I'M Sorry! I Love You!

I'M Sorry! I Love You!
Mendapatkan Bukti



"Kak Alexa ?" Naura berlarian kecil menghampiri Dokter Alexa ketika mendapati sang kakak sudah bersiap untuk pergi. Febi yang berdiri di dekat meja dapur, masih menatap dokter Alexa dengan sengit. Rupanya, kejadian semalam masih membekas di hatinya. Masih meninggalkan rasa kesal hingga pagi menyapa.


"Ada apa dek ? Kakak harus buru-buru, " jawab dokter Alexa dengan tergesa.


"Tunggu kakak...." Rengek Naura seraya menarik-narik tangan dokter Alexa.


Perempuan itu terlihat menghela nafas berat, lalu mengikuti langkah sang adik yang membawanya duduk di ruang tamu.


"Ada apa dek ? Kakak harus bekerja, nanti terlambat." Dokter Alexa menengok pada pergelangan tangannya. Memperhatikan jam yang sudah menunjukkan pukul tujuh pagi, sudah cukup siang untuknya berangkat ke boutique, untuk menjalani pekerjaan nya yang baru.


"Ini lebih penting dari pekerjaan kakak sekarang. " Naura masih memaksa dokter Alexa untuk mengizinkannya menyampaikan sesuatu. "Kakak tunggu sini, " ucapnya lalu bergegas lari ke ruang makan. Dokter Alexa semakin bingung dengan tingkah adiknya, ia hanya menurut saja padahal ia sudah gelisah karena takut terlambat dan membuat Keysha kecewa.


"Ini kakak baca..." Seru Naura seraya menyerahkan sebuah amplop putih, yang baru saja ia ambil dari belakang.


"Apa ini ?" Dokter Alexa mengernyit heran.


"Baca dulu makanya. " Paksa Naura dengan senyuman sumringah.


Dengan rasa penasaran yang sudah menjulang, Dokter Alexa mulai membuka amplop tersebut. Membacanya dengan sangat teliti, dari atas hingga selesai. Matanya membelalak lebar, ketika menemui kalimat yang sangat membuatnya tercengang. Sebuah permohonan maaf kepada nya dari pihak Rumah Sakit karena telah memutuskan hubungan kerja secara sepihak. Padahal, kesalahan tidak sepenuhnya ada pada dokter Alexa. Bahkan, pihak Rumah Sakit menyatakan bahwa semua yang terjadi adalah kesalahpahaman semata, mereka juga meminta agar dokter Alexa kembali bekerja sama dengan pihak Rumah Sakit. Melayani orang-orang yang membutuhkan, sesuai apa yang ia cita-citakan semenjak kecil.


"Dek, kamu jangan bercanda ah. " Dokter Alexa meletakkan surat itu di atas meja. Ia langsung menegur Naura, karena tidak percaya jika surat itu benar-benar dari pihak Rumah Sakit. Dokter Alexa ingat betul, bagaimana waktu itu kepala dokter mengusirnya. Mengatakan semua kesalahan ada padanya. Ia ingat betul bagaimana kejadian itu. Jika memang semua kesalahan, pihak dari korban tidak akan menindas nya dan memakinya dengan kasar bukan ?


"Kakak ini gimana sih ? Itu stempel Rumah Sakit kan kak ? Memang ada yang punya sama persis ?" Jelas Naura meyakinkan.


"Jadi ini benar-benar dari Rumah Sakit ?" Tanya dokter Alexa lagi meminta keyakinan yang lebih.


"Benar kakak. Ini dari Rumah Sakit. Dokter Liem sendiri yang mengantarnya kemarin sore, " Sahut Naura seraya tersenyum lebar. Meskipun awalnya ia kaget ketika tiba-tiba dokter Liem memberikan surat panggilan itu, tetapi Naura lebih bisa menangkapnya dari sisi positif. Ia bisa memikirkan se-keruh apa perasaan yang dokter Alexa rasakan waktu itu. Ia juga harus menutup-nutupi dari Febi dan Naura agar tak membuat mereka merasa kecewa atas kegagalan yang sedang dokter Alexa terima.


