
Hari itu Keysha memutuskan untuk pergi sekolah tanpa Sandy. Ia diam-diam memesan taxi online dan berangkat ke sekolah. Hati nya yang gelisah membuat dia kesulitan tidur semalam suntuk. Tidak ada sesuatu yang pasti yang sedang dia pikirkan.
Mungkin aku terlalu lelah hati juga pikiran. Makanya aku jadi gelisah seperti ini.
Key mengayun langkah nya menuju ruang kelas. Hatinya selalu berdoa untuk memohon perlindungan. Setiap sudut ada mata yang memperhatikan. Ya, para siswa itu melihatnya dengan buruk. Mereka saling berbisik seolah ada yang salah dari diri Keysha.
Keheranan semakin menjadi ketika sahabat-sahabat dekat Gilang menertawainya dan meledek nya. Namun samar dari telinga Keysha. Dia tidak begitu jelas mendengarnya.
Kini giliran Rania yang menatapnya kecewa. Gadis itu meraih pergelangan tangan Key dan menarik nya menjauh dari kerumunan para siswa.
"Kamu gila ya Key!" Kata Rania penuh kecewa. "Kamu itu cantik Keysha, tapi kenapa kamu segila itu !"
"maksud kamu apa sih Ran? Aku ngga ngerti!
Itu anak-anak juga kenapa sih liatin aku kaya liat maling." gumam Key yang masih bingung dengan semua.
"kamu lihat ini!" Rania mengeluarkan ponsel.
Banyak foto dan potongan-potongan video Key bersama Sandy. Saat lelaki itu menggandeng tangannya dan berkata mesra terhadapnya.
"itu...kalian salah paham Ran." key mengelak.
"Key apapun itu yang aku tidak tahu dari kamu, tapi kamu jangan sebodoh ini Key ! Kamu itu kelewat batas Keysha. Ini tu dosa !" sahut Rania yang masih kecewa.
"Ran kamu harus dengarkan aku. Aku bisa kasih kejelasan soal itu Ran." Key menangis. Air matanya meratapi kegelisahan yang dia rasakan semalaman. Pikirannya kalut bercampur tak karuan. Entahlah, siapa yang menyebarkan isu itu. Desas-desus yang sangat melukai harga dirinya.
Jam pelajaran usai, semua siswa berkumpul. Menyuarakan suara mereka. Menuntut untuk Keysha dikeluarkan. Tidak ada yang berdiri dipihak Key selain Rania dan para guru yang memilih bungkam. Key memang tidak mudah membuka semua tentang dirinya ataupun Sandy. Robekan kertas yang mereka bulatkan mereka lempar kearah Key. Gadis malang itu tidak sanggup berbuat apapun selain menangis dan menutup wajahnya dengan kedua lengannya.
"mohon tenang anak-anak. Kita bisa selesaikan ini secara baik-baik." ucap kepala sekolah.
"pak, apa bapak akan membiarkan p e l a c u r berkerudung itu berkeliaran di sekolah kita?" teriak Gilang yang merasa menang.
"luarnya saja sok alim. Ternyata dalemnya busuk!" tambah Bianca. Wanita yang juga menggilai Gilang.
Seorang guru wanita itu menatap iba pada Key. Dia membisikkan sesuatu yang disahut gelengan kepala dan senyuman oleh Keysha.
Wanita itu menyeret lembut kedua kakinya masih dengan wajah yang dia tundukkan karena para siswa tidak berhenti melempari nya dengan gulungan kertas.
"Wanita pemuas nafsu!"
"Wanita murahan !"
"Simpanan lelaki tajir!"
Kata-kata yang berulang mereka gunakan untuk menginjak harga diri Keysha. Yang terus masuk dan menusuk dalam hingga ke dasar hati Key.
Konsekuensi dari pernikahan siri yang aku sembunyikan. Semua harus berakhir seburuk ini. Mereka menyebutku p e l a c u r karena sejatinya mereka tidak mengerti kisah pilu yang aku alami selama ini!
Mereka masih berteriak jelas terdengar ditelinga Key. Namun timpukan bola-bola kertas itu mulai hilang tak terasa.
Apa kulit aku yang menebal seolah tidak merasakan apapun yang menyentuh tubuh aku? Tapi....... sepatu itu?
"Kak Sandy?" Keysha terdiam tanpa suara ataupun gerakan. Lelaki yang kini sigap didepannya, melindunginya dari apapun itu yang teman-temannya lempar. Laki-laki yang rela terluka hanya untuk seorang istri sirinya.
"kenapa kamu diam saja? Katakan saja sejujurnya" bisik Sandy.
Key menggeleng, air mata nya masih berderaian membasahi kedua pipinya.
Sandy membawa Key dengan setengah berlari dan mengajaknya masuk mobil.
Demo belum usai, mereka masih bersikeras meminta Keysha dikeluarkan. Sementara Rania dia masih diam. Terus menangis dan bingung dengan keadaan dan tak mengerti harus berbuat apa.