
Lima belas menit selepas Rania pergi, seorang dokter muda keluar dari ruang UGD. Ia menghela nafasnya dengan lega, punggung tangannya ia gunakan untuk menyeka pelipisnya yang sedikit berkeringat dingin. Dia tidak seorang diri, ada beberapa perawat yang turut keluar setelahnya dan seorang dokter yang tampaknya berumur lebih tua darinya.
"Bagaimana keadaan Keysha dok ?" Reno bertanya dengan cepat.
"Maaf, anda siapanya Nona Keysha ?" Ucap dokter Liem heran, ia tidak melihat Reno sebelumnya. Justru, matanya sedang gencar memperhatikan sekeliling, mencari-cari keberadaan seseorang yang tidak ada di hadapannya. "Dimana perempuan yang membawa nyonya Keysha kesini tadi ?"
"Rania sudah pulang dok. Dan saya adalah kakak angkat Keysha. " Jawab Reno yakin.
Dokter Liem mengangguk ringan, tampaknya dia paham dengan kalimat yang Reno lontarkan untuk memberi sedikit penjelasan. " Silahkan ikut dengan saya tuan....." Dokter Liem menggantung kalimat nya karena dia tidak mengenali nama laki-laki yang mengaku sebagai kakak angkat Keysha.
"Reno...." Lirih Reno menimpali.
"Baiklah. Silahkan ikut dengan saya tuan Reno." Ucap dokter Liem mengulang kembali kata-kata sebelumnya.
Reno melangkahkan kaki berada satu meter di belakang dokter Liem, tidak ada suara yang mewarnai perjalanan singkat itu selain suara ketukan sepatu yang khas. Mereka telah tiba di sebuah ruang pribadi, yang letaknya tidak jauh dari ruang UGD. Ya, dokter Liem memang dokter paling handal di rumah sakit Medika, dia selalu menjadi Dokter nomer satu jika ada seorang pasien dengan keadaan luka parah.
"Jadi bagaimana dok ?" Tanpa basa-basi Reno langsung menyerbu dokter Liem dengan tanda tanya besar yang sudah menyentak hasratnya sedari tadi. Tidak ada lagi waktu untuk bersabar, untuk menunggu lebih lama mengenai jawaban sang dokter.
"Anda ini kakak angkatnya, atau kekasihnya ? Kenapa tampak begitu cemas dan takut kehilangan ?" Sahut sang dokter menggoda. Di sudut bibirnya tampak menyungging seutas senyuman manis.
"Kenapa dokter bertanya seperti itu ? Dia...dia adik angkat ku. Apa wajahku kurang begitu meyakinkan ? " Reno langsung memasang wajah tidak senang dengan godaan dokter Liem. Ia menatapnya dengan tegas dan mengiris tajam.
"Bukan....bukan seperti itu..." Dokter Liem melambaikan tangan cepat. Ia tidak berhenti tersenyum melihat Reno yang terlihat seperti salah tingkah karena mendengar godaannya tadi.
"Aku hanya ingin menanyakan kondisi Keysha, kenapa dokter malah berputar-putar dengan hal yang tidak penting seperti ini."
"Baiklah. " Dokter Liem menghela nafas ringan lalu menatap dalam pada mata Reno. " Nona Keysha sempat kritis karena dia kehilangan darah begitu banyak. Tapi untunglah, dia cepat sekali bangkit dan sadar. Semua berkat doa kakak angkat yang baik hati. " Dokter mengukir senyuman menggoda di bibir seksinya.
Reno menatapnya tajam, merasa kesal dengan kata yang bernada meledek yang Dokter Liem terus-menerus tujukan padanya.
"Apa dia mengatakan sesuatu setelah sadar ?" Ucap Reno penuh selidik.
"mmmb..." Dokter Liem mengerutkan keningnya, ia tampak berpikir dan mengingat-ingat kejadian di ruang UGD. "Tentu..."
"Apa ? Katakan !"
Dokter Liem menggeleng pelan, "Kenapa anda tidak mengakuinya jika anda ini benar-benar kekasihnya. Antusias sekali untuk ingin tahu lebih dalam perihal nona Keysha."
"Apa dia memanggil nama Sandy ? Allan atau Allena ?" Reno tidak memperdulikan ledekan dokter Liem. Ia justru semakin mendesak dokter Liem dengan ragam pertanyaan.
"Dari mana anda tahu itu ?"
"Hatiku mengatakan demikian....Maaf dokter Liem, aku harus segera pergi." Reno beranjak meninggalkan dokter Liem dengan rasa herannya. "Apa Keysha boleh untuk di jenguk ?" Reno berhenti di ambang pintu saat terlintas pikiran mengenai perempuan yang tengah ia cari dua hari ke belakang.
"Tentu...Tapi tunggu kami memindahkan nona Keysha ke ruang perawatan." Jawab dokter Liem dengan santai.
Reno bersiul riang ketika berjalan melewati lorong rumah sakit. Bibirnya mengukir senyum tipis, merasa senang dengan kabar baik dari kondisi Keysha. Namun, tidak ada hubungannya dengan ledekan yang Dokter Liem lemparkan, itu hanya karena rasa malasnya untuk menanggapi hal yang tidak begitu berguna untuk orang lain.
