
Sandy masih tercengang di depan ruangan Keysha, berdiri dengan tatapan heran, masih belum memahami drama yang ada di depan matanya. Ia memperhatikan dan menatap lekat pada punggung Reno yang mulai menjauh darinya. Menghilang dan tertutup tidak lagi terlihat di jajaran anak tangga.
Keysha keluar dengan tatapan nanar, matanya berbinar memenuhi pelupuk mata dengan kristal-kristal bening. Tatapannya juga tidak terlepas dari tangga yang Reno telusuri, berlalu meninggalkan butik Keysha penuh dengan rasa pilu.
Sandy berjalan menghampiri Keysha dengan langkah ringan, "Sayang, ada apa ?"
Keysha menggeleng-gelengkan kepala pelan, tidak bersuara selain membebaskan air mata untuk tetap mengalir bebas di kedua pipinya. Ia mematung di sana, berduka dan larut dalam kesedihan yang di rasakan Reno. Ia tahu, pria itu sedang bersedih, hancur bahkan terpuruk jatuh dalam lubang yang menelantarkan rasanya.
"Jangan nangis! " Sandy tetap menjadi laki-laki pertama penopang pilu Keysha. Menangkap tubuh yang sedang rapuh, melemah karena di landa kecewa kepada dirinya sendiri. Keysha membenamkan wajahnya di dada bidang milik suaminya. Bercurah tanpa suara yang menggetarkan dada, berkisah lewat isakan tangis yang semakin menggema dan terdengar pada setiap pasang telinga yang melintas di sana.
"Sudah, apapun yang terjadi tidak akan usai jika hanya kita tangisi, tenanglah aku akan membantu mereka apapun yang terjadi, " Sandy menangkap lengan istrinya, menggenggamnya kuat, menyalurkan semangat untuk tetap berdiri dan menopang rasa yang sempat ada. Memberi sebuah dukungan agar tidak menyerah dengan kata patah yang pernah menghancurkan.
Mungkin, hati yang sedang berkeping bukanlah milik Keysha, mungkin juga rasa yang bercecer tidak bisa bertempat pada tempatnya yang nyata bukan juga rasa Keysha. Namun, perempuan yang selalu mengutamakan orang-orang di sekitarnya bisa merasakan sebuah luka yang menjalar di antara mereka, sebuah kesalahpahaman yang tidak berdasar dengan jelas. Apalagi, dengan kata-kata yang bersembunyi dan enggan untuk di utarakan.
"kak Sandy kita pernah seperti ini, aku takut mereka merasakan hal yang sama. padahal, mereka belum memulai segalanya secara sempurna, " Keysha semakin tersedu, kembali menjatuhkan tubuh di dalam pelukan suaminya. Air matanya semakin sulit di kendalikan. Keysha semakin larut dengan situasi yang membawanya berlalu dan mengingat kenangan silam yang pernah melanda kisahnya.
"Sayang, kalau Tuhan mengizinkan Reno dan Dokter Alexa berjodoh, pasti mereka akan kembali di persatu kan, seperti kita dulu." Tutur Sandy dengan pelan. Ia membelai lembut kepala istrinya dari luar jilbab yang menyembunyikan kecantikannya.
"Tapi, kak Sandy seharusnya kita...."
"Shut ! Sudah, kita tidak bisa melawan kehendak Tuhan," seru Sandy memotong kalimat yang belum usai Keysha lontarkan.
"Kita yang sudah berumah tangga sama pasti ada salah pahamnya sayang, apalagi mereka yang baru melakukan pendekatan, Allah pasti menguji kesabaran mereka, " Imbuh Sandy, ia terdengar lebih dewasa menyikapi permasalahan yang Reno alami.
Manusia selalu memiliki rencana, Allah juga memiliki rencana bagi setiap hamba-Nya, dan apapun yang terjadi setelahnya adalah bagian dari rencana dan kehendak Tuhan, jadi memang sepatutnya sebagai seorang umat yang taat untuk menerima dan pasrahkan semua kepada Tuhan. Usaha sekuat apapun, doa selama apapun kalau Tuhan tidak izinkan, semua hanyalah menjadi butiran debu yang menghilang seirama angin menghembus. Menyapunya secara perlahan, membawanya pergi dan menghilang dari diri seseorang.
