
Sandy bangun sangat pagi beberapa hari setelah kejadian itu. Ia berangkat petang, dan pulang Sangat larut. Tidak banyak yang berubah selain jadwalnya yang sedikit acak-acakan. Bahkan, titik terparah nya adalah saat ia pulang kedua anaknya sudah terlelap dalam mimpi . Begitupun ketika ia pergi, mereka masih tersenyum dengan mimpi indahnya .
Tidak ada alasan yang lebih besar dari ," Gue hanya ingin proyek kerjasama dengan perusahaan Cherry segera berakhir. Dan aku bebas." iya bener ! Semua karena Cherry. Cepat atau lambat semua pasti terbongkar. mau gimana lagi ? Sudah buntu. Tidak ada lagi jalan pintas yang lebih baik selain mengorbankan sedikit waktu bersama keluarga untuk menyelesaikan urusan itu. Toh, nanti jika terbongkar semua sudah selesai. Tinggal cerita yang akan ia dongengkan untuk istri dan anak-anaknya.
"San, kamu tidak sarapan dulu? " Keysha memperhatikan suaminya yang sudah ngacir tanpa permisi. Ah, sesibuk itu kah ? atau ? cukup Key ! Banyak sekali pikiran-pikiran buruk yang berjalan-jalan di benaknya .Bisikan setan yang hampir saja merasukinya di setiap hari. Tentu, semua karena sikap Sandy yang semakin jauh berbeda di matanya.
"Aku makan di kantor saja sayang . Kamu hati-hati ya, salam untuk Allan dan Lena." Sahutnya remang-remang di ujung ruang. Atau , mungkin sudah di luar rumah. Key menghela nafas panjang, ia mencoba dan terus meminta hatinya untuk tidak bersedih atau menduga-duga. Semua pasti baik-baik saja . Dia hanya banyak pekerjaan saja ....
Key duduk dan menutup kembali piring yang hendak ia gunakan untuk melayani suaminya, seperti minggu lalu ...saat semua masih normal dan sangat baik.
"*Non Key mau makan ? Biar mbok siapin ya ?" ..
non ? non Keysha ?"
"Ah iya San* ?" Key gelagapan. Ia tak begitu jelas dengan siapa dia berbicara. Hanya ujung kalimatnya yang masuk ke dalam telinga. Dan tentang nama yang dia sebut, hanya lah spontan seiring apa yang sedang ia lamun kan.
Key menghela nafas, sungguh ! kekacauan yang dia rasakan begitu nyata hingga semua memahami.
"Non mikirin tuan Sandy ya ? Mungkin ada hal yang harus di selesaikan cepat non. Dulu waktu tuan belum nikah sama non juga suka gitu. " Mbok Darmi mencoba menengahi. Ia tahu betul sikap Sandy karena memang sangat lama ikut kerja dengannya. Dari masih tinggal dengan keluarga, hingga saat ini.
"Ah, engga kok mbok. Saya hanya kurang tidur semalam. " Alasan yang jelas di buat-buat oleh Key. Wanita yang memang setiap malamnya kurang tidur, tidak mungkin hanya karena alasan itu dia begitu lesu. Ah ralat ralat ! Key adalah wonder woman , mana mungkin se rapuh itu. Intinya dia sedang sedih dan lelah hati serta pikiran.
"Pagi mama ..." Sapa Allan dan Lena bersamaan. Kedua bocah itu mendekap pinggang Key dengan lembut. Telah siap dengan seragam dan tas sekolahnya.
"Papa sudah pergi lagi ya ma ?" Tanya Allan sedih. Ia memang sudah beberapa hari merasa tidak berjumpa dengan Sandy. "Apa papa masih marah sama Allan ?"
Key kembali membisu, ia memandangi putranya yang ternyata masih sangat mengingat kejadian beberapa hari yang lalu. Nyata! ini Benar-benar kejadian hal yang Key takutkan akhir-akhir ini. Allan merupakan anak yang peka, ia sangat bisa membaca suasana. Bahkan, ia memahami ekspresi wajah seseorang.
