
Semalam suntuk dokter Alexa tidak memejamkan mata. Selalu terbayang-bayang dengan kalimat kotor yang secara lantang Reno teriakkan kepadanya. Penghinaan yang menancap dalam di dasar hatinya. Tiada aktivitas yang membuatnya lupa. Ia hanya duduk melamun di tepi jendela dengan bersanding beberapa kaleng minuman di sisinya. Meringkuk dengan memeluk kedua lututnya, sesekali ia membenamkan wajah di antara kedua kaki. Dokter Alexa hanya terus tersedu dalam isakan tangis yang menyiksa hatinya.
Merana dalam duka yang sejatinya dialah yang menyebabkan itu. Menciptakan sebuah permusuhan dari rasa cemburu yang memuncak. Menerka dengan angan, tanpa menurunkan ego untuk sekedar melontarkan tanya. Jika hari itu tidak ia lalui dengan amarah, mungkin Reno akan selalu bersikap manis padanya. Jika ia tidak melayangkan kalimat yang menyakitkan, bisa saja Reno tetap berusaha membujuknya ketika merajuk. Namun, drama yang ia pilih adalah sebuah cerita yang penuh kepiluan, menguras air mata, karena tidak kunjung mampu membimbing hati untuk kembali berdamai dengan situasi.
Sementara Reno selalu menampakkan tawa di atas sakit yang menyayat hatinya. Ia acuh, dan membiarkan rasa itu menemui obatnya sendiri. Menempuh sebuah jalan yang menyenangkan nafsu, tanpa peduli akhir dari sandiwara yang ia tampilkan.
Malam puncak dari segalanya, segala tekanan yang tidak menemui titik akhir. Sebuah drama sepele yang di tarik untuk memanjang mengisi ruang . Reno melepas penat dan larut dalam gelombang godaan yang menggelayuti tubuhnya. Menyeringai puas dan kembali menari di atas ranjang tanpa rasa bersalah.
"kak Reno kamu dimana ?"
Reno mengambil ponselnya yang sudah semalaman ia acuhkan. Tergeletak menjadi saksi bisu dari perbuatan yang membutakan mata batinnya. Berpura-pura tidak mendengar ponsel yang berulang kali bergetar memanggilnya.
"Kak....
"Hello kakak Reno ?"
"Kak, kamu dimana sih ?"
Baru menekan pada satu tombol, sudah memperdengarkan suara cempreng Audrey. Berteriak kesal karena panggilannya tidak cepat mendapatkan respon oleh Reno.
Reno tersenyum simpul, ia menekan tombol memanggil pada nama Audrey. Ia memasang headset yang sudah tersambung dengan ponsel di telinganya.
"Astaga kak Renooooo ! " Teriakkan keras Audrey cukup membuat telinga Reno panas. pria itu sedikit melenguh, berusaha menjauhkan telinga dari sumber suara. Ah, mustahil. Getaran suaranya sudah sampai di gendang telinga, bahkan tangannya terlalu sibuk dengan kemudi mobil mana sempat untuk menarik headset yang menempel di telinga.
"Audrey apa kau anggap aku ini sudah tuli ? Pelankan nada bicaramu !" Protes Reno ketus. Ia mengernyit tidak terima dengan tingkah Audrey yang tidak pernah dewasa saat berhadapan dengannya.
"Apa yang sedang kakak lakukan semalaman ?" Ucap Audrey dengan nada menyelidiki. Sebuah tanda tanya yang menggantung tertahan dengan kata yang akan terucap tapi tetap bisa di tahan olehnya.
"Apa ? Aku tidur semalam, lagian kenapa kau menelpon ku malam-malam ?" Jawab Reno mengelak.
"Tidur ? Kau mengangkat teleponku tapi tidak mau bicara sama sekali. Aku justru mendengar suara perempuan yang berbicara dengan nada menjijikkan, "Audrey terdengar bergidik ngeri. Tidak leluasa menyebut kalimat yang sangat pribadi baginya.
"Perempuan ?" Reno membulatkan mata, lalu membanting setir mobil ke tepi jalanan. Untunglah, keadaan masih sangat pagi, jadi tidak banyak kendaraan yang melintas di sana.
"Kenapa diam saja ? Jawab kak Reno !" Imbuh Audrey dengan tegas. Mengulang bentakan yang sangat berdasar dengan fakta.
"Shit ! Apakah perempuan itu menjawab telepon Audrey ketika aku terbius dengan tubuhnya ?" Gumam Reno di dalam hati.
"Telingamu saja yang terlalu bodoh, bagaimana mana bisa orang tidur mengangkat telepon ?" Reno menghela nafasnya pelan. Menutup diri dari gelisah dan rasa takut yang berdesis mengikuti arah darahnya mengalir.
Jemari tangan Audrey bergulir menyentuh bibir, masih ragu dengan jawaban Reno yang mengambang kaku.