Mungkin, memang benar apa yang Sandy ucapkan. Setiap pasang insan yang memiliki rencana baik untuk hubungannya, akan menemui sebuah permasalahan yang akan menguji titik kuatnya, mengokohkan kesabaran hatinya, mempertebal keyakinan untuk kembali bertanya kepada hati dan jiwanya kembali. Dan hasil akhirnya, adalah campur tangan Tuhan Yang Maha Segalanya.
"Kak aku mau pulang, aku sangat lelah, " Keysha mendongak, menatap pilu kepada suaminya. Meminta dengan bermanja membuat semuanya tersenyum lalu menyentil hidungnya dengan gemas.
Keysha segera mengemasi barang-barangnya, berlalu meninggalkan butik bersama suaminya. Ia sengaja berpamit dan meninggalkan kunci utama kepada Nur, seorang karyawan biasa yang selalu ia yakini jika perempuan itu bekerja dengan jujur. Melakukan semua yang berhubungan dengan pekerjaan dengan hati, bahkan bersuka rela menawarkan tenaga secara cuma-cuma ketika pergantian shift telah berlalu.
"Jangan sedih !" Sandy yang memegang kemudi, masih sempat mencuri pandang untuk memastikan keadaan istrinya.
"Aku hanya teringat dengan Reno. " Keysha merunduk pilu, dan memainkan ujung-ujung kukunya. " Dulu waktu aku salah paham denganmu, Reno yang memaksaku agar aku mendengarkan semuanya. Dan, dia juga yang membuat kita bisa sama-sama seperti sekarang ini."
"Kita bantu dia, aku akan mencoba memikirkan cara yang tepat saat kita di rumah nanti, " Sandy tersenyum tulus, menghibur Keysha semampu yang ia bisa. Ia memang selalu kesulitan untuk merayu, apalagi harus membujuk dengan kata yang tak pernah ia kuasai bidangnya.
Sandy segera berlari kecil untuk menyamai langkahnya dengan sang istri. Berharap wanitanya itu telah diam dan bisa memposisikan diri. Menghapus segala masalah dan kondisi hati yang buruk di luar rumah. Menata diri, untuk menyapa kedua anak yang mulai tumbuh besar dan mengerti dengan berbagai macam ekspresi wajah manusia.
"Allandra, Allena....." Panggil Sandy ketika memasuki rumah. Dua anak itu tengah asyik bermain dakon di ruang keluarga bersama pengasuhnya. Bercanda ria, dan saling meledek lalu terkekeh bersama.
"Papa, mama, " Sahut mereka kompak tatkala menoleh pada sumber suara. Keduanya berlarian kecil menghampiri orang tuanya yang baru saja tiba.
"Kalian lagi main apa sih ? " Keysha berjongkok untuk memeluk Allan dan Lena secara bergantian. Begitu pula dengan Sandy, ia mengikuti perlakuan Keysha kepada kedua anaknya.
"Main dakon ma, " Jawab dua bocah itu kembali kompak.
"Memangnya bisa ?" Ledek Sandy
"Bisa dong, kan cus Rina yang ajarin, " Seru Allan dengan berbangga hati.
"Lena mau main sama mama sama papa, " Rengek Lena dengan logat nya yang sangat manja.
"Kita bikin dua tim saja, Lena sama papa, Allan sama mama, " Seru Allan, ia berteriak antusias dan menginginkan kedua orang tuanya setuju. Mengikuti apa yang menjadi kemauan keduanya.
"Ayolah ma, "
"Ayolah pa, "
"Please......"
Keysha tampak tersenyum lebar, lalu mengangguk mengiyakan usulan yang Allan ungkapkan. Melupakan segala permasalahan yang melelahkan hati . Membunuh penat yang menyiksa raga.
Mereka larut dalam permainan bersama, bersorak gembira dan saling melempar canda. Saling usil dan curang karena kemenangan tak kunjung tiba pada salah satu tim mereka.
"Ah, Allan curang...." Rengek Lena menunjuk pada Allan yang cengengesan karena menyadari jika dirinya telah melakukan pelanggaran-pelanggaran.
"Papa juga..." Protes Allan, lalu di sambut tawa oleh Keysha dan Sandy.
Hingga waktu sore, mereka tidak beralih dari ruang sama, permainan yang sama bahkan posisi duduk yang tidak bergeser sedikitpun. Keysha seolah-olah sedang terbius oleh tawa yang di senandungkan dengan riang oleh Allan dan Lena, terbuai dan melupakan semua yang baru saja menimpanya.