"Papa kan banyak tugas nak. Biar Allan sama Lena bisa sekolah tinggi dan makan enak tiap hari. Mana mungkin papa marah ? coba pikirin, kalau papa marah pasti sudah ngga mau kasih uang buat kita makan. iya kan ?" Akhirnya Yeni yang berhasil menjawab. Ia melihat Key yang terus berdiam diri dan menahan tangis. Ia tahu, putrinya sangat kaget dengan pertanyaan Allan, bahkan ia sendiri pun tak bisa memberi penjelasan. Ia tidak tahu apa yang harus dikatakan, di jelaskan , dan dengan cara apa ia bisa memahamkan . Karena sejatinya, dirinya sendiripun masih belum bisa menerima alur cerita yang sekarang. Dengan jalan pikiran Sandy, dan dengan sikap Sandy sekalipun. Semua masih membingungkan, menyimpan teka-teki yang tiada clue yang bisa di baca..
"aku mau yang ini. "
Karena ke usilan Lena, semua beralih topik . Allan tidak lagi memperdebatkan tentang sikap papanya. Tidak ada lagi jawaban yang perlu Key siapkan. Ia saling melempar pandang dengan Yeni, dan di sambut anggukan serta senyum tulus oleh Yeni.
----
Selesai mengantar anak-anaknya ke sekolah, Key kembali berputar arah untuk kembali ke butik. Jarak yang tidak dekat, harus setiap hari ia tempuh, jalur yang berbeda dan ramai kemacetan dimana-mana. Semua tidak ada yang menyedihkan baginya, semua biasa dan menggembirakan bagi hatinya. Hanya sikap dingin Sandy lah yang bisa membuatnya hancur dan rapuh. Dan rasa yang ada di hatinya hampir memuncak ke titik itu. Entahlah ! apa nanti yang terjadi jika dia sudah tak sabar lagi untuk diam.
"Rupanya, lo masih sangat lincah untuk bisnis lo Keysha Larasati ?" Di tempat yang sama, dan masih dengan orang yang sama pula. Key harus kembali berpura-pura baik-baik saja. Bergaya seolah hidupnya lurus tanpa haluan.
"Cherry? rupanya lo lagi ." Karena jarak yang dekat, Key tidak melangkah untuk mendekati Cherry. Ia tetap diam dan menatap Cherry lebih tegas.
"Ada hal penting? atau lo sebenarnya sangat merindukan gue ? Hampir menjadi rutinitas wajib lo seperti nya datang ke sini " Ia sangat malas menanggapi Cherry yang tidak pernah bisa di ajak baik.
"Heh, gue rindu ? hahaha ! lo ngerti ? jijik gue sama wanita murah kaya lo. Lo tentu paham dong Key, gue sangat merindukan Sandy . " Cherry sangat santai dalam bicaranya. Dengan sangat sengaja, ia memancing emosi Key yang sedang kacau. Key memilih diam dan tidak menanggapi. Percuma ! Ia akan makin merajalela, semakin menjadi dan buas . Seperti macan yang di lempari daging, di lahap tanpa tersisa.
"Lo salah tempat Cherry. Dia tidak disini. Permisi " Key berbalik badan . Mengayun kakinya dengan tegas, memegangi kuat rasanya yang kian muak.
"Sandy memang tidak disini Key . Tapi di restoran sebelah !" Key kembali menghentikan langkah. Dari mana wanita itu tahu keberadaan suaminya ? sedangkan, dia saja sama sekali tidak tahu perihal itu. Ia kembali lagi ke hadapan Cherry, menatapnya heran.
"Kenapa ? apa ada yang salah? Bukankah lo juga tahu jika Perusahaan kita bekerja sama sekarang? Oh, atau ? jangan bilang, Sandy ngga bilang sama lo ? " Sudah terduga ! Wanita itu semakin menjadi , Semakin gila dengan kalimat-kalimat nya.
"Terus ?" Key mencoba menggali rahasia ini. Ia seolah diam dan tak terprovokasi tetapi tetap mencari jawaban dari apa yang sundah mengganggu harinya.
"Lalu hari ini, kita ada meeting dan makan bersama " Angkuh Cherry penuh kemenangan. Ia bersorak di atas keheranan Key.