I'M Sorry! I Love You!

I'M Sorry! I Love You!
Makan malam



Keysha menutup satu map terakhir yang baru selesai ia baca. Sebuah laporan dari beberapa hari ke belakang semenjak dia tidak masuk kerja. Ia menghela nafas lega, sebagai isyarat penunjuk jika semua telah selesai. Jam telah menunjukkan pukul 21:23, waktu yang lumayan larut untuk dia masih berada di luar. Meninggalkan sebuah beban di rumahnya, meninggalkan sebuah kewajiban yang selalu di rindukan. Ya, ada Allan dan Lena yang pasti sudah terlelap di atas bantalnya masing-masing.


"Sayang, sudah selesai ?" Tidak terdengar langkah kaki yang Sandy hentakan. Laki-laki itu tiba-tiba sudah berdiri di hadapan meja dan membelai halus kepala Keysha. Ia menunduk, meletakkan tangan di pinggiran meja sebagai tumpuan tubuhnya.


"mmm...." Keysha mengangguk pelan. Matanya sudah sangat lelah dan menahan kantuk yang tidak terhingga.


"Ya sudah kita pulang .." Sandy turut membantu merapikan tumpukan berkas-berkas yang berserakan di atas meja. Menata rapi dan menyatukan di sisi kiri. Tidak hanya sampai di situ, Sandy meraih blazer Keysha yang tergantung di sandaran sofa agar istrinya tidak terlalu repot bolak-balik membereskan barang-barangnya.


Keysha menatap suaminya penuh cinta. Senyuman manis terukir indah di kedua sudut bibir, matanya menyipit, bahkan pipi yang sedikit chubby itu tampak mengembang. "Terima kasih kak..."


Mereka beriringan menapaki anak tangga. Bergegas menelusuri hingga sampai di lantai dasar. Ada beberapa pegawai yang juga baru selesai membereskan pekerjaan. Mereka menghentikan aktivitas tatkala melihat Keysha dan Sandy. Senyum sumringah lolos tanpa aba-aba dari bibir mereka. Kepala yang menunduk wujud hormat yang mendalam. Mereka selalu sopan, karena Keysha pun sangat menghargai adanya mereka. Tidak ada yang dianggap sebelah mata, apalagi dianggap orang rendah karena keadaan ekonomi. Keysha adalah wanita yang baik hati tanpa pilih-pilih. Dia adalah contoh boss yang sangat bisa membuat karyawan merasa nyaman dan tenang.


"Selamat malam bu .." Sapa hangat dari seorang diantara mereka, menyapa lekat di daun telinga Keysha dan Sandy.


"Selamat malam..." Jawabnya dengan halus. Ia menoleh, mencari sumber suara yang menyapa. Menghadiahkan sebuah senyuman tulus saat menemui mata karyawan itu.


"Butik sudah ditutupkan ?" Sandy turut membuka suara. Nadanya datar, entah marah atau justru senang.


"Su-sudah pak..." Ucap karyawan itu tidak berani mengangkat kepala. Ia semakin dalam menunduk, tubuhnya bergetar menyimpan ketakutan yang menyibak dada.


"Hahaha ...tidak perlu takut. Kak Sandy hanya menginginkan kalian segera menutup butik dan bergegas pulang. Hari sudah terlalu malam untuk seorang wanita. Tidak baik jika masih berada di luar rumah." Kata Keysha cepat. Ia tidak ingin suaminya dipandang sebagai orang jahat atau seseorang yang perlu di takuti. Karena nyatanya, lelaki itu hanya berwajah dingin tetapi tidak dengan sikap aslinya.


Mereka menghela nafas lega mendengar pernyataan Keysha. Mata mereka saling bertemu sama lain, lalu kembali menunduk dengan pipi yang merah karena malu.


"Ya sudah, segeralah pulang. Tidak masalah jika harus di bersihkan besok. Kunci butik kalian saja yang bawa." Kata Sandy dengan jelas. Dia masih memasang wajah tampannya dengan garis-garis dingin. Tidak ada senyuman yang diizinkan lolos. Langkahnya kembali ia ayun dengan pasti menuju pintu utama butik.


"Saya pulang dulu ya... Assalamualaikum." Pamit Keysha sopan. Dia mengikuti langkah suaminya yang sudah beberapa langkah lebih dulu darinya.


"Wa'alaikum salam...." Sahut mereka secara kompak.


Sandy sudah menunggu Keysha di dalam mobilnya. Membuka kaca sebelah kiri agar wanitanya itu tidak terlalu lama berbicara dengan security yang berjaga malam. Kacamata hitam melekat pass di depan mata. Menambah aura dingin dari wajah Sandy.


Keysha menyempatkan tersenyum kepada security yang berjaga sebelum bergegas masuk ke dalam mobil. Tubuhnya melesat cepat, menghilang di balik pintu yang tidak bersuara ketika di tutup.