"Ya Allah, " dokter Alexa menutup mulutnya. Air mata haru kembali mengalir bebas di kedua sudut matanya. Tangisnya menjadi, tapi bukan lagi tangisan sedih. Ia sedang bersyukur, dan merasakan bahwa Allah begitu dalam menyayanginya. Padahal, ia sering lupa waktu, dan sering absen dari ibadahnya. Ia juga sering pura-pura tidak mendengar suara adzan yang berkumandang ketika sedang sibuk bekerja.


Naura memeluk kakaknya, mereka sama-sama menangis dalam rasa senang. Bersyukur dengan hikmah di balik musibah nya. Semua akan menjadi pelajaran yang berarti untuknya. Ia berjanji, bahwa ia akan bekerja dengan sungguh-sungguh. Tak akan lagi mencampur adukkan masalah pribadi dengan pekerjaan. Ia juga berjanji, akan lebih profesional lagi ke depannya. Semua yang terjadi dengan dirinya, tak akan sedikitpun mempengaruhi kuantitas nya dalam bekerja.


Febi mengintip dari balik tembok yang membatasi ruang keluarga dan ruang tamu. Ia berdiri di sana, menahan tangis haru karena melihat kebahagiaan anaknya. Sebenarnya, ia menyesal telah berlaku kasar dan seenaknya sendiri di tengah masalah besar yang menghujam jiwa dokter Alexa. Namun, ia tidak ingin menjadi seorang ibu yang gagal mendidik. Ia tetap ingin anak-anak nya patuh dengan aturan yang ia buat. Ia tidak suka kebohongan, sekalipun itu untuk membuatnya tidak kecewa.


"Bilang sama mama, kakak berangkat ya dek." Dokter Alexa meninggalkan kecupan di pipi Naura. Lalu segera bergegas pergi dengan mobilnya.


Tujuan utamanya bukanlah Rumah Sakit, ia memutuskan untuk memulai kerja kembali hari esok. Rasanya tidak sopan sekali jika ia tidak mengatakan apapun kepada Keysha. Makanya, ia berniat untuk menjumpai sahabatnya itu terlebih dahulu. Membahas surat panggilan itu, dan meminta saran kepada Keysha. Karena untuk sekarang, hanya perempuan itulah yang mengerti kondisinya. Tidak hanya itu, Keysha juga sangat bisa memahami dengan karakter dokter Alexa yang kadangkala berubah pesat. Intinya, Keysha sangat memahami isi hatinya.


Perjalanan yang ia tempuh tidaklah lama. Hanya butuh sepuluh menit untuk sampai di kediaman Keysha. Padahal ia tidak tahu posisi Keysha sekarang, tiba-tiba saja hatinya menuntun langkahnya untuk datang ke rumah mewah Keysha.


Dokter Alexa segera turun dan bergegas mengetuk pintu. Tidak lama, Mbok Darmi sudah menyambutnya dengan senyuman khasnya. Senyum yang menunjukkan beberapa giginya yang sudah lepas. Perempuan paruh baya itu mempersilakan masuk dan mengatakan jika Keysha dan Sandy masih berada di rumah. Mereka memang berencana mengambil libur untuk beberapa hari ke depan. Bersamaan dengan hari libur sekolah Allan dan Lena.


Dokter Alexa langsung menjatuhkan tubuhnya di dalam pelukan Keysha begitu Keysha menemuinya di ruang tamu. Lagi, lagi ia meneteskan air mata karena tak kuasa menahan rasa haru yang berbinar di dalam hatinya.


"Kamu kenapa Lex ? Ada masalah lagi ?" Tanya Keysha mulai cemas. Ia merasa heran bahkan kebingungan dengan kedatangan Dokter Alexa.


"Tidak Key, " ucapnya seraya menggeleng pelan.


"Lalu ? Kenapa kamu menangis ? Mamamu masih marah ? Atau Reno lagi ?" Keysha memberondong dokter Alexa dengan rentetan pertanyaan yang ia duga.


"Tidak, tidak..." Dokter Alexa segera menghapus air matanya. Ia tak ingin membuat Keysha semakin salah paham dengan tangisannya itu. "Ini Key..." ia menyodorkan selembar kertas yang ia bawa-bawa dari tadi.


