
Satu tahun terakhir, Sandy tidak merasakan hidupnya bisa se bergairah saat bersama wanita pilihan kedua orang tuanya. Kebersamaan dengannya hanya tinggal di angan, tidak ada lagi perjumpaan dan tempat yang mampu menyatukan keduanya. Bahkan, beberapa bulan terakhir dia juga tidak bisa menemukan keberadaan Yeni, ibunda Key. Hidupnya benar-benar hancur sekarang.
"Pa, aku besok ada tugas yang mengharuskan ke Bandung" Pinta Audry disela-sela sarapan mereka.
"harus nak?" Meera yang selalu merespon khawatir. Dia sangat menyayangi putri bungsu nya, dan berpisah jauh membuatnya merasa cemas.
"Mama, Audry sudah besar sekarang. Audry bisa jaga diri kok." Audry beranjak memeluk mesra tubuh renta sang mama.
"kamu yakin Nak?" Jawab Meera ragu.
Audry hanya mengangguk yakin. Dia mengukir senyum di kedua sudut bibirnya. Lidahnya membisu tak lagi bicara, tapi matanya benar-benar merunduk sedang memohon.
"kalau papa sih, terserah mama aja dry. Papa percaya kok kalau kamu bisa jaga diri." Chandra membuka suara, memecah keheningan yang membuat Audry merasa kecewa.
"gini saja" Meera menengahi. "Sandy, kamu ikut Adikmu ke Bandung! Itu akan membuat mama merasa sedikit lega" tambahnya, ia melirik pada Sandy yang tak menyumbangkan suara sejak tadi. Begitulah kelakuannya, dia tak banyak berkomentar lagi pada orang di sekitar.
"ah, ide bagus itu! Kamu kan bisa sekalian refreshing juga San" tambah Chandra membela Meera.
"Sandy sibuk mah, pah" jawabnya singkat.
"Sandy?" rayu Meera.
Anak sulung dari dua bersaudara itu menatap mata Meera. Memperhatikan setiap garis wajah tua yang mulai terlihat, ada raut khawatir yang tersimpan di dalam sana.
"Baiklah! Tapi hanya untuk kali ini" Sandy akhirnya menyerah. Dia mengikuti kemauan kedua orang tuanya untuk mengawal sang adik. Tentu saja, Audry meloncang gembira kali ini karena merasa menang di depan Sandy.
--
"kak Sandy, ayo! Keburu siang ini" Teriak Audry dari halaman rumah. Dia sudah bersiap dengan kopernya dan berdiri d isamping bagasi mobil. Wajahnya ditekuk, karena kesal dengan Sandy yang sangat lelet.
"e-eh lelet!" cerocos Audry sembari menutup pintu mobil dengan kencang.
"e-eh bawel!" Balas Sandy kesal.
Sepanjang perjalanan Audry memilih tidur dengan memasang headphone di telinganya, mendengar musik favoritnya , bahkan mengabaikan Sandy yang mengajaknya berbicara sedari tadi.
"Kamu pikir aku ini sopir pribadimu!" Sandy meraih headphone dari telinga Audry.
"apa sih kak Sandy, sudah sih fokus nyetir saja. Nanti kalau di Bandung juga kakak ngga capek ini, kan aku yang bakal capek!" Sahut Audry kembali memutar musiknya, dia membela diri dengan dalih Sandy akan lebih banyak waktu kosong saat di bandung, sementara dia? Dia harus ke sana ke sini bersama kelompoknya untuk menyelesaikan tugas yang harus mereka kerjakan.
--
Perjalanan yang melelahkan, mengendarai mobil tanpa ada jam istirahat, kebosanan yang memanjang karena Audry asik dengan alam mimpinya. Sial ! Sandy melempar tubuhnya ke atas kasur. Dia memejamkan mata, membayangkan kejenuhan yang akan menyapanya satu minggu ke depan. Sunyi dan menyanyi di gendang telinganya menuntun kembali ke masa lalunya. Memperlihatkan wajah jelita yang menatapnya dengan senyuman manis.
"aaa sial ! Sampai kapan bayangan wanita itu hadir dikesunyianku!"
Brukk
Sandy melempar bantal ke daun pintu, dia benar-benar sudah muak dengan bayangan yang tak bisa dia tahan. Dengan, sapaan tanpa raganya, dengan senyuman tanpa hadirnya. Iya, semua hanya semu, mampir melalui angan, menjelma menjadi kerinduan.
" au! Kak Sandy apaan sih!" jerit Audry memecah angan Sandy.
Dia hanya melirik kearah adik gadisnya kesal. Tanpa memperdulikan ocehan yang sudah memenuhi gendang telinganya.
"kalau kakak masih sayang sama kak Key cari! Buktikan ! bukan ngerusak diri kakak sendiri seperti ini" kali ini dia bicara dengan serius. Duduk bersebelahan dengan Sandy di tepi ranjang. Audry sebenarnya gadis yang baik, dia juga sangat menyayangi Keysha. Hanya dia lebih cerewet dan banyak bicara kosong. Dia juga sering marah-marah terhadap kakaknya yang baginya tidak sepemikiran dengannya itu. Heh, menyebalkan! Pekiknya dalam hati.
Bersambung..........