
Reno mematikan suara bising musik yang memecah pendengaran ketika mobil telah terparkir di halaman cafe. Ia mengemasi barang pribadinya sebelum memutuskan untuk keluar.
Ia mengerutkan kening tatkala melihat arah luar. Ada seorang wanita yang menapaki langkah dengan wajah sumringah. Senyumnya tergambar dengan jelas meskipun dia hanya berjalan seorang diri. Tangannya sibuk memainkan ujung rambut panjangnya seraya terus melangkah dan menghilang di balik mobil. Ia menutup pintu dengan cepat lalu segera bergegas mengemudikan mobil nya.
"Cherry ? sudah seperti setan saja gentayangan dimana-mana." Reno tersenyum masam. Tidak banyak berpikir buruk tentang wanita itu, ia kembali melanjutkan aktivitasnya lalu segera turun dari mobil.
Reno mengayun langkahnya dengan pasti. Menelusuri jalan melewati pintu utama cafe. Ia berhenti di sana, menoleh ke kiri dan ke kanan mencari kursi yang tampak kosong dan menenangkan.
Kembali lagi, ia di buat tertegun saat matanya menemui hal yang tidak terduga sebelumnya. Matanya mengawasi dengan sangat arogan, jemarinya mengepal kuat, bahkan hentakan kakinya menunjukkan emosi yang tengah menguasai dirinya.
Reno terus berjalan ke arah sudut ruangan. Ia menghampiri seorang wanita yang tampak frustasi dengan tangan yang menekan kencang kepalanya. Ia berulang mengacak-acak rambut indahnya, lalu mendongak dengan wajah yang semrawut. Seharusnya, ada hal yang sangat menekan jiwanya. Dan itu sangat bertolak belakang dengan gelagat yang Cherry tampilkan sebelum ini.
"Rencana apa lagi yang sedang kamu dan Cherry susun untuk menjatuhkan mantan sahabatmu ?" Suara Reno terlontar dengan sangat lantang. Tidak hanya wanita di hadapannya yang tersentak kaget dengan suara yang datang secara tiba-tiba. Banyak pelanggan yang tertarik untuk menoleh, memperhatikan sumber suara yang bernada arogan melayang hebat di udara.
"Reno ? apa maksudmu ?" Wanita itu memiringkan kepala, melempar kembali tanda tanya karena memang dia tidak paham dengan apa yang Reno ucapkan.
"Hahaha ...kamu sungguh semakin hebat Rania. Sepertinya kamu tidak salah memilih guru untuk bersandiwara." Reno tertawa lepas. Dia bertepuk tangan memuji jawaban Rania yang di anggapnya sebagai bagian dari sandiwara nya.
"Sandiwara ? kamu bicara apa sih Reno ? Aku benar-benar tidak paham maksudmu !" Rania mengangkat tubuhnya. Ia bangkit dari kursi yang telah lama menopang tubuhnya. Menjadi sandaran dari ribuan teka-teki dan proses yang menekan paksa di penjuru otak dan logikanya.
Wanita itu tampaknya sedang sangat kesal. Ia tidak peduli dengan Reno yang terus melayangkan kalimat bernada ledekan dari arah belakang. Ia meneruskan langkah kakinya, segera bergegas keluar dari cafe setelah menyelesaikan pembayaran dari menu yang telah di pesan.
"Harusnya dia marah, kenapa malah pergi ?" Reno menyipitkan matanya. Ia tidak percaya dengan sikap yang diambil oleh Rania. Berusaha tetap acuh walau wajahnya telah memerah terbakar emosi. Dia tidak menggubris setiap kata pedas yang tersembur bebas dari bibir Reno. Mengacuhkan begitu saja, memastikan langkahnya sempurna hingga keluar dari cafe.
Reno menyeret langkahnya, mengikuti Rania secara terbuka. Tanpa mengendap-endap agar tidak di ketahui oleh sepasang mata di depannya. Ah, biarlah justru yang di butuhkan sekarang hanya sebuah kejelasan yang menjawab pertanyaan yang tidak tertulis.
"Reno untuk apa kamu mengikuti ku ? Apa kamu belum puas meledekku ? Menghina dan mencemoohkanku di depan umum seperti tadi ?" Rania menghentikan langkahnya. Ia tidak menoleh, tetapi batinnya kuat mengatakan jika laki-laki itu sedang menaruh curiga dan terus berjalan di belakangnya.
Reno beralih dengan posisi tegak. Langkahnya kembali biasa dan terus maju mendekati Rania. Ia memutari tubuh wanita itu, memperhatikan setiap jengkal tubuhnya bahkan mengawasi aroma tubuh yang benar-benar mengusik kecurigaannya.
"Jujurlah Rania kau sedang merencanakan apa bersama Cherry ? Apa kau tidak kasihan terhadap Keysha ? dia sangat baik terhadapmu kenapa kau malah tega mengkhianati rasa percaya dan harapannya kepadamu ?" Reno berbicara dengan serius. Pelan-pelan melontarkan ribuan kalimat tanya yang menyibukkan otaknya merangkai. Tidak ada celah untuk mencari alasan, Reno memberondong Rania dengan tanda tanya yang mengusik. Wajah kedua insan itu berjarak sangat dekat, membebaskan Reno untuk menatap tajam dengan sorot penuh ancaman di sana. Menutup rapat setiap pintu yang berusaha melarikan diri. Ya, Rania tidak akan dengan mulus mengucapkan kalimat yang bernada kebohongan jika Reno mengincarnya tanpa melepas sejengkal dari tubuhnya.
