I'M Sorry! I Love You!

I'M Sorry! I Love You!
Menyampaikan Kabar



Keysha keluar dari ruangan Dokter Alexa dengan riang. Wajahnya sumringah, hilang segala gundah yang beberapa hari mengganggu waktunya. Setiap langkah, ia hentak dengan semangat, matanya sungguh tampak lebih bersinar dari biasanya. Semua memang masih menjadi doa dan harapan, tapi setidaknya Tuhan mulai memperlihatkan kuasanya.


"Keysha ..." Panggil seseorang, membuat Keysha menoleh dengan cepat. Ia menyibak beberapa orang, hingga matanya menemukan seseorang yang tampak menatapnya dengan cemas.


"Reno ? Ada apa ?" Tanya Keysha santai.


"Kamu kemana saja ? Apa ada masalah ?" Tanya Reno masih di rundung cemas.


"Ah tidak. Aku hendak menemui kak Sandy sebentar, kau mau ikut ?"


Reno menggeleng pelan, ia tercengang dan merasa heran dengan tingkah Keysha yang tiba-tiba. Ya, moodnya bisa berubah secepat itu. Tadi, ketika Reno meninggalkan Keysha, ia seperti mayat hidup. Tidak banyak bicara apa lagi bergerak, diam, melamun lalu menangis. Tidak ada aktivitas lain yang menyibukkan otaknya. Namun, perempuan itu terlihat beda sekarang. Ia sangat ceria, bahkan senyuman lebar tanpa embel-embel kepalsuan itu nyaris setiap saat terlihat di bibirnya. Aneh ...ya aneh ! Aneh bagi Reno karena dia tidak mengetahui apa yang terjadi.


Keysha berlalu begitu saja. Meninggalkan Reno yang tidak kunjung menatapnya dengan biasa. Pria itu masih sibuk dengan nalarnya, mencari-cari alasan kuat yang bisa di yakinkan oleh hatinya. Mustahil ! tetap saja, dia tidak bisa berpikir jernih dengan apa yang di lihatnya baru saja.


Dengan sangat lembut, Keysha meraih gagang pintu, lalu perlahan mendorongnya.


"Assalamualaikum sayang." Keysha mengucap salam dengan pelan seraya menampakkan kepala di celah pintu sebelum akhirnya ia melenggang masuk.


Matanya, sibuk mengabsen seluruh anggota tubuh Sandy, tiada satupun bagian yang dengan sengaja ia lewati. Banyak harapan yang bermunculan di dasar hati, menginginkan seseorang yang selalu berusaha membuatnya tersenyum itu untuk membuka mata, walau sekejap, untuknya memberitahu jika dia tengah berada di sana. Mendampinginya dengan tulus dan rasa bahagia yang tiada tara. Ia ingin berteriak mengatakan jika dirinya tidak sedang bersedih. Ya, dia akan berusaha keras berbuat demikian jika hal itu adalah bagian dari pendorong semangat bagi jiwa Sandy untuk segera kembali menemui raganya.


"Sayang, bukankah kamu sangat menginginkan aku memanggil mu seperti ini ? Memanjakan mu, membelai rambut dan juga wajahmu ?" Keysha melakukan apa yang terucap dari mulutnya. Senyuman itu juga selalu hadir dan tidak lepas dari bibir tipis itu.


"Kau juga, ingin aku selalu ada di samping mu bukan ? Tanpa air mata, tanpa luka ataupun duka ?" Kristal-kristal bening mulai memenuhi penjuru mata bulat Keysha.


"Kak Sandy, aku sedang senang sekali. Makanya, aku sampai ingin menangis di sampingmu. " Diraihnya jemari suaminya yang masih lemas. Keysha menuntunnya dan menempelkan di pipinya.


"Kak Sandy, apa kakak tidak bosan terus-menerus tidur seperti ini ? Allan dan Lena sangat merindukanmu kak. Aku pun seperti itu. Kakak tahu ? Bunda sampai bingung ketika Allena menangis meminta di antar menemui kakak. Apalagi anak laki-laki kita yang sikap dinginnya melebihi kakak, dia bisa marah dan tidak mau makan seharian ketika merajuk ingin bertemu kakak." Keysha bermanja dengan jemari suaminya. Berbicara dengan kalimat panjang seakan-akan suaminya sedang mendengarkan apa yang tengah ia ucapkan.


"Oh ya. Kak, nanti ketika kakak bangun, kakak harus banyak berterima kasih sama Reno. Dia selama ini yang jaga Keysha, bantu Keysha.... Bahkan dia sangat menyayangi Keysha seperti kak Sandy, tapi bedanya Reno menganggap ku seperti adiknya sendiri, dan itu sangat menyenangkan bagiku."