"Ah sudahlah jangan bertele-tele, untuk apa kau menghubungiku ? Apa kau tidak tidur semalaman, sampai-sampai ngigau tidak sadar seperti itu ?" Reno tersenyum sinis. Tawa ringan singgah sekejap di bibirnya guna untuk meledek Audrey. Setidaknya, menekankan yakin pada hati gadis yang mrmbuat otak dan logikanya berpikir keras sepagi itu.
"Ngigau ? Benarkah aku ngigau semalam ? Tapi itu terasa sangat nyata..." Audrey masih bergumam lirih, bersenandung dengan suara yang sulit untuk di cerna.
"apa jangan-jangan kamu sendiri yang melakukan seperti apa yang kamu tuduhkan untukku ? Sepertinya kau sudah sangat hafal dengan suara menjijikkan seorang perempuan ?" Ucap Reno dengan nada meledek.
"Idih amit-amit " Audrey mengetuk-ngetukkan tangannya di atas meja.
Tut...tut...tut....
Audrey memutus sambungan telepon secara sepihak. Menyudahi percakapan yang memperpanjang waktu santai paginya. Mengurangi beberapa menit waktu yang seharusnya ia gunakan untuk menghias diri. Melukis di wajah dengan tarian tangan yang sangat lihai. Memoles dengan berbagai jenis alat make up yang selalu ia kenakan dalam kesehariannya.
Reno menghela nafas lega, sementara waktu aman dari pertanyaan yang melemaskan lututnya. Sebuah interogasi yang membuatnya menelan ludah terus-menerus. Entahlah, setelah kejadian yang masih sadar ia lakukan, membuat paginya hilang semangat. Sebuah adegan panas yang sangat menyita energi, menhadirkan gelisah yang mengetuk pintu hati.
Reno bergegas melajukan mobilnya, melesat tenang menuju rumah singgah Audrey. Tidak memerlukan waktu yang lama, Reno telah sampai di depan bangunan megah dan elegan yang tidak jauh dari posisinya terakhir.
Tiin (Suara klakson mobil)
Dengan berlarian ringan Audrey keluar dari rumah. Menghampiri mobil Reno lalu mendudukkan tubuh di bangku depan, di samping Reno.
"Kakak tidak mandi ?"
Bukanlah hal asing untuk Reno jika Audrey datang harus mendengar kata-kata protes yang tanpa basa-basi. Reno hanya berdengus, lalu menatap Audrey dengan pandangan yang menyengat.
"Ih mana tidak ganti baju juga, " tambah Audrey semakin kesal.
Shhttt
Reno menghentikan mobilnya tiba-tiba. Menginjak rem tanpa memberitahu sebelumnya. Audrey terdorong ke depan, menempel pada kaca mobil bagian depan.
"Ad....duh, kak Reno sakit, "protes Audrey seraya memukul lengan Reno setelah mampu menyeimbangkan kembali tubuhnya.
"Kalau kamu masih terus bicara, kakak tidak akan melanjutkan mobilnya. Minta saja pacarmu memgantar kemanapun kamu pergi, " ucap Reno lirih. Ia tetap duduk menghadap depan dan tangan yang tidak beralih dari kemudi mobil.
"Apa sih kak Reno, Audrey kan tidak punya pacar. " Audrey melipat tangannya. Bibirnya sudah ia tebalkan dengan cemberut.
"Begitu lebih baik, " bisik Reno lirih, ia memicingkan bibir lalu tersenyum sinis menghadap Audrey.
"Kak..." seru Audrey pelan.
"hmm..." Reno hanya berdehem, malas bersuara karena sudah berpikir bahwa topik yang akan Audrey tanyakan adalah suatu hal yang tidaklah penting.
"Apa dokter Alexa memang seperti itu sikapnya ? Judes. " Celetuk Audrey dengan penuh berani.
"Apa maksudmu ?" Reno menyeringai.
"Bukankah kak Reno memahami, bahkan kakak harus berpura-pura membencinya karena sikapnya yang terlalu kekanak-kanakan. " Sahut Audrey asal. Teringat jelas bagaimana cara dokter Alexa memperhatikan gerak-gerik nya selama berada di rumah Keysha kemarin.
"Sebenarnya..." tanya Audrey yang tampak ragu melanjutkan kalimatnya.
Reno menoleh, memperhatikan tingkah Audrey yang semakin serba salah sendiri. Aneh. Tidak ada yang menanyai atau bahkan memintanya mengatakan sesuatu yang menekan.
"Sebenarnya, kau mencintaiku ? " Reno tersenyum geli ketika matanya menatap langsung kedua bola mata Audrey.
"Ih amit-amit. " Jawab Audrey asal dengan wajah masam. Ia tidak ingin semakin membuat Reno merasa menang dengan kepercayaan diri yang tinggi karena Reno masih saja tersenyum geli melihat Audrey menjawabnya dengan sewot.