Ia sudah sampai di depan ruang perawatan Sandy. Tepat sekali, Dokter Alexa juga baru keluar dan memeriksa kondisi Sandy.
"Dokter Alexa ? Bagaimana keadaan Sandy ?" Tanpa basa-basi ataupun kalimat permisi, Reno langsung melontarkan kalimat tanya.
Dokter Alexa tersenyum tipis, "Dia baik-baik saja. Jangan bikin perutnya mengeras karena terus berteriak agar tidak mudah kambuh seperti tadi. " Dokter Alexa menepuk bahu Reno, seolah sudah sangat akrab guna memberi sebuah dukungan.
"Dia memang sangat keras kepala dokter, jika tidak dengan cara keras, tidak akan menurut seperti tadi." Reno mengelak, menutup diri dan terus membela dirinya sendiri.
"Hmm, tuan Reno...." Panggil dokter Alexa setelah logikanya mengingat sesuatu. Ada hal urgent yang harus ia sampaikan. Reno yang baru hendak melangkah, mengurungkan niatnya dan berbalik arah. Ia menatap lekat pada perempuan yang sedang berjalan ke arahnya.
"Ada apa dok ?" Tanya Reno bingung.
Dokter Alexa memperhatikan sekitar, ia melirik Sandy yang tampak masih terbaring di atas kasur. Pandangan yang hanya memperlihatkan bagian kaki karena memang celah pintu tidak sepenuhnya terbuka lebar.
"Jika boleh saya sarankan, lebih baik jika transfusi hati itu segera di lakukan. Waktu Sandy sudah tidak lama, menurut diagnosa saya, dia hanya akan bertahan hidup dalam tiga sampai lima bulan ke depan. Dan tentu, dengan kondisi yang semakin parah." Dokter Alexa berbicara dengan hati-hati. Memberi penjelasan agar Reno paham dengan tujuan utamanya.
"Maksud dokter ?" Reno menatap Dokter Alexa dengan tatapan sendu. Ada rasa tidak percaya, dan juga cemas yang menyapa.
Dokter Alexa hanya mengangguk ringan, ia tahu dengan tanya Reno yang belum seutuhnya terucap.
"Pikirkan matang-matang, tidak ada lagi alasan untuk menolak dan berdalih dengan ragam pengobatan yang hanya akan memperpanjang rasa sakit yang Sandy derita. " Dokter Alexa menepuk bahu Reno kembali. Untuk kedua kalinya, ia memberi semangat. Membangkitkan rasa lemah dan tekanan batin dengan rasa tidak sanggup menanggung semua seorang diri. Seharusnya, Keysha tahu semua, dia adalah orang pertama yang pasti membuat semangat untuk sembuh dari Sandy begitu besar, tapi laki-laki itu selalu menolak tatkala Reno menawarkan akan memberi tahukan semua kepada Keysha. Ragam alasan yang dia berikan, dan yang paling kuat adalah jika Sandy tidak akan sanggup melihat wanita yang ia cintai menangis di atas tubuhnya. Tersedu meratapi sebuah takdir yang berpihak kepadanya. Dan itu, menjadi pisau tertajam yang memutus urat-urat untuk tetap bertahan hidup.
Entah kapan dan bagaimana ceritanya, Reno kini sudah berada di dalam ruang perawatan Sandy. Ia berdiri di samping ranjang, menatap dengan raut tidak menentu dari ujung kepala hingga kaki Sandy.
"Kenapa kau menatapku seperti itu ?" Celetuk Sandy kesal. Ia merasa risih dengan mata bulat Reno yang melihatnya seperti sedang menatap tubuh seksi wanita-wanita yang menjadi teman tidurnya waktu dulu.
"Apa kau sudah baik-baik saja ?" Reno membalasnya dengan santai .
"Apa kau tidak bisa melihat ? Aku baik-baik saja sekarang."
"Biasakan untuk berbicara dengan lembut. Kenapa kau mudah sekali naik darah ?"
"Apa maksudmu ?"
Reno terdiam, dia sudah tidak menjawab lagi ucapan Sandy. Otaknya tiba-tiba mengingat kata-kata yang dokter Alexa ucapkan padanya, semua, bahkan tidak ada satu huruf yang menghilang dari memori nya.
"Reno !" Sandy berteriak, merasa kesal karena tiba-tiba Reno mengacuhkannya. Ia terdiam, bahkan melamun saat Sandy memanggil-manggil namanya. "Apa yang sedang kau pikirkan ?"
"Apa kau tidak ingin bertemu dengan Keysha ?" Ucap Reno seraya melangkah dan membanting tubuh di atas sofa di sudut ruangan.
"Kau sudah menemukannya ?"
"Rania....dia mengaku menemukan Keysha..."
"Rania ? Bagaimana bisa ? Ku rasa itu hanya akal-akalan nya saja agar kita percaya dan tidak curiga terhadap nya."
"Maybe. Tapi aku sedang menyelidiki ini."
"Bagaimana keadaannya sekarang ?"
"Bersiaplah, aku akan membawamu ke ruangannya."
"Ruangan maksud mu ?"
"Sudahlah. Jangan banyak bertanya, kau mau melihat istrimu atau hanya terus membuatku pusing dengan pertanyaan mu ?"
"Kau kenapa jadi marah-marah kepada ku ?"
"Sandy ! " Reno berdecak kesal.