
"Kalau tidak ingat kak Sandy sembuh karena bantuannya sudah aku tarik dah itu rambut dokter Alexa, " dengan Audrey dengan nada kesal. Ia sudah duduk bersandar di kursi mobil, melipat tangannya di depan dada dengan wajah cemberut.
Reno acuh, ia hanya meliriknya sebentar lalu kembali fokus pada jalanan.
"Apa sih salah Audrey, jelas banget kalau benci, " Keluh Audrey masih tidak terima dengan perlakuan dokter Alexa yang semakin merendahkannya.
Mereka masih tidak menyadari dimana letak kesalahpahaman dokter Alexa. Yang membuat wanita itu semakin menggila dengan rasa cemburu, yang ia ungkapkan dengan perlakuan yang salah. Reno terus melajukan mobilnya, melewati bangunan-bangunan besar untuk menuju rumah Audrey. Berpikir dan terus berpikir dengan otak dan logikanya untuk mengetuk kembali hati dokter Alexa yang terasa mengeras.
*****
"Sayang, sudah seharian kita muter-muter di seluruh penjuru kota, tapi tetap saja tidak bertemu dengan Shinta. Apa dia berada di luar Jakarta ? " Ucap Sandy sambil memperhatikan sekeliling. Berharap dalam doa gadis itu muncul di antara jajaran manusia yang sedang melintas di tepi jalan. Hadir tanpa di minta, dan menampakkan diri tanpa merepotkan.
"Atau tidak kita bisa minta tolong orang lain, dengan membuat sayembara, " imbuh Sandy spontan.
"Sayembara ?" Keysha mengulang kata penting yang Sandy luapkan. Mengernyit ragu, atau justru sedang tidak yakin dengan ucapan Sandy.
"Iya sayang, kita buat pengumuman. Jadi bagi yang bisa bawa Shinta ke Rumah, kita beri imbalan, " Jawab Sandy menjelaskan. Matanya tajam memperhatikan jalanan, hanya sesekali menoleh untuk melihat ekspresi wajah yang tergambar di rona merah pipi Keysha.
"Setuju, " sahut Keysha antusias. Jarinya sudah mengacung, mengisyaratkan sebuah persetujuan yang mendalam.
Mereka kembali berputar arah, pulang untuk membuat ratusan bahkan ribuan kertas yang bertuliskan lengkap dengan foto Shinta yang di pajang di sana. Sebuah sayembara yang di tuliskan dengan jelas, sebuah imbalan yang tercetak dengan nilai fantastis dan menumbuhkan semangat.
Banyak orang yang sengaja Sandy kerahkan untuk menempelkan kertas-kertas itu di setiap sudut. Memberikan langsung kepada orang-orang yang melintas di sekitar mereka.
Keysha sangat berharap besar dengan apa yang di lakukan, berdoa dalam setiap langkah dengan bait-bait pinta yang selalu ia sematkan untuk keselamatan Shinta, adik satu bapak dengannya.
"Bagaimana sayang ?" Tanya Sandy setelah mereka kembali lagi bertemu di titik yang telah di tentukan. Duduk di antara barisan anak tangga taman untuk melepas penat.
Hari telah beranjak malam, rembulan bersama ribuan bintang terlihat jelas sedang bersinar. Menari indah, berkerlip ria menampakkan pesonanya. Menggantikan Surya untuk setengah perputaran hari.
"Semoga Allah mengijabah setiap doa yang kita panjatkan berulang kali dalam hari ini, " Keysha merebahkan tubuh di atas bumi, tanpa alas. Membiarkan jilbabnya menyatu dengan debu, untuk merasakan kehidupan yang lebih menyenangkan.
"Aamiin, " sahut Sandy dengan cepat, ia mengikuti Keysha dan membaringkan tubuhnya di samping tubuh Keysha. Menatap atas, menjadi saksi untuk langit yang sedang berbahagia dengan ribuan penghiburnya.
Mereka memejamkan mata sejenak, mengadu pada hati betapa besarnya kuasa Tuhan yang telah memberikan alam yang luas untuknya. Keysha selalu setiap memanjatkan doa-doa indah di setiap hembusan nafas. Menata kalimat syukur yang mendamaikan sebelum meminta. Merendah, mengakui kesalahan diri, sebelum memohon ampunan.
