
Tuhan terima kasih untuk setiap bingkisan kecil yang Engkau berikan..
Ku menikmati setiap proses yang telah Kau siapkan untukku ..
Setiap tawa yang Kau bungkus rapi dengan derita..
Tuhan, aku bahagia kali ini**......
Mereka membaur dalam hiruk pikuknya suara tawa. Bersaut ria dalam gelombang candaan. Ketukan suara sepatu yang senada, kini terdiam di balik pintu kaca. Tergambar dengan jelas, wajah wanita cantik yang memandang tanpa ekspresi.
"Wanita itu ngapain dia di sini?" Ketus Sandy yang langsung berwajah tidak suka melihat kedatangan Cherry.
"Bukannya dia sakit?" Key mengernyit, mulai tak yakin dengan cerita yang dia dengar dari lelakinya.
"Sakit?" Reno terperanjak, matanya membelalak. Seolah tidak mengetahui hal yang semalam terjadi. Ah, memang dia tidak tahu.
"Akan ku kirim dia kembali ke rumah sakit" Ucap Sandy dengan garang, kini dia hendak melangkah dengan tangan berkacak pinggang.
"Kak Sandy kita bisa bicara kan baik-baik. Kau tidak perlu berperilaku kasar terhadapnya" Wanita yang dulu sangat ketus terhadap Sandy, kini bisa berubah menjadi wanita lemah lembut. Ah, entahlah! Mungkin dulu hanya lah cover nya untuk dia melihat, orang-orang yang benar-benar menyayangi dia dengan tulus.
Cherry memberanikan diri melangkah masuk, menyibak pintu kaca yang menghalanginya. Kupikir semua akan bentrok dan melempar kata yang membela diri. Ternyata tidak! Justru ruangan itu, menjadi hening tanpa suara. Dengusan nafas dari masing-masing lah yang terdengar pelan.
"Cher, bukankah janji kita ketemu di luar?" Reno membuka obrolan, memecah heningnya suasana yang menyelimuti.
Wanita itu mengehela nafas nya berat, mengukir senyum di sudut bibirnya.
"Iya Ren. Aku cuma mau bilang makasih saja sama Sandy." Wanita itu memang pandai dalam berakting. Berperanenjadi sosok yang anggun dan kalem. Kali ini dia bicara penuh penghayatan.
"Kamu habis disuntik apa sama dokter, ngalem gitu?" celetuk Sandy, dia membuang muka dan enggan menurunkan kedua tangannya.
"Ini maksudnya apa sih, kamu sakit Cher?" Reno memutar bola matanya, bergantian menatap satu persatu dari ketiga manusia yang berdiri di depannya.
Drrt drrttt
Key melirik layar ponselnya, alisnya kini terangkat sebelah . Wajahnya berubah menjadi masam sebelum mengangkat telponnya.
"Iya ma? Kenapa?"
" mama ngga lagi bohongin Key kan?"
"iya, Key ke.sana sekarang"
Key menutup ponselnya, dia bergegas dan kembali ke deket Sandy. Terlukis raut kesedihan di antara gambar senyumannya.
"Sayang, ada apa?" Sandy mulai khawatir, dia merunduk untuk menatap jelas mata sang istri. Tangannya pun lembut meraih lengan Key.
"Aku harus ke rumah ayah kak. Jadi sorry banget aku ngga bisa ikut makan siang." Key menarik nafas berat, ada beban yang bersembunyi di balik senyum anggunnya.
"Aku ikut. Sorry Ren, kali ini kamu makan berdua saja sama Cherry." Sandy memegangi lengan wanitanya, ditariknya perlahan untuk segera keluar dari ruangan.
"San, tapi aku gimana?" protes Reno yang tak lagi di indah kan oleh Sandy. Pria itu ngedumel tanpa lawan, dia menjatuhkan tubuh kekarnya kembali ke atas sofa.
"Rencana buruk apa lagi yang sedang kamu rancang?" Reno berkata dengan sinis. Dia menatap wanita yang berdiri tanpa suara itu dengan jeli. Reno sangat beda memperlakukan Cherry dengan saat di depan Sandy. Kini, dia mengangkat kembali tubuhnya, berjalan memutar seolah hendak menaklukkan Cherry. Bukan tentang hati nya, melainkan tentang hal yang ingin Cherry rencanakan. Wanita itu tetaplah wanita licik yang tak puas dengan satu ulahnya.
"Aku tahu kamu yang bikin Rania begitu membenci Keysha. Aku juga tahu, kamu semalam itu tidak benar-benar pingsan!" Reno berbicara di depan telinga Cherry. Memang sangat pelan, namun dia menekan setiap kata yang keluar dari lidahnya.
"Kamu jangan ngarang ya Ren!" Wanita itu membela diri, di tunjuknya wajah Reno tepat di depan matanya. Nada bicaranya juga meninggi, dia kembali pada dirinya yang sesungguhnya.
"hahahaha! Cherry, Cherry, aku pikir 5 tahun kamu hidup di perancis bisa merubah sifat serakah kamu itu. Heh! Ternyata watak tetap lah watak!" Reno kembali berputar di sisi tubuh Cherry,. Tangannya sesekali bertepuk di sela-sela tawanya. Tatapannya juga meledek, bahkan tanpa bicara pun sudah tertebak hal yang ingin Reno katakan sorry Cherry, aku tak percaya. Kini Reno melangkah keluar ruangan. Ketukan sepatunya sangat lantang, menepis setiap bantahan yang berkecamuk dalam fikiran Cherry.
Ada fakta yang Ingin Reno ungkap, dia menahan untuk tidak berbicara di depan Sandy dan juga Key.