
"Keysha ? ini apa-apaan ? Kenapa ada dia disini ?"
Suara Sandy bergerumuh. Memutus rindu yang mulai bebas tersalurkan. Nada bicara yang meninggi, membuat semua yang mendengar tersentak hebat. Kini semua menunduk, menyembunyikan rasa takut yang menghujam. Tiada satu pasang mata yang berani beradu, menatap dan menantang perihal protes besar yang Sandy layangkan.
"Keysha ? kamu sadar dengan yang kamu lakukan ?"
Suara lantang Sandy mengundang Meera dan Chandra. Mereka bergegas menelusuri anak tangga yang merepotkan. Dengan rasa heran, bahkan kekhawatiran akan kemarahan yang Sandy lakukan.
Keysha, kamu harus bersiap untuk itu . Kamu tahu betapa bencinya Sandy dengan orang-orang yang sengaja membuatmu menangis. Tetapi hari ini, kau seolah menantangnya.
"San, Rania kesini mau minta maaf. Dan aku tahu dia tulus melakukan itu. " Suara tangis Keysha semakin jelas terdengar. Ia meraih jemari Sandy, menyampaikan isi hati yang tak sanggup lagi ia ucapkan.
"Keysha, kamu sadar Key ! baru hari kemarin wanita ini menghinamu ! Dan hari ini dia datang dengan menangis,dan kamu masih bisa percaya ? Buka mata hatimu Key, kamu itu di tipu olehnya !" Sandy menepis tangan Keysha, menekan setiap kata yang keluar dari bibirnya.
" Dan lo ! Katakan ! hal buruk apa yang sedang lo rencanakan ? " Matanya memerah saat beralih menatap Rania. Telunjuk kanannya ia arahkan tepat di depan mata Rania.
Wanita itu yang menunduk, berpura-pura takut untuk menguatkan aktingnya. Memperkeras suara tangis dan menutup rapat kedua telinganya.
"Sandy, aku mohon hentikan itu. Aku tahu Rania, dia ngga mungkin berbuat seperti yang kamu tuduhkan." Keysha berlutut. Dengan tulus memohonkan maaf untuk seorang yang masih dianggapnya sahabat. Tangisnya tak berhenti di sana, justru semakin deras hingga dalam menusuk hatinya. Percayalah Key ! rasamu itu sia-sia. Sedihmu akan semakin memperburuk hidupmu. Berhentilah Key sebelum semua semakin dalam lagi menyakiti.
"Bangun Keysha, demi wanita ini kamu begitu keras melawanku ?" Sandy meraih pundak istrinya. Menatapnya lekat, menunjukkan rasa kecewa yang terbayang. Keysha menyadari itu, namun ia tak tahu lagi harus berbuat apa agar mampu menyelaraskan rasa yang sama pada suaminya.
"Sudahlah Key . Aku tahu, betapa jahatnya aku waktu itu. Aku memang bodoh, membiarkan diri jatuh pada hal yang salah. Dan sudah menjadi takdirnya jika aku tak mendapat maaf darimu." Rania angkat bicara. Ia tersenyum palsu lalu menyeka air matanya.
Kakinya sudah siap ia ayunkan untuk pulang dengan kecewa. Ah bukan kecewa, melainkan hasil yang tak memuaskan hatinya.
"Rania, jangan bicara seperti itu " Pungkas Keysha, namun ia tak berani lagi menggapai tubuh sahabatnya. Meskipun suara hatinya telah berteriak, memintanya mengejar.
"Keysha. " Ucap Sandy datar lalu menarik tangan Key dan membawanya menelusuri tangga.
Tidak ada yang berani berkomentar, walau sepatah kata "sabar ya" untuk Rania. Meera dan Chandra hanya saling melempar pandang, tak memaksa diri ikut campur dalam masalah anak-anaknya. Mereka pun beranjak, kembali ke lantai atas yang memang di khususkan untuk tamu-tamu khusus Keysha. Semua karyawan kembali pada posisi masing-masing, mengerjakan hal yang sempat tertunda karena keributan.
