
*****
Mungkin, semua orang akan menatap kita dengan pandangan salah. Mencaci, tanpa tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi. Menghakimi, seolah memang itulah yang terlewati. Mereka tidak tahu, seperti apa kita jatuh, bangun untuk melewati sebuah proses, atau mungkin takdir yang memang telah menjadi ketetapan dari-Nya. Yang mereka tahu, hanyalah kita ini anak yang buruk karena berlalu dari orang tua yang menyayangi. Tidak menghormati karena kita tidak terlihat di nafas terakhirnya.
*****
"Salahku ? Hei apa maksud kamu Shinta? Aku baru saja datang. " Vino tidak mengerti apa yang telah terjadi kepada perempuan yang hendak ia jemput untuk kembali ke apartemen miliknya. Yang ia tahu, Shinta sudah menangis tersedu-sedu di tepi ranjang. Meraung, seperti sedang menghadapi sesuatu hal yang membuatnya benar-benar bersedih.
"Semua salahmu Vino, semua salahmu ! Aku benci sama kamu, " Shinta terus saja berteriak, tapi semakin tidak jelas setiap kata yang terlontar dari bibirnya. Suaranya tertahan karena isakan tangis yang kian menjadi.
"Aku membawa kabar baik untukmu, harusnya kau menyambut ku dengan senang, " gumam Vino.
"Shinta, apa yang terjadi ?" Vino mengangkat kedua bahunya, semakin heran dengan suara tangis Shinta yang tidak bisa terkendali.
Pandangan mata Shinta semakin buram, remang-remang semua berputar mengelilingi kepala. Tubuhnya semakin lunglai, dan akhirnya Shinta hilang kesadaran dalam dekapan Davino.
"Shin, Shinta ..."
"Bangun ..."
"Shinta apa yang terjadi ?"
Vino menggoyang-goyangkan tubuh Shinta. Mencoba membangunkan, tapi mustahil. Perempuan itu tetap tidak sadarkan diri.
"Kau benar-benar merepotkan, " Keluh Vino kesal. Ia memunguti lembaran uang yang jatuh dari tangan Shinta, beserta secarik kertas yang sudah kusut karena genggaman tangan Shinta.
Dengan tergopoh-gopoh, Vino membopong tubuh Shinta. membawanya ke Rumah Sakit dengan mobilnya. Berlalu dengan kecepatan tinggi, meninggalkan Club Malam yang tidak beroperasi ketika siang hari.
"Apa iya perempuan ini terlalu lelah karena ulah tuan Reno ? Hebat sekali laki-laki itu. Sudah kaya, di tambah pintar di atas ranjang hingga membuat perempuan lemah tak berdaya, " Mata dan tangan Vino memang fokus membawa mobil menuju Rumah Sakit, tapi otak dan logikanya sedang berpikir keras penyebab Shinta jatuh pingsan.
"Apa yang akan ku katakan pada dokter nanti, jika Shinta pingsan karena itu ? " Gumam Vino semakin kalut. Mengatur cara untuk menyampaikan sebab dengan bahasa yang ringan.
"Apa aku harus mengatakan jika Shinta kelelahan melayani seorang pria ? Ah, yang benar saja. Apa kata dokter nanti kepadaku. Mereka pasti beranggapan aku yang telah membuatnya pingsan. " Gumam Vino lagi.
Mobil sudah berada di halaman Rumah Sakit. Vino buru-buru memanggil perawat dan memberitahu keberadaan serta kondisi Shinta. Dengan cepat, mereka tanggap dan langsung membawa perempuan itu ke ruang pemeriksaan.
Davino mondar-mandir di depan ruang, menunggu seorang dokter dan beberapa perawat memeriksa kondisi Shinta. Ada rasa cemas, di balik kesal karena merasa di repot kan.
Seorang dokter ke luar, lalu meminta Vino untuk ke ruangannya. Mereka duduk berhadapan, membicarakan kondisi Shinta saat ini.
"Bagaimana dok, keadaan Shinta sekarang ?" Tanya Vino kepada dokter itu. Seorang dokter pria, yang tak lain adalah dokter Liem.
Dokter Liem tersenyum menggoda, "Yang tenang tuan, istri anda hanya butuh istirahat. Dia sangat kelelahan, dan sedikit berpikir terlalu keras, "
"Kelelahan ?" Tanya Vino meyakinkan.
"Jangan terlalu bersemangat saat di atas ranjang, " Bisik Dokter Liem seraya mengangkat tubuhnya agar sedikit mudah untuk condong ke depan. Mendekatkan bibirnya, untuk berucap dengan lembut di sisi telinga Vino.
