
"Sayang, ku mohon..." Tangis Sandy pecah. Ia tidak lagi peduli dengan mata-mata para karyawan yang menatapnya nanar.
Keysha kembali berlari, mengayun langkah semakin menjauh dari suaminya. Ia benar-benar rapat menutup telinga, tidak peduli dengan suara serak yang tulus memohon, tidak lagi menghiraukan suara hati yang melarangnya bertingkah layaknya gadis kecil.
"Sudah nak, biarkan Keysha tenang dulu. " Ketika Sandy bersiap untuk mengejar sang istri, tiba-tiba Yeni meraih pergelangan tangannya dari samping. Sandy tak menyadarinya, entah sejak kapan perempuan paruh baya itu menyaksikan drama percintaan secara live.
"Bunda ? Tapi..."
"Sudah. Biar bunda yang mengejarnya..."
Sandy hanya tertegun, menurut dan mengangguk ringan untuk mengiyakan ucapan Yeni. Perempuan yang telah melangkah lebih cepat dari sebelumnya, berlalu semakin menjauh memburu sang putri.
Sebenarnya, di dasar hati Yeni sendiri, ia begitu cemas dengan tingkah Keysha. Benar-benar di luar nalarnya. Perempuan baik hati itu, seolah-olah seperti sedang menjelma menjadi gadis cilik yang hanya mengiba pada belas kasihan. Berharap ada ceceran kasih sayang yang bisa ia dapatkan.
Sudah cukup jauh Yeni berjalan kaki, menengok pada kiri dan kanan jalan. Bertanya-tanya pada orang yang berlalu lalang di sana. Ia kembali lagi menyeret kakinya, semakin menjauh lagi, semakin tidak peduli dengan terik yang menyengat. Hatinya mulai risau, karena tak kunjung menemukan keberadaan Keysha.
hiks...hiks...hiks ..
Yeni tercengang ketika samar-samar ia menangkap ada suara sesenggukan yang mulai meraba di telinga. Tidak jauh dari titik kakinya berdiri. Ia menoleh ke segala penjuru, mencari-cari sumber suara yang begitu melekat dengan dirinya. Hingga, pada akhirnya, pandangan matanya terhenti di sebuah bangku yang menghadap pada danau yang membentang luas. Ia menemukan sosok perempuan yang duduk seorang diri di sana, termenung dan sesekali terdengar isak tangisnya.
"Bukankah itu Keysha ?" gumam Yeni. Kakinya ia seret berbelok arah. Perlahan menghampiri perempuan itu, lalu turut duduk di sebelah kirinya.
"Ketika kita mencintai sesuatu, seharusnya kita buka mata hati lebar-lebar. Tutup telinga rapat-rapat, dan dengarkan isi hati dengan jeli." Suara Yeni yang terdengar sendu, membuat Keysha segera mendongak dan menatapnya dengan sedih. Pipi yang masih basah, mata yang sembab karena tangis yang tidak mudah untuk ia kendalikan.
"Sudahkah kamu yakin jika kau mencintai Sandy setulus hatimu ? Kau yakin, jika kau mencintainya berdasar pada Lillahi ta'alla ? Atau karena nafsu ?" Imbuh Yeni. Ia terlihat sangat serius. Bahkan, mencondongkan tubuh untuk lebih dekat menatap wajah sang putri.
"Apa maksud bunda ?" Dengan nada manja, ia meluapkan keraguan hatinya. Tangannya perlahan mulai mengusap kedua pipi ranum miliknya.
"Tapi kak Sandy sudah keterlaluan bun..." Tangisnya mulai mewarnai kembali. Menghias setiap inci wajahnya dengan aura kesedihan. Mungkin, bayangan buruk itu masih jelas terlintas, hingga ia enggan berpikir tentang ketulusan yang Sandy miliki.
"Keterlaluan ?" Yeni mengulang kata Keysha untuk meyakinkan putrinya, jika apa yang ia lontarkan adalah bukan sesuatu yang tepat.
"Kak Sandy...kak Sandy dan Cherry...." Lagi dan lagi, ia semakin terisak dengan suara tangis. Mulutnya, hingga tak kuasa menahan diri untuk tak berekspresi secara berlebihan. "Mereka saling memeluk bun..." Perempuan itu menjatuhkan wajah. Merunduk, menatap pada rumput hijau yang terhampar di bawahnya.
Yeni tersenyum, ia sangat menghargai apa yang Keysha pikirkan. Bahkan, tidak langsung memberikan komentar yang sudah pasti akan menyudutkan anaknya.
"Sayang, apa kamu sudah yakin dengan apa yang kamu lihat ? " Yeni meraih pundak Keysha. Kali ini, ia merangkulnya untuk membawa ke dalam dekapan hangat tubuhnya.
"Keysha lihat sendiri bun, " ucap Keysha di sela tangisnya.
"Sayang, mata kita kadang bisa salah melihat. Cobalah, kamu percaya dengan hatimu. "
"Tidak bun. Keysha sudah yakin, jika kak Sandy dan Cherry memang melakukan itu." Keysha menggeleng, seraya berpaling dari tubuh sang bunda.
"Baiklah. Bagaimana kalau kita cek CCTV ?" ucap Yeni.
Keysha menatap Yeni tak yakin, tapi akhirnya ia mengangguk dan mengiyakan apa yang Yeni pintakan. Mereka sama-sama beranjak dari atas bangku taman, berjalan saling bergandengan dan menuju ke kantor Sandy lagi. Memang benar kata Yeni, semua akan baik-baik saja jika setiap masalah segera di bicarakan, di pikirkan dengan kepala dingin, dan di selesaikan dengan cepat.
"Ayo Key, kenapa kamu diam saja di situ ?" Yeni menoleh, menatap Keysha yang memilih berhenti beberapa langkah darinya.
"Keysha...hmm..."