"Kita makan dulu ya." Sandy melirik wanitanya. Memastikan jika wanita itu mengiyakan apa yang menjadi kemauannya.


"Kita cari saja yang arah pulang. Kalau masih ada yang kita makan dulu, kalau sudah pada tutup kita makan yang ada di rumah saja." Kata Sandy memutuskan. Ia berbicara dengan santai, seolah tidak terlalu serius dengan ajakan yang terlontar.


"Kita makan di pinggir jalan saja. Makanan kaki lima justru lebih bisa menjamin rasa. Keysha jamin, kak Sandy pasti akan ketagihan." Kata Keysha dengan yakin.


"Kaki lima ?" Sandy mengulang kembali kalimat Keysha untuk meyakinkan. Seumur hidup, dia memang belum pernah mencicipi makanan yang berjajar rapi di pinggir jalan. Asap yang mengepul, membuat aroma wangi menghampiri setiap orang yang lewat. Harum bumbu yang menjadi daya tarik, namun selalu Sandy tolak karena dia takut itu kurang higienis.


"Apa kamu yakin Key ?" Bukan Keysha yang tampak ragu dengan keputusan itu. Melainkan Sandy sendiri yang masih berdebat dengan rasa ragu yang membumbung tinggi di otaknya. Bisa di bilang gengsi, bisa pula di bilang malu. Ah sama saja. Intinya Sandy merasa canggung jika ada seseorang yang mengenalnya sedang menikmati makanan murahan di pinggir jalan.


"Ayolah kak, sekali saja .Nanti kalau tidak enak, kita langsung pulang ....tidak perlu dimakan lagi." Keysha mendesak Sandy dengan antusias. Kata demi kata yang terlontar, memaksa hati Sandy untuk menyingkirkan rasa gengsi dan malunya.


Laki-laki itu tampak bingung, ia menarik nafas panjang sebelum menjawab. Matanya sudah jeli memandangi wanita yang terus memohon kepadanya itu ."Baiklah....tapi hanya sekali ini jika aku tidak berselera dengan menu yang di sajikan."


"Kakak serius ?" Keysha membelalakkan mata tidak percaya. Ada rasa senang walau hanya dengan hal kecil yang suaminya berikan. Sebuah jawaban iya, dan membuang jauh rasa gengsi untuk membaur dengan mereka yang tidak memiliki derajat yang sama dengan Sandy.


"Iya ..." Sandy menyempatkan mengukir senyuman tulus sebelum kembali fokus dengan jalanan. Ia mengendalikan mobil dengan kecepatan sedang. Matanya riang bergerilya menatap sekitar jalan, mencari-cari tempat yang dirasa cukup bersih dan nyaman untuk di singgahi.


"Di sana saja...." Dengan kompak mereka menunjuk pada satu arah yang sama. Sebuah tenda dengan banner bertulisan 'pecel lele dan aneka ragam seafood' menjadi tujuan keduanya.


Mata mereka saling beradu, merasa lucu dengan apa yang baru saja terjadi. Sebuah kode alam yang menyatakan kecocokan di antara mereka berdua. Ya, mereka memang selalu kompak dalam sebuah pilihan. Hingga akhirnya mereka sama-sama tertawa lepas sebelum memutuskan untuk segera turun dari mobil.


------


Beberapa menu yang sengaja Keysha pesan untuk suaminya sudah berjajar rapi di hadapan mereka. Asap yang masih mengepul , menunjukkan jika memang semua baru selesai di masak. Hidangan yang nikmat dengan tampilan yang menggoda. Aroma harum sungguh menyengat hidung meminta segera di santap.


Tidak ada yang lebih menarik bagi mata Keysha selain wajah Sandy yang masih tampak ragu. Dia melirik semua piring yang menampilkan menu-menu andalan di sana.


"Sudah, makan dulu baru dinilai." Pangkas Keysha memotong ekspresi jijik dari balik wajah suaminya. Ia menyendokkan sedikit makanan untuk di siapkan kepada Sandy.


"Ayo buka mulutnya !" Ucap Keysha lagi, tangannya sudah melayang membawa satu sendok makanan di hadapan bibir Sandy.


Dengan ragu dan mata yang terpejam rapat, Sandy membuka mulutnya. Mengunyah dengan lambat makanan yang telah masuk di sela giginya. Wajah ragu dan jijik itu seketika hilang, berangsur berubah menjadi rasa tidak percaya. Ia berulang menatap menu itu lalu berpindah kepada Keysha. Jelas saja, semua tampil dengan sederhana namun memberi rasa yang tiada duanya. Dia makin kencang memompa pergerakan mulutnya, dan dengan sangat cepat melahap habis semua yang Keysha hidangkan untuknya.