Rania mengayun langkahnya pasti, membuang sisa air mata yang menyulitkan pandangan. 'Setidaknya lo sudah terperangkap Key, meskipun suamimu masih sulit ku menangkan hatinya' Rania menyeringai. Memasang wajah licik yang sempat ia simpan.
-----
Jederrrr
Sudah hampir setengah jam mereka berdua berada dalam satu ruang yang terkunci rapat. Tidak ada yang mengalah, membuka mulut untuk memulai bicara. Bukan ! memulai perdebatan mungkin lebih tepat. Ya sudah pasti mereka saling melempar kata, bahkan memaksakan keyakinan masing-masing.
Sandy masih bertahan dengan berdiam di sudut ruang. Membuang jauh pandangan mata, menyaksikan lalu lalang orang yang ramai berdatangan di halaman butik. Pun dengan Keysha, ia masih asyik bercengkrama dengan hati kecilnya. Bertanya-tanya dalam diam yang memperlama waktu. Menggambar garis-garis lantai dengan sebelah ujung kakinya.
Rintik-rintik hujan mulai terlihat mengguyur di luar, semakin detik bertambah semakin deras air berjatuhan. Tetes air mengalir pelan di beberapa titik kaca, menyejukkan jiwa yang berkecamuk dalam amarah. Sandy tak melepas menyaksikan itu, sesekali menarik nafas dalam membuang ego yang tak berujung.
"Kamu sudah bisa memikirkan semua ?" 37 menit 50 detik ruangan sunyi tanpa suara. Sandy kini membuka mulut memulai bicara. Ia tak beralih, masih setia dengan rintik hujan yang menghujam alam.
"Rania tulus melakukan itu San. Kamu harus percaya itu "Keysha menatap Sandy dari belakang. Berharap Sandy memahami isi hatinya yang kian sulit di kontrolnya.
"San, aku mohon. Percayalah sama aku kali ini saja. kamu boleh mengawasi setiap gerakku, tapi aku mohon beri Rania waktu untuk membuktikan niat baiknya." Ucap Keysha, ia tahu Sandy pasti tak menyukai kalimat pembelaan nya.
"Ok, baiklah ! Tapi sekali lagi dia berani melukai mu, akan ku akhiri hidupnya ! " Sandy menggertak. Ia kini beranjak dan memilih berlalu meninggalkan Keysha seorang diri .
"Mama ngapain disini ?"
Meera sudah berdiri tegak di depan pintu saat Sandy keluar. Ah, emak-emak bilang tidak ingin ikut campur, tapi tetap saja kepo dan ingin tahu. Chandra hanya duduk di kursi panjang dan fokus membaca koran.
"Mam mama mau ketemu Key lah. " Ucapnya mencari alasan. Matanya berputar-putar tak berani berlama-lama menatap anaknya.
Sandy tak menghiraukan itu, tak peduli dengan apa yang orang tuanya lakukan. Tanpa permisi, ia bergegas pergi. Menelusuri tangga, dan menuju pintu utama.
Sandy merogoh kantong jas nya, mengambil sebuah kunci lalu ia arahkan ke mobil miliknya. Dengan segera, ia mengambil kemudi, melajukan mobil dengan kecepatan yang tak terkira. tak peduli dengan hal bahaya yang mengancam, amarahnya telah penuh menguasai jiwa.
"haaaahhhh " Ia menghardik dirinya sendiri, merasa gagal melindungi Key dari ancaman. Otaknya tak lagi bisa berfikir jernih, untuk menggagalkan rencana buruk yang ia ketahui telah di rancang oleh Rania.
"Rania, lihat saja ! kamu akan mati jika sedikit saja kamu berani menyakiti istriku " Sandy berbicara seorang diri.
-------
"Sayang ...."
Meera segera merangkul tubuh Key , ia meraihnya untuk kembali bangkit. Tak sanggup melihat wanita itu meringkuk merasakan pedih yang tak terkira. Ia tahu, bagaimana rasanya harus berpisah dengan sahabat yang telah dalam ia sayangi, tapi kisah yang di alami Key tak lurus seperti apa yang sempat menimpa kisahnya bersama Yeni.
Mungkin nasihat tak akan di dengar untuk sekarang, pelukan tulus dan tempat bersandar yang nyaman lah yang lebih Keysha butuhkan untuk sekarang.