Dengan ragu, Keysha mulai membaca tulisan panjang yang tercoret di atas kertas itu. Membacanya satu persatu kata dengan sangat teliti. Ekspresi nya tak jauh beda dengan ekspresi wajah dokter Alexa ketika pertama kali membaca tulisan itu. Ia membelalakkan mata, lalu mengulangi membacanya untuk membuat hatinya lebih yakin.


"Ya Allah Lex, ini sungguhan ?" Tanya Keysha dengan mata yang berbinar. Dokter Alexa hanya mengangguk seraya tersenyum penuh arti. Kemudian, keduanya saling bertautan dalam dekapan hangat. Mengungkapkan kebahagiaan yang tak terhingga.


"Allah mendengar doa-doa mu Lex. Aku turut senang dengan kabar ini..." Seru Keysha, ketika ia melepaskan pelukan itu. Di genggamnya jemari lentik sahabatnya itu, untuk memberikan dukungan dan dorongan semangat yang lebih tinggi.


"Ini juga karena doamu Key, " serunya kemudian kembali merangkul tubuh hangat sang sahabat.


"Hemm..." Sandy yang baru datang bersama Allan dan Lena berdehem. Membuat kedua perempuan itu melepaskan pelukannya dan sama-sama mengusap air matanya. "Sepertinya ada yang lagi seneng ya ? Eh, atau sedih ? Kok nangis ?" Tanya Sandy dengan ekspresi wajah heran. (Sebenarnya Sandy tahu apa yang terjadi, tetapi ia berpura-pura tidak tahu. Ia juga yang meminta pihak rumah sakit untuk memanggil Dokter Alexa kembali, dan mengatakan semua adalah kesalahan pahaman. Itupun, semua berawal dari paksaan Reno. Laki-laki itu, tak ingin melihat wanitanya kesusahan mencari pekerjaan untuk menanggung beban keluarganya )


Dokter Alexa dan Keysha kompak terkekeh geli.


"Ini kak, Alexa dapat surat panggilan dari Rumah Sakit lagi. Kata pihak rumah sakit, mereka meminta maaf atas kesalahan yang terjadi. " Seru Keysha memberikan penjelasan.


"Wah ? Bagus itu. Memang seharusnya seperti itu. Dokter Alexa sangat hebat, banyak juga pasien yang selamat atas jasanya. Masak hanya karena hal sepele di buang begitu saja. " Jawab Sandy meyakinkan.


"Jadi, sudah tidak lanjut nih belajar jadi desainer nya ?" Goda Sandy.


"Ha ha ha, aku akan tetap melanjutkan jika ada hari libur atau jam kosong. Menggambar itu menyenangkan, mana mungkin aku tidak tertarik lagi. " Sahut dokter Alexa.


"Oh ya, kata mbok Darmi, kalian cuti beberapa hari ke depan ? Ada apa?" dokter Alexa mengalihkan topik pembicaraan. Ia menautkan salah satu alisnya, ketika berhasil melontarkan rasa penasaran nya.


"Iya Lex, mumpung anak-anak liburan. Aku mau mengajak mereka ke Villa. Kamu mau ikut ?" Keysha menawarkan ajakan kepada Dokter Alexa. Liburan kecil yang mereka rencanakan dalam satu malam. Rengekan dalam yang baru saja Allan aksi kan cukup mengetuk dasar hati Keysha. Ia memang merasakan jarak yang semakin jauh di antara mereka. Meskipun setiap hari melihat, meskipun raga mereka tinggal dalam satu atas, tetapi akhir-akhir ini sangat jarang ditemui canda tawa di antara mereka.


"Ikut saja tante..." Ungkap Allan dengan wajah sumringah.


"Iya tan, ikut yuk." Imbuh Lena.


"Tuh Lex, anak-anak pasti senang kalau kamu ikut. Cuma dua hari tiga malam kok, tidak lama. " Sahut Sandy yang turut mendesak dokter Alexa agar segera mengiyakan bujukan itu.


"Ya sudah, aku pulang ya Key. Aku harus segera ke rumah sakit. " Pamit dokter Alexa seraya beranjak dari sofa. Ia mengulurkan tangan, sebagai wujud terima kasih yang tak terhingga.


