
Cincin telah tersemat cantik di jari manis Keysha. Membuat perempuan itu tidak melepas mata dari jemarinya.
"Tidak hilang kok Key, sudah, tidur sana" Yeni menyadari itu, dia merebahkan tubuhnya di sofa sebelah Keysha. Meledek anak semata wayangnya yang mengukir senyum sepanjang hari. Bibir tipisnya itu semakin tertutup saat dia kembali tersenyum dengan nada malu.
"Terima kasih Bunda, bunda masih percaya sama kak Sandy" dia merebahkan tubuh di pelukan Yeni. Memejamkan mata untuk mengulang kembali hal indah yang baru berlalu dalam hitungan detik.
"Sandy itu anak yang baik sayang, dia bisa sesetia itu sama kamu" Yeni meneteskan airmata. Mungkin, dia mengingat masa lalu nya yang menyedihkan. Membuatnya selalu menangis jika terngiang.
"Bunda, lupakan tentang hal buruk di masa lalu bunda" dibelainya lembut kedua pipi yang mulai basah itu. Diusapnya penuh kasih untuk menghapus kepedihan didalamnya.
"Iya nak" Yeni membalasnya dengan pelukan hangat di tubuh mungil Keysha.
Di lubuk hatinya yang terdalam, Keysha selalu menaruh prihatin dengan Yeni, wanita yang baik namun selalu menerima cobaan di luar nalarnya. Dia kehilangan banyak hal berharga dari hidupnya, dari situ Keysha berambisi untuk membuatnya tenang di masa tua. Membahagiakan dia tanpa paksaan, mengikuti hal yang menjadi keputusan darinya. Andai saja, ia tak mengizinkan Keysha untuk kembali pada Sandy, bisa saja Keysha mengiyakan hal itu meskipun hatinya akan terluka lama.
Namun, itu hanya ketakutannya semata. Yeni sangat dan teramat menyayangi Sandy, begitu pula sebaiknya.
Tidak ada celah diantara keduanya, tidak ada garis yang memisahkan antara menantu dan Mertua.
Sungguh, keberuntungan itu selalu ada dibalik kesabaran yang kita tanam ~Keysha
--
"Gimana sayang, kamu sudah siap?"
Sandy memastikan semua sudah sesuai rencana. Undangan sudah tersebar, catering, gedung yang sudah tertata cantik, dan lain sebagainya.
"kali ini, Sandy yang memaksa untuk segera ma" Sandy terkekeh. Ia kembali mengingat awal pernikahan sirihnya dengan Keysha. Dia malas-malasan dan setengah hati melakukan itu, menyeret tubuhnya pelan hingga datang terlambat dan membuat Chandra marah besar terhadapnya.
Tak terasa, semua berjalan dengan cepat. Semua rasa berubah menjadi cinta yang tulus, cinta yang selalu ia dambakan kehangatan nya.
"Ayo kita berangkat. Jangan sampai telat kaya dulu kamu!" bukan hanya Sandy, Chandra ikut bernostalgia. Dia mengutuk nya dengan peringatan dan pukulan ringan di bahu Sandy.
--
Deg deg deg
Jantung yang semakin tak terkontrol getarannya . Namun, rasanya tak sama dengan yang dulu. Indah dicermati, sejuk dihirupnya.
"Apa kamu deg-dega an?"
"Lebih dari itu Bun" ia terbuai, matanya berharap semua akan sesuai rencana.
Aku pernah merasakan ini sebelumnya, tapi tidak sebegini mendebarkan. Jantungku, rasanya seperti melayang dari porosnya, jemariku basah mengeluarkan keringat dingin. ~Keysha
"Jangan gugup. Ayo keluar, acara sudah dimulai dan Sandy sudah menunggu" pinta Yeni menggiring putrinya lembut. Tangannya mencengkram hangat lengan Keysha seolah mengatakan 'bunda akan jauh lagi darimu nak.'
Tap tap tap
Suara langkah Keysha yang sangat pelan, ia sudah mulai menuruni anak tangga. Senyumnya mengembang yakin namun tergambar jelas alur tegang di dalamnya. Gaun putih bersih yang menjulur disekujur tubuh, membalutnya dengan sangat mempersona. Jilbab yang dia pilih, terkesan sederhana namun sangat menyolok.
"Untuk ke sekian kalinya kau membuatku jatuh cinta Keysha" lirih Sandy yang hanya di dengar oleh telinganya sendiri.
Acara berjalan khidmat dan sangat mencekram. Ahad terucap dengan kesungguhan, tidak ada pengulangan dan sangat lantang.
Semua menikmati itu, acara demi acara, sajian yang ada bahkan hiburan dari penyanyi papan atas sekaligus.
"Kamu tidak mengundang Cherry?" Ucap Reno yang sudah berulang mengitari gedung tapi tak menemukan wanita licik satu itu.
"Aku mengundangnya, kamu rindu?" Sandy menyapu rasa penasaran Reno dengan meledeknya.
"Sial! Mana ada, aku hanya berjaga saja jika dia datang hanya untuk bikin masalah" Reno berdiri tegak, membenarkan setelah jas nya yang dirasa kurang tepat.
"Seperti itu? Coba kamu datangi rumahnya, barangkali dia frustrasi lalu bunuh diri" Sandy menimpalinya dengan raut serius.
"Heh, itu bukan masalahku! Apa gadis itu segila itu?"
"Barangkali, aku terlalu tampan untuk membuatnya menggila seperti itu"
"Ciih, amit-amit" Reno ngacir. Membiarkan Sandy menggilai tubuhnya sendiri, mencermati setiap kata angkuh yang baru saja dia lontarkan. Memuaskan tawanya yang riang menyambut ledekan itu.
Kumat kan nyebelinnya ~Reno
Bersambung........