I'M Sorry! I Love You!

I'M Sorry! I Love You!
Sepagi Mungkin



Matahari masih tampak malu-malu menampakkan sinarnya, tapi Reno sudah rapi dengan pakaian kantornya. Berjas hitam lengkap dengan dasi yang senada dengan jasnya. Memakai gel untuk menata rambutnya. Ia juga beberapa kali mengulang semprotan minyak wangi di seluruh badannya. Reno memang selalu melakukan hal yang serupa, tapi tidak selama pagi itu. Berulang kali ia bercermin, lagi dan lagi menyisir rambutnya sekilas.


Reno tersenyum lalu beranjak dari balik cermin. Ia segera keluar rumah dan meluncur dengan mobil mewahnya. Melaju dengan kecepatan yang sedang, berdendang dengan suara siulan riang sepanjang jalan. Ah, tingkahnya sudah seperti remaja yang di mabuk cinta. Senyum-senyum walau tiada yang menegur, tersipu sendiri ketika melihat bayangannya di kaca. Mungkin, hatinya sedang berbahagia dengan rencana pertemuannya dengan Dokter Alexa. Walau tanpa sepengetahuan gadis itu, tetap saja membuat harinya lebih berbunga-bunga. Naluri yang membawa sebuah kejutan kecil, ah bukan ! tapi rencana yang cukup mengejutkan bagi setiap telinga yang akan mendengarnya. Ada sepatah harapan yang akan Reno sampaikan ketika berhadapan dengan Dokter Alexa kali ini, tapi ia masih merahasiakan dan tidak mengatakan kepada siapapun. Termasuk Keysha apalagi Sandy. Pria tengil yang hanya akan meledeknya tatkala ia mulai berkisah tentang hatinya.


Reno telah melangkah di pintu utama butik Keysha. Tampaknya masih sangat sepi, bahkan tulisan close di pintu kaca itu belum di balik, menjadi pengingat bahwa toko sudah buka.


"Masih tutup ?" Keysha menyapa Nur yang sibuk membereskan gaun-gaun di gantungan.


"Iya tuan Reno, ibu Keysha baru saja tiba," Jawab Nur dengan ramah. Ia merunduk lalu mengukir senyuman sapa di sudut bibir tebalnya. Sepertinya ia sedikit terkejut mendengar pertanyaan Reno yang tiba-tiba, tapi ia sangat cerdik menutupi itu dengan helaan nafas ringan.


"Dimana Keysha ? Apa dia sama Sandy ?" Reno menatap sekeliling, mencari-cari keberadaan sahabatnya.


"Tidak...beliau sendiri tuan, itu ibu Keysha di sana, " Nur masih saja merunduk, ia mengacungkan jari jempolnya untuk memberi kode dan menunjuk titik keberadaan Keysha.


Perempuan itu terlihat sedang berbicara dengan seorang karyawan, memberi instruksi dengan suara lirih dan ramah. Nada bicara yang dilantunkan teramat lembut dan sopan. Namun, karyawan itu tetap memperlihatkan sifat segan dan hormat.


"Terima kasih," Ujar Reno tanpa senyum, wajahnya santai tapi tidak sedingin Sandy. Ia melangkah, menyeret kaki mendekati Keysha yang baru saja menyelesaikan instruksinya kepada karyawan, senyuman tulus mengembang bebas tanpa penghalang. Tidak memilih kepada siapa ia akan berbaik hati dan bersikap santai.


"Pagi Key, " Reno menjatuhkan tubuh di atas sofa panjang di dekat meja kasir.


"Hei Ren...." Keysha berbalik badan, menyambut kedatangan Reno dengan ramah. Ia turut mendudukkan tubuhnya di sebrang sofa yang diduduki Reno, mengamatinya dengan jeli tanpa satu ekspresi yang tertinggal.


"Kamu sendiri ?"


"Ya...Ku pikir Sandy sudah di sini,"


"Oh tidak...Dia hanya mengantarku tadi. Ada meeting pagi, jadi dia ke sini siang." Ucap Keysha panjang lebar, memberi penjelasan layaknya bicara dengan seseorang yang memerlukan itu. Nyatanya, Reno hanya mengangguk pelan tanpa memberi sepatah kata jawaban. Ia tidak butuh semua alasan yang sengaja atau tidak sengaja yang Sandy berikan.


"Sebentar, aku buatkan minuman untukmu." Keysha bangkit dari duduknya. Ia mengusap gamis bagian belakang sebelum melangkah lebih cepat.


"Cokelat hangat ya, " Teriak Reno dengan jelas, lantas membuat Keysha kembali menoleh menyisipkan sebuah rasa bangga. Ya, karena memang Keyshalah yang memperkenalkan minuman itu kepada Reno.


Rania baru saja tiba dengan tergesa-gesa. Ia berlarian kecil, melewati sofa tempat Reno menanti.