"Apa maksud dokter ?" Tanya Vino berpura-pura tidak tahu. dokter Liem tentu akan menertawakannya jika ia mengatakan ia tidak bermain dengan Shinta semalam. Tidak melakukan apapun, bahkan sedikit pun tidak menyentuhnya.
"Aku tidak melakukan apapun, " Imbuh Vino, membuat Dokter Liem tersenyum menggoda.
"Apa lehernya di gigit nyamuk ? Kenapa banyak sekali bercak merah seperti....."
"Ah sudahlah. terima kasih dokter ...Liem, " Vino melirik papan nama di atas meja kerja dokter Liem. " Saya permisi dulu, " sambung Vino.
Dokter Liem tertawa kecil lalu menggeleng-gelengkan kepala.
*_* *_*
Sepertinya, memang sudah sangat lama Reno tidak berkunjung ke kantor Sandy. Bahkan sudah beberapa hari ini, mereka benar-benar hilang kontak dan tidak saling berjumpa. Siang itu, Reno memutuskan untuk ke sana, menemui Sandy walau hanya sekedar mengajaknya ngopi bareng.
"Selamat siang tuan Reno..." Safira beranjak dari bangkunya, lalu membungkuk memberi hormat kepada Reno yang melintas di hadapannya.
"Bos mu ada ?" Tanya Reno kepada Safira.
"Ada tuan, beliau di ruangannya, " Ucap Safira dengan sopan. Ia masih merunduk dengan tangan yang menyatu di depan tubuhnya.
Reno melanjutkan langkahnya, berlalu meninggalkan Safira untuk menemui Sandy. Ia menekan tombol open di samping pintu lift, menunggunya terbuka lalu melangkah masuk.
Lift melesat dengan cepat, melewati ruang demi ruang sampai ke lantai atas.
Dengan sigap, Reno melanjutkan langkahnya lagi, berjalan dengan tegap melewati lorong menuju ruangan Sandy.
Sudah menjadi hal yang wajar , Reno masuk tanpa permisi. Sama sekali tidak mengetuk pintu terlebih dulu. Menerobos masuk, dan mendorong pintu seenak hatinya.
Sandy hanya menghentikan jemarinya sekejap yang sibuk dengan tumpukan berkas. Ia menoleh ke arah pintu, menatapnya kilas lalu fokus dengan kerjaannya.
"Siang sayang, " Goda Reno dengan logat anehnya. Ia berjalan centil, mencoba mengikuti cara Keysha melangkah.
"Apa kamu lupa minum obat ?" Sandy mengernyit. "Tidak lucu sama sekali. " Imbuhnya lalu menutup map berwarna merah pudar itu. Sandy bersandar pada kursi di belakangnya. Memutar-mutar, menggeliat ringan untuk merenggangkan otot-otot punggung yang di rasa cukup kaku.
Suara tawa Reno terdengar menggema. Sebuah irama yang sudah lama tidak bersyair di dalam ruangan Sandy.
Pria itu sudah duduk bersandar dengan santai di sofa. Reno tersenyum simpul melihat Sandy yang juga sedang menatapnya.
"Dih, ha ha ha..." Suara tawa Reno kembali menggema. " Sejak kapan kamu seperti dilan ? Jago sekali gombal, " timpal Reno dengan ekspresi jijik yang di buat-buat.
Reno melemparkan bolpoin tepat ke arah dahi , membuat pria itu meringis menahan sakit, meskipun tidak melontarkan kalimat protes.
"Kemana saja ?" Tanya Sandy mulai serius.
"Mencari ketenangan diri, " ucap Reno kilas, ia mengangkat tangannya. Membawanya ke belakang kepala untuk bantalan kepala.
"Kau kembali ke dunia itu ?" Tanya Sandy penuh selidik. Langkahnya semakin mendekat, mengambil dua kaleng minuman dari kulkas tak jauh dari bangku kerjanya. Sandy kembali, dan melempar satu kalengnya yang tepat di tangkap Reno.
"Entahlah, " Reno menarik bagian tutup kaleng minuman. Menyesapnya hingga beberapa kali tegukan.
"Beberapa hari ini ?" Sandy menautkan kedua alisnya. Kini, ia duduk di bangku bundar yang berhadapan langsung dengan Reno.
"Mungkin, jodohku sudah di sana..." Reno menyeringai. Tersenyum simpul menutup hati yang masih menganga luka.