****
"Pulanglah ! Jangan lupa mandi, " imbuh Audrey, lalu berlarian menghindar dari tangan Reno yang sudah keluar dari jendela mobil dan bersiap menerkamnya.
Reno kembali melanjutkan perjalanan, melesat kembali mengitari kota. Rumah, belum menjadi tujuannya untuk malam, ia hanya mengikuti kakinya membawa ia berlalu dan menyenangkan diri.
Terlalu lelah untuk terus melanjutkan keinginan. Sudah cukup, tidak perlu lagi menyakiti hati karena yang di pikirkan belum juga memiliki niat untuk kembali mendekat.
"Ah, sial !" Teriak Reno dengan kencang. Ia membanting setir ke kiri jalan, menginjak rem dengan cepat di sekitar danau. Sebuah tempat yang pernah ia siapkan dua kali, dengan dekorasi yang romantis. Sayang, itu hanya kejutan kecil yang Sandy siapkan untuk Keysha, perempuan tangguh yang selalu membuat setiap pria tertarik dengannya.
Reno melangkah keluar, membawa beberapa kaleng minuman yang selalu ia siapkan di dalam mobil. Ia tertegun, duduk di tepi danau seorang diri. Tiada aktivitas yang lebih berarti selain melamun, memutar otak dan logikanya memecahkan drama yang tak kunjung usai.
"Sial, " lagi dan lagi, kata-kata itulah yang Reno semburkan dengan kencang. Berteriak kuat dengan melempar kerikil-kerikil ke dalam danau. Memantulkan kembali air yang terkena lemparan.
Reno membiarkan alam menyadari, jika dirinya butuh di kasihani. Butuh hati yang mudah mengerti, setidaknya bisa menghibur di sela penat yang sering hadir menyapa.
Entah sudah ke berapa kali batu-batu itu Reno lemparkan, tapi tak juga mengurangi kesal yang mengiba. Dengan kasar, Reno mendudukkan tubuhnya di antara rerumputan hijau yang basah karena air danau. Duduk lalu menyesap minuman dengan cepat. Mengulangnya, hingga sampai beberapa kali tegukan.
"Apa ini yang di namakan karma ?" Reno tertunduk, memikirkan ulang setiap keburukan yang pernah ia kerjakan. Sayang, dia kembali terjebak di sana setelah dokter Alexa memutuskan untuk menjauh.
"Kenapa ? Kenapa Tuhan ? Kenapa sulit sekali untuk aku bahagia dengan tenang, " Keluh Reno lirih. Ia merunduk, bibirnya bergetar hebat. Pertahanannya pun luluh seketika, pria itu meneteskan air mata tanpa suara.
Aku tidak pernah merasakan sakit hati yang mendalam sebelumnya, karena memang aku tidak pernah jatuh cinta hingga menggila seperti kepadamu...
Aku tidak pernah tahu, dimana titik salahku yang hingga detik ini tidak kau maafkan, wanitaku...
Aku sudah bingung, bahkan lelah sendiri bertanya pada diri bahkan hati, tapi tidak kunjung memperoleh sebuah jawaban yang memuaskan...
Wanitaku, apa memang Tuhan tidak mentakdirkan kita berjodoh ? walau hanya sepenggal sisa umurku. Aku hanya meminta, kau adalah nafas terakhirku, menjadi belahan hati yang tidak pernah aku khianati...
Alexa, aku mencintaimu...sungguh !
Reno mengusap air matanya, lalu meneguk habis sisa minuman di botol terakhir yang ia bawa ke sana. Sebelum beranjak, Reno berteriak kencang, menyebut nama perempuan yang sangat istimewa dalam hembusan nafasnya. Suaranya menggema, terkesan seperti menyambung dan ada banyak orang yang mengikuti.
"Jika begitu, semoga kamu bahagia tanpaku Alexa, aku tidak akan pernah mengganggumu tanpa kamu yang minta, " Reno beranjak dari tempatnya. Kembali menuju mobil dan melesat dengan kecepatan tinggi. Melintas di jalanan sepi, tanpa ragu-ragu. Ia memutar kemudi, dsn mengarahkan ke jalanan yang menuju ke apartemen pribadinya.