"Kamu kenapa Ran ?" Tanya Reno tanpa melakukan pergerakan. Ia tetap tenang dengan caranya duduk. Kaki yang di silang dengan kaki kanan di atas kaki kiri, serta tangan yang gemar memainkan wajah.


"Rania berhenti mendadak, sekilas ia mendengar seseorang menyebut namanya. Ia kembali melangkah mundur, masih dengan nafas yang tidak beraturan.


"Reno ? Kamu kenapa pagi-pagi sudah di sini ? Sandy mana ? Aku tidak melihat mobilnya di depan. " Bukan Rania jika puas melontarkan satu kalimat pertanyaan. Ia akan menyodorkan beberapa kata bahkan kalimat panjang hanya untuk mempertanyakan satu hal yang sama.


"Hei, harusnya Sandy yang membawamu ke sini. " Celetuk Rania dengan nada sinis. Ia membuang pandangan, menggerakkan bibir dengan logat menghina tanpa sepengatuan Reno.


"Terserahlah bagaimana itu tanggapan kamu. Aku ke sini hanya untuk Keysha, jadi aku lebih senang jika tidak ada Sandy di sini." Reno tersenyum simpul menahan tawa. Ia sengaja memancing keributan dari bibir mungil sahabat Keysha. Berkisah seolah dirinya sedang melakukan pendekatan yang lebih intim dengan istri sahabatnya. Ya, Reno memang pandai dalam urusan menggoda, tapi seperti yang telah sering di katakan, itu adalah masa lalu Reno, dan Reno telah berpaling dari sikap konyol seperti itu. Buktinya, sekarang ia lebih selektif dalam memilih pasangan hidup, tidak asal bertemu dengan wanita cantik langsung meluncurkan gombalan maut yang menyanjung hati.


"Oh..." Rania mengangguk-angguk, menyaring sepenggal demi sepenggal kata yang Reno ucapkan. Menyesapi dan memahami dengan otaknya yang sedikit lebih lambat dari yang lain.


"Eh, maksud kamu apa ? " Setelah menyadari jika yang Reno katakan adalah sesuatu hal yang tidak benar dan tidak seharusnya ia lakukan, Rania mengeraskan suaranya. Ia membelalakkan mata, mengintai Reno dengan penglihatan yang tajam. Setiap sorot yang tertangkap dari kedua bola mata, memberikan ancaman tanpa ampun.


"Ada apa sih ?" Keysha datang, dengan membawa dua cangkir cokelat hangat yang aromanya sangat menyengat. Ia meletakkan di hadapan Reno, dan juga di hadapannya.


"Key ? Kamu sedang berpikir jernih kan ?" Rania berjalan mendekat, menyisakan jarak setengah meter dari tempat duduk Keysha.


Keysha masih belum mengerti, ia memiringkan kepala memberi tanda jika ia tidak paham dengan arah pembicaraan Rania yang mendadak serius. Nada bicara yang berat menyimpan kecewa tanpa dasar. Keysha beralih menatap Reno yang asyik berdebat dengan bibirnya. Tawa tang tertahan, terlihat jelas dari bibir yang menegang.


"Kamu bicara apa Reno ?" Tanya Keysha penuh selidik, ia mulai mengerti, Reno pria tengil ini pasti sedang memanfaatkan keluguan Rania dengan cerita yang memancing rasa kesalnya.


"Tidak. Aku hanya mengatakan karyawan yang datang terlambat, jika di kantorku atau kantor Sandy pasti akan di potong gaji." Timpal Reno dengan cengengesan.


"Ah tidak ! Dia tidak bicara seperti itu tadi."


"Aku bilang seperti itu, kamu saja yang negatif thinking. Benerin tuh telinganya biar bener nangkep suara."


"Sudah, sudah kok malah ribut. Rania, tolong siapkan gaun yang di pesan Dokter Alexa ya, pagi ini dia mau fitting sekalian ambil jika sudah sesuai semua." Keysha melerai lalu memberikan instruksi kepada Rania dengan suara lembut.


"Baiklah, tapi memang benar apa yang di katakan Reno tadi ?" Rania masih memikirkan hal tabu yang tidak nyata terjadi. Sebuah lelucon yang sengaja Reno ungkapkan untuk mengalihkan titik fokus Rania.


"Jangan dengarkan dia ! Reno lebih sering gilanya di bandingkan warasnya."


"Benarkah ?"


"Iya. Sudah sana, nanti keburu Dokter Alexa datang, tidak enak kalau bikin dia menunggu. Oh ya, bawa ke atas ya...."


"Baiklah..."


Rania telah beranjak dari tempat nya berdiri, menghilang di balik tembok pembatas. Ia melesat masuk, ke dalam ruang khusus yang Keysha siapkan untuknya. Meletakkan barang-barang pribadinya, lalu melanjutkan dengan tugas yang Keysha beri untuk nya.