Keysha menyambutnya dengan gembira, ia membalas senyuman hangat yang dokter Alexa bingkis kan sesaat sebelum keluar dari rumah.


"Tidak perlu mengantar sampai depan. Nikmati saja family time kalian." Dokter Alexa mengedipkan sebelah matanya. Lalu bergegas pergi dan menarik gagang pintu untuk menutupnya.


Ketika langkahnya telah sampai di samping mobil, jantungnya berdegup kencang. Nafasnya terdengar tak beraturan. Sorot mata yang memudar, kini saling bertemu dengan pandangan pilu Reno yang ternyata juga di sana. Reno baru saja sampai, dan baru turun dari mobilnya. Ia mematung karena terlena dengan aroma wanitanya, ah bukan ! mantan wanitanya.


"Ha..i...Lex...".Sapa Reno ragu-ragu. Ia melambaikan tangan lemas, karena merasa minder dan takut jika salamnya tak menemukan jawaban.


Dokter Alexa tersenyum getir lalu menjawab dengan suara lirih "ha..i...Ren..."


Mereka sama-sama terlihat canggung dan salah tingkah sendiri. Merasakan ketidak nyamanan karena permasalahan yang memberi jarak di tengah-tengah mereka.


"Duluan Ren, " Dokter Alexa bergegas pergi. Ia sudah menenggelamkan diri di dalam mobilnya, dan segera melesat cepat membelah jalanan.


"Tak mengapa jika senyuman itu belum lagi mengembang tulus ketika tersentuh dengan salam sapa ku. Tak masalah, jika kamu masih berusaha keras membatasi diri dan menjauh untuk tak terlibat apapun denganku. Alexa, mengertilah, aku masih sangat dalam mencintaimu. Akan ku pastikan hidupmu aman-aman saja, dan berjalan sesuai kemauan mu. Meskipun kau tidak tahu, meskipun tanpa ada yang menyaksikan aku berjanji, aku akan menjagamu dari kejauhan.." Gumam Reno begitu pandangannya jauh mengikuti arah mobil dokter Alexa menghilang. Terbenam di balik tembok besar, yang memberikan batasan antara rumah dan jalan.


"Mau lihatin pagar sampai karatan ?" Sandy menepuk bahu Reno, membuatnya terkejut dan berdecak kesal.


"Ha ha ha, " Sandy tertawa lepas begitu mendapati ekspresi wajah Reno yang kebingungan. Tampaknya, ia sedang berusaha menyembunyikan sesuatu. Terlihat dari caranya menyeret kaki menghindar dari tempatnya berdiri.


"Ada Alexa ya..." tutur Sandy seraya menepuk-nepuk punggung Sandy.


"Apa yang kamu bicarakan ?" Tanya Reno geram.


"Alexa baru saja dari sini, kalau bukan dia, siapa lagi ya bisa membuat matamu hampir lepas seperti itu ?" Sandy masih senang menggoda sahabatnya itu. Meskipun di sambut ketus dan jawaban dingin oleh Reno.


"Om Reno mau ikut ke butik ?" Tanya Lena dengan wajah sumringah. Ia berlarian dari dalam, karena senang melihat kedatangan Reno.


"Ke butik ? Kalian mau ke butik ?" Reno menatap Keysha dan Sandy bergantian. Ia sama sekali tidak mengetahui tentang rencana liburan itu.


"Iya Ren. Dua hari saja, " tutur Keysha seraya beranjak menuju ke dapur.


"Terus gimana kelanjutan Shinta ?" Reno menaikkan nada bicaranya. Bola matanya berputar mengikuti Sandy dan Keysha yang sibuk sendiri-sendiri.


"Aku pastikan hari ini selesai. " Sahut Sandy yakin.


"Yang benar saja ? Kau sama sekali tidak memberikan kabar setelah mengutus anak buah mu. Bagaimana bisa hari ini selesai ?" Gertak Reno tak yakin.


"Sudahlah, tenang saja. " ucap Sandy.


"Om Reno ayo main..." Panggil Allan.


"Iya Om, ayo dong, " Imbuh Lena.