"Sudah ku katakan dari tadi jika aku tidak merencanakan apapun bersama Cherry ! Aku tidak sedang menemuinya ... kenapa kamu memaksaku mengakui hal yang tidak ku lakukan ?" Jawab Rania dengan geram. Kata-kata yang terucap tidaklah kata yang bernada alasan. Dia sangat tegas mengucapkannya seolah-olah memang semua yang dia katakan adalah benar. Tidak ada pembelaan di sana, bahkan sekedar a atau i hanya untuk bersembunyi dari rasa bersalah.
"Rania, kemarin kamu bisa bermanis dan membuat Keysha kembali terlena dengan pesona mu. Bahkan, kamu hampir bisa menjerat Sandy untuk ikut percaya dengan sandiwara mu yang berpura-pura baik . Lalu alasan apa yang bisa menguatkan kepercayaan ku jika kau tidak sedang terlibat dengan rencana licik yang sedang Cherry susun ?" Reno berbicara dengan sangat pelan, menekankan kata dengan rasa kesal dan kesabaran yang kian memuncak. Wajahnya semakin dalam menatap, benar-benar kehilangan kendali untuk kembali mengontrol amarahnya yang mengetuk dada dengan keras.
Tidak peduli dengan benturan pohon yang di dapatkan Reno, ia tetap menghentakkan kaki, menapaki jalan untuk kembali mengayun kaki menuju mobilnya.
"Jika kau tidak terlibat, kenapa wanita licik itu keluar dari cafe dengan wajah yang sumringah ? Dan kau ....kau sedang berada di dalam Rania. " Reno berteriak keras, kembali lagi membungkam langkah Rania. Perempuan itu terhenti tanpa menoleh, sedikit tercengang dengan pernyataan Reno.
"Dia...." Rania menunduk dan memejamkan mata. Ia menarik nafasnya dalam sebelum kembali melanjutkan kalimatnya. "Dia menemui tante Lita dan Shinta." Rania sudah menghilang di balik pintu mobil. Ia dengan cepat menginjak pedal gas dan melajukan mobil dengan kecepatan tinggi. Berusaha menghindar, mengistirahatkan hati dari tekanan-tekanan yang datang tanpa permisi. Membiarkan laki-laki itu berdebat dengan jiwanya, memutar otak untuk meyakini apa yang Rania senandungkan.
Reno tercengang, ia membuang pandangan di antara pijar kakinya. Berlama di sana memikirkan hal yang tidak terduga sebelumnya. Ya , jika apa yang Rania ucapkan adalah hal benar, tentu saja Cherry telah semakin gila dengan rasanya. Ia semakin buas dan liar memainkan peran.
"Tante Lita dan Shinta ? Dari mana Cherry mengenal mereka berdua ? Bukanlah selama ini Keysha terkenal hanya tinggal bersama ayahnya sebelum ia berhasil menemukan tante Yeni ?" Reno bergumam seorang diri. Ada sedikit percaya yang menonjolkan diri, namun lebih dominan dengan pemikiran buruk jika apa yang Rania katakan hanyalah sebuah selingan untuk beralasan.
"Ah mana mungkin...." Reno memutar tubuhnya. Mengibaskan tangan ke arah jalan yang membiarkan laju mobil Rania melesat dengan cepat. Laki-laki itu kembali lagi ke dalam cafe, mengembalikan arah pada tujuan awal dia datang ke sana.
-------
beep beep
Ponsel Keysha bergetar, menampilkan kedipan cahaya yang mengisyaratkan panggilan masuk. Tertera gambar hati dengan inisial nama berhuruf A . Wajah serius yang fokus dengan tampilan data dari laptopnya berubah sumringah. Ia segera menyambar ponsel lalu meletakkan di hadapannya setelah menarik tombol berwarna hijau .
"Assalamualaikum anak-anak mama...." Sapa Keysha ramah. Ia tersenyum lebar melihat ke arah layar ponsel yang menampilkan wajah kedua anaknya.
"Wa'alaikum salam mama...." Jawab mereka kompak.
"Kalian sudah pulang sekolah ya ? Bagaimana belajar nya hari ini nak ?" Sambung Keysha masih ramah. Hatinya ikut bersorak melihat Allan dan Lena yang saling berebut tempat. Bersenggol-senggolan agar terlihat lebih jelas di layar.
"Hari ini senang ma....belajarnya menyenangkan. " Celetuk Lena cepat. Ia membungkam mulut Allan yang belum jadi berucap.
Tingkah kedua bocah itu selalu menjadi penghibur di tengah-tengah rasa penatnya. Perihal pekerjaan di tambah dengan masalah yang tidak kunjung selesai dari hidupnya.
Mereka bercengkrama beberapa menit sebelum akhirnya Allan berinisiatif menyudahi. Ia paham jika Keysha sedang bergelut dengan banyak pekerjaan. Tidak ingin terlalu lama mengganggu, setelah mengingatkan agar Keysha makan tepat waktu Allan menutup sambungan telepon. Ya, tentu dengan cara dan bahasanya yang menggemaskan.
Keysha menggeleng kepala ringan, terharu dengan anak-anaknya yang saling menyayangi. Mereka selalu memiliki cara unik untuk menyampaikan perhatian yang tersirat di dalam hati mereka.