yang datang menolongnya." Kata Cherry dengan nada meledek.


Lita dan Shinta hanya mengangguk puas, ada dendam yang mulai terbalas dan cukup menyenangkan nafsunya. Mungkin, jika tidak ada Cherry, mereka tidak akan sanggup melakukan itu. Menyerang Keysha seorang diri sama saja dengan menyerahkan sisa umur yang ada secara percuma kepada Sandy. Apalagi, Keysha tahu betul jika mereka hidup bergantung pada kebaikan Chandra. Entahlah, detik ketika ia tertawa puas di atas air mata Keysha sungguh telah membutakan segalanya. Ia tidak lagi mengingat dan berpikir panjang dengan masa depan dan bahaya yang mengancam jika sampai Sandy tahu apa yang mereka lakukan. Mereka hanya terbuai dengan hawa nafsu untuk membalas dendam. Membalas rasa sakit hati juga ketidaknyamanan ketika Keysha dengan sengaja mempermainkan mereka berdua beberapa waktu yang lalu.


Cherry melajukan mobilnya, menginjak pedal gas dengan kecepatan sedang. Mobilnya melesat bebas di atas jalanan yang sangat sepi. Tidak ada lalu lalang manusia di sekitarnya. Seperti komplek mati, benar-benar jauh dari hiruk-pikuk kehidupan manusia.


----------


"Apa kau sudah mencoba menghubungi bunda Yeni ? Siapa tahu Keysha memang sudah pulang dan lupa membawa ponselnya." Kata Reno memecah keheningan. Menolak rasa cemas yang semakin mencengkram hatinya. Gelisah yang mewarnai membuat bulu kuduk berdiri dan menegang.


"Oh iya. Ampun ! Kenapa aku tidak kepikiran dari tadi. " Jawab Sandy cepat. Ia memukul ringan dahinya, merasa bodoh tidak sedari tadi mengingat hal yang seharusnya sudah dia lakukan sebelum rasa cemas semakin kuat menguasai jiwanya.


Sandy meminggirkan mobil, menghentikan di atas bahu jalan sebelum mengeluarkan ponsel dan menekan tanda hijau pada ID nama 'bunda Yeni'.


"Hallo Assalamualaikum..." Suara Yeni menyapa dengan ramah dari sambungan telepon.


"Wa'alaikum salam, bunda . Apa Keysha sudah sampai di rumah ?" Jawab Sandy cepat. Ia tidak mengizinkan Yeni berkata yang hanya membuang waktunya. Secara gamblang melempar tanya yang sudah menyesakkan dadanya.


"Keysha ? belum nak. Bukannya dia bilang akan lembur ?" Ada nada khawatir yang tersirat dari balik suara Yeni. Tidak biasanya Sandy menghubungi nya hanya untuk menanyakan perihal Keysha.


"Oh iya bun. Sandy... Sandy hanya memastikan saja sebelum menjemputnya ke butik." Sandy merasa bingung memberi alasan.


"Memangnya nak Sandy tidak menelepon nya langsung ?" Tanya Yeni menyelidik.


Sandy menggeleng cepat walau sudah jelas Yeni tidak bisa melihat apa yang dia lakukan. "Mungkin Keysha sangat sibuk bun. Sudah sejak tadi aku menghubunginya namun belum ada jawaban."


Sandy menyudahi pembicaraan setelah berpamitan dan berbohong agar Yeni tidak semakin liar dalam berpikir. Berbicara santai seakan memang semua sedang berjalan baik-baik saja. Padahal di luar itu Sandy sangat gelisah ketika bayangan buruk melintas di angannya.


"Bagaimana ?" Tanya yang Reno lontarkan membuat Sandy menoleh dan menatapnya dengan cemas.


"Tidak... Keysha tidak ada di rumah." Lirihnya seraya menunduk. Semangatnya memudar seolah memang jalannya buntu untuk mempercepat ia menemukan wanitanya.


"Atau....kita datang ke rumah Rania ?" Usulan Reno membuat Sandy kembali menatapnya.