Dengan langkah gontai, antara mau dan tidak, Reno memaksakan diri untuk menghampiri Allan dan Lena. Menyapa kedua bocah itu dengan lembut. Reno duduk bersimpuh di atas karpet kecil bersama dengan Allan dan Lena. Memainkan robot-robot kecil yang sangat Allan gemari.


*****


Shinta mabuk berat hari itu. Padahal hari masih siang, tetapi ia memilih menghabiskan waktu untuk menyesap minuman alkohol di Club malam milik Vino. Shinta juga memaksa teman lelakinya itu untuk membuka Club Malam sejak siang. Melantunkan musik disko yang mengoyak telinga.


Ia tak peduli dengan rengekan Vino yang memintanya menyudahi minumnya. Merebut dengan paksa gelas yang masih terisi penuh dengan alkohol. Cherry yang juga berada di sana, sesekali ikut meneguk untuk menuruti nafsunya. Ia sangat ingin menyesap sekian gelas seperti yang Shinta lakukan, tetapi apa daya ? Cherry terlalu lemah untuk melakukan itu. Ia mudah mabuk dan berat mengontrol diri jika sudah terjamah dengan kejamnya alkohol.


Mereka bertiga tidak menyadari jika laki-laki yang duduk santai di sebelahnya adalah mata-mata yang Sandy kirim. Dia yang juga memesan minuman, tak tampak meragukan karena tampilannya yang cukup meyakinkan.


Laki-laki kekar itu sudah menyalakan penyadap suara di kantong jaketnya. Merekam obrolan siapapun yang dekat dengannya.


"Kamu sudah yakin Reno akan menikah denganmu ? " tanya Cherry seraya meraih setengah gelas kecil wine yang baru saja di tuang oleh bartender.


"Ha ha ha, " Shinta sudah mabuk berat. Ia menyahuti pertanyaan Cherry dengan tawa ringan yang cukup panjang.


"Kamu tidak lihat berita ? Pernikahan nya bersama dokter itu hancur. Sudah pasti ia akan segera meminang ku. " jawab Shinta yakin.


"Heh, yakin sekali. " Cherry memutar bola matanya. Ia lebih pesimis di bandingkan Cherry. Baginya, tak hanya hitungan hari waktunya yang telah ia lewatkan bersama Reno dan Sandy. Ia masih ingat betul bagaimana perlakuan kejam mereka berdua jika kenyamanan hidupnya mulai terusik. "Bagaimana jika justru, Reno sedang merancang cara untuk membunuh mu ?"


Mendengar itu, Shinta langsung batuk karena tersedak minuman. Ia tak berpikir sejauh itu sebelumnya, sehingga ia di buat kaget ketika ada yang menjejali nya dengan pertanyaan konyol seperti itu.


"Apa maksudmu ?" Gertak Shinta sinis.


"Ah, sudahlah ! Lupakan !" sahut Cherry cepat. "Memangnya bayi itu benar-benar anak Reno ?" Tanya Cherry lagi. Kali ini nada bicaranya lebih tertekan ke dalam. Ia sangat penasaran dan berusaha untuk mencari tahu mengenai kebenarannya.


"Ha ha ha ..." Lagi, lagi Shinta di buat tertawa lepas. Suaranya mengggelar, bersahutan dengan suara bingar musik yang bermain. " Jelas bukanlah ! Aku sudah telat hampir tiga bulan, sementara aku dan Reno belum lama tidur bersamanya. " Sahut Shinta memberi pengakuan.


Ia mulai membuka cerita. Mengatakan apa tujuan utamanya menuduh Reno sebagai bapak biologis dari janin yang ia kandung. Kekuasaan nya yang tinggi, di tambah namanya yang sudah melegenda pesat di dunia bisnis, tentu akan membuatnya mudah mengejar mimpi-mimpi nya jika ia berhasil menggaet nya untuk menjadikan dia suaminya. Sejak kecil, Shinta selalu bermimpi untuk menjadi model kelas atas. Ia juga senang berakting sendiri sejak kecil. Makanya, Reno adalah jalan yang tepat untuk menuntunnya sukses. Meskipun harus lewat jalan kebohongan yang besar.


Setelah Cherry dan Shinta selesai berbicara, laki-laki kekar tadi segera melakukan transaksi pembayaran lalu bergegas pergi menjauh dari keramaian Club tersebut.