Keysha sangat menghayati setiap kata yang tersembur keluar dari tenggorokan nya. Ia semakin terlena, dan lupa dengan waktu yang semakin beranjak. Bahkan, perempuan itu pun tidak menyadari jika Reno telah berdiri di depan pintu, mendengarkan setiap ucapan yang ia katakan dengan tenang. Sudah tidak ada lagi gelisah yang mewarnai, cemas yang menghantui, walaupun masih di iringi satu, dua tetes air mata. Ya, intinya Keysha sangat hebat karena bisa mengontrol dirinya sendiri dengan sangat cepat.


Reno tersenyum simpul merasa terharu dengan pujian yang menjunjung namanya. Ia tidak percaya jika Keysha merupakan perempuan yang peka. Ia bisa membaca situasi dengan teliti, tepat mendeteksi setiap rasa yang tersalur dengan perlakuan. Sungguh, Sandy memang tidak pernah salah memilih seorang teman hidup, istri yang mampu menjaga hati dalam segala kondisi.


"Sayang, aku punya kabar baik untukmu. mmm ...itu juga untukku karena aku sangat bahagia ketika mendengar kabar ini." Keysha mencondongkan tubuhnya, ia sedikit mengangkat badan hingga sampai di samping telinga Sandy.


"Sayang, kau tahu ? Dokter Alexa menemukan seseorang yang suka rela mendonorkan hatinya untuk mu...." Keysha sangat antusias mengatakan kabar itu. Ia berbisik pelan, tetapi sangat jelas.


"Dan siang ini, operasi akan segera dilakukan . Itu artinya, aku akan bisa melihat senyummu dengan segera." Timpal Keysha melengkapi kalimatnya. Ia masih setiap di sana, setengah membungkuk untuk bercerita.


--------


"Sialan ! Kemana perginya wanita murahan itu !" Cherry berteriak keras. Ia sangat kesal dan tidak bisa mengendalikan emosinya ketika melihat Keysha sudah tidak ada di tempat. Ia memutari bangunan, memperhatikan sekitar untuk memastikan jika memang tidak ada penghuni yang bisa menolong Keysha.


"Dia kabur lewat jendela Cher, lihat saja kaca belakang ruangan itu pecah." Ujar Lita membumbui. Ia tidak ingin menjadi kambing hitam dan menjadi sasaran empuk dari amarah Cherry.


Shinta melangkah lebih dulu, ia mendekati pecahan kaca yang masih berserakan di sekitarnya. "Darah ?" Pekiknya setengah kaget begitu melihat ada bercak-bercak darah yang sudah mengering.


"Darah ? " Ucap Lita dan Cherry kompak.


"Iya. Tapi ini sudah kering. Berarti perempuan itu sudah beberapa hari kabur dari sini." Kata Shinta menduga-duga.


"Heh, harusnya dia sudah mati di tengah hutan. Mana bisa dia keluar dari sini dengan selamat. Tidak akan ada orang yang melintas dengan sengaja di sekitar sini." Cherry menyeringai lebar. Ia memainkan rambutnya dengan memutar-mutar bagian ujungnya.


"Bagaimana jika ada yang datang untuk menolong nya ? Atau Sandy yang menemukan dia ? Kita yang tidak akan selamat." Lita yang mulanya berjongkok mengamati bercak darah, mulai kembali berdiri dengan perlahan. Ada rasa takut yang justru mengintai hatinya.


"Benar tuh Kak. Apa yang harus kita lakukan ?" Shinta mulai bergidik ngeri membayangkan kearoganan Sandy.


"Jangan ada yang buka mulut tentang ini !" Ucap Cherry mengancam. Ia melangkah keluar dengan kecewa, di ikuti oleh Lita dan juga Shinta di belakangnya. Kedua perempuan itu saling bergandeng tangan, saling menguatkan dengan kemungkinan buruk yang akan terjadi jika Keysha berbicara dengan jujur kepada suaminya.


"Apa kalian ingin tinggal di sini menggantikan perempuan murahan itu ?" Gertak Cherry dengan keras. Ia sudah berada di dalam mobil, telah bersiap memegang kendali. Sedangkan kedua rekannya, masih sibuk menerka-nerka dengan angan mereka, berusaha melarikan diri pada masalah yang mereka pula yang melakukannya.


"Tidak.....Tentu aku ikut denganmu." Jawab Lita cepat, ia menarik lengan putrinya lalu segera bergegas masuk ke dalam mobil.