"bukankah dokter Al...."
"Aku tidak ingin mendengarnya, " Penggal Reno geram. Ia mencengkram erat botol yang sudah kosong.
"OK..."
"Sorry...."
"Oh ya San, aku kemarin...." Reno diam, membisu tanpa menyelesaikan ucapannya yang gantung. Membiarkan begitu saja, mencetak sebuah rasa penasaran yang terbesit di benak Sandy.
"Kemarin ?" Sandy mengingatkan, barangkali Reno sedang lupa jika mulutnya telah membuatnya meradang dan memikirkan ucapan Reno.
"Tidak !" Reno nyengir, ia beringsut mundur dan bersandar dengan santai.
Tidak, tidak mungkin mengatakan hal itu kepada Sandy. Yang ada, ia akan menuduhku dan mendesak ku agar mengaku apa yang telah ku lakukan. Itu sangat.....
"Bahaya, " gumam Reno lirih.
"Bahaya ? Apa yang bahaya ?" Tanya Sandy heran, ia yang hendak melangkah, kembali terhenti dan memfokuskan diri memperhatikan Reno.
"Bahaya...itu...."
"Apa ?"
"Apa istrimu lama tidak datang ke sini ?" Reno memutar logika, memikirkan cara yang tepat untuk merakit kalimat.
"Kenapa kau menanyakannya ? " Tanya Sandy kesal.
"Bahaya saja perempuan secantik dia kalau tidak pernah datang lagi menemui suaminya, " Reno tersenyum menggoda. Melirik Sandy yang tampak bersungut-sungut dan hendak melemparkan botol minuman kepadanya.
"Kau ingin membuatku sakit ?" Ucap Reno, menghentikan kepalan tangan yang sudah bersiap untuk menghajarnya.
Sandy menarik nafas pelan, lalu melempar botol ke dalam tempat sampah kecil di samping meja kerjanya.
Ia sudah duduk di singgasana nya, menenangkan diri dengan memutar-mutar kursi kerjanya.
Sekitar lima belas menit mereka tidak bercengkrama, mungkin sudah asyik dengan perdebatan batin masing-masing.
"Ren ?" Sandy memanggil-manggil lirih, nadanya lembut seperti seorang suami yang meminta di manja.
"Hemm..." Buku di tangannya, ia sibak beberapa lembar. Entah sedang serius, atau pura-pura serius. Yang jelas, matanya terus berlarian mengitari lembar demi lembar kertas putih yang menyimpan beberapa coretan pena.
"Jujurlah, bagaimana sebenarnya perasaan mu dengan dokter Alexa ?" Sandy memberanikan diri. Mempertanyakan hal yang bisa saja membuat Reno bergidik kesal.
"Untuk apa kau bicara hal itu ? Aku sama sekali tidak tertarik kepadanya, " jawab Reno, sejenak setelah cukup puas menatap Sandy dengan pandangan terkejut.
"Benarkah ? " desak Sandy semakin kuat. "Bagaimana jika dia mencintai mu ?" Imbuhnya semakin serius memperhatikan Reno.
"Mencintai ?" Reno terkekeh geli. "Kau ini, lucu sekali. " Reno menekan perutnya, ia menutup buku dan meletakkan di samping tubuhnya.
"Aku serius Reno....."
"Sandy, coba kau pikir baik-baik ! Bagaimana bisa dia mencintaiku, sedangkan dia pasti merasa tidak nyaman dan berusaha menjauh saat aku mendekatinya, " Jelas Reno. Ia menatap geram ke arah Sandy. Mempertemukan kedua pasang mata, yang bersinar dengan indah. Beradu, dengan angan yang berbeda. Berdebat, dengan kata yang bertolak belakang.
"Reno, kenapa...."
"Sudahlah, aku tidak peduli tentang dia, " Reno memejamkan mata. Mencoba berpikir ulang, dan menata lingkup kata yang di pegang kuat oleh Reno.
"Baiklah, " Sandy menepuk kedua pahanya, lalu beranjak dan berlalu menuju pintu. Ia diam, lalu kembali menoleh saat berada di ambang pintu. "Apa kau tidak lapar ?"
"Kenapa kau tidak menawarkan dari tadi ? Pelit sekali, "
"Pelit? kenapa kamu datang tidak membawa sedikitpun makanan. Apa kau kekurangan uang, " ucap Sandy dengan nada bercanda.
"Kena lagi, " Reno mengeluh, berpura-pura sedih dengan kalimat Sandy yang meledeknya.